
"Lah, di tanya kok malah balik nanya sih, bang!" gerutu ku sambil mengelus-elus rambut bang Rian yang ada di atas paha ku.
"Emang istri abang gak nyariin ya, kalau abang gak pulang-pulang ke rumah?" tanya ku lagi.
"Istri abang udah minggat, Ndah. Dia kabur dengan selingkuhan nya enam bulan yang lalu." jawab bang Rian.
"Oh, kirain abang ada istri." balas ku lega.
"Kalo abang ada istri, gak mungkin abang ada disini bersama mu, Ndah. Abang berani melakukan hal seperti ini, karena abang menyukaimu, sayang." jelas bang Rian.
Tangan ku yang sedari tadi mengelus rambut bang Rian pun langsung terhenti, karena mendengar penuturan nya barusan.
Aku menunduk kan kepala dan menatap wajah bang Rian dengan kening mengkerut. Karena merasa di perhatikan, bang Rian pun mendongak sembari bertanya...
"Kenapa, Ndah. Kenapa kamu menatap abang seperti itu? Apa ada yang salah dengan kata-kata abang tadi?" tanya bang Rian bingung.
"Sejak kapan abang menyukai ku?" tanya ku balik.
"Sejak pandangan pertama haritu, Ndah. Waktu kamu menemani abang minum untuk yang pertama kali nya." jawab bang Rian.
Setelah menjawab, bang Rian pun langsung bangkit dan duduk di hadapan ku. Dia memandangi wajah ku dengan tatapan yang tidak biasa.
"Abang jatuh cinta pada mu, Ndah. Semenjak pertemuan pertama haritu, abang selalu saja teringat dengan mu. Abang terus saja membayangkan dirimu." tutur bang Rian.
"Halah, gombal." cibir ku sembari tersenyum miring.
"Abang serius, Ndah. Itulah yang abang rasakan selama beberapa hari lalu, sebelum kita berada di kamar ini." jelas bang Rian.
"Yang abang sukai dari aku tu apa nya sih, bang?" tanya ku.
"Aku tu cuma seorang wanita penghibur yang bergelimangan dosa. Gak ada yang bisa di harapkan dari wanita seperti aku ini." tutur ku.
"Sssttt, gak boleh ngomong kayak gitu! Bagi abang, kamu adalah wanita yang sangat istimewa."
"Abang tidak memandang status mu sebagai wanita malam. Yang abang pandang hanyalah sifat dan kebaikan mu, yang mampu meluluhkan lantakkan hati abang." ujar bang Rian.
"Uluh-uluh, manis kali lah rayuan maut nya itu. Sampai meleleh hati adek abang buat, hihihi," canda ku.
Aku cekikikan sembari mencubit gemas kedua pipi bang Rian. Setelah mendengar candaan ku, bang Rian pun langsung menyunggingkan senyum manis nya pada ku.
"Orang lagi ngomong serius gini, kok malah di ajak bercanda pulak sama dia." oceh bang Rian kesal.
"Apa mau abang terkam lagi ya, biar kamu bisa percaya dengan ucapan abang tadi?" tanya bang Rian.
"Apa hubungan nya?" tanya ku menautkan kedua alis.
"Hadehh, gini ini lah kalo ngomong sama anak kecil. Harus sabar, harus telaten, dan juga harus di jelaskan sedetail-detailnya." sindir bang Rian.
Mata ku langsung terbelalak mendengar sindiran bang Rian. Dia seolah-olah sedang meledek ku sebagai anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
"Sembarangan bilangin orang anak kecil. Orang udah bangkotan gini kok di bilang anak kecil. Udah rabun mata abang ya?" omel ku tak mau kalah.
Aku mencubit kuat lengan bang Rian, hingga membuat nya terpekik kesakitan akibat perbuatan ku itu.
"Adoooh, ganas kali sih tangan mu ini, Ndah. Lihat nih, langsung merah bekas cubitan mu tadi kan!" pekik bang Rian.
Dia meringis menahan sakit, sembari menunjuk lengan nya yang sudah tampak memerah akibat ulah ku.
