Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Cicak Tak Berkaki


__ADS_3

Aku terus saja menduga-duga tentang keberadaan Haris saat ini. Aku takut kalau sewaktu-waktu Haris memergoki ku sedang berada di hotel bersama lelaki lain.


"Hufff, mudah-mudahan aja Haris tidak datang ke kos ku hari ini." gumam ku sembari menghela nafas berat.


Dengan perasaan sedikit was-was dan gugup, aku pun menerima panggilan dari Haris.


"Halo, ada apa, bang?" tanya ku langsung to do point.


"Kamu lagi dimana? Kamar kos mu kok kosong?" tanya Haris.


Mata ku langsung terbelalak lebar, saat mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Haris.


"Aduh, mati aku. Apa yang aku takut kan tadi akhirnya terjadi juga ternyata." gerutu ku dalam hati sembari menggigit bibir bawahku.


"A-aku lagi di kos Ririn, bang. Ka-kami mau pergi jalan-jalan soal nya, makanya tadi aku di suruh Ririn datang kesini." bohong ku gugup.


"Serius?" selidik Haris.


"I-iya, serius." jawab ku masih gugup.


"Kalo serius kenapa ngomong nya gugup gitu, kayak orang lagi ketakutan?" tanya Haris.


"Eng-enggak kok, siapa yang lagi ketakutan? Cuma perasaan abang aja kali." jawab ku.


"Ndah...Ndah...Abang itu kenal dirimu bukan sehari dua hari, tapi udah satu tahun lebih. Abang udah hapal betul tentang sikap dan tingkah laku mu." balas Haris.


"Ck, ternyata susah juga ngibulin hantu satu ini." umpat ku dalam hati.


"Terserah abang aja lah. Mau percaya kek, mau enggak kek, bodo amat. Percuma aja di jawab, kalo gak di percaya juga." balas ku ketus sembari memutuskan panggilan sepihak.


Setelah itu, aku langsung menonaktifkan ponsel dan meletakkan nya di atas meja.


"Huh, dari pada bikin pusing kepala, mendingan gak usah di ladeni omongan nya." gerutu ku lalu membuang nafas kasar.


"Sambil nunggu-nunggu Alex datang, mending aku mandi aja lah. Trus dandan lagi kayak tadi. Biar Alex makin kesemsem dengan penampilan ku." gumam ku sembari tersenyum.


Selesai bermonolog dengan diri sendiri, aku segera menyambar handuk yang tergantung di samping pintu. Kemudian melilit kan nya di tubuh ku dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Lima menit kemudian, acara ritual mandi pun selesai. Aku mengeringkan rambut dengan handuk, lalu merias wajah ku kembali. Setelah selesai, aku menyemprot kan parfum ke seluruh tubuh ku dari atas sampai bawah.


"Naaah, kalau gini kan nampak segar. Udah enak di pandang mata, gak kucel dan acak adut kayak tadi."


Oceh ku sambil tersenyum manis, dan terus memandangi wajah ku dari pantulan cermin. Sedang asyik memperhatikan diri sendiri di depan cermin, tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka.


Ceklek...


Alex langsung mematung di depan pintu dengan mata yang membulat, setelah melihat penampilan ku yang sudah fresh dan wangi tentu nya.


"Waaahh, cantik banget wanita ku ini." puji Alex sembari menutup pintu kembali lalu mengunci nya.


Alex meletakkan makanan yang di beli nya di atas meja rias, lalu memeluk tubuh ku dan mengecup kilat seluruh wajah ku.


"Ndah, aku mau ma..."


Sebelum Alex meneruskan kata-katanya, aku pun langsung memotong nya dengan cepat, sambil menempelkan jari telunjuk ku di bibir nya.

__ADS_1


"Eits, nanti aja kalau mau main. Sekarang kita makan aja dulu, siap tu baru kita main lagi." oceh ku.


"Ternyata dia tau juga dengan isi kepala ku, hahaha." gelak Alex.


"Ya tau lah, aku bisa baca dari sorot mata mu yang genit itu."


Ledek ku sembari mengusap lembut wajah Alex dengan telapak tangan ku. Mendapat perlakuan seperti itu dari ku, Alex pun langsung menggenggam tangan ku dan mengecup nya dengan mesra.


"I love you, sayang." tutur Alex kembali membawa ku ke dalam dekapan nya.


"Ya, love you to."


Balas ku dengan senyum yang merekah indah, seperti bunga-bunga cinta yang sedang bermekaran di taman kota Batam ini.


Setelah suasana romantis berakhir, Alex mulai melepaskan pelukan nya, lalu mengajak ku untuk memakan makanan yang di bawa nya tadi.


"Kita makan, yok! Mumpung makanan nya masih anget." seru Alex.


"Ya," balas ku.


Aku dan Alex duduk di kursi yang sudah tersedia di sudut kamar, tepat di samping meja rias. Setelah itu, kami berdua membuka makanan masing-masing dan melahap nya dengan santai dan tenang.


Tak butuh waktu lama, akhirnya makanan kami pun sudah ludes tak bersisa. Setelah membersihkan meja yang kami gunakan untuk makan tadi, aku pun kembali duduk di kursi lalu menyalakan rokok.


Begitu pun dengan Alex, dia menyalakan rokok nya dan menghembuskan asap nya ke udara membentuk huruf O.


Untuk memecah keheningan di antara kami berdua, aku pun mulai berkicau kembali sambil sesekali menghisap rokok ku.


"Jam berapa kita keluar dari sini, Lex?" tanya ku.


"Kamu mau nya jam berapa?" tanya Alex balik.


"Ya, kan aku ngikutin kemauan mu aja. Kalau mau pulang siang ini ya boleh, mau pulang besok atau lusa ya tambah boleh lagi." jawab Alex sambil tersenyum genit pada ku.


