
Setelah bayangan bang Rian hilang dari pandangan mata ku, aku pun mulai melangkah masuk ke dalam pintu gerbang, dan berjalan melewati lorong yang cukup panjang.
Setibanya di depan kamar, aku segera membuka pintu dan masuk ke dalam. Setelah meletakkan tas di atas meja, aku merebahkan diri di atas kasur tanpa berganti pakaian terlebih dahulu.
"Kira-kira ayah setuju gak ya, kalau aku menikah dengan bang Rian?" batin ku sedikit ragu.
Aku kembali merenung tentang lamaran bang Rian, dan aku bingung harus bagaimana cara membicarakan masalah ini kepada ayah. Sedang asyik melamun tentang bang Rian, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar.
Tok tok tok...
"Woy, lampir. Buka pintu nya, aku bawa nasi Padang nih. Kau mau gak?" teriak Ririn, sahabat koplak ku itu.
Wajah ku langsung berbinar cerah, mendengar suara Ririn yang membawakan makanan untuk ku.
"Waaahh, gombreng satu itu tau aja kalau aku belum makan," gumam ku dengan senyum mengembang.
"Ya, bentar!" pekik ku.
Tanpa pikir panjang lagi, aku pun segera bangkit dari kasur dan berlari kecil menuju pintu. Setelah pintu terbuka, Ririn pun langsung nyelonong masuk sambil mengoceh panjang lebar.
"Ck, kau itu ngapain aja sih dari tadi? Lama banget buka pintu nya, sampe pegel kaki ku nungguin nya," omel Ririn dengan wajah cemberut dan duduk bersila di lantai.
"Hehehehe, sorry bestie, aku ketiduran," bohong ku sembari nyengir kuda dan duduk selonjoran di depan nya.
"Halah, alasan. Bilang aja kau lagi menghayal yang aneh-aneh. Ya kan, ngaku aja deh!" tebak Ririn.
Ia masih terus mengoceh, sambil mengeluarkan dua bungkus nasi Padang dari kantong plastik hitam, lalu menyodorkan satu bungkus ke depan ku.
"Waaahh, hebat juga anak dukun satu ini, bisa menebak isi kepala ku!" ujar ku memberi pujian pada nya.
"Hush, sembarangan bilangin orang anak dukun! Mau minta di santet lambe dower mu itu ya?" gerutu Ririn sembari menepuk lengan ku dengan kuat, hingga membuat ku menjerit kesakitan.
"Adooooh, sakit dodol!" jerit ku dengan wajah meringis, sambil mengelus-elus lengan yang baru saja di tepuk oleh Ririn.
"Sokor, maka nya jangan asal njeplak kalo ngomong. Kena batu nya jadi nya kan, hahaha," umpat Ririn sembari tertawa ngakak.
"Huuuuu, dasar gemblung!" umpat ku dengan bibir mengerucut dan menoyor jidat lebar nya.
"Udah, gak usah pake acara ngedumel segala. Ayo kita makan, perut ku udah keroncongan terus nih dari tadi!" ajak Ririn lalu membuka makanan nya dan melahap nya dengan cepat.
"Iya, baweeel!" balas ku lalu ikut membuka makanan ku dan memakan nya dengan santai.
Tak butuh waktu lama, acara makan bersama pun telah usai. Aku dan Ririn duduk bersandar di dinding, lalu menyalakan rokok masing-masing.
"Rin, aku boleh curhat gak?" tanya ku membuka percakapan kembali.
"Curhat tentang apa?" tanya Ririn menoleh pada ku.
__ADS_1
"Tentang bang Rian," jawab ku lalu menghisap rokok kembali.
"Emang kenapa dengan bang Rian? Apa kalian sedang berantem?" tanya Ririn dengan kening mengkerut.
Aku menghela nafas dalam-dalam, lalu menatap lurus ke depan dengan pandangan menerawang.
"Bukan lagi berantem, tapi bang Rian ingin melamar ku," jawab ku lirih.
Mendengar penuturan ku, mata Ririn pun langsung mendelik. Ekspresi wajah nya terlihat syok dan terkejut, dengan mulut menganga lebar.
"Whaaaattt? Melamar?" teriak Ririn dengan suara melengking.
Aku reflek menutup kedua telinga, karena tidak tahan mendengar suara cempreng nya. Setelah itu, aku pun menjitak jidat nya sambil berucap...
"Ssstttt, berisik banget sih muncung mu! Bikin gendang telinga ku korslet aja," gerutu ku.
Kemudian aku pun membungkam mulut rombeng Ririn dengan sedikit kuat. Hingga membuat nya susah bernafas dan menepis tangan ku dengan kasar.
"Iiiiihhh, lepasin! Sampe sesak nafas ku kau buat, tau gak?" omel Ririn lalu memanyunkan bibir nya ke depan, persis seperti bebek bakar.
"Makanya jangan heboh kali jadi orang, selow aja selow!" oceh ku.
"Iya iya, aku udah selow nih. Lanjutin lagi lah ceritanya. Aku masih kepo nih, dengan hubungan kalian berdua," ujar Ririn masih penasaran dengan kelanjutan cerita ku.
"Oke, aku akan lanjutin cerita nya. Tapi jangan berisik ya, biar aku lebih fokus ceritainnya," balas ku memberi peringatan kepada Ririn.
Penampakan Indah dengan senyum menawan nya.
Aku hanya tersenyum, melihat segala macam tingkah dan kelakuan aneh sahabat ku itu. Setelah melihat Ririn tenang, aku pun kembali menceritakan tentang hubungan ku dengan bang Rian.
"Kemaren bang Rian menyuruh ku libur kerja. Trus dia mengajak ku jalan-jalan ke jembatan Barelang, dan kami menginap di hotel tepi pantai semalam," tutur ku.
