Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Ayah Minta Uang Lagi


__ADS_3

Setelah selesai berbalas pesan dengan ayah, aku menyimpan ponsel itu ke dalam tas. Selang beberapa menit kemudian, ponsel ku berdering tanda panggilan masuk.


"Siapa lagi, sih?"


Gumam ku kesal, sambil merogoh tas untuk mengambil ponsel itu kembali. Aku mengerutkan kening, setelah melihat nama yang tertera di layar ponsel yang ada di genggaman tangan ku itu.


"Ayah, ada perlu apa lagi ayah menghubungi ku? Uang nya kan sudah aku transfer tadi." batin ku bingung.


"Halo assalamualaikum, yah." salam ku.


"Wa'laikum salam." jawab ayah.


"Ada apa lagi, yah? Tadi kan uang nya udah aku transfer!" tanya ku langsung to do point.


Karena aku sudah tahu, ayah pasti akan menghubungi ku untuk masalah uang saja. Tidak ada alasan lain kecuali itu.


"Iya, Ndah. Uang nya udah ayah ambil barusan. Makasih ya, Ndah." jawab ayah.


"Lah, trus ayah mau ngapain lagi? Kan uang itu udah di ambil nya." batin ku semakin bingung.


"Iya sama-sama, yah. Tolong di pakai sehemat mungkin uang itu ya, yah! Soalnya tanggal gajian ku masih lama." ujar ku pada ayah.


"Hmmm, Ndah. Bisa gak di usahain seminggu lagi kirim kan uang satu juta? Ayah ada keperluan penting yang harus di bayar." tutur ayah dengan nada ragu.


"APA? Untuk bayar keperluan apa, yah?" aku terpekik kaget mendengar ucapan ayah barusan.


"Tadi kan udah ku bilang, tanggal gajian ku masih lama, yah. Dari mana aku bisa mendapatkan uang itu?" tanya ku.


"Untuk bayar hutang, Ndah! Ayah ada hutang sama orang satu juta. Ayah udah terlanjur janji, dalam waktu seminggu akan mengembalikan uang itu!" jelas ayah.


"Ya Allah, yah. Hutang buat apa lagi sih itu?" tanya ku lemas.


"Kenapa ayah selalu berhutang terus dengan orang lain? Padahal aku kan udah sering kirim uang buat ayah. Apa itu semua gak cukup buat ayah?" tanya ku dengan kesal.


Ayah langsung terdiam mendengar semua ocehan ku. Beliau kebingungan untuk menjawab semua pertanyaan ku itu.


"Oke lah, Yah. Aku mau kerja dulu, gak enak kalau sampai di lihat sama bos kalau aku telponan terus. Aku bisa di marahi habis-habisan nanti nya." bohong ku.


Udah dulu ya, yah! Assalamualaikum."


Aku langsung memutuskan panggilan sepihak dengan ayah.


"HAH, ayah ini kenapa sih? Dikit-dikit uang, sebentar-sebentar uang. Apa ayah gak mikir, otak ku ini sampai setres memikirkan nya."


Umpat ku dalam hati sambil membuang nafas kasar. Setelah menutup panggilan dari ayah, aku kembali duduk bergabung dengan teman-teman lain nya.


Suasana masih sepi, belum ada tamu yang datang untuk minum. Karena masih jam setengah sembilan malam, masih sore kata orang.


Sambil menunggu para tamu datang, kami para waiters menyibukkan diri masing-masing.


Ada yang sedang berdandan tidak siap-siap dari tadi, ada yang memainkan ponsel nya, dan ada juga yang lagi bersenda gurau sambil cekikikan.


Ada yang lagi makan di kantin, ada juga yang lagi melamun sambil merokok, macam-macam lah pokok nya.


Sedang kan aku, aku lagi sibuk mengotak-atik ponsel sambil menghisap rokok yang ada di tangan ku. Tepat pukul sembilan, satu orang tamu datang dengan mengendarai motor matic nya.


Setelah memarkirkan motor nya, lelaki itu menghampiri kami yang sedang duduk berjejer di bangku panjang. Semua mata kami pun tertuju pada lelaki itu.


Setelah lelaki itu memandangi kami satu persatu, akhirnya pilihan lelaki itu jatuh kepada ku untuk menemani nya minum di dalam.


"Ayo, temani saya minum, dek!" ajak lelaki itu.


"Oke siap, bang." balas ku.


