Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Gara-Gara Bika Ambon


__ADS_3

Setelah mencampakkan handuk ku ke sembarang tempat, haris pun mulai membaringkan tubuh ku di atas kasur.


Dia terus saja menciumi wajah, leher dan bibir ku dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Tangan Haris pun tidak tinggal diam. Kedua tangan nya juga sama nakal nya seperti bibir nya, dan itu berhasil membuat ku lepas kendali dan menggeliat-geliat tidak karuan.


Suara-suara indah nan merdu pun mulai keluar dari bibir tipis ku. Haris yang melihat reaksi ku sudah mulai bergairah pun langsung melancarkan serangan nya ke tubuh ku.


Haris melepaskan semua kerinduan yang selama dua minggu ini terpendam di hati nya. Begitu juga dengan ku, aku membalas semua perbuatan nya dengan nafas dan gairah yang semakin memburu.


Aku dan Haris saling memberi dan menerima, kenikmatan yang sangat luar biasa. Setelah pergumulan panas berakhir, aku beranjak dari kasur dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sedangkan Haris, dia masih saja terlentang di atas kasur dengan nafas yang masih tampak ngos-ngosan.


Setelah selesai, aku kembali masuk ke dalam kamar dan melihat Haris yang masih setia dengan posisi nya seperti tadi.


"Capek ya, bang?" tanya ku basa-basi.


Haris langsung menoleh ke arah ku dengan senyum yang merekah. Dia mulai mendudukkan diri nya di tepi kasur, dengan tubuh yang masih polos tanpa sehelai benang pun.


Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah nyeleneh kekasih hati ku itu. Setelah memakai pakaian santai, aku duduk di samping Haris dan menyandarkan kepala ku di bahu nya.


"Ada apa, sayang?" tanya Haris sambil merangkul pundak ku.


"Gak ada apa-apa, bang. Mandi sana gih, bersihin dulu dedek nya itu! Ntar di kerubungi lalat pulak." canda ku.


"Hahaha, lalat dari mana? Kamar ini di jamin bersih gak bakalan ada lalat nya, sayang." jawab Haris sambil tertawa lepas.


"Masa lalat segini besar nya gak nampak sih?" canda ku lagi.


Mendengar candaan ku, Haris langsung melepaskan rangkulan nya dan menatap wajah ku dengan serius. Aku yang sedang di tatap pun hanya nyengir kuda kepada nya.


"Ini sih nama nya lalat kepala hitam. Kalo lalat yang seperti ini yang ngerubungi dedek abang. Ya abang pasti mau lah gak bakalan nolak lagi, hehehe!" jawab Haris panjang lebar.


Haris terus saja menatap ku dengan senyum yang menyeringai. Dia mulai mendekatkan wajah nya kembali ke arah bibir ku. Dengan gerakan cepat, aku langsung menempel kan telapak tangan ku tepat di wajah Haris.


"Eh eh eh, mau ngapain lagi?" tanya ku pura-pura bingung.


"Mau itu lagi, sayang." jawab Haris


Haris merengek sambil bergelayut manja di lengan ku. Dia memajukan bibir nya ke arah pangkal paha ku.


Melihat gelagat Haris yang mulai genit, aku pun langsung menyuruh nya untuk membersihkan diri di kamar mandi.

__ADS_1


"Nanti aja kita lanjutin lagi main nya, sekarang abang bersihin dulu dedek nya tuh." balas ku.


"Janji ya, sayang. Nanti kita bakalan lanjutin lagi main nya." ujar Haris sambil mengarahkan jari kelingking nya ke hadapan ku.


"Iya, aku janji." balas ku.


Aku menjawab dan mengeratkan jari kelingking ku ke jari nya. Dengan wajah yang berbinar cerah, Haris pun beranjak dari tempat duduk nya.


Dia mulai melangkah masuk ke dalam kamar mandi, sambil menenteng keranjang sabun dan melilit kan handuk di pinggang nya.


Tak lama kemudian, Haris masuk kembali ke dalam kamar dengan rambut yang basah dan acak-acakan.


Setelah melihat Haris sudah selesai mandi, aku pun segera mengambil celana jeans pendek, dari dalam lemari pakaian dan menyerahkan nya kepada Haris.


"Nah, pakai celana ini aja!" ujar ku sambil menyodorkan celana itu ke tangan nya.


"Oke siap, tuan putri." balas Haris.


Haris menerima celana itu dari tangan ku dan langsung memakai nya di hadapan ku. Setelah itu, aku duduk selonjoran di lantai sambil membuka satu kotak Bika Ambon.


