
"Oke lah, aku pindah sekarang." balas ku.
Aku sudah memantapkan hati untuk berpindah tempat tinggal. Aku tidak ingin Haris kembali mengganggu ketenangan hati dan jiwa ku.
"Ya udah, ayo kita siap-siap! Biar abang bantu ngangkatin barang-barang mu." seru bang Rian.
"Oke," balas ku.
Aku dan bang Rian bersiap-siap untuk pergi ke kos tempat tinggal ku. Sesudah mengunci pintu kamar, kami berdua turun ke lantai dasar sambil bergandengan tangan.
Sampai di parkiran, kami berdua masuk ke dalam mobil dan memasang sealbeat masing-masing.
"Udah, sayang?" tanya bang Rian menoleh sekilas pada ku.
"Udah," jawab ku.
Setelah mendengar jawaban ku, bang Rian pun mulai menjalankan kendaraan roda empat nya menuju kos ku.
Tak butuh waktu lama, kami berdua pun tiba di depan gerbang kos berlantai tiga tersebut. Setelah memarkirkan mobil di tempat yang sudah tersedia, aku dan bang Rian segera turun dari mobil, lalu melangkah masuk ke dalam gerbang.
Kami mulai menapaki anak tangga untuk menuju ke lantai tiga, tempat dimana kamar ku berada. Sampai di depan kamar, aku segera merogoh tas untuk mengambil kunci.
Setelah itu aku segera membuka pintu, dan mengajak bang Rian untuk masuk ke dalam nya.
Ceklek...
"Ayo masuk, bang!" seru ku.
"Ya," balas bang Rian sembari melangkah kan kaki nya, untuk masuk ke dalam kamar sederhana ku.
Setelah menutup pintu, aku dan bang Rian segera berkemas dan merapikan barang-barang ke dalam tas, koper, dan juga kardus. Setelah selesai, kami berdua duduk di tepi kasur lalu menyalakan rokok masing-masing.
"Untuk lemari pakaian, bufet, sama kasur nya, kita naik kan ke mobil pickup aja ya, sayang." ujar bang Rian.
"Pickup siapa?" tanya ku dengan kening mengkerut.
"Ya punya abang lah, sayang. Kan gak mungkin punya tetangga." jawab bang Rian sembari mencubit gemas pipi ku.
"Hehehe, siapa tau nyolong punya orang." balas ku asal.
"Ya enggak lah, aneh-aneh aja. Mobil itu guna nya cuma untuk ngantar-ngantar barang pelanggan aja." jelas bang Rian.
"Oooohhh, gitu. Ya udah deh, terserah abang aja." balas ku.
__ADS_1
"Oke, abang hubungi Andre dulu. Biar dia yang bawa mobil itu kesini." ujar bang Rian.
Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan bang Rian, lalu kembali menghisap rokok yang masih tersisa separuh di tangan ku.
Bang Rian mulai mengotak-atik ponsel nya, untuk menghubungi teman nya yang bernama Andre, laki-laki yang pernah berkencan dengan sahabat ku Ririn.
Tut tut tut...
"Halo, Ndre. Kau lagi dimana sekarang?" tanya bang Rian setelah panggilan nya tersambung pada Andre.
Bang Rian sengaja mengaktifkan pengeras suara di ponsel nya, agar aku juga bisa mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Lagi di kos, emang ada apa, bos?" tanya Andre balik.
"Lagi sibuk gak?" tanya bang Rian lagi.
"Gak lah, lagi baring-baring aja kok. Emang kenapa sih?" selidik Andre mulai penasaran.
"Aku mau minta tolong, bawa kan pickup ku ke alamat A sekarang, bisa kan?" ujar bang Rian sedikit memaksa.
"Oh oke, aku kesana sekarang." jawab Andre.
"Oke, makasih ya." balas bang Rian.
"Ya sama-sama, bos." jawab Andre.
"Udah denger sendiri kan tadi? Bentar lagi dia pasti bakalan datang, untuk bantuin kita pindahan." ujar bang Rian sembari menghisap rokok nya.
"Iya, aku denger. Makasih banyak ya, bang. Aku jadi gak enak udah ngerepotin abang sama Andre."
Balas ku dengan mata yang mulai berembun, lalu menunduk kan kepala. Melihat wajah ku yang di tekuk lesu, bang Rian pun kembali berceloteh ria.
Dia paling tidak suka jika melihat ku bersedih, apa lagi sampai meneteskan air mata.