"Gilak, mana mungkin aku nginap sampe berhari-hari disini, aneh-aneh aja." oceh ku.


"Kenapa gak mungkin? Yang penting kan kamar nya aku bayar." tanya Alex.


"Iya, tapi kan aku kerja sih, Lex. Gak mungkin lah aku libur terus-menerus. Lama-lama aku bisa di pecat nanti sama bos ku." jawab ku.


"Oh, gitu toh. Emang nya hari kerja mu gak bisa di bayar ya?" tanya Alex lagi.


"Enggak," bohong ku.


"Yaaaahh, sayang banget ya! Padahal rencana nya aku mau nginap satu malam lagi sama mu." balas Alex kecewa.


"Lain waktu aja kita nginap lagi. Aku gak enak juga kalo sering bolos kerja, takut kena marah sama bos." jelas ku.


"Hmmmm, ya udah deh. Tapi janji ya, lain kali harus mau kalau aku ajak lagi." balas Alex sembari menunjukkan jari kelingking nya di depan ku.


"Iya, aku janji." balas ku menautkan jari kelingking ku dengan nya.


Alex langsung tersenyum sumringah mendengar jawaban ku. Dia tampak sangat bahagia saat melihat kedua jari kelingking kami menyatu.


"Eh, tapi beneran kan kalau kamu sama Hendra gak ada hubungan apa-apa?" tanya Alex.

__ADS_1


"Iya beneran, kami berdua hanya sebatas teman di ranjang aja gak lebih." jawab ku jujur.


"Oh, syukur lah kalo gitu. Jadi aku gak perlu merasa segan atau gak enak hati lagi sama dia, kalau aku mau mengajak mu menginap lagi." tutur Alex lega.


"Ya walaupun kami gak ada hubungan apa-apa, tapi saran ku kalau bisa bang Hendra jangan sampai tau kalau kita nginap." ujar ku.


"Emang kenapa?" tanya Alex dengan kening mengkerut.


"Ya gak enak aja sih, karena kemaren siang dia datang ke kos ku. Trus dia nyulik aku, dia membawa ku ke hotel. Dia juga bilang kalau kau mau ngajak aku nginap." jelas ku.


"Ooohhh, ketahuan sekarang. Berarti kemaren siang dia minta izin keluar sebentar itu, cuma untuk mengajak mu ke hotel."


"Ck ck ck, pantesan aja pergi nya agak lama. Ternyata dia lagi cari keringat di atas ranjang rupanya." tutur Alex sembari berdecak kesal.


"Eh, tapi jangan bilang-bilang kalau aku yang ngomong ya! Nanti jadi gak enak sama dia, di kira nya aku tukang ngadu-ngadu pulak nanti." ujar ku memberi peringatan kepada Alex.


"Iya, kamu tenang aja. Aku gak bakalan ngomong apa-apa kok sama dia." jawab Alex.


"Oke good, anak pintar." ledek ku sembari mengacak-acak rambut Alex.


Mendapat perlakuan seperti anak kecil dari ku, Alex pun langsung tersenyum menyeringai. Dia beranjak dari kursi nya lalu mendekatiku.


Setelah itu, dia langsung mengangkat tubuh ku, dan merebahkan ku ke atas ranjang. Alex terus saja memandangi ku dengan tatapan lapar. Persis seperti singa yang sedang tergiur melihat mangsa yang ada di depan nya.


"Sebelum kita keluar dari sini, kita main sekali lagi yok!" ujar Alex.


"Oke, main lah! Puas-puasin lah dulu keinginan mu itu, mumpung kita masih disini." jawab ku.


"Oke siap, sayang ku." balas Alex sembari memberi hormat pada ku.


"Hahaha, gemblung." gelak ku.


Tawa ku langsung pecah, ketika melihat tingkah konyol brondong tampan ku tersebut. Sedangkan Alex, dia malah cengar-cengir salah tingkah melihat ku yang sedang mentertawai nya.


"Udah ah, ketawa terus dari tadi. Nanti masuk cicak tu mulut, baru tau rasa." gerutu Alex.


"Kalau di masukin cicak yang ada kaki nya sih ogah. Tapi kalau di masukin sama cicak yang kepala nya besar, trus gak ada kaki nya sih aku mau banget." jawab ku malu-malu.


"Hah, emang nya ada ya cicak modelan kayak gitu?" tanya Alex bingung.


"Ya ada lah, apa kau mau lihat sekarang?" tanya ku.


"Iya aku jadi penasaran, seperti apa bentuk asli nya. Dengar nya aja aku udah geli, apa lagi kalau nengok langsung, hiiiiii." oceh Alex sembari bergidik ngeri.


"Emang nya ada ya bentuk hewan seperti itu? Kok aku baru denger ini ya?" tanya Alex ragu.


Mendengar ocehan-ocehan Alex, tawa ku pun kembali meledak. Aku tidak sanggup lagi untuk menahan tawa ku tersebut.


"Hahahaha," gelak ku.


"Loh, di tanyain kok malah ketawa lagi sih, aneh banget. Cepat lah tunjukin cicak yang kamu bilang tadi, Ndah! Aku juga pengen lihat. " gerutu Alex.


"Tuh dia cicak nya, hihihi." balas ku.


Aku menunjuk ke arah pangkal paha Alex dengan memajukan bibir ku. Saat Alex mengikuti arah pandangan mata ku, tiba-tiba tawa Alex pun ikut pecah seketika.

__ADS_1


Dan pada akhirnya, kami berdua pun langsung tertawa berjamaah.


"Oalah, kirain hewan apaan tadi. Eeehh, rupanya lagi ngomongin benda pusaka ku ini toh." tutur Alex.


__ADS_2