
Sesampainya di depan rumah ayah, aku turun duluan dari atas becak lalu memegangi tangan nenek untuk keluar dari kendaraan roda tiga itu.
"Makasih ya, wak." ujar ku.
Aku menyerahkan uang ongkos ke tangan tukang becak yang sudah mengantarkan kami berdua. Dia pun langsung menerima nya dan juga mengucapkan terima kasih pada ku.
"Iya sama-sama, dek." balas nya.
Tukang becak itu pun kembali menyalakan kendaraan nya dan berlalu pergi dari hadapan kami. Setelah itu, aku dan nenek mulai melangkah kan kaki menuju pintu rumah ayah.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum," salam ku.
Aku mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Setelah beberapa kali mengetuk, akhirnya terdengar suara ayah menyahuti dari dalam rumah nya.
"Ya, sebentar!" pekik ayah.
Tak lama kemudian, ayah pun membuka pintu dan menjawab salam ku. Ayah langsung terpaku di tempat setelah melihat kedatangan ku yang secara tiba-tiba ke rumah nya.
"Wa'laikum salam," balas ayah.
Raut wajah ayah tampak sangat terkejut, dia juga membelalakkan mata nya menatap wajah ku yang berdiri di depan pintu bersama nenek.
"Kapan kau nyampe, Ndah?" tanya ayah.
Sebelum menjawab pertanyaan ayah, aku mengambil tangan nya dan mencium punggung tangan nya takzim. Setelah itu, baru lah aku menjawab pertanyaan nya.
"Tadi sore, yah." jawab ku.
Ayah sempat tertegun setelah mendengar jawaban ku. Beberapa saat kemudian, ayah langsung tersadar dan mempersilahkan aku dan nenek untuk masuk ke dalam rumah nya.
"Masuk lah, mak, Ndah!" ujar ayah.
Aku dan nenek pun langsung masuk ke dalam dan duduk di kursi ruang tamu. Aku meletakkan bungkusan yang aku bawa dari rumah nenek tadi di atas meja.
Nenek duduk di samping kiri ku dan ayah duduk tepat di hadapan ku. Aku dan nenek hanya berdiam diri tanpa berucap sepatah kata pun kepada ayah.
"Jam berapa sampe nya tadi, Ndah?" tanya ayah membuka percakapan.
"Sekitar jam tiga sore, yah." jawab ku.
Ayah manggut-manggut menanggapi ucapan ku, sambil sesekali melirik ke arah nenek yang masih tampak anteng duduk di samping ku dengan mode diam nya. Setelah itu, ayah pun kembali bertanya pada ku.
"Oh, naik apa?" tanya ayah lagi.
__ADS_1
"Naik pesawat." jawab ku.
Setelah selesai tanya jawab dengan ku, ayah langsung menoleh kepada nenek. Ayah juga melontarkan pertanyaan kepada ibu nya tersebut.
"Banyak emas, mamak? Dapat dari mana, mak?" selidik ayah.
Ayah bertanya sembari melihat ke arah tangan dan jari-jari nenek. Mendengar nama nya di sebut, nenek pun langsung menoleh dan menatap wajah ayah.
"Indah yang belikan tadi sore di pajak" jawab nenek ketus.
Nenek tampak masih kesal kepada ayah karena mendengar kata-kata ku tadi sore. Nenek juga memanyunkan bibir nya pada ayah. Melihat reaksi nenek, ayah pun kembali bertanya pada ku.
"Banyak duit kau, Ndah. Sampe bisa belikan banyak emas untuk nenek." selidik ayah lagi.
Aku menghela nafas berat saat mendengar penuturan ayah barusan. Aku menoleh sekilas kepada nenek dan kembali menjawab ucapan ayah.
"Gak banyak sih, yah. Tapi ada." balas ku.
Setelah mendapatkan jawaban dari ku, ayah kembali melirik ke tangan nenek. Ayah mendengus kesal, dia tampak sedikit marah karena melihat emas yang ada di tangan nenek.
"Ya udah pasti banyak lah duit mu itu. Sampe bisa belikan nenek gelang sama cincin dua biji." balas ayah sewot.
Ayah terlihat mulai cemburu karena aku membeli kan perhiasan untuk nenek. Ayah itu mau nya semua penghasilan ku itu untuk diri nya saja.
Gak boleh di bagi-bagikan ke orang lain, termasuk nenek. Orang yang sudah merawat ku sedari orok. Aku sudah hafal dengan sifat ayah yang satu itu.