"Hahaha, kapok! Maka nya jangan asal ngomong aja muncung nya ini ya, kena cubitan maut kan jadi nya." ledek ku.
Aku tertawa ngakak sambil menempelkan jari telunjuk ku di bibir nya.
Setelah merasa capek mentertawai bang rian, aku pun beralih menyentuh bibir nya dengan lembut dan mesra, sambil terus memandangi wajah tampan nya.
Mendapatkan perlakuan seperti itu dari ku, bang Rian pun mulai memejamkan mata nya. Dia tampak sangat terlena dan terbuai, oleh sentuhan-sentuhan lembut di bibir nya.
Dengan mata yang masih terpejam, bang Rian pun memegang jari telunjuk ku, dan memasukkan nya ke dalam mulut nya. Lalu, dia memanjakan jari ku itu dengan sentuhan lidah nya.
"Udah, jangan di lanjutkan lagi, bang! Aku paling gak tahan kalau di giniin." rengek ku dengan suara serak.
Aku menarik jari ku dari mulut bang Rian, karena sudah tidak sanggup lagi menahan hasrat ku sendiri. Gairah ku langsung naik akibat perbuatan nya tersebut.
"Kenapa jari nya di tarik, sayang? Sini masukin lagi, abang masih ingin melakukan nya lagi!" pinta bang Rian.
"Gak mau, nanti aku makin gelisah abang buat." tolak ku.
"Gelisah kenapa?" tanya bang Rian.
"Ya karena perbuatan abang tadi lah." balas ku.
"Oh, abang kira gelisah karena mikirin sesuatu." ujar bang Rian.
Bang Rian merebahkan tubuh nya kembali, dan menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang.
__ADS_1
Sedangkan aku, hanya berdiam diri sambil melamun memikirkan tentang ayah. Suasana pun menjadi hening sesaat. Aku dan bang Rian sama-sama sibuk dengan pikiran dan khayalan masing-masing.
"Lagi mikirin apa, Ndah? Kok muka nya nampak sedih gitu." selidik bang Rian.
"Gak ada mikirin apa-apa, bang. Cuma lagi pengen melamun aja." jawab ku.
"Gak usah bohong, Ndah! Abang bisa lihat semuanya dari raut wajah mu itu. Kamu pasti lagi ada masalah kan?"
"Coba ceritain sama abang, mana tau abang bisa membantu masalah mu itu." desak bang Rian.
Aku menghela nafas berat, lalu membaringkan tubuh ku di samping bang Rian. Aku memiringkan badan ke arah nya dan meletakkan kepala ku di lengan kiri nya.
"Aku lagi mikirin ayah ku, bang." jawab ku lirih.
"Emang nya ayah mu kenapa?" tanya bang Rian.
"Ayah minta uang untuk biaya sekolah adik-adik ku, sama biaya kebutuhan sehari-hari mereka bertiga, bang." jawab ku.
"Oh, jadi selama ini kamu membiayai mereka semua ya?" tanya bang Rian lagi.
"Iya, bang. Bukan cuma mereka bertiga aja, tapi nenek ku juga." jawab ku.
"Wah, banyak juga tanggungan mu, Ndah." balas bang Rian sedikit terkejut.
"Iya memang banyak, bang. Makanya aku..."
Aku menjeda kata-kata ku karena merasa tidak enak hati, untuk mengungkapkan nya kepada bang Rian.
"Maka nya kenapa?" desak bang Rian.
"Hmmmm, maka nya aku mau nerima ajakan abang semalam. Karena aku butuh uang buat keluarga ku di Medan, bang." jawab ku.
"Emang nya ayah mu minta uang berapa?" tanya bang Rian.
"Tiga juta lima ratus ribu, bang. Uang yang abang kasih semalam, mau aku kirimkan untuk mereka separuh. Trus separuh nya lagi buat pegangan ku." jawab ku.
"Oalah, Ndah...Ndah...Kok kamu gak ngomong dari tadi sih." sungut bang Rian.
Bang Rian beranjak dari ranjang dan berjalan ke arah meja rias. Dia mengambil ponsel dari dalam tas nya.
