
Setelah beristirahat beberapa jam, aku terbangun dan langsung berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam, aku pun langsung bergegas memakai pakaian kerja.
Kemudian memoles sedikit wajah dan menyemprotkan parfum ke seluruh tubuh. Selanjutnya, memakai sepatu dan menyambar tas ransel yang tergantung di belakang pintu.
Setelah semua nya selesai, aku mulai melangkah kaki keluar kamar dan mengunci pintu.
"Bismillahirrahmanirrahim." gumam ku sambil mulai melangkah menuju ke tempat kerja.
Setelah berjalan kurang lebih sepuluh menit, aku pun sudah tiba di lokasi kerja.
Aku langsung mengisi absen, dan bergabung dengan teman-teman lainnya di bangku panjang di luar ruangan karaoke.
"Woy, lampir!" pekik Rara mengagetkan ku.
Rara menepuk kedua pundak ku sambil berteriak. Aku reflek memekik dan mengelus-elus dada akibat ulah Rara tersebut.
"Dasar, kamvreet!" umpat ku.
"Kebiasaan nih bocah, bikin jantungan aja kerjaan nya." gerutu ku kesal.
"Hahaha." Rara tertawa renyah.
"Dasar, ulat keket! Di bilangin malah ketawa pulak dia."
Aku mengumpat dan melemparkan gulungan tisu ke wajah Rara yang sudah duduk di hadapan ku. Rara mengelakkan lemparan ku sambil menjulurkan lidahnya.
"Gak kenal, weekk!" balas Rara.
"Oalah, punya kawan kok gini amat yak!" gerutu ku.
"Emang nya aku kenapa, Ndah?" tanya Rara bingung.
"Gilak, hahaha." jawab ku.
Aku berbisik di telinga Rara dan tertawa terbahak-bahak. Rara pun kembali mengumpat ku sambil terkekeh.
"Hahaha, dasar lampir gak ada akhlak! Enak aja kau bilang aku gilak." balas Rara.
Setelah selesai ber haha hihi dengan Rara, Lisa datang memberi pengumuman pada kami semua para waiters.
"Hai, girls. Hari ini kita gajian ya!" pekik Lisa.
Lisa mengangkat satu tangan nya yang sedang memegang banyak amplop berwarna putih.
"Yes, alhamdulillah." ujar kami serempak.
Kami semua bersorak kegirangan, layak nya seperti anak SD yang sedang mendengar lonceng tanda pelajaran berakhir. Ya, seperti itu lah kira-kira kalau di bayangkan.
Lisa mulai memanggil kami satu persatu sesuai nama yang tertera di amplop putih tersebut. Setelah pembagian gaji selesai, aku segera membuka amplop itu dan menghitung isi nya.
"Alhamdulillah."
Aku berucap syukur setelah mengetahui jumlah gaji ku bulan ini. Aku menyimpan kembali uang itu di dalam dompet yang ada di dalam tas ransel.
"Ra, besok kita ke toko emas yok!" ajak ku pada Rara teman resek ku itu.
"Mau ngapain ke toko emas?" tanya Rara penasaran.
"Mau beli daging!" jawab ku asal.
"Hah, gila kau ya? Masa beli daging di toko emas?" balas Rara menoyor sambil jidat ku.
"Yang gila itu kau, dodol! Udah tau aku ngajak ke toko emas, pake nanya segala mau ngapain?" balas ku sewot.
"Hahaha, iya juga ya, Ndah. Kok aku jadi lola(loading lama) gini sih!" ujar Rara.
"Entah, kau sendiri aja bingung apa lagi aku?" jawab ku sambil mengendik kan bahu, bingung dengan ucapan teman aneh ku yang satu ini.
"Apa karena pengaruh baru dapat duit ya, maka nya jadi lola gini!" jawab Rara.
"Dasar, edan." umpat ku.
Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Rara yang sedang menepuk-nepuk pelan kepala nya sendiri.
"Oke lah, Ndah. Jam berapa besok kita berangkat nya? Trus ketemuan nya dimana?" tanya Rara.
"Kita ketemuan nya di taman aja besok jam satu siang ya, gimana bisa gak?" usul ku.
"Bisa," jawab Rara.
"Oke lah kalo gitu. Awas jangan sampe lupa jam satu siang!" ancam ku.
__ADS_1
"Iya iya, bawel banget sih." jawab Rara sambil cemberut.
"Hahaha, jelek kali muka mu itu!" ledek ku.
Aku tertawa melihat wajah Rara yang sedang manyun sambil mengerucutkan bibir nya.
Selesai bercanda ria bersama Rara, kami berdua pun kembali bekerja seperti biasa. Beberapa saat kemudian, datang lah satu mobil berwarna hitam dan berhenti tepat di depan gedung karaoke kami.
