
Waktu berlalu begitu cepat, hingga tanpa terasa hari sudah mulai terang benderang. Setelah terlelap selama beberapa jam, aku dan Billy pun mulai terjaga dari mimpi masing-masing.
Aku mengucek-ngucek mata dan menggeliatkan otot-otot yang kaku dan pegal, akibat pertempuran panas semalam. Setelah itu aku pun menoleh pada Billy, yang sedari tadi terus memandangi ku dengan tatapan aneh nya.
"Ada apa?" tanya ku heran.
"Gak ada apa-apa, sayang." jawab Billy dengan suara serak khas bangun tidur dan muka bantal nya.
Setelah mendengar jawaban Billy, aku pun tidak bertanya apa-apa lagi pada nya. Dengan keadaan yang masih polos, aku pun beranjak dari ranjang, dan melangkah menuju kamar mandi.
Melihat kepergian ku, Billy pun bergegas turun dari ranjang dan menyusul ku ke kamar mandi dengan langkah cepat.
"Kita mandi bareng ya, Ndah!" ujar Billy lalu menyalakan shower dan menyetel nya dengan suhu hangat.
"Ya," jawab ku.
Setelah itu, Billy pun menarik tangan ku untuk berdiri di dekat nya. Kemudian ia memeluk ku, dan mulai menciumi bibir ku dengan lembut dan mesra.
Dalam keadaan sama-sama polos, kami berdua pun saling berciuman di bawah guyuran air shower yang hangat. Setelah puas saling bertukar saliva, Billy pun menurunkan ciuman nya ke dua benda kenyal ku.
Billy terlihat sangat lihai melakukan kegiatan nya. Dia juga tampak begitu bergairah, saat bermain-main dengan kedua benda kenyal ku tersebut. Sedangkan aku, aku hanya memejamkan mata sambil terus menikmati hasil perbuatan nya.
Karena saking nikmatnya cumbuan Billy, hingga tanpa sadar mulut ku pun mulai mengeluarkan suara-suara desah*n, yang mampu membuat Billy semakin bersemangat saat mendengar nya.
"Bil, cukup Bil, aaakkh. Aku udah gak tahan lagi, Bil. Cepat lakukan tugas mu selanjutnya!" rengek ku dengan suara serak, akibat terbakar gairah ku sendiri.
Bil, aaakkh. Tolong hentikan, Bil. Cepat masukin ini ke sini." desak ku sambil memegang tombak Billy yang sudah berdiri tegak, dan mengarahkan nya ke depan milik ku.
Mendengar rengekan-rengekan manja ku, Billy pun akhirnya menghentikan perbuatan nakal nya.
"Baiklah, sayang." jawab Billy sambil tersenyum genit pada ku.
Lalu ia pun menyandarkan punggungku ke dinding, dan mengangkat satu kaki ku ke lengan nya. Masih di bawah guyuran shower yang hangat, Billy pun mulai melakukan gerakan-gerakan liar nya dengan sangat lincah dan gesit.
Ia kembali menciumi bibir dan leher ku, sambil terus melakukan pacuan nya. Saat sedang asyik melakukan permainan nya, Billy pun kembali bersuara.
"Gimana, sayang? Apakah kau menikmati pelayanan ku ini." tanya Billy di sela-sela kegiatan nya.
"Iya, aku sangat menikmati nya. Teruskan lah, aku masih ingin merasakan nya!" jawab ku dengan mata yang masih terus terpejam.
"Oke, baby. Aku akan melakukan nya dengan senang hati." balas Billy dengan senyum menyeringai di wajah nya.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Billy pun semakin mempercepat pacuan nya. Ia tampak semakin bergairah, setelah mendengar penuturan ku barusan.
Suara desah*n-desah*n nikmat pun saling bersahutan dari bibir kami berdua, hingga menambah semangat untuk melakukan kegiatan panas tersebut.
Setelah bergumul ria selama hampir dua setengah jam, Billy pun semakin menambah kecepatan pacuan nya. Hingga pada akhirnya, kami berdua pun melakukan pelepasan secara bersamaan.