Aku langsung beranjak dari bangku, lalu menghampiri lelaki yang sedang melambaikan tangan nya pada ku.


"Aku duluan ya, guys." seru ku.


Aku pamit kepada teman-teman waiters lain nya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ayo, kita masuk ke dalam, bang!"


Aku dan lelaki itu melangkah masuk ke dalam ruangan karaoke. Sampai di dalam, aku memilih tempat yang pas untuk kami berdua.


Berhubung tamu nya hanya satu orang saja, maka nya aku memilih meja yang kecil saja. Yang hanya pas untuk di duduki dua orang. Setelah lelaki itu duduk, aku pun langsung bertanya kepada nya.


"Mau minum apa, bang?" tanya ku dengan ramah.


"Ambil minuman putih dua botol ya, dek! Trus rokok nya satu bungkus, sama cemilan nya kacang kulit aja ya!" jawab lelaki itu.


"Oke, tunggu sebentar ya, bang!" balas ku.


Setelah lelaki itu mengatakan pesanan nya, aku pun segera melangkah kan kaki menuju meja kasir.


"Bil, aku pesan minuman putih dua botol ya!Trus rokok satu bungkus, kacang kulit nya satu bungkus. Dan satu lagi, gak pake lama!" ujar ku sembari bercanda.


"Huuuu, dasar lampir!" umpat Billy.


"Eits, gak kena weeek!" ledek ku.


Billy melempar kan gulungan tisu ke arah wajah ku. Aku pun langsung reflek menghindar, sambil menjulurkan lidah ku pada nya.


"Hahahaha, kamvret kau, Ndah." gelak Billy.


"Kalo aku kamvret, berarti kau kalong nya ya, Bil?" canda ku lagi.


Billy pun kembali tertawa terbahak-bahak, melihat tingkah ku yang sedari tadi masih terus meledek nya.


"Itu artinya sama aja, dodol." balas Billy sembari menoyor jidat ku.


"Nah tu tau, hahaha." balas ku.


Selesai ber haha hihi dengan Billy, aku pun segera mengambil pesanan yang sudah di siap kan nya di atas meja. Setelah itu, aku langsung bergegas membawa semua pesanan itu ke meja tamu lelaki tadi.


Sesampainya di meja, aku mulai menuangkan minuman itu secara perlahan ke dalam gelas kecil. Lalu kemudian, aku memberikan sedikit es batu ke dalam nya.


"Oke, dek." balas lelaki itu.


Aku mengangkat gelas ke arah lelaki itu, dan dia pun juga mengangkat gelas minuman nya dan "cheers." Kami berdua pun bersulang, dan meminum minuman itu bersamaan sampai tandas.


Selesai bersulang, kami meletakkan gelas itu kembali ke atas meja. Setelah itu, aku segera mengambil kertas kecil dan pena yang sudah tersedia di dalam kotak tisu.


"Mau nyanyi lagu apa, bang?" tanya ku.


Lelaki itu langsung menyebut kan beberapa judul lagu yang akan di nyanyi kan nya. Aku hanya manggut-manggut mengiyakan, sambil mencatat judul lagu itu di atas kertas kecil tadi.


"Oke, tunggu sebentar ya, bang!" ujar ku.


"Iya," balas lelaki itu.


Aku beranjak dari tempat duduk dan berjalan menuju ruangan DJ, yang berada tepat di samping meja kasir.


Saat melewati meja kasir, aku melihat Billy yang sedang duduk sambil memandang kearah ku.


"Apa kau tengok-tengok?" tanya ku lantang.


Aku mendelik tajam sambil berkacak pinggang di depan nya. Billy pun sontak kaget mendengar suara ku yang cukup lantang kepada nya.


"Dasar cewek gila, lagi kesurupan kau ya? Muka mu udah serem kali tuh, udah mirip kayak mak kunkun aja, hiiiii." ledek Billy.


Dia bergidik ngeri melihat ekspresi wajah ku saat ini.


"Enak aja kau bilang aku kayak mak kunkun! Aku aja gak bisa manjat kok, gimana ceritanya aku bisa jadi mak kunkun? Hahaha."


Aku terkekeh dan berlalu pergi ke ruangan DJ. Billy hanya menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah ku yang semakin aneh menurut nya.


"Bayu, ini riquest lagu di meja ku ya!" ujar ku.


