
"Tadi kepala ku sakit, maka nya sampe pingsan." jawab ku.
"Serius, cuma gara-gara itu?" selidik Haris.
"Ya, serius." jawab ku lagi.
"Ya udah, sekarang istirahat lah. Biar abang belikan makanan di luar. Kau pasti belum makan kan?" tebak Haris.
"Ya, boleh. Belikan sate ayam aja sama susu hangat!" pinta ku.
"Oke," jawab Haris sembari keluar dari kamar untuk membeli makanan.
Setelah Haris pergi, aku membuka mukena dan melipat nya bersama sajadah. Kemudian menggantung nya di samping lemari pakaian.
Sambil menunggu Haris datang, aku duduk selonjoran di lantai dengan punggung yang menempel di dinding. Aku menyalakan rokok dan menghembuskan asap nya dengan kasar ke udara.
"Kok bisa sampe pingsan gitu ya? Padahal kan cuma sakit kepala aja." gumam ku bingung.
Mata ku langsung membulat sempurna, saat melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Hah, udah jam sepuluh!" pekik ku terkejut.
"Hadehh, cuma gara-gara sakit kepala aja, malah gak masuk kerja jadi nya." gerutu ku kesal.
"Mau ngabarin Lisa pun gak bisa juga. Ponsel ku nya aja udah jadi bubur gitu."
Lanjut ku sembari menatap nanar ke arah ponsel yang masih berserakan di lantai. Sedang asyik melamun memikirkan ponsel yang sudah hancur, Haris pun datang dengan beberapa bungkusan di tangan kiri nya.
"Lagi mikirin apa?"
Tanya Haris dengan kening yang mengkerut, saat melihat pandangan mata ku yang tertuju ke arah ponsel ku.
"Udah, gak usah di pikirin lagi. Nanti kita beli yang baru." ujar Haris.
Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan Haris. Setelah menghidangkan makanan untuk ku, Haris langsung duduk bersila di depan ku.
Dia terus saja memandangi ku dengan tatapan yang sedikit berbeda dari biasanya. Aku yang merasa di perhatikan pun langsung menoleh dan bertanya kepada nya.
"Ada apa? Kenapa lihatin aku kayak gitu?" tanya ku penasaran.
"Gak papa, cuma pengen lihat aja. Makan lah sate nya itu, habis tu langsung minum obat!" titah Haris.
"Ya," balas ku.
Aku mulai memakan sate pembelian Haris dengan lahap, tanpa memperdulikan tatapan mata nya yang masih terus memperhatikan gerak-gerik ku.
__ADS_1
"Abang udah makan?" tanya ku tanpa menoleh pada Haris.
"Udah tadi di rumah." jawab Haris.
"Oh, kirain belum." balas ku.
Selesai makan, aku membuang bungkus sate itu ke dalam tong sampah yang ada di samping pintu. Lalu meminum susu hangat yang sudah di salin Haris ke dalam gelas.
"Eeggh, alhamdulillah." aku bersendawa sambil menutup sedikit mulut dengan telapak tangan.
"Udah kenyang?" tanya Haris.
"Udah," jawab ku.
"Nah, ini di minum dulu obat nya." ujar Haris sembari menyodorkan obat sakit kepala ke tangan ku.
"Ya," balas ku.
Sesudah meminum obat, aku meletakkan sisa obat itu di atas meja bufet. Setelah itu aku menyalakan rokok kembali dan menatap wajah Haris, yang sedari tadi masih terus memperhatikan ku dengan tatapan aneh nya.
"Gak usah di pandangi terus, aku memang udah cantik dari orok." sindir ku dengan pede nya.
"Idih, narsis." cibir Haris lalu memalingkan wajah nya ke arah jendela.
"Hahahaha, tapi emang bener kan? Hayo, ngaku aja deh!" gelak ku.
"Naaah, tu tau, hahaha." gelak ku lagi.
Aku terus saja menggoda Haris, seperti tidak terjadi apa-apa di antara kami berdua. Sedangkan Haris, dia seperti nya masih terlihat kesal dengan ku akibat pertengkaran tadi siang.
Setelah lelah mentertawai Haris, aku kembali berdiam diri sambil menghisap rokok yang masih tersisa separuh di tangan ku.