"Aku keluar sayang, aah." pekik Billy sambil memeluk erat tubuh ku.
Di waktu yang sama, aku pun menjerit dan membalas pelukan Billy dengan tak kalah erat nya. Hingga membuat punggung Billy sedikit membekas, akibat terkena kuku-kuku tajam ku.
"Aku juga Bil, aah." jerit ku lalu menenggelamkan wajah ku di ceruk leher nya.
Dengan nafas yang masih naik turun tidak karuan, Billy pun mencabut tombak nya. Hingga membuat lahar hangat nya mengalir di kaki ku, lalu tercecer hingga ke lantai.
Sesudah acara penyatuan selesai, aku dan Billy pun mulai membersihkan diri masing-masing. Setelah itu, kami berdua pun bergegas memakai pakaian, dan merapikan diri di depan cermin meja rias.
"Udah selesai, sayang?" tanya Billy.
Ia kembali mendekati ku, dan memeluk erat tubuh ku dari belakang. Billy mencium aroma wangi dari rambut ku, lalu mendarat kan kecupan-kecupan nakal nya di sekitaran leher ku.
Aku hanya memperhatikan kelakuan lelaki tampan itu dari pantulan cermin, lalu berkata...
"Heh heh heh, jangan mancing-mancing lagi deh! Pinggang ku ini udah gak sanggup lagi melayani mu, tau gak." omel ku kesal.
__ADS_1
"Siapa yang mancing-mancing sih, cayaaang? Aku kan cuma curi-curi dikit aja, mumpung kita masih disini, hehehe." balas Billy sembari nyengir kuda.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala menanggapi celotehan Billy. Karena tidak ingin kekhilafan Billy kumat kembali, akhirnya aku pun memutuskan untuk mengajak nya pulang ke kediaman masing-masing.
"Udah ah, nanti kebablasan pulak. Ayo kita balek, aku mau istirahat di kamar ku!" ujar ku lalu melepaskan pelukan Billy, dan menyampirkan tas ke bahu.
"Cium dulu, baru kita balek!" balas Billy lalu memajukan bibir nya ke arah ku, dia meminta ku untuk mencium nya.
Aku memutar bola mata malas, ketika melihat tingkah aneh lelaki yang ada di hadapanku itu. Karena tidak ada pergerakan apa pun dari ku, Billy semakin mendekat kan bibir nya pada ku, dan "cup cup cup."
Billy kembali mencium bibir dan wajah ku secara brutal, hingga membuat nafas ku sedikit sesak akibat perbuatan nakal nya.
"Iiiiihhh, lepasin! Kapan kita pulang nya kalau kayak gini terus?" omel ku semakin kesal, sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan nya.
"Bentar lagi, yank. Lagi nanggung nih." balas Billy sambil terus melanjutkan perbuatan nya.
Melihat kelakuan Billy yang semakin menjadi-jadi, aku pun berinisiatif untuk menggigit bibir nya. Dan itu berhasil membuat nya menjerit dan menghentikan aksinya.
Ia meringis kesakitan, sambil terus memegangi bibir nya yang baru saja terkena gigitan berbisa ku.
"Adooooh, sakit banget, yank!" pekik Billy.
"Sokor, siapa suruh kegatalan terus dari tadi." umpat ku sembari tersenyum miring meledek Billy.
"Iiiiissss, sadis bener sih cewek satu ini." gerutu Billy.
"Udah tau gitu, masih aja mau deketin, heran!" balas ku ketus.
"Hehehe, nama nya juga sudah terlanjur cintrong. Kita tidak akan pernah tahu, kemana hati ini akan berlabuh." tutur Billy sembari menyunggingkan senyum termanis nya pada ku.
"Ceileee... Gaya mu, macam betuuul aja." ledek ku.
Billy hanya cengar-cengir sambil menggaruk-garuk kepala nya, menanggapi ledekan ku barusan.
