
"Udah, Ndah. Ntar lagi, cowok mu datang, kata nya." ujar Ririn.
"Makasih, Rin." balas ku.
Aku berdiam diri di samping Ririn, sambil memandang lurus ke depan, dengan tatapan mata yang mulai berembun.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal, kepada Haris. Apakah aku harus berkata jujur dengan nya?" batin ku.
Tak lama kemudian, Haris pun tiba. Dia memarkirkan mobil nya di depan kantin. Haris bergegas keluar dari kendaraan nya, dan melangkah dengan cepat, untuk menghampiri ku.
"Abang ke dalam dulu ya, Ndah. Mau bayar kan uang chas keluar mu dulu, ke meja kasir." bisik Haris.
"Iya," balas ku sembari mengangguk kan kepala.
Haris berjalan masuk ke dalam ruangan karaoke, untuk menjumpai Billy sang kasir. Setelah selesai membayar, Haris kembali menghampiri ku, dan menuntun tubuh ku untuk berjalan ke dalam mobil nya.
"Kami balek dulu ya, Rin!" pamit Haris kepada Ririn.
"Oke, bang." jawab Ririn sambil mengacungkan jempol nya.
Sampai di dalam mobil, Haris memasang kan sealbeat ke dada ku. Kemudian, dia mulai melajukan kendaraan nya, menuju kos tempat tinggal ku.
Setiba nya di depan gerbang kos, Haris bergegas membantu ku untuk keluar dari mobil nya. Lalu Haris merangkul pundak ku, dan kembali memapah tubuh ku.
"Pelan-pelan jalan nya, Ndah!" ujar Haris.
"Iya," jawab ku singkat.
Aku dan Haris pun berjalan beriringan, menapaki anak tangga untuk menuju ke lantai tiga. Sesampainya di depan pintu kamar, Haris segera merogoh tas ransel ku, untuk mengambil kunci.
Setelah mendapatkan nya, Haris segera membuka pintu, dan merebahkan tubuh ku di atas kasur secara perlahan. Kemudian, Haris membuka sepatu ku, dan menggantung kan tas ransel ku di belakang pintu.
"Baru aja masuk kerja, kenapa udah teler gini sih, Ndah?" tanya Haris kesal.
Haris menggerutu kesal, melihat keadaan ku yang sedang mabuk berat. Sambil mengoceh, Haris membuka pakaian ku, dan menyelimuti seluruh tubuh ku dengan selimut yang berada di dalam lemari.
"Maka nya, kalo minum itu harus di kontrol, Ndah! Jangan sampe mabuk kayak gini." omel Haris.
Aku mendengarkan semua ucapan Haris, dengan mata yang terpejam. Aku tidak sanggup untuk membuka mata, karena merasa pusing yang teramat sangat, akibat pengaruh alkohol yang aku minum tadi.
__ADS_1
Saat ingin menaruh pakaian kerja ku ke dalam keranjang, tiba-tiba mata Haris langsung terbelalak lebar. Dia tampak sangat terkejut, melihat uang yang berjatuhan dari dalam saku celana ku, yang sedang di pegang oleh nya.
"Hah, uang siapa ini?" gumam Haris.
Haris memunguti semua uang itu, dan menaruh nya di atas meja. Haris menoleh pada ku dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
"Uang dari mana ini, Ndah?"
Haris bertanya sambil menunjuk ke arah uang yang tergeletak di atas meja. Mendengar pertanyaan Haris, aku langsung membuka mata perlahan. Lalu, mengarah kan pandangan mata ku, untuk mengikuti arah jari telunjuk Haris.
"Haduh, mampus aku! Aku harus jawab apa sama Haris?" batin ku.
Setelah melihat uang yang berserak di atas meja, aku kembali memejamkan mata, dan menaruh lengan ku di atas kening.
Aku sedang memikirkan, bagaimana cara mengalihkan pembicaraan ini. Agar Haris tidak bertanya lagi tentang uang itu.
"Pura-pura muntah aja, kali ya. Biar dia gak nanyain, masalah uang itu lagi." batin ku.
Karena tidak mendapatkan jawaban dari ku, Haris pun mengulang kembali pertanyaan nya pada ku.
