
"Apa yang abang inginkan dari ku?" tanya Indah.
"Aku itu ibarat hanya sebuah batu kerikil yang berlumpur dan tidak berharga. Tidak ada yang bisa di harap kan dari ku, bang." lanjut Indah.
Indah menjelaskan tentang diri nya sambil menghisap rokok yang ada di tangan nya.
"Jangan ngomong seperti itu, Ndah! Kamu itu adalah wanita yang sangat berharga bagi orang-orang tertentu." jawab ku.
Aku tersenyum dan menggenggam erat kedua tangan nya.
"Orang-orang tertentu maksud nya?" tanya Indah bingung.
Indah mengerutkan kening nya sambil menatap wajah ku. Dia tampak kebingungan dengan ucapan ku barusan.
"Sama, Ndah. Aku juga bingung dengan ucapan ku sendiri, hehehe." batin ku
Aku menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Aku jadi salah tingkah melihat tatapan Indah pada ku.
"Ya orang-orang tertentu seperti aku ini contoh nya, yang ingin mengenal mu lebih dekat lagi." jawab ku.
Aku berucap sambil mengecup punggung tangan nya mesra. Tidak ada jawaban dari Indah, dia hanya tersenyum melihat tingkah ku yang sedang mengecup tangan nya.
"Terserah abang aja. Aku tidak melarang dan juga tidak meminta. Tapi satu hal yang harus abang tau, aku bukan lah wanita baik-baik!" jawab Indah.
Hanya itu lah kata-kata yang keluar dari bibir Indah. Aku menarik nafas panjang dan kembali menjawab ucapan Indah.
"Oke lah kalau begitu, aku akan berusaha menggapai hati mu, Ndah. Ya walau pun kau tidak mengharapkan nya." ucap ku lirih.
"Aku yakin, suatu saat nanti aku bisa mendapatkan hati mu seutuh nya!" jawab ku mantap.
Setelah selesai berbincang dengan Indah, aku menghampiri Ferdi yang tengah asyik bernyanyi dengan suara cempreng nya.
"Fer, aku balek dulu ya! Ada urusan penting." bisik ku pada Ferdi.
"Loh, kok balek sih, bro? Baru juga datang, gak asik lu, bro." balas Ferdi kesal.
"Aku ada urusan, Fer. Lain kali aja kita gabung lagi disini ya!" bujuk ku.
"Oke lah kalo gitu, hati-hati di jalan ya, bro!" balas Ferdi.
"Oke, sip." jawab ku.
Ferdi mengangkat satu tangan nya ke udara, dan aku pun mengacungkan jempol pada nya, lalu beranjak dari tempat duduk sambil menggenggam tangan Indah.
Aku mengajak Indah keluar dari ruangan karaoke. Indah pun menurut dan mengikuti langkah ku sampai keluar pintu. Sesampainya di luar, aku meminta Indah untuk ikut bersama ku.
Awal nya, Indah menolak. Tapi setelah aku berusaha membujuk nya dengan susah payah. Akhirnya dia pun mau menuruti permintaan ku.
"Ndah, kita makan di luar yok! Perut ku lapar banget nih, belom makan malam soal nya. Gimana mau gak, Ndah?" tanya ku penuh harap.
Aku pura-pura memegang perut agar Indah percaya kalau aku memang sedang kelaparan.
"Abang pergi makan sendiri aja ya! Aku kan lagi kerja gak bisa keluar sembarangan gitu."
Indah melihat jam di layar ponsel nya yang sudah menunjukkan pukul satu malam.
"Lagian udah jam satu malam, bang. Sedang kan waktu pulang kerja ku itu jam empat pagi." tambah indah.
"Kalau chas keluar bisa gak, Ndah? Waktu kerja mu itu di bayar!" selidik ku penuh harap.
"Bisa, bang. Tapi mahal bayaran nya dua ratus ribu." jawab Indah.
"Ya udah gak papa, Ndah. Biar aku yang bayar ya!"
__ADS_1
"Aku hanya minta di temani makan aja kok, Ndah. Aku janji gak akan macam-macam tanpa seizin mu. Mau kan, Ndah?" ajak ku agak memaksa.
Indah diam sejenak dan akhirnya dia pun mengangguk tanda setuju.
"Oke aku mau, bang. Tapi janji cuma nemani makan aja ya. Habis tu, antar kan aku pulang ke kos!" pinta Indah.
"Yes," aku bersorak dalam hati.
Aku tersenyum mendengar jawaban Indah barusan. Bahagia banget rasa nya bisa berduaan dengan nya.
"Siap, tuan putri."
Goda ku pada Indah sambil merogoh dompet di saku celana dan mengambil dua lembar uang merah. Lalu kemudian, aku memberikan uang itu kepada Indah untuk membayar uang chas keluar nya.
Setelah menerima uang itu, Indah langsung berjalan ke meja kasir dan membayar kan uang itu kepada sang kasir. Tak lama kemudian, Indah kembali lagi menghampiri ku sambil membawa tas ransel hitam milik nya.
"Udah selesai, bang. Ayo!" ajak Indah.
"Oke, Ndah." jawab ku.
Aku menggenggam tangan Indah, dan kami berdua pun jalan beriringan menuju parkiran, lalu langsung masuk ke dalam mobil.
"Mau makan apa, Ndah?"
Aku bertanya sambil menyalakan mesin mobil dan mulai melaju kan kendaraan roda empat ku itu ke jalan raya.
"Terserah abang aja mau makan di mana, aku ngikut aja!"
Indah menjawab sambil memandang lurus ke depan. Aku mengangguk menanggapi jawaban nya itu dan kembali fokus ke jalan.