"Udah, gak usah cengengesan terus! Ayo kita balek! Mata ku udah ngantuk banget nih, pengen bobok syantik di kos, hoamm." ujar ku sembari mengucek-ngucek mata dan menguap lebar.
"Oke, yok!" balas Billy lalu menggandeng tangan ku, dan mengajak ku keluar dari kamar hotel tersebut.
Kami menuruni anak tangga satu persatu untuk menuju ke lantai dasar. Setibanya di meja resepsionis, Billy pun menyerahkan kunci kamar sembari berkata...
"Ini kunci nya bang, makasih ya!" tutur Billy sembari tersenyum lebar, kepada resepsionis laki-laki yang sedang berjaga.
"Oke, terima kasih kembali, mas." balas si resepsionis dengan ramah dan sopan, sambil mengatupkan kedua tangan nya di dada.
Sesudah menyerahkan kunci, aku dan Billy pun kembali melangkah beriringan menuju parkiran motor, sambil terus bergandengan tangan.
"Mau langsung balek, atau mau cari makan dulu?" tanya Billy sembari memakai helm, lalu naik ke atas motor gede nya.
"Langsung balek aja, mata udah ngantuk banget soalnya." jawab ku.
Kemudian aku pun langsung naik ke atas motor, dan menempel kan badan ku ke punggung Billy. Setelah itu, aku juga meletakkan dagu ku di bahu nya, dan melingkarkan kedua tangan ku di perut sixpack nya.
"Oh, oke lah kalo gitu." balas Billy, lalu menyalakan mesin motor nya dan melajukan nya ke jalan raya.
Tak butuh waktu lama, kami berdua pun tiba di depan pintu gerbang kos-kosan ku. Saat hendak turun dari motor, tiba-tiba aku terlonjak kaget, saat melihat bang Rian yang sudah berdiri menyandar di samping mobil nya.
Bang Rian menghisap rokok yang ada di tangan nya, sambil terus memandang ke arah ku dengan mata elang nya.
"Aduh, mati aku! Kok bisa kebetulan gini sih? Nanti kalau bang Rian nanya yang macem-macem, aku harus jawab apa?" gerutu ku dalam hati.
Setelah beberapa saat berpikir keras, akhirnya aku pun memiliki ide cemerlang untuk berpura-pura pingsan, untuk mengelabui perhatian bang Rian.
"Ah, pura-pura pingsan aja lah. Biar bang Rian gak nanya yang aneh-aneh nanti nya." batin ku.
Dengan tekad yang sudah bulat seperti bola kaki, aku pun mulai melakukan rencana ku. Aku memegangi kepala sambil berpura-pura pusing dan sempoyongan di samping motor Billy.
__ADS_1
"Aduh, Bil. Kok tiba-tiba kepala ku jadi pusing gini ya!" ujar ku.
Lalu aku pun berpura-pura jatuh dan langsung terbaring di tanah, tepat di bawah kaki Billy. Melihat keadaan ku yang tampak tidak berdaya di bawah kaki nya, Billy pun langsung turun dari motor nya sambil memekik memanggil nama ku.
"Indaaah, bangun Ndah! Buka mata mu, sayang." teriak Billy, lalu mengangkat tubuh lemas ku ke atas pangkuan nya.
Billy terlihat panik dan cemas melihat keadaan ku yang tidak sadarkan diri. Dia terus saja memanggil-manggil nama ku, sambil menepuk-nepuk pelan kedua pipi ku.
Begitu pun dengan bang Rian, ia juga tak kalah terkejut nya dengan Billy, saat melihat aku terjatuh tadi. Bang Rian berteriak histeris, lalu berlari menghampiri ku.
Tanpa berkata apa-apa lagi, bang Rian pun langsung mengangkat tubuh ku dari pangkuan Billy, dan segera membopong ku ke dalam kos.
Melihat reaksi spontan bang Rian, Billy pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia terpaksa mengalah, karena ia sudah tahu bahwa bang Rian adalah tamu istimewa ku.