Suasana pun berubah menjadi hening dan mencekam sejenak. Aku dan Haris sama-sama diam, kami sibuk dengan pikiran dan lamunan masing-masing.
Beberapa saat kemudian, aku pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Haris, tentang pertengkaran yang terjadi tadi siang.
"Abang masih marah ya sama aku?" tanya ku.
"Ya," jawab Haris ketus.
"Kalo masih marah, kenapa abang datang kesini lagi?" selidik ku.
"Gak papa, cuma pengen tau keadaan mu aja." jawab Haris masih dengan nada ketus nya.
"Oh, gitu." balas ku sembari manggut-manggut dan memajukan bibir ku ke depan.
__ADS_1
"Kirain karena kangen sama aku. Padahal tadi aku berharap jawaban nya seperti itu. Ternyata enggak rupanya." tutur ku sedikit kecewa.
"Ya, sama itu juga." balas Haris.
"Loh, tadi kata nya cuma mau lihat keadaan ku. Tapi sekarang kok beda lagi jawaban nya, aneh!" oceh ku sambil tersenyum miring.
"Dua-duanya maksud nya." ujar Haris.
"Oooohh, gitu toh." balas ku.
Setelah mematikan api rokok, aku langsung merebahkan diri di atas kasur, lalu memiringkan badan ku menghadap tembok sambil memeluk guling.
Aku sengaja membelakangi Haris, karena aku ingin melihat bagaimana reaksi nya saat aku cueki.
Dan ternyata dugaan benar. Haris langsung berceloteh ria saat melihat ku tidak menghiraukan nya.
"Loh, kok malah di tinggal tidur sih? Orang lagi merajuk gini, bukan nya di bujuk kek, di rayu-rayu kek. Ini enggak, malah di cuekin gitu aja." omel Haris.
Mendengar ucapan Haris, aku pun langsung tersenyum dan membalikkan badan. Aku membuka seluruh pakaianku, lalu mendekati Haris yang masih duduk bersila di atas lantai.
Tanpa berkata apapun lagi, aku langsung duduk di pangkuan Haris dengan posisi, kedua kaki ku melingkar di pinggang nya dan wajah kami saling berhadapan.
"Eh eh eh, mau ngapain?" tanya Haris bingung.
"Ck, tadi kata nya mau minta di bujuk. Trus mau minta di rayu-rayu juga. Ya, ini kan lagi ku turuti kemauan abang tadi." jawab ku santai.
Maksud abang bukan yang kayak gini, tapi..."
Belum sempat Haris meneruskan ucapan nya, aku langsung menyumpal mulut nya dengan bibir ku. Lalu aku melingkarkan kedua tangan ku di leher nya, dan sesekali membelai lembut rambut nya.
Aku mengabsen isi mulut Haris dengan lidah ku, lalu turun ke ceruk leher nya dan membuat beberapa tanda merah di leher nya tersebut.
Haris yang mulai terlena dengan perbuatan ku pun langsung membalas nya. Dia menempelkan bibir nya di leher ku, lalu memberikan banyak tanda merah di sana.
Karena sudah tidak sanggup menahan hasrat ku, aku pun mendekat kan bibir ku ke telinga Haris lalu berbisik...
"Ayo kita nikmati malam ini, sayang! Berikan aku pelayanan terbaik mu. Aku ingin kau menghangatkan ku dengan sentuhan-sentuhan lembut mu itu , sayang." rengek ku manja.
"Baik lah, jika memang itu mau mu. Aku akan menuruti keinginan mu itu." balas Haris.
Haris mulai mengangkat tubuh ku dan merebahkan ku di atas kasur secara perlahan. Dan tanpa ba-bi-bu lagi, Haris pun langsung melaksanakan tugas nya dengan baik.
Dia melayani hasrat ku yang sedang naik, dengan keringat yang membasahi tubuh nya. Setelah melakukan kegiatan nya selama kurang lebih satu jam, Haris pun menyudahi permainan nya dan menjatuhkan tubuh nya di samping ku.
"Makasih ya, sayang. Kau memang pandai membujuk orang yang sedang merajuk, hehehe." tutur Haris sembari mengecup kening pipi dan juga bibir ku.
__ADS_1
"Ya," balas ku sambil menyunggingkan senyum manis ku pada nya.
"Ternyata ampuh juga rayuan maut ku, hahaha." gelak ku dalam hati.