
Tok tok tok...
"Buka pintu nya, Ndah!" pekik Haris sembari terus mengetuk-ngetuk pintu kamar ku.
Aku yang masih hanyut dalam mimpi indah pun langsung tersentak dan membuka mata. Aku sangat terkejut mendengar suara Haris yang sedang memanggil nama ku dari luar kamar.
"Ya, tunggu bentar!" balas ku dengan suara serak.
Aku segera bangkit dari kasur dan mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu. Setelah melilitkan handuk putih itu ke tubuh ku, aku pun segera membukakan pintu untuk Haris.
"Loh, kok masih molor sih. Emang nya malam ini gak kerja ya?"
Tanya Haris heran saat melihat penampilan ku yang masih acak-acakan, dan bermuka bantal di depan nya.
Dengan mata yang masih sedikit tertutup dan menggaruk-garuk kepala, aku pun mwmbalas pertanyaan Haris.
"Emang udah jam berapa sekarang?" tanya ku balik.
"Jam tujuh." jawab Haris sembari melangkah masuk ke dalam.
"Hah, udah malam ya?" pekik ku kuat.
"Iya," jawab Haris.
Mata ku langsung terbelalak setelah mendengar jawaban Haris. Tanpa berkata apa pun lagi, aku langsung mengambil keranjang sabun dan berlari kecil ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan diri, aku segera masuk ke dalam kamar dan memakai pakaian kerja, dengan gerakan yang sedikit tergesa-gesa.
Haris yang sedari tadi memperhatikan gerakan cepat ku pun, hanya bisa terbengong di tempat duduk nya.
Selesai berpakaian dan berdandan, aku pun langsung duduk di samping Haris sambil memakai sepatu sport putih.
Setelah semua nya selesai, aku melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam.
"Hufff, syukur lah masih ada waktu setengah jam lagi untuk berleha-leha." gumam ku lega sembari menghela nafas panjang.
Aku mengambil rokok yang terletak di atas bufet lalu menyalakan nya. Setelah menghisap rokok beberapa kali, aku pun menoleh kearah Haris yang masih saja memperhatikan ku.
"Kenapa, bang? Ada yang aneh ya sama penampilan ku?" tanya ku bingung.
"Gak ada yang aneh kok, sayang." jawab Haris sembari tersenyum.
"Lah trus, kenapa nengok in aku kayak gitu?" tanya ku lagi.
"Kamu cantik banget malam ini, Ndah. Maka nya abang gak ada bosan-bosannya memandangi mu dari tadi." jawab Haris.
"Helehh, gombal." balas ku sembari tersipu malu.
"Beneran, Ndah. Abang gak bohong. Kamu memang cantik banget sekarang." tambah Haris lagi.
"Ya ya ya, terserah abang aja lah situ." balas ku.
Aku kembali menghisap rokok yang ada di tangan ku sambil sesekali melirik ke arah Haris.
Aku sama sekali tidak berani untuk menatap wajah Haris secara langsung, karena aku merasa sangat malu jika di puji-puji seperti itu oleh Haris.
__ADS_1
"Abang mau tidur disini atau di rumah abang?" tanya ku.
Aku sengaja mengalihkan pembicaraan, agar Haris tidak memperhatikan ku terus seperti itu.
"Abang nungguin disini aja sampai dirimu pulang kerja." jawab Haris.
"Oh, ya udah kalo gitu." balas ku.
Setelah beberapa saat berbincang-bincang dengan Haris, jam pun sudah menunjukkan pukul delapan kurang sepuluh menit.
Sesudah mematikan api rokok di dalam asbak, aku pun segera berdiri dan mengambil tas ransel hitam yang ada di atas meja.
"Ayo kita berangkat, bang! Udah hampir jam delapan tuh, entar aku telat pulak." seru ku sembari menunjuk ke arah jam dinding.
"Oke," balas Haris.
Aku dan Haris bergegas keluar dari kamar dan berjalan beriringan menuruni anak tangga menuju ke lantai satu.
Sampai di parkiran, aku dan Haris pun langsung masuk ke dalam mobil dan memakai sealbeat masing-masing.
Setelah selesai, Haris mulai menjalankan kendaraan roda empat nya secara perlahan menuju tempat kerja ku.
Tak sampai lima menit, kami berdua pun sudah tiba di depan gedung karaoke tempat ku mengais rezeki.
"Aku kerja dulu ya, bang. Assalamualaikum," pamit ku sembari mencium punggung tangan Haris takzim.
"Iya hati-hati ya, sayang. Jaga diri baik-baik. Nanti kalau udah pulang, kabari abang ya biar abang jemput." ujar Haris.
Haris mewanti-wanti ku untuk menjaga diri selama bekerja, sambil mengecup kening ku dan memeluk tubuh ku.