Setelah mendapatkan nya, bang Rian pun duduk di pinggir ranjang lalu menoleh pada ku.
"Mana nomor rekening ayah mu, Ndah!" tanya bang Rian.
"Udah gak usah banyak tanya lagi, sini nomor rekening nya!" desak bang Rian sembari menadahkan tangan nya pada ku.
Dengan pikiran yang masih bingung, aku pun turun dari ranjang dan melilitkan handuk di tubuh ku. Setelah itu, aku mengambil ponsel yang terletak di atas meja rias.
Setelah mengotak-atik ponsel untuk mencari nomor rekening ayah, aku pun langsung menyerahkan ponsel itu ke tangan bang Rian.
"Nah, ini nomor nya, bang!" ujar ku.
"Oke," balas bang Rian.
Bang Rian menerima ponsel ku, dan dia pun mulai mengotak-atik ponsel nya sendiri. Dan tak lama kemudian, bang Rian mengembalikan ponsel ku sembari berucap...
"Udah abang kirim, Ndah. Sekarang coba kamu hubungi ayah mu, suruh dia ngecek saldo nya!" ujar bang Rian.
"Loh, kok malah abang pulak yang ngirim? Uang yang abang kasih semalam kan masih ada sama ku. Itu aja udah lebih dari cukup buat ngirim sama pegangan ku, bang." oceh ku.
"Ssstttt, gak usah berisik. Cepat hubungi ayah mu sekarang!" titah bang Rian.
"Ta-tapi, bang..."
Karena kesal dengan ocehan-ocehan ku, bang Rian pun langsung menyumpal mulut ku dengan bibir nya. Dia menciumi bibir ku dengan rakus, hingga membuat ku sesak dan susah untuk bernafas.
Setelah puas menciumi ku, bang Rian pun mulai melepaskan bibir nya. Lalu kemudian, dia tersenyum miring melihat wajah ku, yang tampak masih syok atas perbuatan nya barusan.
"Naaah, kalau gini kan langsung diem. Habis nya dari tadi nyerocos terus sih mulut nya. Sekali kenak sumpal, langsung diem kan jadi nya. Hahaha," ledek bang Rian sembari tertawa terbahak-bahak.
Aku hanya memanyunkan bibir saat mendengar ledekan bang Rian. Setelah itu, aku memandangi ponsel yang ada di genggaman tangan ku dengan tatapan nanar.
"Heh, Ndah. Kok malah bengong sih. Ayo cepetan, telpon ayah mu sekarang!" perintah bang Rian sambil menyenggol lengan ku.
"Apa mau abang kasih hukuman yang lebih berat lagi dari pada yang tadi, hah?" tanya bang Rian dengan senyum menyeringai.
"Ehh iya, bang. Aku telpon ayah sekarang." jawab ku gelagapan.
"Takut juga dia rupanya, hahaha!" gelak bang Rian.
Tanpa memperdulikan ledekan bang Rian, aku pun langsung menghubungi ayah.
Tut tut tut...
__ADS_1
"Assalamualaikum, yah." salam ku.
"Wa'laikum salam, udah di kirim uang nya, Ndah?" tanya ayah.
"Udah, yah. Coba ayah cek, udah masuk belum uang nya!" titah ku.
"Oh, bentar ya, Ndah! Ayah suruh Anisa ngecek sekarang." balas ayah.
"Iya, yah. Nanti kalau uang nya udah di ambil, cepat kabari aku ya, yah!" ujar ku.
"Iya, nanti ayah kabari." balas ayah menutup panggilan ku.
Setelah panggilan terputus, bang Rian kembali melontarkan pertanyaan nya pada ku.
"Gimana, Ndah? Apa kata ayah mu?" selidik bang Rian.
"Kata ayah, nanti di kabari kalau uang nya udah di ambil." jawab ku.
"Oh gitu, ya udah tunggu aja lah! Bentar lagi kan ayah mu pasti nelpon lagi." ujar bang Rian.
"Iya, bang." balas ku.
Tak butuh waktu lama, ponsel ku pun berdering tanda panggilan masuk.