Nenek yang mendengar ocehan ayah pun langsung membantah ucapan ayah. Nenek tampak sangat murka dengan sifat ayah yang mau nya menang sendiri.
"Kok marah pulak kau, Dul? Kenapa rupanya kalau anak mu belikan aku emas?" tanya nenek mulai ngegas.
"Huh, bukan nya marah, mak. Aku kan cuma tanya aja." jawab ayah.
Ayah menghela nafas panjang menghadapi kemarahan nenek. Wajah ayah juga tampak masam setelah kena semprot oleh nenek. Aku yang menyaksikan adegan anak dan ibunya itu pun langsung terkikik geli dalam hati.
"Kapok, kena marah sama nenek kan jadi nya, hihihi." batin ku.
Berhubung suasana sudah mulai memanas, aku pun mulai mengambil uang yang tersimpan di dalam tas ransel yang berada di pangkuan ku.
"Ini uang untuk, ayah." ujar ku.
Aku menyerahkan setumpuk uang merah yang berjumlah enam juta kepada ayah. Setelah memberikan uang itu, aku pun kembali menoleh pada nenek sambil tersenyum.
"Makasih banyak ya, Ndah." ujar ayah.
"Iya, yah." balas ku.
__ADS_1
Ayah mengucapkan terima kasih dengan wajah yang berbinar cerah, dan senyum yang sumringah tentu nya.
Ayah langsung mengambil uang itu dari atas meja dan menghitung nya di depan ku dan nenek.
"Gak usah di hitung, yah! Uang itu total nya enam juta." ucap ku.
Ayah langsung tersenyum salah tingkah setelah mendengar ucapan ku. Ayah pun segera menyimpan semua uang itu ke dalam saku baju kemeja nya.
Melihat gelagat ayah seperti itu, nenek akhirnya kembali bersuara. Beliau mencibir ayah dengan kata-kata yang cukup menusuk ke hati.
"Langsung ijo biji mata kau lihat duit banyak kayak gitu." cibir nenek.
"Apa kau tau, kalau si Indah di sana kerja mati-matian nyariin duit itu untuk kau? Seharusnya kau itu bersyukur, punya anak yang masih mau ngasi bantuan kayak Indah."
"Tengok anak-anak mu yang lain, jangan kan ngasi bantuan nanyain kabar kau pun gak pernah kan?" lanjut nenek.
Nenek terus saja memarahi ayah. Sedangkan yang di marahi, hanya bisa pasrah menerima ocehan nenek. Aku yang sedari hanya berdiam diri pun hanya tersenyum kecut mendengar penuturan nenek.
Aku hanya bisa berharap, semoga ayah bisa sadar atas semua kesalahan nya selama ini pada ku. Agar ayah tidak menekan ku lagi dengan semua sifat egois nya.
Ayah terdiam sejenak setelah mendengar kan semua ucapan nenek yang selalu menyudutkan nya. Begitu juga dengan nenek, beliau juga sudah menghentikan ceramahnya kepada ayah.
Mereka berdua sama-sama diam hening sunyi senyap, tanpa percakapan apa pun lagi. Suasana pun berubah menjadi horor dan mencekam, persis seperti kuburan di malam hari.
Setelah melihat kedua kandidat sudah diem-dieman, aku pun mulai membuka perbincangan kembali sambil membuka kotak martabak dan menyodorkan nya pada nenek.
"Di makan martabak nya, nek! Sayang kalo gak di makan." tawar ku.
Aku mengambil sepotong martabak itu dan memasukkan nya ke dalam mulut ku. Nenek pun mulai mengulur kan tangan nya untuk mengambil martabak yang ada di depan nya.
Ayah tetap diam melihat aku dan nenek mengunyah martabak di hadapan nya. Aku melirik ayah dengan ekor mata ku, lalu menggeser kan kotak mertabak itu ke depan nya.
"Ayah mau martabak, gak?" tanya ku.
Setelah kotak martabak itu berada di depan nya, ayah pun langsung menerima nya dan mengambil nya sepotong.
Di saat kami bertiga sedang asyik memakan martabak, tiba-tiba Anisa dan Ridwan datang dan menyalami kami satu persatu.
"Assalamualaikum," salam mereka serempak.
"Wa'laikum salam," balas kami bertiga.
Anisa dan Ridwan ini adalah adik ku. Kami satu ayah tapi lain emak. Setelah mereka berdua selesai menyalami kami bertiga, mereka berdua pun langsung duduk dan bergabung bersama kami.
"Kapan nyampe ke sini, kak?" tanya Anisa.
__ADS_1
"Tadi sore." balas ku.