Setelah berpamitan dengan Haris, aku pun bergegas keluar dari mobil dan berjalan dengan langkah cepat menuju meja kasir untuk mengisi absen.
Saat hendak meletakkan tas di boks penyimpanan, tiba-tiba Ririn menepuk pundak ku sembari berkata...
"Hai bestie, apa kabar?" tanya Ririn dengan senyum yang sumringah.
"Tadi nya sih baik, tapi setelah bertemu dengan mu kabar ku jadi buruk." jawab ku asal.
"Hahaha, memang setan kau, Ndah." gelak Ririn.
"Ya aku setan nya, trus kau hantu nya." balas ku cuek sembari melangkah keluar dan duduk di bangku panjang.
"Itu sih sama aja, dodol." gerutu Ririn.
Ririn mengekori langkah ku dari belakang dan ikut duduk di samping ku.
"Kau udah makan belum?" tanya Ririn.
"Belum," jawab ku.
"Aku pun juga belum. Uang ku udah habis tadi buat ngirim ke kampung. Penyakit ibu ku kambuh lagi, jadi tadi sore aku kirim kan semua uang ku buat biaya obat nya." jelas Ririn.
Ririn menundukkan kepala dan tangan nya memilin-milin ujung kemeja nya. Raut wajah nya tampak sedih karena memikirkan penyakit ibu nya yang tak kunjung sembuh.
"Udah jangan di pikirin lagi, nanti aja kita bahas masalah mu. Sekarang kita makan dulu yok!" ujar ku.
__ADS_1
"Aku gak ada uang, Ndah." balas Ririn.
"Udah tenang aja, aku yang traktir." tambah ku lagi.
Aku merangkul pundak Ririn dan mengajak nya berjalan menuju kantin. Ririn pun hanya mengangguk dan menuruti ajakan ku.
Sampai di kantin aku dan Ririn duduk berhadapan, lalu memesan ayam bakar dan es teh kepada si pelayan kantin. Sambil menunggu makanan datang, aku pun kembali membuka percakapan.
"Kau butuh uang berapa untuk biaya berobat ibu mu?" tanya ku.
"Butuh nya sih dua juta, tapi tadi udah aku kirim satu juta setengah. Jadi masih kurang lima ratus ribu lagi." jawab Ririn.
"Oh, gitu." balas ku.
Setelah mendengar penuturan Ririn, aku pun langsung mengambil dompet dari dalam saku celana, lalu mengeluarkan uang sebesar tujuh ratus ribu dari dalam dompet ku tersebut.
"Nah, kirim kan uang ini untuk tambahan berobat ibu mu." ujar ku.
Aku menyerahkan uang itu ke tangan Ririn sambil tersenyum. Mata Ririn pun langsung berembun saat melihat uang yang ada di atas telapak tangan nya.
"Kau serius ngasih uang ini untuk ibu ku, Ndah?" tanya Ririn.
"Ya serius lah, lima ratus kau kirimkan untuk ibu mu, yang dua ratus untuk pegangan mu." jawab ku.
Tangisan Ririn pun langsung pecah seketika setelah mendengar ucapan ku. Dia beranjak dari tempat duduk nya dan langsung memeluk ku dari samping.
Setelah itu, Ririn duduk di sebelah ku dan menyandarkan kepala nya di bahu ku, dengan air mata yang terus saja mengalir di kedua pipi nya.
"Udah ah, jangan cengeng gitu! Malu di lihatin orang-orang tuh." tutur ku sembari menunjuk ke arah pelanggan kantin lain nya.
Mendengar ucapan ku, Ririn pun langsung menghapus air mata nya dengan tisu dan mengangkat kepala nya dari bahu ku.
"Udah tua gitu pun masih cengeng, bikin malu aku aja!" cibir ku sembari tersenyum miring.
Aku geli melihat makeup dan bedak Ririn, yang tampak belepotan di wajah nya akibat menangis tadi.
"Betulin dulu tuh muka mu, udah kayak hantu aja belepotan gitu, hihihi." cibir ku lagi.
Aku cekikikan sendiri, saat melihat wajah Ririn yang tampak serem dan menakutkan menurut ku.
"Nanti aja betulin nya kalau udah siap makan." ujar Ririn.
"Ya udah terserah kau aja, palingan nanti kau jadi bahan tontonan orang-orang. Di kira nanti ada topeng monyet nyasar pulak disini, hihihi" balas ku.
Aku kembali cekikikan melihat tingkah aneh sahabat koplak ku itu.
"Biarin aja lah, bodo amat sama orang-orang." ujar Ririn acuh.
Tak lama kemudian, makanan kami pun datang dan sudah terhidang di atas meja.
"Ayo cepat makan, siap tu langsung betulin tuh muka mu!" titah ku.
"Iya iya, bawel banget sih lampir satu ini." gerutu Ririn.
__ADS_1