Penampakan jembatan 1 Barelang Batam pada malam hari.
Mendengar ucapan ku, Ririn pun langsung mencak-mencak seperti orang kesurupan. Ia tidak terima, karena aku tidak mengajak nya untuk ikut menginap di sana.
"Wah wah wah, jahat banget sih kalian berdua. Masa pergi happy-happy gak ngajak-ngajak aku sih? Tega bener sama kawan sendiri," omel Ririn.
Ririn memasang wajah masam sambil bersidekap di depan ku. Ia terlihat sangat kesal dan kecewa dengan sikap ku yang mengabaikan nya.
"Heh, kamvret! Kalau kau ikut dengan kami, trus kau mau nginap sama siapa? Masa iya kau mau tidur bareng kami? Aneh-aneh saja nih bocah semprul!" omel ku tak mau kalah.
Ririn pun langsung terdiam seketika, setelah mendengar celotehan ku. Tak lama kemudian, ia pun manggut-manggut lalu berkata...
__ADS_1
"Eh, iya juga ya. Masa iya aku cuma jadi obat nyamuk kalian? Yang ada nanti nya, aku bakalan gak bisa tidur tujuh hari tujuh malam, gara-gara nonton siaran langsung kalian berdua. Hiiiiii, ogah banget!" gerutu Ririn.
Ia bergidik ngeri, ketika membayangkan diri nya sedang menonton adegan ranjang ku dengan bang Rian.
"Naaah, tu tau! Aku juga berpikiran seperti itu, maka nya aku gak mau ngajak dirimu," bohong ku.
Aku sengaja berbohong kepada Ririn, agar dia tidak marah atau pun kecewa dengan ku. Padahal aku memang tidak ingat sama sekali, untuk mengajak nya ikut bersama kami semalam.
"Hufff, syukur lah dia langsung percaya. Kalau tidak, bisa-bisa dia nangis kejer nanti nya," batin ku menghela nafas lega.
"Trus trus, gimana lagi cerita nya? Kok tiba-tiba bang Rian bisa melamar mu? Emang udah kau kasih pelet apa dia? Maka nya bisa sampe lengket gitu dengan mu?" tuduh Ririn dengan wajah serius.
Mata ku langsung melotot saat mendengar ucapan nyeleneh Ririn. Lagi-lagi, aku mendarat kan jitakan ku ke jidat nya, lalu berkata...
"Heh, gombreng! Jangan sembarangan kalo ngomong. Siapa juga yang ngasih pelet ke dia? Biar pun aku nakal begini, tapi aku tidak pernah berurusan sama yang nama nya pelet memelet, ngerti!" tegas ku.
"Hehehehe, santai lah, Genk. Masa di candain gitu aja langsung spaning (emosi) sih? Kayak baru kenal aku sehari dua hari aja," oceh Ririn sembari cengar-cengir salah tingkah.
Aku memutar bola mata malas mendengar ocehan Ririn. Setelah mematikan api rokok ke dalam asbak, aku pun kembali mengomel pada nya.
"Bukan nya spaning, tapi emang begitu kenyataannya. Aku memang nggak pernah berhubungan dengan hal begituan. Nakal-nakal begini, aku masih tau mana yang baik dan mana yang buruk," jelas ku panjang lebar.
"Iya iya, aku juga ngerti kok. Tadi kan aku cuma bercanda sih. Jangan di masukkan ke hati ya, masukkan ke jantung saja, hehehe!" ledek Ririn sembari terkekeh.
"Huuuuu, dasar gendeng!" umpat ku lalu menyenggol bahu nya.
Aku dan Ririn sama-sama terdiam. Kami sibuk dengan pikiran dan lamunan masing-masing. Setelah beberapa saat hening, Ririn pun membuka perbincangan kembali.
"Ayo lanjutin lagi cerita nya, Ndah! Aku masih penasaran banget nih. Kok bisa bang Rian melamar mu secepat itu? Padahal kan kalian baru kenal beberapa bulan saja?" desak Ririn tidak sabar.
"Entah lah, Rin. Jangan kan dirimu, aku saja sempat syok dengan keputusan bang Rian semalam," jawab ku.
"Trus, waktu dia bilang ingin melamar mu, kau jawab apa?" tanya Ririn lagi.
"Pertama nya sih, aku enggan untuk menjawab nya. Tapi setelah bang Rian terus meyakinkan ku, akhirnya aku menerima lamaran nya, tapi..."
Aku menggantung kata-kata ku, hingga membuat rasa penasaran Ririn semakin menjadi-jadi.
"Tapi apa? Jangan bilang, kalau kau masih ragu dengan kesungguhan nya?" tebak Ririn.
"Bukan itu masalah nya, tapi aku bingung dengan ayah ku. Apakah ayah ku akan setuju dengan keputusan ku ini? Sedangkan kau tau sendiri, gimana sifat ayah ku selama ini?" jelas ku lalu menunduk kan kepala.
"Oh iya, bener juga sih. Kok aku gak ada kepikiran sampe kesana ya?" gumam Ririn sembari manggut-manggut, membenarkan ucapan ku.
"Tu lah, maka nya sekarang aku lagi bingung. Aku pusing mikirin gimana cara nya ngomong sama ayah ku?" lanjut ku sembari memegangi kepala dengan kedua tangan ku.
Kami berdua pun kembali berdiam diri. Ririn tampak sibuk dengan pikiran nya sendiri. Begitu juga dengan ku, aku juga sibuk memikirkan tentang ayah dan bang Rian.
__ADS_1
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan saat ini? Apa yang harus aku katakan kepada ayah mengenai hal ini?" batin ku bingung.