Dengan perasaan panik dan cemas tidak karuan, Billy pun mengikuti langkah bang Rian hingga sampai ke depan kamar kos ku.
"Bro, tolong carikan kunci kamar Indah di dalam tas nya." pinta bang Rian kepada Billy.
"Oke, bang." balas Billy, lalu mengambil tas ransel yang masih tersampir di pundak ku.
Setelah mendapatkan kunci nya, Billy pun langsung membuka pintu kamar ku lebar-lebar. Dengan gerakan perlahan dan sangat berhati-hati, bang Rian pun membawa ku ke dalam kamar dan membaringkan tubuh ku di atas kasur.
Sedangkan Billy, ia langsung sigap membuka sepatu ku, lalu mencari minyak angin di atas meja kosmetik ku. Setelah mendapatkan nya, Billy pun segera mengoleskan minyak angin aroma terapi itu ke hidung dan juga leher ku.
Bang Rian terus saja memperhatikan perlakuan Billy kepada ku, dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
Karena merasa penasaran dengan perhatian Billy, akhirnya bang Rian pun memberanikan diri untuk bertanya kepada nya.
"Kalau tidak salah, kamu ini kasir di tempat Indah bekerja ya?"
Tanya bang Rian yang sedang duduk di sebelah kanan ku, sedangkan Billy ada di sebelah kiri ku.
Mendengar pertanyaan bang Rian, Billy pun langsung menghentikan perlakuan nya, dan menoleh ke arah sumber suara.
"Iya bener, bang. Kami memang bekerja di tempat yang sama." jawab Billy, lalu kembali mengoleskan minyak angin itu ke hidung ku.
Aku yang masih terus berakting pun hanya diam sambil terus mendengarkan percakapan mereka berdua.
Bang Rian hanya manggut-manggut mendengar jawaban Billy. Setelah itu, mereka pun sama-sama terdiam dan sibuk dengan isi kepala masing-masing.
Beberapa menit kemudian, bang Rian pun kembali melontarkan pertanyaan kepada Billy. Ia tampak masih penasaran melihat kedekatan ku dengan Billy.
"Hmmmm, kalau boleh tau, kalian tadi habis dari mana?" selidik bang Rian.
Billy langsung terdiam seketika, ia terlihat kebingungan mencari alasan yang tepat, untuk menjawab pertanyaan bang Rian. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Billy pun membuka suara nya.
"Tadi ada urusan sedikit di tempat kerja kami. Setelah urusan itu selesai, Indah meminta ku untuk mengantar nya pulang." bohong Billy.
"Oooohhh, gitu." balas bang Rian sembari manggut-manggut.
Ia percaya begitu saja atas kebohongan yang sudah di ciptakan oleh Billy. Melihat bang Rian yang langsung percaya dengan perkataan nya, Billy pun akhirnya bernafas lega sembari membatin...
"Fiuh, hampir saja ketahuan." batin Billy.
Akibat terlalu banyak minyak angin yang sudah di oleskan oleh Billy, hingga membuat hidung ku menjadi panas tidak karuan.
"Aduuuuh, udah dong, Bil. Masa di olesin terus sih. Udah panas banget nih hidung ku." gerutu dalam hati, sambil terus berpura-pura tidak sadarkan diri.
"Hadeeeh, pengen bersin pulak. Gimana ini? Kalo aku bersin kan, pasti bakalan ketahuan dong akting ku." lanjut ku lagi.
Karena sudah tidak sanggup untuk menahan nya lagi, akhirnya aku pun membuka mata dan...
"Hatcih... hatcih... hatcih..." aku bersin sebanyak tiga kali di depan para lelaki gagah tersebut.
Mereka berdua tampak sangat terkejut dengan mata terbelalak lebar, ketika melihat kesadaran ku. Setelah beberapa saat saling terpaku, akhirnya Billy pun tersenyum sumringah lalu berkata...
__ADS_1
"Alhamdulillah, akhirnya kau sadar juga, Ndah." ucap syukur Billy lalu reflek memeluk ku di depan bang Rian.