Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Kirim uang buat Ayah


__ADS_3

Selesai memanjatkan doa dan membereskan mukena, aku kembali duduk di tepi ranjang.


"Ya Allah, aku baru ingat. Haris kan ada ngasih uang, aku letakkan di mana tadi ya?" gumam ku.


Aku celingukan kesana kemari, mencoba mengingat dimana tadi aku meletakkan uang itu.


"Mungkin ada di dalam tas itu kali ya."


Aku berjalan beberapa langkah, lalu merogoh tas selempang yang tergantung di belakang pintu.


"Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga."


Aku langsung tersenyum melihat uang yang di berikan Haris tadi. Aku pun kembali duduk bersila di lantai sambil menghitung uang itu. Ternyata ada sepuluh lembar uang pecahan seratus ribuan.


"Alhamdulillah, ya Allah. Makasih ya, bang."


Aku membatin sambil menggenggam uang itu di dada. Kemudian aku menyimpan nya di dalam dompet yang ada di lemari pakaian.


Tak lama kemudian, adzan maghrib pun berkumandang. Aku kembali berwhudu dan segera menunaikan kewajiban ku itu.


Selesai shalat, lanjut membaca ayat suci Al-Quran sambil menunggu waktu shalat isya tiba. Sekitar kurang lebih satu jam membaca, adzan pun kembali berkumandang. Aku pun segera menunaikan shalat isya.


Setelah selesai, aku bergegas berganti pakaian kerja. Memakai celana panjang hitam dan baju kemeja merah maron kotak-kotak. Lalu aku lanjut memoles sedikit wajah, dan menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh ku.


"Akhirnya selesai juga." gumam ku.


Aku melihat diri sendiri di depan cermin panjang, yang menampilkan seluruh tubuh ku dari atas sampai bawah. Selanjutnya, aku memakai sepatu sport putih, dan mengambil tas ransel hitam yang tergantung di belakang pintu.


Setelah itu, aku memasukkan dompet dan ponsel ke dalam nya. Setelah semua nya beres, aku bergegas keluar kamar dan mengunci pintu.


"Bismillahirrahmanirrahim."


Aku mulai melangkah menapaki anak tangga menuju lantai satu, dan keluar dari gerbang kos.


Aku terus berjalan melewati toko-toko dan terus melangkah di pinggir jalan raya, hingga sampai ke lokasi tempat aku bekerja.


Sekitar kurang lebih sepuluh menit berjalan, akhirnya aku tiba di depan gedung karaoke tempat kerja ku.


Sesampai nya di depan pintu masuk, aku mengisi absen terlebih dahulu. Kemudian bergabung dengan teman-teman lainnya di bangku panjang.


"Hai, guys."


Sapa ku pada mereka semua yang berjumlah sembilan belas orang. Jadi jumlah kami semua ada dua puluh orang, termasuk diri ku.


"Hai." jawab mereka serempak.


"Muka mu pucat banget, Ndah. Lagi sakit ya?" tanya salah satu teman ku yang bernama Rara.

__ADS_1


"Iya, Ra. Kepala ku sakit banget dari tadi sore." jawab ku jujur.


"Minum obat lah, Ndah! Takut nya nanti tambah parah, loh." balas Rara khawatir.


"Iya, Ra. Nanti aku minum obat nya. Kalau sekarang gak bisa, karena aku belom makan nasi."


"Ya udah kalau gitu, kita makan di kantin sekarang yok!" ajak Rara.


Rara menarik tangan ku untuk menuju kantin, aku pun menurut dan mengikuti langkah nya dari belakang. Sampai di kantin, kami berdua langsung duduk saling berhadapan di kursi plastik yang sudah tersedia.


"Enak nya kita makan apa ya, Ndah?" tanya Rara meminta pendapat ku.


"Ikan gurame bakar enak kayak nya, Ra. Minum nya jus jeruk peras." usul ku pada Rara.


"Oke deh, aku pesan yang sama seperti punya mu aja, Ndah." jawab Rara setuju.


Setelah mendapatkan menu makanan, Rara pun langsung memanggil pelayan kantin untuk memesan makanan kami berdua.


"Mbak, ikan gurame bakar nya dua porsi! Trus, jus jeruk peras nya dua juga ya! Lalapan nya jangan lupa, mbak. Dan satu lagi, gak pake lama, hihihi."


Canda Rara kepada pelayan kantin sambil cekikikan sendiri.


