
Setelah berjalan selama lima menit, aku dan Rara tiba di sebuah salon kecil yang berada pinggir jalan raya.
Aku dan Rara langsung masuk ke dalam salon dan duduk di bangku yang sudah di sediakan.
"Mbak, aku mau creambath ya!" pinta ku pada si mbak salon.
"Oke, kak. Mau wangi yang mana, kak?" tanya si mbak salon.
"Yang Aloe Vera aja, mbak!" balas ku.
"Oke siap, kak." jawab nya.
Setelah mendengar permintaan ku, si asisten salon itu pun langsung mengerjakan tugas nya pada rambut ku.
"Rambut mu mau di apa kan, Ra? Mau di botakin ya?" tanya ku iseng.
"Ya gak lah, gilak kau ya lampir! Rambut cantik gini kok mau di botakin pulak." sungut Rara.
"Ya siapa tau aja mau di botakin?" balas ku.
"Aku masih ya waras, Ndah. Bukan kayak dirimu, sinting." jawab Rara tak mau kalah.
"Hihihi," aku terkikik geli mendengar ocehan Rara.
"Aku mau creambath juga ya, mbak!" pinta Rara pada si mbak salon.
"Oke, kak." jawab si mbak salon.
Para asisten salon itu pun mulai melakukan tugas nya dengan telaten. Mereka memijat-mijat pundak dan kepala ku dengan lembut.
Sehingga membuat ku rileks dan hampir saja ketiduran, karena saking enak nya pijatan si mbak salon.
Selesai creambath, aku dan Rara keluar dari salon dan kami pun kembali berjalan beriringan di atas trotoar.
"Kita kemana lagi, Ndah?" tanya Rara
"Makan dulu yok, udah lapar banget nih perut!" jawab ku sambil memegangi perut yang sudah mulai keroncongan.
"Oke, aku pun udah mulai lapar juga nih." balas Rara menyetujui permintaan ku.
Aku dan Rara berjalan kembali menuju rumah makan terdekat. Sesampainya di rumah makan Padang, kami berdua langsung duduk di kursi plastik dan segera memesan makanan.
"Mau pesan apa, kak?" tanya si pelayan.
"Nasi putih satu, lauk nya ayam goreng kalasan satu, telur dadar satu, rendang daging nya satu. Minum nya es teh ya, mbak!" pinta ku.
"Gilak kau ya, banyak betul lauk mu itu. Kau itu lapar apa doyan sih?" tanya Rara.
Rara geleng-geleng kepala mendengar ucapan ku barusan. Dia tampak kaget sekaligus heran dengan pesanan ku.
__ADS_1
"Udah gak usah berisik, cepat pesan makanan mu! Udah di tungguin tuh sama si mbak nya malah bengong pulak si kamvret ini." gerutu ku.
"Aku pesan nasi putih satu, lauk nya rendang daging satu, sama telur dadar nya satu. Minum nya es teh juga ya, mbak!" pinta Rara.
"Dan satu lagi, mbak. Gak pake lama!" canda Rara sambil cengar-cengir.
Mata ku langsung menatap tajam pada Rara ketika melihat tingkah laku teman resek ku itu. Rara hanya cengengesan mendapatkan tatapan mata elang ku.
"Dasar, edan! Maaf ya, mbak. Teman ku ini memang rada-rada gini orang nya." ujar ku.
Aku memiringkan jari telunjuk di kening ku, mbak pelayan langsung tersenyum melihat kode yang aku tunjuk kan pada nya.
"Iya kak gak papa, kak." jawab si pelayan.
Setelah mencatat semua pesanan kami, pelayan itu pun berjalan kembali ke tempat nya semula. Tak butuh waktu lama, makanan kami pun tiba dan sudah tertata rapi di atas meja.
Tanpa basa-basi lagi, aku dan Rara pun langsung tancap gas. Kami memakan makanan itu dengan sangat lahap dan cepat.
Persis seperti orang yang sedang kelaparan karena belum makan dua hari. Kira-kira begitulah ibarat nya.
Setelah selesai makan, aku dan Rara pun berpisah. Kami pulang ke kos masing-masing, dengan mengendarai ojek pangkalan yang ada di sekitar rumah makan Padang tersebut.
Sesampainya di kamar kos, aku melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah empat sore.
"Wah, udah sore ternyata."
