Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Ada Apa Dengannya?


__ADS_3

Setelah ngedumel panjang lebar, bang Rian pun merubah posisi baring nya menjadi telungkup dan menenggelamkan wajah nya ke bantal.


Tanpa menghiraukan kekesalan bang Rian, aku pun segera membukakan pintu untuk Ririn. Setelah pintu terbuka lebar, Ririn langsung mengoceh sambil memanjangkan leher nya untuk melihat ke dalam.


"Kok lama banget sih bukain pintu nya? Emang kau lagi sama siapa?" tanya Ririn.


"Tuh, lihat aja!" jawab ku lalu menunjuk ke arah bang Rian.


Ririn menautkan kedua alisnya, sambil terus memandangi punggung bang Rian. Ia tidak mengenali bang Rian, karena tidak bisa melihat wajah nya.


"Emang itu siapa?" tanya Ririn penasaran.


"Bang Rian." jawab ku.


"Ooohhh, bang Rian toh, kirain siapa." balas Ririn.


Dengan tidak sopan nya, Ririn langsung nyelonong masuk ke dalam kamar ku, kemudian duduk bersila di atas lantai. Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkah sahabat ku itu, lalu ikut duduk bersama nya.


"Bawa apaan tuh?" tanya ku, sembari menunjuk ke arah bungkusan kotak yang ada di depan Ririn.


"Pisang molen sama tahu isi pedas. Kau mau gak?" tanya Ririn balik.


"Ya mau lah, siapa juga yang bakalan nolak makanan gratis." jawab ku lalu menyambar bungkusan itu dan membuka nya.


"Huuuuu, dasar rakus!" umpat Ririn sambil menepuk bahu ku.


Saat sedang asyik mengunyah pisang molen, tiba-tiba Ririn menyenggol lengan ku, lalu berkata...


"Heh, kamvret! Bang Rian gak kau tawarin?"


Bisik Ririn lalu melirik ke arah bang Rian, yang masih tampak anteng dengan posisi telungkup nya. Mendengar bisikan gaib dari bibir Ririn, aku pun langsung tersadar akan keberadaan bang Rian di belakang ku.


"Oiya, hampir aja aku lupa, hihihi." balas ku sembari menepuk jidat Ririn dan terkikik geli.


"Adooooh, sakit dodol!" pekik Ririn sembari meringis dan mengelus-elus jidat nya.


Tanpa memperdulikan raut wajah Ririn yang sedang cemberut, aku pun menoleh ke belakang dan merentangkan tangan ke arah kaki bang Rian.


"Bang, bangun bang! Mau pisang molen gak?" tawar ku sambil mengguncang-guncang kaki nya.


Setelah mendengar suara ku, bang Rian pun langsung menoleh dan menelentang kan tubuh nya. Kemudian ia pun mengucek-ngucek mata dan menguap lebar, lalu bertanya...


"Hmmmm, apa sayang?" tanya bang Rian dengan suara serak dan muka bantal nya.


"Loh, abang ketiduran ya?" tanya ku heran.


"Iya, hehehe." jawab bang Rian sembari menggaruk-garuk kepala nya.


Aku hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah lelaki ku itu. Setelah itu, aku pun menawari makanan itu kembali pada nya.


"Abang mau ini gak?" tanya ku.


Lalu menunjuk ke arah kotak, yang berisikan pisang molen dan tahu isi pedas bawaan Ririn tadi.


"Gak ah, perut abang masih kenyang. Kalian lanjutin aja makan nya, abang mau tidur lagi." balas bang Rian lalu memeluk guling, dan memejamkan mata nya kembali.


"Oh, ya udah kalo gitu." balas ku dan melanjutkan kunyahan ku kembali.

__ADS_1


Sedangkan Ririn, ia tampak terheran-heran melihat kami berdua.


"Kalian tadi habis ngapain, Ndah? Kok nampak nya bang Rian kelelahan banget?" tanya Ririn dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Kepo," jawab ku tanpa menoleh sedikit pun pada nya.


"Bukan nya kepo, cuma pengen tau aja." ujar Ririn.


"Itu sih sama aja, dodol." balas ku cuek.


Kemudian aku mengambil tahu pedas itu, lalu memakan nya dengan lahap, tanpa menghiraukan tatapan aneh Ririn pada ku.


"Kau itu lapar apa doyan sih? Ngebet banget makan nya?" oceh Ririn.


"Ssstttt, berisik!" balas ku, lalu menempelkan telapak tangan ku ke mulut rombeng Ririn.


"Iiiiissss, jorok banget sih nih cewek. Masa tangan lagi berminyak gitu megang-megang bibir orang?" omel Ririn sembari menepis tangan ku dari mulut nya.


"Sorry bestie, saya khilaf, hehehe." balas ku sembari cengar-cengir melihat wajah masam nya.


Ririn memutar bola mata malas, menanggapi ocehan receh ku. Setelah itu, ia pun mengambil pisang molen lalu memakan nya. Sambil mengunyah makanan nya, Ririn pun kembali bersuara.


"Nanti kau kerja gak, Ndah?" tanya Ririn.


"Ya kerja dong, emang kenapa?" tanya ku balik.


"Kau pergi sendiri aja ya, soal nya aku mau of malam ini." jawab Ririn.


Aku langsung menghentikan kunyahan ku, lalu menatap wajah nya dengan kening mengkerut.