Setelah memarkirkan mobil nya, para tamu lelaki yang berjumlah tiga orang itu pun segera keluar dari kendaraan nya.
Mereka bertiga berjalan masuk ke dalam ruangan karaoke dan langsung di ikuti oleh Lisa dari belakang.
Lisa mempersilahkan mereka untuk duduk, di tempat yang sudah di siapkan oleh sang kapten kami.
"Mau minum apa, bang?" tanya Lisa
Salah satu dari lelaki itu pun menjawab, sambil menatap genit kepada Lisa. Dan Lisa pun hanya tersenyum menanggapi ulah tamu itu.
"Minuman hitam dan putih, masing-masing dua botol sama rokok nya tiga bungkus. Dan panggil kan tiga cewek kesini ya, adek manis!" ucap lelaki itu.
"Oke siap, abang ganteng!" balas Lisa.
Setelah itu, Lisa pun langsung berjalan ke meja kasir untuk memesan minuman kepada Billy. Selesai memesan, Lisa kembali berjalan keluar ruangan untuk memanggil tiga orang waiters.
"Girls, tamu itu butuh tiga orang. Rara, Tia, dan Indah. Kalian masuk temani mereka minum di dalam!" perintah Lisa.
"Oke, Lis." balas kami bertiga serempak.
Kami bertiga pun langsung masuk ke dalam ruangan dan menghampiri meja tamu tersebut. Kami menenteng minuman dan gelas yang sudah di sediakan oleh Billy di atas meja kasir.
Sampai di meja, aku mendudukkan diri di samping lelaki yang berbadan tambun. Lalu aku mulai menuangkan minuman itu ke dalam gelas dan menyerahkan nya kepada lelaki yang ada di samping ku.
"Ini minuman nya, bang!" ucap ku ramah dengan senyum yang mengembang.
"Makasih ya, cantik." balas lelaki itu.
Lelaki itu menerima gelas minuman dari tangan ku dan meminum nya sampai tandas. Aku langsung melongo, melihat lelaki itu menghabiskan minuman nya hanya dalam satu nafas saja.
"Haus ya, bang?" tanya ku sambil tersenyum manis pada nya.
"Hehehe, tau aja kamu, dek." jawab nya.
Aku kembali menuangkan minuman itu ke dalam gelas yang sudah kosong. Setelah selesai, aku meminta izin untuk mengambil rokok yang ada di depan lelaki itu.
"Ya ambil aja, dek!" balas lelaki itu.
Dia menggeser kan kotak rokok nya ke depan meja ku. Aku pun segera mengambil nya sembari mengucapkan terima kasih kepada lelaki itu.
"Oke makasih ya, bang." balas ku lagi.
Lelaki itu tersenyum sambil memandangi wajah ku yang sedang anteng duduk di samping nya.
"Sama-sama, adek cantik." jawab nya.
Setelah mendapatkan persetujuan dari nya, aku langsung menyalakan rokok itu dan menghisap perlahan.
"Ayo kita bersulang, guys!" seru Rara.
Rara memekik kuat dan mengangkat gelas minuman nya ke udara. Kami semua pun mengikuti ajakan Rara. "Cheers" suara nyaring dari dentingan gelas pun terdengar saling bersahutan.
"Nama nya siapa, dek?" tanya lelaki di samping ku.
"Indah, bang. Kalo abang nama nya siapa?" tanya ku balik.
"Nama ku Rinaldi, dek. Panggil saja Aldi!" jawab nya.
"Oke, bang Aldi." balas ku.
Setelah berkenalan, kami kembali meneguk minuman itu dengan santai sambil bercanda ria bersama yang lain nya. Sekitar dua jam kemudian, para tamu itu pun pamit pulang.
Selesai membayar tagihan di meja kasir, bang Aldi menggenggam tangan ku dengan erat. Dia mengajak ku untuk berbicara empat mata di luar ruangan karaoke. Aku pun menurut dan mengikuti langkah nya.
"Makasih ya, dek. Lain kali abang akan datang lagi kesini!" ucap bang Aldi
Bang Aldi mengucapkan terima kasih sambil menyelipkan uang merah ke dalam genggaman tangan ku. Aku pun langsung tersenyum dan menganggukkan kepala di hadapan nya.
"Iya, bang. Makasih juga ya untuk uang tip nya!" balas ku.
"Iya, dek. Ya udah, abang pulang dulu ya, dek Indah!" pamit bang Aldi.
Bang Aldi berpamitan sambil memeluk tubuh ku dan mencium kedua pipi ku dengan lembut. Aku hanya terdiam mendapatkan perlakuan seperti itu dari bang Aldi.
"Iya, bang. Hati-hati di jalan ya, bang!" ucap ku.