"Uuuhh, capek nyaaa. Hari yang melelahkan dan juga menyenangkan, hoam."
Selesai menggeliat kesana sini seperti ulat bulu. Setelah itu, aku pun mulai memejamkan mata sambil memeluk guling.
Tak lama kemudian, akhirnya aku tertidur dengan sangat nyenyak di atas kasur dengan posisi miring menghadap tembok.
Setelah beberapa jam tertidur, aku tersentak dan langsung membuka mata karena mendengar suara dering ponsel di atas meja.
Dengan gerakan malas dan mata yang tertutup kembali, aku pun merentang kan tangan. Aku meraba-raba meja untuk meraih ponsel yang sedang berdering nyaring.
"Halo, assalamualaikum. Siapa nih?" tanya ku.
Aku menerima panggilan tanpa melihat nama yang tertera di layar ponsel.
"Waduh, masa bisa lupa sama aku sih, Ndah?" tanya Haris heran.
"Oh, kirain siapa. Ada apa, bang?"
Aku bertanya balik kepada Haris dengan suara serak khas bangun tidur, dan masih dengan mata yang tertutup tentu nya.
"Udah makan belum, Ndah?" tanya Haris.
"Udah, bang. Tadi makan di luar sama Rara." jawab ku.
__ADS_1
"Oh, ya udah kalo gitu. Abang masih ada kerjaan nih, jadi belum bisa datang ke kos mu malam ini ya." jelas Haris.
"Iya gak papa, bang." balas ku.
"Assalamualaikum," salam Haris menutup panggilan nya.
"Wa'laikum salam." balas ku.
Setelah panggilan dari Haris berakhir, aku kembali melanjutkan mimpi yang sempat tertunda tadi sambil memeluk guling. Karena keasyikan tidur, aku sampai tidak sadar kalau hari sudah gelap.
Aku terbangun karena mendengar suara berisik yang berasal dari luar kamar. Setelah membuka mata, aku melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
"Astaga! Udah malam rupa nya. Lama juga ternyata aku ketiduran sampe malam gini." gumam ku dengan mata yang membulat sempurna.
Aku segera bangkit dari kasur dan berjalan ke kamar mandi sambil menenteng keranjang sabun, dan menyampirkan handuk di pundak. Selesai mandi, aku bergegas memakai pakaian kerja dan perlengkapan lain nya.
Setelah semua nya beres, aku pun mulai melangkah kan kaki menuju ke tempat kerja. Sampai di lokasi, aku pun segera mengisi absen terlebih dahulu.
Lalu kemudian, aku pun kembali berjalan menuju kantin. Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba Rara memekik dan berlari kecil menghampiri ku.
"Tunggu, Ndah. Aku mau ikuut!" pekik Rara.
Aku dan Rara pun berjalan beriringan menuju kantin dan duduk berhadapan. Aku mengamati sekeliling kantin yang cukup ramai.
"Mau makan apa kita, Ndah?" tanya Rara.
"Hmmm, enak nya makan apa ya?" tanya ku balik.
"Di tanya kok malah nanya balik, aneh!" balas Rara.
"Hehehe, aku pun lagi mikir nih mau makan apa hari ini." balas ku sembari cengar-cengir.
"Jangan kelamaan lah mikir nya, nanti keburu jamuran aku nungguin nya." omel Rara.
"Berisik banget sih bocah semprul satu ini." umpat ku.
"Makan nasi goreng aja gimana, Ndah?" usul Rara.
"Oke lah, udah lama juga gak makan nasi goreng, enak kayak nya tuh!" jawab ku.
Aku menyetujui usulan Rara, dan Rara pun memanggil si pelayan kantin. Setelah pelayan itu datang, Rara langsung memesan makanan kami berdua pada nya.
"Mbak, nasi goreng nya dua porsi ya, minum nya jeruk peras dingin. Trus telur nya di dadar aja ya, mbak!" pinta Rara.
"Oke, di tunggu ya, kak!" jawab si pelayan.
Setelah menerima pesanan dari Rara, si pelayan kantin pun berlalu pergi dari hadapan kami. Tak lama kemudian, dua porsi nasi goreng pun terhidang di atas meja.
Tanpa banyak berceloteh lagi, aku dan Rara pun menyantap nasi goreng itu dengan santai dan hening tanpa ada nya percakapan apa pun lagi.
__ADS_1