
Selama dua minggu berada di kota Medan kota kelahiran ku ini, aku selalu mengajak nenek jalan-jalan. Kami berdua juga sering makan di luar dan berkunjung ke tempat sanak saudara.
Aku juga mengajak beliau, untuk liburan ke tempat pariwisata Bukit Lawang dan ke tempat-tempat lain nya. Aku sangat senang melihat raut wajah nenek yang tampak sangat bahagia sewaktu bersama ku.
Aku memang sengaja menghabiskan uang ku hanya untuk membahagiakan nenek. Sebab aku tidak tahu entah kapan lagi kami akan bertemu dan bersenang-senang seperti ini lagi.
Tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat. Dua minggu sudah aku menemani nenek di rumah nya.
Kini tiba lah saat nya untuk aku kembali merantau ke kota Batam. Mengais rezeki untuk memenuhi kebutuhan nenek, ayah beserta kedua anak nya itu.
"Aku balek ya, nek. Jaga diri baik-baik ya di sini! Jangan telat makan, jangan lupa minum obat, dan jangan ngerjain yang berat-berat!" ucap ku pada beliau.
"Kalo nenek gak ada uang telpon aku aja ya, biar nanti aku kirim kan! Kalo ada masalah apa-apa, panggil aja tetangga untuk bantuin nenek ya!" lanjut ku lagi.
Aku berpamitan kepada nenek dan mencium kedua pipi nya. Setelah itu, aku memeluk erat tubuh renta beliau dengan linangan air mata yang membasahi pipi ku.
Ini lah momen yang paling aku benci yaitu perpisahan. Sungguh berat rasa nya untuk berpisah dengan orang yang paling aku sayangi di dunia ini.
"Iya, Ndah. Kau juga jaga diri baik-baik ya di kota orang. Jangan melakukan hal yang tidak-tidak di sana. Jangan lupa sholat, dan jaga kesehatan mu!" nenek berucap sembari membalas pelukan ku.
"Iya, nek. Aku akan selalu ingat semua pesan nenek. Ya udah kalo gitu, aku pamit sekarang ya, nek. Assalamualaikum," pamit ku.
"Wa'laikum salam," balas nenek.
Aku mulai merenggang pelukan ku, dan mencium punggung tangan beliau dengan takzim. Setelah berpamitan dengan nenek, aku mulai melangkah kan kaki ku untuk keluar dari rumah masa kecil ku itu.
"Hati-hati di jalan ya, Ndah!" pekik nenek sambil menangis dan melambaikan tangan nya pada ku.
"Iya, nek." balas ku sembari membalas lambaian tangan beliau.
Setelah acara perpisahan dengan nenek yang sangat menguras air mata itu berakhir, aku pun langsung bergegas melangkah menuju pangkalan becak yang berada di pinggir jalan raya.
"Bang, tolong antar kan ke terminal bus Kualanamu ya! Tapi nanti kita singgah dulu di toko Bika Ambon ya, bang" pinta ku pada si tukang becak.
Aku bergegas naik ke atas becak sambil mengangkat koper, dan meletakkan nya di samping tempat duduk ku.
__ADS_1
"Oke, kak e." balas si tukang becak.
Tukang becak itu pun mulai menyalakan mesin kendaraan nya, dan melajukan nya secara perlahan ke jalan raya.
Tak lama kemudian, becak yang aku tumpangi pun berhenti di depan sebuah toko yang lumayan besar.
"Oleh-oleh khas Medan," itu lah nama yang tertulis di spanduk yang terpampang di depan toko tersebut.
"Tunggu bentar ya, bang!" pinta ku.
"Iya, kak e." balas si tukang becak.
Aku segera masuk ke dalam toko dan memesan Bika Ambon sebanyak empat kotak. Setelah selesai membayar tagihan nya, aku bergegas keluar dari toko dan berjalan dengan langkah cepat menuju becak.
"Ayo kita jalan sekarang, bang!" ajak ku.
Aku langsung naik ke dalam becak dan meletakkan kotak Bika Ambon itu di pangkuan ku.