"Udah, gak usah lebay gitu ah! Cuma bantuin gini doang kok pake acara gak enak segala." oceh bang Rian kesal.
Bang Rian mengacak-acak rambut ku, lalu membawa ku ke dalam pelukan nya. Dia mengelus lembut bahu ku, dan mendarat kan kecupan mesra nya di kening ku.
"Jangan pernah bersedih atau pun menangis, hanya karena laki-laki seperti dia. Anak rantau harus kuat, harus mental baja. Jangan mudah meleleh hanya karena cinta." tutur bang Rian.
"Kalau kamu lemah, bagaimana kamu bisa membiayai hidup keluarga mu di sana? Sedangkan kamu itu tulang punggung mereka. Kalau kamu rapuh, bagaimana nasib mereka nanti nya?" lanjut bang Rian.
Bang Rian membelai lembut rambut panjang ku. Dia berusaha menyemangati ku, dan memberi support pada ku. Agar aku tidak patah semangat, dan tetap tegar dalam menghadapi cobaan hidup ini.
__ADS_1
"Iya, abang tenang aja. Aku kuat kok, aku tidak selemah dan serapuh yang abang kira." balas ku.
"Oke, good. Itu lah yang abang suka dari mu. Kau wanita kuat dan tangguh, abang bangga dengan mu." puji bang Rian sembari tersenyum, dan mengacungkan jempol nya pada ku.
"Halah, lebay. Kayak Saras 008 aja di bilang tangguh segala, hihihi." cibir ku sembari cekikikan.
"Hahahaha, bukan Saras 008, tapi cat woman. Kamu kan paling pandai manjat-manjat, apa lagi manjat abang, paling jago kamu mah, hahaha." oceh bang Rian lalu tertawa terbahak-bahak.
"Huuuuu, dasar mesum!" cibir ku menepuk kuat lengan bang Rian.
"Aduuuuh, sakit banget, sayang!" pekik bang Rian sembari meringis kesakitan.
"Sokor, maka nya jangan gatal kali jadi orang. Udah tua gitu pun masih aja kegatalan, hihihi." umpat ku kembali terkikik geli.
"Iiiisss, jahat kali pun. Bukan nya minta maaf, malah tambah ngomel pulak muncung lancip nya ini." gerutu bang Rian lalu menyumpal mulut rombeng ku dengan bibir nya.
Mendapat serangan mendadak dari bang Rian, aku pun langsung mematung dengan mata terbelalak lebar. Aku sedikit syok, akibat ulah nakal bang Rian yang secara tiba-tiba.
Setelah beberapa menit mengabsen isi mulut ku, bang Rian pun melepaskan bibir nya dan memegangi kedua pipi ku, lalu berkata...
"Abang pengen, sayang." ujar bang Rian dengan mata sayu nya.
"Pengen apa? Pengen di tabok ya, hahaha." canda ku sembari tertawa ngakak.
"Ogah, abang mau nya ini." balas bang Rian.
Dia menempelkan telapak tangan nya di bawah perut ku, lalu kembali mencium bibir ku dengan nafas yang mulai tidak beraturan.
Karena sudah mulai bergairah akibat ulah bang Rian, akhirnya aku pun membalas ciuman nya dengan mata terpejam. Sedang asyik-asyiknya menikmati pergulatan lidah, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar.
Tok tok tok...
"Bos, buka pintu nya, bos!" pekik Andre sembari terus mengetuk-ngetuk pintu.
Mendengar suara Andre yang cukup kuat, aku pun langsung tersentak kaget, dan reflek melepaskan ciuman bang Rian.
"Ck, kok cepat kali sih datang nya setan satu ini. Ganggu kesenangan ku aja." gerutu bang Rian kesal.
Bang Rian segera bangkit dari tempat duduk nya, dan berjalan tiga langkah untuk membuka pintu. Setelah pintu terbuka lebar, Andre langsung melontarkan pertanyaan beruntun kepada bang Rian.
"Lagi ngapain sih, bos? Kok lama banget buka pintu nya? Gak tau apa kalau kaki ku ini udah kesemutan, gara-gara kelamaan berdiri di depan pintu?"
Omel Andre sambil berpura-pura meringis, dan memijat kedua kaki nya. Andre melirik ke arah ku sekilas, lalu kembali memijat-mijat kaki nya.
__ADS_1
"Helehh, lebay." cibir bang Rian sembari memiringkan bibir nya.
"Hihihi," aku hanya cekikikan melihat kedua lelaki tampan dan gagah, yang ada di depan ku tersebut.