Setelah selesai memakai celana dan menyisir rambut nya, Haris langsung duduk bersila di depan ku sambil memperhatikan kegiatan ku.


Aku memotong-motong Bika Ambon rasa pandan, dan meletakkan nya di atas piring.


Aku memberikan piring yang berisikan beberapa potongan Bika Ambon itu ke tangan Haris. Dia pun langsung menerima piring itu dan mengambil nya sepotong, lalu memasukkan Bika Ambon itu ke dalam mulut nya.


"Enak banget rasa nya, Ndah." ujar Haris.


Haris manggut-manggut sambil memuji oleh-oleh pemberian ku. Dia mengambil kembali potongan Bika Ambon itu lalu memakan nya dengan santai.


Dalam sekejap, Haris pun sudah menghabiskan satu piring Bika Ambon yang aku berikan tadi.


Mata ku langsung membulat, melihat piring yang sudah kosong melompong yang terletak di depan Haris.


"HAH, cepat banget makan nya, bang! Sebenarnya abang itu lapar atau doyan sih?" canda ku.


"Hihihi, doyan campur lapar, sayang." jawab Haris sambil terkikik geli.


Aku menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah kocak kekasih ku itu. Sedangkan Haris, dia tetap santai dan tenang sambil menyodorkan piring kosong itu ke hadapan ku.


"Abang mau lagi, Ndah!" ujar Haris.


Haris meminta Bika Ambon lagi, sambil memasang wajah seimut mungkin kepada ku. Aku yang geli karena melihat wajah sok imut nya itu pun, langsung tertawa ngakak di depan nya.

__ADS_1


"Hahaha, gak usah di imut-imut kan gitu lah muka nya tu. Bukan nya nampak imut, malah jadi serem aku lihat nya." ledek ku sembari tergelak.


Haris langsung merubah raut wajah nya menjadi buram dan masam, karena mendengar ledekan ku barusan. Dia berpura-pura merajuk sambil menunduk kan kepala nya.


"Lah, malah merujak pulak dia." gerutu ku.


Aku mulai menggeser kan tubuh ku untuk duduk di samping Haris, dan tiba-tiba...


"Hahahaha, kena kau sekarang bocah nakal!"


Haris tertawa terbahak-bahak sambil memeluk tubuh ku, dan menggelitiki pinggang ku. Aku langsung terperanjat kaget dan memekik keras, karena terkejut dengan ulah nya tersebut.


"Aaaaaa! Geli, bang. Udah ah, jangan di gelitikin lagi geli tau gak." pekik ku.


Aku meronta-ronta di dalam pelukan Haris sambil terus menjerit-jerit, persis seperti orang yang sedang kesetanan.


Mendengar teriakkan ku yang semakin kuat, Haris pun mulai menghentikan perbuatan nya. Dia kembali menyodorkan piring kosong itu ke tangan ku.


"Abang mau itu nya lagi, sayang!" pinta Haris lagi.


"Mau itu nya, apa?" tanya ku pura-pura tidak tahu sembari mengerutkan kening.


"Makanan itu looh, sayang ku. Masa gak paham sih." jawab Haris kesal.


"Oalah, mau Bika Ambon lagi toh. Kirain mau yang ini tadi!" balas ku.


Aku menjawab sambil menunjuk ke arah pangkal paha ku. Tatapan mata Haris pun langsung mengikuti arah telunjuk ku. Dia kembali menelan ludah nya secara kasar, dengan mata yang membulat sempurna.


"Kalau yang itu sih abang gak bakalan pernah nolak, sayang." balas Haris.


Haris langsung meletakkan piring kosong itu di samping kiri nya, dan dia pun mulai mendekati ku dengan raut wajah yang tampak sangat kelaparan.


Tanpa pikir panjang lagi, Haris langsung mengangkat tubuh ku dan membaringkan ku di atas kasur secara perlahan.


Aku hanya terdiam dan menurut dengan kelakuan nakal nya. Setelah tubuh ku berada di atas kasur, aku pun kembali bersuara.


"Tadi kata nya mau makan yang ini, kenapa sekarang malah dedek nya pulak yang mau makan?" tanya ku.


Aku berucap sambil menunjuk ke arah kotak Bika Ambon, yang berada di atas lantai tepat di samping kasur tempat ku berbaring.


"Makan itu nya nanti aja. Sekarang abang mau makan yang ini dulu. Boleh gak, sayang?"


Tanya Haris sembari menempel kan telapak tangan nya di pangkal paha ku. Aku langsung tersenyum sambil mengangguk kan kepala, menyetujui permintaan nya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2