Ririn tidak langsung menjawab, ia menghembuskan nafas kasar, lalu memasukkan pisang molen itu kembali ke dalam mulut nya. Setelah menelan makanan nya, ia pun mulai menceritakan keluh kesah nya pada ku.


"Bukan nya malas, Ndah. Tapi aku lagi sakit, maka nya aku minta of sama Lisa malam ini." jawab Ririn.


Aku semakin menajamkan tatapan ku pada nya, lalu menempelkan punggung tangan ku ke dahi sahabat ku tersebut.


"Gak panas kok." gumam ku.


"Ck, apaan sih? Ya udah pasti gak panas lah, la wong yang sakit itu bukan badan ku, tapi hati ku." balas Ririn ketus, lalu menurunkan tangan ku dari kening nya.


"Whaaaattt? Sakit hati?"


Pekik ku dengan mata membulat, dan menutup mulut dengan kedua tangan ku. Melihat ekspresi ku yang berlebihan, Ririn pun langsung menepuk bahu ku, lalu berkata...


"Gak usah lebay, biasa aja keles." cibir Ririn sembari memanyunkan bibir nya.


"Itu nama nya bukan lebay, tapi terkejut, dodol." balas ku tak mau kalah.


"Halah, sama aja lah itu." oceh Ririn.


Setelah itu, ia pun bangkit dari duduk nya dan melangkah menuju pintu. Melihat pergerakan Ririn, aku pun ikut bangkit dan mengekori langkah nya dari belakang.


"Heh, mau kemana kau? Kok main kabur aja sih, kita kan belum selesai ngerumpi nya?" omel ku.


Kemudian aku berdiri menyandar di daun pintu, lalu melipat kedua tangan di atas perut. Aku memperhatikan raut wajah Ririn yang tampak layu dan tidak bersemangat.


Sedangkan Ririn, ia sama sekali tidak menggubris perkataan ku. Ia tetap bungkam lalu memakai sandal nya kembali.

__ADS_1


"Heh, kamvret! Kau itu kenapa sih? Kusut bener tuh muka." tanya ku heran.


"Gak papa, aku cuma lagi pengen sendiri aja. Oke lah, aku balek ke kamar dulu ya, bye!" pamit Ririn.


Setelah berpamitan, Ririn pun melangkah pergi menuju kamar nya, yang hanya berjarak beberapa meter saja dari kamar ku.


"Itu bocah kenapa ya, aneh bener? Apa jangan-jangan, dia lagi ketempelan mak kunkun ya? Hiiiiii, serem banget." gumam ku menduga-duga.


Aku bergidik ngeri sambil terus memandangi kepergian Ririn. Setelah melihat nya masuk ke dalam kamar, aku pun kembali masuk dan mengunci pintu.


Saat hendak membalikkan badan, tiba-tiba aku terlonjak kaget ketika melihat bang Rian yang sudah berdiri tegak di depan ku.


"Astaga, kaget aku." ujar ku sambil mengelus dada.


"Masa gitu aja kaget sih? Emang lagi ngelamunin apaan?" tanya bang Rian, sembari menatap wajah ku dengan penuh selidik.


"Ngelamunin Ririn." jawab ku jujur lalu berjalan menuju kasur, dan duduk di bersila di atas nya.


Bang Rian mengikuti langkah ku lalu membaringkan tubuh nya di sebelah ku. Ia meletakkan kepala nya di pangkuan ku, dan meletakkan tangan ku di atas dada nya.


"Emang nya Ririn kenapa?" tanya bang Rian.


"Entah lah, dia juga gak ada cerita apa-apa tadi. Tapi kalau di lihat dari muka nya, seperti nya dia lagi masalah." jawab ku lalu membelai lembut rambut nya.


"Ooohhh, gitu. Trus, kenapa tadi gak di tanya langsung sama dia?" tanya bang Rian lagi.


Mendengar pertanyaan bang Rian, aku pun langsung menunduk dan menatap wajah tampan nya, lalu menjawab...


"Tadi aku juga udah nanyain ke dia, tapi dia tetap gak mau cerita." jawab ku.


Bang Rian hanya manggut-manggut mendengar penuturan ku. Setelah beberapa saat hening, ia pun kembali bertanya.


"Trus, malam ini dia kerja gak?" tanya bang Rian.


"Kata nya sih enggak, dia mau of malam ini." jawab ku.


"Loh, kalau dia of, trus kamu gimana?" tanya bang Rian lagi.


"Gimana apa nya?" tanya ku sembari menautkan kedua alis.


"Maksud abang, kamu ikutan of atau tidak?" jelas bang Rian.


"Ya enggak lah, aku tetap pergi kerja. Emang kenapa, kok nanya nya gitu?" tanya ku balik.


Bukan nya menjawab, bang Rian malah mengangkat kepala nya dan duduk di sebelah ku. Ia mencondongkan badan nya dan menatap wajah ku dalam-dalam.


"Kalau abang minta kamu libur malam ini, mau gak?" tanya bang Rian.


"Libur?" tanya ku heran.


"Iya libur, abang mau ngajak dirimu jalan-jalan ke jembatan Barelang malam ini. Gimana, mau gak?" tanya bang Rian lagi.


"Hmmmm, gimana ya?" gumam ku.


Aku langsung terdiam sejenak. Aku bingung harus menjawab apa pada bang Rian. Melihat keterdiaman ku, bang Rian pun kembali membuka suara.


"Gimana? Mau ya, pliiiiss!" rengek bang Rian dengan wajah memelas.

__ADS_1


__ADS_2