"Oke, kak. DI tunggu ya, kak!" jawab nya.


Si pelayan kantin tersenyum dan geleng-geleng kepala nya melihat tingkah aneh Rara.


"Oke, mbak." jawab Rara.


"Ra, aku boleh minta tolong gak?" tanya ku.


"Boleh dong, Ndah. Emang nya mau minta tolong apa an sih, serius amat tu muka?" tanya Rara balik.


Rara menyipitkan kan mata nya pada ku, dia tampak mulai mencurigai ku.


"Jangan bilang kau mau minta di cariin om-om tajir." tebak Rara.


"Atau mungkin, aki-aki kaya yang udah bau tanah untuk melorotin uang nya. Kalau itu sih aku juga mau, Ndah. Hahaha." lanjut Rara.


Rara tertawa lepas mendengar ocehan nya sendiri. Mata ku langsung terbelalak lebar mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Rara.


"Iiihhh, ogah!" jawab ku sambil bergidik ngeri.


"Lah trus, kau mau minta tolong apa an sih? Bikin kepo orang aja!" tanya Rara mulai sewot.


"ATM mu ada isi nya gak, Ra?" bisik ku pelan.


"Wah wah wah! Ada bau-bau orang mau ngutang kayak nya nih, hahaha." ledek Rara.

__ADS_1


Rara kembali terbahak-bahak mendengar bisikan ku barusan. Karena merasa kesal, aku pun langsung reflek menoyor jidat Rara.


"Woi, kamvret! Siapa juga yang mau ngutang? Aku tu cuma mau numpang ATM mu buat transfer ke ayah ku di kampung!"


"Oh kirain, hehehe." balas Rara.


Rara langsung salah tingkah, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal setelah mendengar penuturan ku.


"Ada sih, Ndah. Tapi gak banyak, cuma ada satu juta aja saldo ku sekarang."


Rara mengetik ponsel nya, lalu memperlihatkan jumlah saldo nya itu pada ku.


"Ya gak papa, aku cuma mau transfer lima ratus ribu aja kok. Bisa kan, Ra?" tanya ku dengan wajah memelas.


"Oh, kalau cuma segitu sih bisa, Ndah. Sini nomor rekening nya, biar aku transfer kan sekarang!" pinta Rara sambil menadah kan tangan nya di depan ku.


"Oke, bentar!" balas ku.


Aku langsung merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel. Lalu aku pun mencari nomor rekening ayah di dalam ponsel ku tersebut.


"Ini nomor rekening nya, Ra!" ujar ku.


Aku menyodorkan ponsel pada Rara, dan dia pun langsung menerima nya. Kemudian Rara segera mengotak-atik ponsel nya sendiri.


Setelah selesai, Rara mengembalikan ponsel ku kembali dan memperlihatkan layar ponsel nya ke depan wajah ku.


"Udah terkirim ya, Ndah!" ucap Rara.


"Oke makasih ya, Ra. Kau memang best friend ku yang paling baik cantik dan juga imut-imut kayak marmut." canda ku.


Aku memuji dan Rara sambil mencubit pipi nya dengan gemas.


"Helehh, kalau lagi ada mau nya ya gitu itu. Manis kali muncung (mulut) nya." cibir Rara.


Rara memutar bola matanya malas. Sedangkan aku, aku hanya terkikik melihat reaksi nya. Tak lama kemudian, makanan kami pun tiba.


"Silahkan di nikmati kak hidangan nya, kak!" ucap si pelayan kantin dengan ramah.


"Makasih ya, mbak." balas ku dan Rara serempak.


Tanpa basa-basi lagi, aku dan Rara langsung menyantap makanan yang sudah tersedia di atas meja. Ikan gurame bakar yang sangat menggugah selera, lengkap dengan sambal terasi dan segala macam lalapan nya.


Tak butuh waktu lama, ritual makan kami berdua pun selesai. Setelah membayar tagihan nya, aku dan Rara pun mulai melangkah keluar dari kantin.


Kami berdua kembali bergabung bersama teman-teman lain nya di bangku panjang.


"Yah, uang nya udah aku transfer, ya!"

__ADS_1


Aku mengirim kan pesan teks kepada ayah, untuk mengabarkan pada nya kalau uang itu sudah di kirim kan ke rekening nya.


"Oke makasih ya, Ndah." ayah langsung membalas pesan teks yang aku kirim kan barusan.


__ADS_2