"Halo, yah. Gimana, udah di ambil belum uang nya?" tanya ku.
"Udah, Ndah. Lima juta kan uang nya?" tanya ayah balik.
"Hah, lima juta!" pekik ku dengan mata terbelalak lebar.
Aku memekik tertahan sambil menutup mulut dengan telapak tangan ku. Aku langsung reflek menoleh pada bang Rian, dan dia pun hanya mengangguk sambil tersenyum membalas tatapan ku.
"Makasih uang nya ya, Ndah. Kau memang anak satu-satunya yang bisa ayah harapkan." ucap ayah.
"Iya sama-sama, yah. Tapi ingat ya, yah. Tolong pergunakan uang itu sebaik mungkin."
"Jangan boros-boros, jangan membeli sesuatu yang gak penting. Kalau ada sisa nya tolong di tabung ya, yah!"
"Karena tidak semudah membalikkan telapak tangan, untuk mendapatkan uang sebanyak itu, yah. Jadi aku mohon, turuti kata-kata ku tadi ya, yah." jelas ku panjang lebar.
"Iya iya, ayah akan tabung nanti. Itu pun kalau ada sisa nya." balas ayah dengan nada kesal.
"Ya Allah, yah. Semudah itu kah mengeluarkan kata-kata seperti itu dengan ku!" jerit ku dalam hati.
Mendengar jawaban ayah, aku pun langsung mengelus dada dan memutuskan panggilan secara sepihak. Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi dari mulut ayah.
Sakit sekali rasa nya hati ini, jika mendengar ucapan-ucapan pedas dari ayah kandung ku itu.
"Ya Allah, kenapa sifat ayah tak pernah berubah dengan ku?" batin ku dengan mata yang sudah mulai berembun.
Melihat mata ku yang sudah merah dan berair, bang Rian pun langsung memeluk erat tubuh ku.
Dia seperti nya tahu, tentang keluh kesah hati ku saat ini. Bang Rian juga membelai rambut panjang ku dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Mendapat perhatian seperti itu, tangisan ku pun langsung pecah di dalam pelukan bang Rian. Aku menangis sejadi-jadinya, sambil menenggelamkan wajah ku di dalam dekapan nya.
"Sabar, Ndah! Kamu itu sebenarnya anak yang baik. Kamu rela berkorban demi memenuhi kebutuhan keluarga mu.
"Bahkan kamu sampai rela menghancurkan masa depan mu, hanya demi menghidupi mereka semua. Abang merasa sangat bangga melihat kebaikan mu itu, Ndah."
"Semoga saja suatu hari nanti, ayah mu bisa menyadari akan kebaikan yang telah kamu lakukan selama ini kepada mereka." ujar bang Rian
Bang Rian memberikan wejangan untuk menyemangati ku, agar aku tidak bersedih dan tetap sabar, dalam menjalani pahit nya kehidupan ini.
"Iya, mudah-mudahan aja, bang." balas ku dengan suara serak.
"Yang sabar ya, anak manis! Semoga Allah selalu melindungi mu dan melimpah kan rezeki nya pada mu!" doa bang Rian untuk ku.
"Amin," balas ku.
Bang Rian mulai melepaskan pelukan nya, lalu menatap nanar wajah ku yang sudah terlihat sembab, dengan linangan air mata di kedua pipi ku.
"Udah dong, Ndah! Jangan nangis lagi, malu sama umur!"
"Wanita kuat itu gak boleh cengeng, sayang. Wanita kuat itu harus tetap tegar, dalam menghadapi masalah apa pun yang datang menghampiri nya!"
Bang Rian meledek ku sembari mengusap air mata ku dengan jari-jari tangan nya.
"Abang tu lagi ngasih semangat atau lagi meledek sih?" tanya ku bingung.
"Eh, iya juga ya. Hmmmm, kayak nya sih dua-duanya, Ndah. Hahaha,"
Tawa bang Rian pecah, karena mendengar pertanyaan ku barusan. Seperti dia juga bingung dengan ucapan nya sendiri.
__ADS_1
"Huuuu, dasar orang aneh!" cibir ku.