"Oke siap, Ndah." balas Bayu.

__ADS_1


Aku menyerahkan kertas kecil itu pada sang DJ yang bernama Bayu. Setelah menerima kertas itu, Bayu pun menyerahkan dua buah microfon ke tangan ku.


Setelah mendapatkan microfon, aku kembali ke meja tamu lelaki tadi dan langsung duduk di samping nya.


"Ini mic nya, bang!" ujar ku.


Aku menyodorkan satu mic kepada nya, dan satu mic lagi aku yang pegang sendiri. Berhubung lelaki itu meminta lagu duet, jadi aku juga harus ikut bernyanyi ria bersama nya.


Kami berdua pun mulai bernyanyi bersama. Tak lama kemudian, lelaki itu mengajak ku untuk berdiri di depan layar TV yang cukup besar, yang menampilkan videoklip dari lagu yang sedang kami nyanyi kan tersebut.


Di sela-sela bernyanyi, lelaki itu mulai merangkul pundak ku dan sesekali menggenggam erat tangan ku.


Aku tidak mempermasalahkan hal itu, selagi perbuatan nya itu tidak melampaui batas sewajarnya.


Setelah selesai bernyanyi ria, kami berdua duduk dan kembali bersulang "Cheers."


Aku dan lelaki itu kembali meneguk minuman itu sampai tandas dalam satu nafas. Kemudian, aku kembali menuangkan minuman ke dalam gelas sedikit es batu.


"Rokok, dek!" tawar lelaki itu sambil menyodorkan rokok kepada ku.


"Iya makasih, bang." balas ku.


Aku pun mengambil satu batang rokok yang di sodorkan nya, lalu menyalakan nya. Setelah itu, aku menghisap rokok itu perlahan, dan menghembuskan nya secara kasar ke udara.


"By the way, nama abang siapa, ya? Saking asyiknya bernyanyi, sampai-sampai aku lupa kalau kita belom kenalan?" tanya ku.


"Oh, iya juga ya, dek. Saya juga lupa kalau kita belom kenalan dari tadi." jawab lelaki itu salah tingkah.


"Oke lah kalau begitu. Kenal kan nama saya Hendrawan, panggil saja Hendra. Kalau adek nama nya siapa?" tanya bang Hendra balik.


"Nama ku Indah, bang."


Aku menjawab sambil menghisap rokok yang ada di tangan ku.


"Oohh, Indah toh. Cantik juga nama kamu ya, dek. Indah seperti orang nya, hehehe." balas bang Hendra.


"Ah, abang bisa saja gombal nya." ujar ku tersipu malu.


Aku mencubit pelan pinggang bang Hendra, dan dia pun langsung terlonjak kaget karena mendapatkan serangan mendadak dari tangan jahil ku.


"Auww! Geli, dek." pekik bang Hendra.


"Kapok, weeekk." balas ku sambil tersenyum dan menjulurkan lidah ku pada nya.


"Saya serius, dek! Menurut saya kamu itu memang manis orang nya." balas bang Hendra meyakinkan ku.


"Kamu mau gak jadi istri saya, dek?"


Bang Hendra bertanya dengan wajah serius pada ku. Aku pun langsung terkejut, setelah mendengar pertanyaan nya yang cukup aneh menurut ku.


"Whaaat? Lidah abang gak lagi keseleo kan? Atau mungkin, abang lagi demam tinggi ya?" tanya ku.


Aku menempelkan punggung tangan ke kening bang Hendra.


"Iiihh, apa an sih! Ya gak lah, dek. Kalau saya lagi demam, gak mungkin saya ada disini sekarang." balas bang Hendra sewot.


"Oh kirain, hehehe." ujar ku.


Bang Hendra menurunkan tangan ku dan menggenggam nya erat. Aku terkekeh geli melihat raut wajah bang Hendra yang berubah masam.


"Emang nya istri abang kemana?" tanya ku penasaran.


"Udah meninggal setahun yang lalu, dek." jawab bang Hendra.


"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Maaf ya, bang." ujar ku merasa tidak enak hati.


Bang Hendra langsung menunduk kan kepala nya di sebelah ku. Aku yang melihat nya pun jadi merasa tidak enak, karena sudah membuat bang Hendra bersedih.


"Gak papa kok, dek. Santai aja, kali!" bang Hendra menjawab sambil tersenyum menatap wajah ku.

__ADS_1


__ADS_2