
Aku mulai gelisah dan tidak tenang, melihat tatapan Billy yang mampu meluluh lantakkan hati ku. Saat hendak memalingkan wajah ku ke arah lain, tiba-tiba Billy tersenyum dan mengerlingkan mata nya pada ku.
Ririn yang melihat tingkah aneh Billy pun kembali membelalakkan mata nya, lalu menepuk bahu lelaki itu dengan kuat.
"Woy, kamvret! Kau ngapain pake acara kedip-kedip mata segala, hah? Kelilipan biji mata mu ya?" ledek Ririn.
Mendapat tepukan di bahu nya, Billy pun langsung tersentak kaget dan menoleh ke arah Ririn, lalu berkata...
"Suka-suka aku lah, sirik aja lu." balas Billy cuek lalu kembali memperhatikan wajah ku.
"Bukan nya sirik, dodol. Tapi aku heran aja lihat keanehan mu malam ini." ujar Ririn.
"Gak usah lebay deh, gak ada yang aneh kok. Semua nya masih biasa-biasa aja." balas Billy tanpa menoleh pada lawan bicara nya.
Aku hanya senyam-senyum, sambil terus memperhatikan perdebatan kedua anak manusia yang ada di hadapan ku itu. Tak lama kemudian, makanan dan minuman yang kami pesan pun tiba dan tertata rapi di atas meja.
"Silahkan di nikmati hidangan nya, kak!" ujar si pelayan dengan ramah dan sopan.
"Oke, makasih ya, mbak." jawab ku sembari tersenyum.
Pelayan itu pun mengangguk dan membalas senyuman ku. Setelah itu, ia pun berlalu pergi untuk melayani pelanggan lain nya.
"Ayo kita makan, guys! Mumpung masih anget nih." seru ku kepada Ririn dan Billy.
"Oke," balas mereka serempak. Kami bertiga pun mulai memakan makanan masing-masing dengan santai dan tenang.
Saat sedang asyik menikmati hidangan lezat itu, tiba-tiba mata Ririn terbelalak selebar-lebar nya, saat melihat Haris menggandeng tangan seorang wanita, dan berjalan menuju ke arah meja kami.
"Ndah, tengok tuh!" ujar Ririn pelan.
Lalu ia pun menendang kaki ku, dan menunjuk ke arah Haris dengan dagu nya. Melihat reaksi wajah Ririn yang tampak terkejut, aku pun langsung mengikuti arah dagu nya.
Degh...
Setelah melihat nya, dada ku langsung mendadak nyeri seketika. Hingga tanpa sadar, air mata ku langsung menetes di kedua pipi ku. Aku menangis dalam diam, lalu dengan gerakan cepat aku pun memalingkan wajah ke samping.
Melihat air mata ku yang semakin mengalir deras, Billy pun langsung mengerti dan dengan sigap menarik ku ke dalam dekapan nya. Dia menenggelamkan wajah ku di dada bidang nya.
Billy membelai rambut ku dengan lembut, sambil sesekali mendarat kan kecupan nya di kepala ku. Ririn hanya diam melihat perlakuan Billy pada ku. Dia seakan-akan mengerti, akan keadaan ku saat ini.
__ADS_1
"Sabar, Ndah. Untuk apa kau tangisi laki-laki brengsek seperti dia. Ingat pepatah mengatakan, patah satu tumbuh seribu. Masih banyak laki-laki di luaran sana yang bisa membahagiakan mu." tutur Ririn menyemangati ku.
"Ya, termasuk aku." sambung Billy.
Dan itu berhasil membuat tangisan ku langsung terhenti seketika. Sedangkan Ririn, dia juga tak kalah terkejut nya dengan ku. Saat Ririn hendak membalas ucapan Billy, tiba-tiba...
"Hai Ndah, apa kabar? Siapa dia? Incaran baru mu ya?" cibir Haris sambil tersenyum miring, dan merangkul pundak wanita seksi yang ada di sebelah nya.
Mendengar suara Haris, aku pun langsung menoleh dan menyandarkan kepala ku di bahu Billy.
"Ya, tebakan mu benar sekali. Dia adalah kekasih baru ku, pengganti dirimu." jawab ku.
Aku melingkarkan kedua tangan ku di pinggang Billy, dan bergelayut manja di dada nya.
Billy yang sudah paham akan maksud ku pun, langsung menyambut nya dengan senang hati. Ia juga melingkarkan kedua tangan nya di tubuh ku, lalu mengecup pipi ku dengan mesra.
"Ya, dia memang pacar ku. Jadi jangan pernah mengganggu nya lagi. Atau kalau tidak, kau akan berhadapan dengan ku, paham!" tegas Billy dengan mimik wajah serius.
"Cih, dasar perempuan murah*n!" umpat Haris pada ku, lalu membuang ludah nya ke bawah kaki nya.