"Kok gak di jawab, Ndah? Uang itu dapat dari mana? Siapa yang ngasih uang sebanyak itu?"
Uwek uwek uwek...
Aku menutup mulut dengan kedua tangan ku. Kemudian, aku melempar kan selimut ke lantai, dan berusaha untuk berdiri dari kasur.
Dengan keadaan sempoyongan, dan hanya memakai pakaian dalam, aku langsung berlari kecil menuju kamar mandi.
Haris mengikuti langkah ku sampai ke dalam kamar mandi, sambil membawa handuk di tangan nya. Saat melihat kondisi ku yang sedang muntah di wastafel, Haris langsung memijat-mijat tengkuk leher ku dengan lembut.
"Keluarin aja semua nya, Ndah! Biar gak mual lagi perut mu." ujar Haris sambil terus memijat tengkuk ku.
Uwek uwek uwek...
Setelah semua isi perut ku keluar di dalam wastafel, kepala ku rasa nya semakin bertambah pusing dan berat.
Pandangan mata ku juga, semakin lama semakin buram dan gelap. Hingga akhirnya, aku terjatuh di lantai kamar mandi, dan tidak sadar kan diri.
"INDAH!" pekik Haris
__ADS_1
Haris berteriak histeris, melihat tubuh ku yang sudah tergeletak tidak berdaya, di samping kaki nya.
Tanpa pikir panjang lagi, Haris langsung mengangkat tubuh ku, untuk keluar dari kamar mandi, dan masuk ke dalam kamar.
Setelah tiba di kamar, Haris membaringkan tubuh ku di atas kasur, dan mencari minyak angin di dalam tas ransel ku. Setelah itu, Haris mengoleskan minyak angin itu, ke bagian hidung ku.
"Indah, bangun, Ndah! Indah, bangun dong, sayang!"
Haris mengguncang-guncang pelan bahu ku, sambil terus mendekat kan botol minyak angin itu, ke depan hidung ku. Setelah beberapa saat tidak sadar kan diri, akhir nya aku pun mulai membuka mata.
Aku memegangi kepala, yang semakin berdenyut-denyut tidak karuan. Melihat raut wajah ku yang sedang meringis kesakitan, Haris pun mengulur kan tangan nya, untuk memijat kepala ku.
"Niat nya tadi kan, cuma ingin berpura-pura saja. Kenapa jadi malah beneran gini sih?" gerutu ku dalam hati.
"Kepala mu sakit ya, Ndah?" tanya Haris.
"Iya, rasa nya sakit banget." jawab ku lirih.
"Lain kali, jangan minum sampe mabuk gini ya, Ndah! Jaga kesehatan mu, jangan sampe kayak gini lagi!" ujar Haris.
"Iya, bang." balas ku.
Tanpa ku sadari, air mata ku jatuh membasahi kedua pipi ku. Aku sangat terharu dengan perhatian Haris. Aku merasa sangat bersalah pada nya, karena telah mengingkari janji ku sendiri.
"Maaf kan aku, bang!" ucap ku dalam hati.
Haris menghentikan pijatan nya di kepala ku. Dia tampak bingung, menatap wajah ku yang sudah di basahi dengan air mata.
"Cuma di bilangin gitu aja kok nangis sih, Ndah?" tanya Haris.
Haris mengusap air mata ku dengan jari tangan nya. Lalu, dia membawa tubuh ku ke dalam dekapan hangat nya. Tangisan ku yang tadi nya tidak bersuara, kini semakin pecah dan menjadi-jadi, di dalam dekapan Haris.
"Udah ah, jangan nangis lagi! Sekarang, kita bobok aja, ya!" ujar Haris.
Aku mengangguk, mengiyakan ucapan Haris. Dan Haris pun kembali membaringkan tubuh ku di atas kasur. Setelah itu, Haris ikut membaringkan tubuh nya di samping ku. Dia memeluk ku dengan sangat erat, sambil berbisik...
"Tidur lah, sayang! Pejamkan mata mu." ujar Haris.
"Iya, bang." jawab ku.
__ADS_1
Aku dan Haris pun mulai memejamkan mata. Tak butuh waktu lama, kami berdua pun tertidur lelap, dan masuk ke alam mimpi yang indah.