"Oke, kak e." balas nya.
Becak yang aku tumpangi pun melaju kembali menuju ke terminal bus, dan lima menit kemudian kami pun tiba di tempat tujuan. Sesampainya di terminal, aku segera turun dan membayar ongkos nya sambil berucap...
"Iya sama-sama, kak e." balas si tukang becak.
Setelah menerima ongkos, tukang becak itu pun kembali menjalankan kendaraan nya dan berlalu pergi dari hadapan ku.
"Ngabarin Haris dulu, ah! Nanti lupa pulak dia kalo aku pulang hari ini." gumam ku.
"Bang, jemput aku di bandara jam tiga sore ya!"
Setelah mengirim kan pesan teks itu kepada Haris, aku langsung berjalan ke dalam terminal untuk membeli tiket. Setelah mendapatkan nya, aku duduk di ruang tunggu bersama para penumpang bus lain nya.
Beberapa menit kemudian, sang sopir meminta kami untuk segera masuk ke dalam bus. Semua penumpang pun menurut, dan mulai mengantri satu persatu untuk naik ke dalam bus itu termasuk aku.
Setelah semua penumpang duduk dengan rapi di kursinya masing-masing, sang sopir pun mulai melajukan kendaraan nya dengan kecepatan sedang di jalan raya.
__ADS_1
Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih tiga jam menuju bandara itu pun di mulai. Aku menyandarkan kepala di sandaran kursi, sambil memandang ke luar jendela. Tak lama berselang, rasa ngantuk pun mulai menyerang mata ku.
Aku pun mulai memejamkan mata, sambil memegang erat tas ransel yang berada di pangkuan ku. Karena saking nyenyak nya tidur ku, tanpa terasa bus yang aku tumpangi pun sudah tiba di bandara Kualanamu.
Para penumpang pun kembali mengantri untuk turun dari bus, sambil membawa koper dan barang nya masing-masing termasuk aku.
Setelah keluar dari bus, aku segera berjalan menuju pintu keberangkatan untuk melakukan check in. Setelah melewati beberapa proses pemeriksaan dan lain sebagainya, tiba lah saat nya untuk menunggu keberangkatan.
"Bang Haris, aku merindukan mu." batin ku sambil mendudukkan diri di kursi tunggu.
Setelah beberapa saat menunggu, panggilan untuk para penumpang tujuan kota Batam pun mulai terdengar.
Kami semua langsung beranjak dari tempat duduk masing-masing, untuk kembali mengantri dan melangkah memasuki pesawat.
"Bismillahirrahmanirrahim, tolong lindungi lah perjalanan kami ini sampai ke tujuan ya Allah, amin." doaku dalam hati.
Tak lama kemudian, pesawat pun lepas landas dan mulai mengudara di atas awan. Sekitar kurang lebih satu jam, pesawat yang kami tumpangi pun mendarat sempurna di bandara Hang Nadim Batam.
"Alhamdulillah," ucap syukur ku.
Setelah keluar dari pesawat, aku langsung berjalan menuju tempat pengambilan koper. Dan setelah mendapat kan nya, aku kembali berjalan ke arah pintu kedatangan.
Sesampainya di luar bandara, aku segera mengambil ponsel dari dalam tas untuk menghubungi Haris.
"Halo, assalamualaikum, bang." salam ku.
"Wa'laikum salam, udah sampe mana, Ndah?" tanya Haris.
"Aku udah berdiri di depan pintu kedatangan, bang." jawab ku.
"Oke, abang kesana sekarang!" balas Haris.
"Iya, bang." jawab ku.
Aku menutup panggilan, dan memasukkan ponsel kembali ke dalam tas ransel yang ada di pundak ku. Tak butuh waktu lama, Haris pun datang menghampiri ku.
__ADS_1
Tanpa ragu atau pun malu, aku langsung memeluk tubuh Haris di hadapan orang banyak.
"Aku kangen, bang." aku berucap sambil melepaskan pelukan ku dari tubuh Haris.