"Asal kau tau ya laki-laki bodoh, aku juga tidak sudi lagi berhubungan dengan nya. Aku sudah jijik menyentuh tubuh kotor nya itu. Karena apa? Ya, karena sudah terlalu banyak laki-laki yang sudah mencicipi tubuh nya." ujar Haris dengan nada sombong nya.
Tapi sebelum itu terjadi, aku langsung mengeratkan pelukan ku ke tubuh Billy, lalu menggelengkan kepala ku pada nya. Melihat kode yang aku berikan, Billy pun langsung mengerti dan menahan emosi nya. Setelah amarah Billy mulai mereda, aku pun menoleh pada Haris lalu berkata...
"Dari pada kesini cuma bikin rusuh, mendingan kalian pergi dari sini, sebelum aku panggil kan security untuk menyeret kalian berdua." tegas ku.
Mendengar ancaman ku, wanita seksi yang sedari tadi berdiri di samping Haris pun langsung ketakutan, dan mengajak Haris untuk segera pergi.
"Ayo kita pergi, bang! Kita cari tempat karaoke yang lain aja." ajak wanita itu sambil menarik-narik lengan Haris.
"Oke, sayang. Abang juga gak sudi minum di tempat ini." balas Haris.
Saat hendak melangkah pergi, Haris pun kembali menoleh dan tersenyum miring pada ku sembari berucap...
"Bye, perempuan murah*n! Semoga saja kau tidak menyesal, karena sudah kehilangan lelaki sebaik aku, hahahaha." gelak Haris sambil melambaikan tangan nya pada ku.
Ririn yang sedari tadi hanya diam pun langsung membuka suara nya, ketika mendengar hinaan yang terlontar dari mulut berbisa Haris.
"Cih, kepedean banget manusia bunglon satu ini. Muka kayak kaleng rombeng aja belagu nya minta ampun. Hadehh, capek deh." cibir Ririn sembari menempel kan punggung tangan ke dahi nya sendiri.
__ADS_1
"Suka-suka aku dong, kenapa situ yang sibuk?" balas Haris tak mau kalah.
"Bukan nya sibuk, hanya saja mata ku mendadak gatel karena melihat dua ulat bulu seperti kalian." sindir Ririn sambil berpura-pura mengucek mata nya.
"Hush hush, pergi sana! Merusak pemandangan ku aja." usir Ririn sembari mengayun-ayunkan tangan nya ke arah Haris, persis seperti mengusir anak ayam.
Karena merasa di permalukan oleh Ririn, Haris pun akhirnya melangkah pergi dengan wajah masam nya.
Setelah kepergian Haris dan wanita seksi nya, kami bertiga pun melanjutkan acara makan bersama yang sempat tertunda akibat kedatangan Haris.
"Udah, gak usah di ladeni lagi laki-laki gila itu, Ndah. Mendingan kau sama bang Rian aja, dari pada sama dia."
Ujar Ririn lalu kembali menyendok kan makanan ke mulut nya, tanpa memperdulikan wajah Billy yang tampak kesal dengan ucapan nya tersebut.
Karena merasa penasaran, Billy pun menanyakan tentang sosok bang Rian kepada Ririn, sambil sesekali melirik ke arah ku dengan ekor mata nya.
"Emang Rian itu siapa, Rin?" tanya Billy mulai melakukan penyelidikan nya.
"Oh itu, dia tamu spesial nya si lampir." jawab Ririn dengan polos nya, sambil menunjuk ke arah ku dengan bibir nya.
"Tamu spesial? Maksud nya?" tanya Billy lagi.
"Maksud nya partner ranj..."
Sebelum Ririn meneruskan kata-kata nya, aku pun dengan cepat membungkam mulut rombeng nya dengan telapak tangan ku.
"Ssstttt," ujar ku dengan mata mendelik, dan menatap Ririn dengan wajah sehoror mungkin.
Billy yang seolah-olah mengerti dengan ucapan Ririn tadi pun langsung manggut-manggut, dan memalingkan wajah nya ke arah lain. Ia tampak kecewa, setelah mendengar penuturan Ririn tentang bang Rian.
Setelah beberapa saat membungkam mulut Ririn, aku pun mulai melepaskan nya dan segera menghabiskan makanan ku, tanpa berkata apa-apa lagi. Selesai makan, aku memanggil si pelayan untuk membayar tagihan makanan kami bertiga.
"Mbak, minta nota nya!" seru ku.
"Oke, sebentar ya, kak." jawab si pelayan.
Setelah selesai menghitung tagihan nya, si pelayan kantin pun datang menghampiri kami sambil membawa keras kecil di tangan nya. Saat hendak merogoh saku celana, tiba-tiba Billy memegangi tangan ku sambil berkata...
"Biar aku yang bayar." ujar Billy lalu mengeluarkan uang dari dompet nya, dan menyerahkan uang itu ke tangan ku.
__ADS_1