Tak lama berselang, kami berhenti di sebuah rumah makan ayam bakar yang buka 24 jam. Dan cukup terkenal di kota Batam ini.
Setelah mobil terparkir rapi, kami berdua keluar dari mobil dan berjalan menuju meja lesehan yang berada di halaman terbuka, di depan rumah makan tersebut.
"Mau pesan apa, mas?" tanya sang pelayan.
"Nasi putih 2, ayam bakar 2 porsi, dan teh hangat nya 2 ya, bang!" jawab ku.
"Oke siap, mas.Di tunggu ya!" ujar si pelayan.
Setelah menanyakan pesanan, pelayan itu pun berlalu pergi dan kembali ke tempat nya semula.
"Masukkan nomor ponsel mu kesini, Ndah!"
Aku menyodorkan ponsel kepada Indah dan dia pun langsung menerima nya. Setelah itu, Indah mengetik nomor ponsel nya di ponsel ku. Setelah selesai, Indah mengembalikan ponsel itu kepada ku.
"Makasih ya, Ndah." ujar ku.
"Iya, sama-sama, bang." balas Indah.
Aku tersenyum manis pada Indah dan dia pun membalas nya dengan malu-malu.
Setelah mendapat kan nomor ponsel Indah, aku segera menyimpan ponsel ku dan kembali menatap wajah manis yang ada di hadapan ku itu.
Karena merasa di perhatikan, Indah pun langsung menoleh pada ku dan membalas tatapan mata ku.
"Kenapa senyum-senyum gitu, bang. Apa ada yang aneh ya di wajah ku?" tanya Indah heran.
Indah langsung mengusap wajah nya dengan kedua telapak tangan nya.
"Wajah mu manis, Ndah. Gak ada bosan nya mata ini untuk memandang wajah mu itu."
Aku menopang kan dagu di atas kedua telapak tangan ku. Indah langsung tersenyum dan tertunduk malu karena mendengar gombalan receh ku.
__ADS_1
"Heleh, gombal." balas Indah.
"Aku serius, Ndah." tambah ku berusaha meyakinkan nya.
"Ya ya ya, terserah abang aja mau nya gimana!" jawab Indah asal.
Aku pun kembali tersenyum mendengar ocehan nya wanita yang ada depan ku itu. Beberapa menit kemudian, pesanan kami pun tiba dan tersusun rapi di meja.
"Silahkan di nikmati hidangan nya, mas!" ucap si pelayan dengan ramah.
"Oke makasih ya, bang." balas ku.
Tanpa basa-basi lagi, aku dan Indah pun langsung menyantap makanan yang ada di atas meja dengan santai.
Tidak ada obrolan lagi di antara kami berdua sampai makanan nya habis tak bersisa. Kecuali tulang ayam tentu nya.
Setelah acara makan bersama nya selesai, aku dan Indah segera beranjak dari tempat duduk. Lalu kembali berjalan menuju parkiran dan masuk ke dalam mobil.
"Kita mau kemana lagi, Ndah?" tanya ku.
Aku menyalakan kembali mesin mobil dan mulai melajukan nya ke jalan raya. Sambil menyetir, sesekali aku sempat kan untuk mencuri-curi pandang kepada Indah.
"Antar kan ke kos aja, bang!" pinta Indah.
"Oke, sayang."
Mendengar ucapan ku, Indah reflek menoleh dan menatap ku sambil mengerutkan keningnya. Aku pura-pura acuh dengan pandangan nya.
Aku tetap fokus menatap jalanan yang ada di depan ku. Sekilas ekor mata ku melirik pada nya.
"Ternyata dia masih melihat ku." batin ku.
"Jangan menatap ku seperti itu, Ndah! Nanti lama-lama kamu bisa jatuh cinta loh sama aku, hahaha." canda ku sambil tertawa.
Mendengar candaan ku, indah langsung memalingkan wajah nya kembali menatap jalanan.
"Idiiiih, ge er." cibir indah.
Indah mengerucutkan bibir nya. Saking gemes nya, aku iseng mencubit pipi nya dan indah pun langsung berteriak.
"Auww! Sakit, bang." pekik Indah.
Aku menoleh sekilas pada Indah yang sedang mengelus-elus pipi nya.
"Habis nya aku gemes banget lihat wajah mu seperti itu, Ndah. Hehehe, maaf ya, sayang!" ujar ku.
Aku cengar-cengir salah tingkah dan kembali fokus menyetir kendaraan ku dengan santai.
"Iya gak papa, bang. Santai aja!" balas Indah.
"By the way, kos mu di mana, Ndah?" tanya ku bingung.
"Oh iya, bang. Aku sampe lupa ngasi alamat ku, hihihi." jawab Indah sambil cekikikan.
Indah menepuk jidat nya sendiri, karena dia lupa memberikan alamat nya padaku. Dia pun langsung mengatakan alamat nya dan aku membalas nya dengan anggukan.
Tak butuh waktu lama, kami pun tiba di depan pintu gerbang kos yang berlantai tiga.
Aku dan indah tidak langsung keluar dari mobil. Kami kembali berbincang di dalam kendaraan roda empat ku itu.
"Makasih untuk waktunya malam ini ya, Ndah. Aku bahagia banget bisa bersama mu malam ini." tutur ku.
Aku kembali menggenggam tangan Indah dan mengecup kening nya dengan mesra. Indah terpaku sejenak, karena mendapat kan perlakuan dari ku yang secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Iya sama-sama, bang. Aku juga ucap kan terima kasih untuk makan malam nya." balas Indah sambil tersenyum dan tertunduk malu.