__ADS_1
"Oke, dek." balas nya.
Setelah berpamitan, bang Aldi dan kedua teman nya itu mulai masuk ke dalam mobil. Mereka pun berlalu pergi dan kembali ke jalan raya.
"Alhamdulillah, dapat rezeki lagi." gumam ku.
Tanpa terasa, waktu kerja pun berakhir. Kami para waiters pulang ke kos masing-masing dengan hati yang berbunga-bunga.
Berbunga-bunga, bukan karena sedang jatuh cinta. Tapi karena baru gajian. Keesokan harinya, tiba lah waktu nya untuk bertemu dengan Rara seperti janji semalam.
"Sekali-kali memanjakan diri, ah! Capek juga tiap hari kesana sini jalan kaki terus." gumam ku.
Tak lama kemudian, tukang ojek datang menghampiri ku yang sedang berdiri di depan gerbang kos tempat tinggal ku.
"Mbak Indah, ya?" tanya si tukang ojek.
"Iya, bang." balas ku.
Aku menerima helm yang di berikan tukang ojek itu pada ku. Setelah memakai helm dan naik ke atas motor, si tukang ojek langsung menjalan kan motor nya dengan kecepatan sedang menuju taman.
"Disini aja, bang!" pinta ku.
"Oke, mbak." jawab si tukang ojek.
Aku segera turun dari motor dan menyerahkan helm pada nya. Kemudian aku pun langsung membayar ongkos pada si tukang ojek.
"Makasih ya, bang. Kembalian nya ambil aja!" ujar ku.
"Oke makasih kembali, mbak." balas si tukang ojek dengan senyum yang sumringah.
Setelah menerima uang, si tukang ojek kembali menyalakan motor nya dan berlalu pergi dari hadapan ku.
"Sini, Ndah!" pekik Rara.
Rara memanggil ku sambil melambaikan tangan nya. Mendengar teriakan Rara, aku langsung berjalan ke tempat Rara berada.
"Kita mau ke toko emas yang mana, Ndah?" tanya Rara.
"Ke toko yang di pojok sana aja yok!" usul ku.
Aku menunjuk ke arah lorong sebelah kiri dan menggandeng lengan Rara untuk berjalan ke toko itu. Rara pun langsung mengikuti langkah ku tanpa protes apa pun lagi.
Sesampainya di toko, aku dan Rara melihat berbagai macam jenis dan model perhiasan yang ada di dalam etalase kaca.
"Kau mau beli apa, Ndah?" tanya Rara.
"Beli kalung sama cincin, Ra. Kau sendiri mau beli apa?" tanya ku balik.
Aku dan Rara saling tanya jawab sambil terus memandangi satu persatu perhiasan yang ada di dalam etalase kaca.
"Aku mau beli gelang sama cincin aja, Ndah." jawab Rara.
"Oh," balas ku singkat.
Setelah selesai memilah milih perhiasan yang di inginkan, aku dan Rara segera membayar tagihan nya. Setelah itu, kami pun berlalu pergi meninggalkan toko emas itu.
"Kita mau kemana lagi, Ndah?" tanya Rara sambil celingukan kesana kemari.
"Kita ke salon yok!" jawab ku.
"Ayok, lah! Aku pun udah lama juga gak nyalon nih. Gatel banget rasa nya ini rambut." balas Rara.
"Mungkin banyak kutu nya rambut mu itu." jawab ku asal.
"Sembarangan kalo ngomong, mana ada kutu di rambut ku.Orang tiap hari aku keramas kok." jawab Rara
Rara membantah keras ucapan ku. Dia tidak terima dengan candaan ku barusan. Aku langsung tertawa lepas menanggapi ocehan nya.
"Hahaha, aku cuma bercanda, Ra. Gitu aja kok di masukkan ke hati sih, masukkan ke jantung aja lah!" ledek ku.
"Huuuu, dasar lampir gila." umpat Rara sembari menepuk lengan ku pelan.
"Aku yang gila, dan kau yang sinting ya! Sebagai teman yang baik, kita harus saling berbagi. Biar adil gak boleh di borong sendiri!" jawab ku santai.
"Ogah, itu sih sama aja, dodol." jawab Rara.
"Hahaha," aku dan Rara tertawa berjamaah.
Ya, begitulah kalau sudah bersama dengan konco(teman), yang rada-rada kurang satu ons. Kami selalu bercanda ria, tertawa lepas, dan ber haha hihi di mana pun berada.
Tanpa memperdulikan orang lain yang sedang melihat kami dengan tatapan aneh.
Padahal beban yang kami pikul itu banyaaaak banget. Tapi ya, begitulah cara kami untuk melepaskan lelah dan beban pikiran yang sedang kami alami.
__ADS_1