
Aku mulai melangkah kaki menuju toilet wanita, untuk mencuci muka di wastafel dan membuang air kecil di kloset. Setelah selesai, aku kembali berjalan menuju meja bang Hendra.
Sesampainya di meja, aku menyalakan rokok dan menghisap nya perlahan. Aku kembali memperhatikan orang-orang yang sedang asyik menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mereka semua tampak bersenang-senang dan bersorak gembira di tengah ruangan yang gemerlap dengan lampu kelap-kelip itu.
Sambil memperhatikan tingkah-tingkah aneh mereka, aku kembali meminum air mineral yang ada di atas meja. Setelah meminum beberapa tegukan, aku kembali menghisap rokok yang ada di tangan ku.
Beberapa saat kemudian, tubuh ku terasa sangat aneh. Rasa gerah dan gelisah mulai menjalar di seluruh tubuh ku. Keringat dingin pun mulai membasahi seluruh baju ku.
"Ada apa dengan tubuh ku ini? Apakah ini reaksi dari obat perangsang?" batin ku.
"Apakah mungkin ini ulah dari bang Hendra? Apakah dia yang sudah mencampur minuman ku dengan obat sialan itu?"
Aku bergumam sambil terus merasakan kegelisahan yang semakin menjadi-jadi. Rasa gerah yang semakin tidak karuan, membuat tubuh ku semakin basah dengan keringat ku sendiri.
"Kamu kenapa, Ndah? Kenapa duduk nya jadi gelisah gitu?" tanya bang Hendra.
Bang Hendra memperhatikan gelagat ku yang tampak mulai aneh menurut nya. Dia tersenyum miring melihat gerak-gerik ku yang sudah tidak terkendali di depan nya.
"Ndah, abang mau ke toilet sebentar ya!" pamit bang Hendra.
"Oke, bang." balas ku.
Aku menatap dengan nanar kepergian bang Hendra. Dia melangkah kan kaki nya menuju toilet pria yang berada tepat di samping toilet wanita yang aku masuki tadi. Tiba-tiba perasaan ku jadi tidak enak dengan kondisi ku saat ini.
"Apa jangan-jangan bang Hendra ingin berbuat nekat dengan ku ya?" batin ku semakin takut.
"Atau mungkin dia dendam dengan ku, karena aku pernah menolak ajakan kencan nya itu?"
"Maka nya dia sampai nekat berbuat seperti ini pada ku. Apakah seperti ini cara dia untuk bisa mencicipi tubuh ku ini?" batin ku cemas.
Aku terus saja membatin dan menduga-duga tentang bang Hendra. Rasa takut pun mulai bergelayut di dalam pikiran ku saat ini.
"Dari pada terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, mendingan aku kabur aja lah dari tempat ini. Mumpung bang Hendra belum keluar dari toilet." gumam ku.
Aku segera beranjak dari kursi dan berlari kecil menuju pintu keluar ruangan diskotik.
Sesampainya di luar, aku kembali berjalan dengan langkah yang tergesa-gesa untuk menuju pangkalan ojek, yang berada tepat di samping gedung diskotik.
"Bang, tolong antar kan saya ke kompleks ini ya! pinta ku pada salah satu tukang ojek.
Aku pun segera naik ke atas motor matic milik tukang ojek dan menyebutkan alamat kos ku pada nya.
"Oke, mbak." jawab nya.
__ADS_1
Tukang ojek itu pun langsung bergegas melajukan kendaraan roda dua nya dengan kecepatan sedang menuju alamat kos ku. Tak butuh waktu lama, kami pun sampai di depan gerbang kos.
"Makasih ya, bang. Kembalian nya ambil aja!" ucap ku.
"Makasih kembali, mbak." jawab nya.
Aku segera turun dari motor dan langsung berlari menuju ke lantai tiga tempat kamar ku berada. Sampai di depan kamar, aku segera membuka pintu dan menutup nya kembali tanpa menguncinya.
Aku pun langsung merebahkan diri di atas kasur sambil membuka seluruh pakaian ku, dan hanya menyisakan pakaian dalam saja.
Rasa gerah dan gelisah pun kembali menyerang tubuh ku. Aku mulai menggeliat dan meliuk-liukkan tubuh ku di atas kasur dengan nafas yang semakin memburu.
Dalam keadaan setengah sadar, aku segera mengambil ponsel yang berada di dalam tas ransel. Aku mencari kontak Haris dan langsung menghubungi nya.
"Halo, bang. Tolong aku, bang!" rengek ku.
"Kamu kenapa, Ndah? Minta tolong buat apa?" tanya Haris bingung.
"Cepat kesini, bang! Aku udah gak tahan lagi, bang." balas ku.
"Oke, abang kesana sekarang. Tunggu bentar ya!" balas Haris.
Setelah mendengar jawaban Haris, aku langsung memutuskan panggilan dan melempar kan ponsel itu ke lantai.
Tok tok tok...
"Buka pintu nya, Ndah!" teriak Haris dari luar.
"Masuk aja, bang! Pintu nya gak di kunci kok." jawab ku.
Setelah mendengar jawaban ku, Haris pun segera membuka pintu. Dia langsung terpaku di tempat dengan kening yang mengkerut.
Haris heran melihat keadaan ku yang hanya memakai pakaian dalam saja di atas kasur. Aku masih menggeliat tidak karuan sambil menatap Haris dengan mata yang sayu dan penuh gairah.
"Tolong aku, bang! Aku udah gak tahan lagi, sayang."
Aku merengek manja pada Haris sambil merentangkan kedua tangan ku pada nya. Haris masih saja tetap diam di tempat nya semula.
"Kamu kenapa, Ndah? Siapa yang melakukan ini pada mu?" tanya Haris bingung.
"Minuman ku di campur obat perangsang oleh tamu, bang. Cepat sini, bang. Tolong bantu aku!" jawab ku.
Aku berucap dengan nafas yang ngos-ngosan akibat menahan gairah yang semakin menggebu-gebu.
Setelah mendengar penuturan ku, Haris langsung mendekati tubuh ku yang masih meliuk-liuk seperti ular di atas kasur.
__ADS_1
Haris pun mulai menindih tubuh ku dan menciumi seluruh wajah ku dengan lembut. Dan akhirnya, pergumulan panas pun terjadi di atas kasur empuk ku.
Haris benar-benar melakukan tugas nya dengan sangat baik. Dia melayani ku dengan sangat buas dan perkasa. Setelah pergumulan panas selesai, mengecup kening ku dan menjatuhkan tubuh nya di samping ku.
Tubuh Haris basah karena keringat, dan nafas nya juga masih ngos-ngosan akibat permainan tadi. Melihat keadaan seperti itu, aku pun memeluk nya sambil berbisik...
"Kau memang lelaki yang sangat luar biasa, sayang." bisik ku.
Setelah mendengar ucapan ku, Haris langsung membalas pelukan ku itu dengan sangat erat.
"Makasih ya, bang. Sudah mau menolong ku dari pengaruh obat luknut itu." ucap ku.
"Iya sama-sama, sayang ku." balas Haris.
Beberapa menit kemudian, kami berdua pun kembali melakukan pergumulan panas itu sampai berulang-ulang kali.
Setelah beberapa jam melakukan olahraga malam, akhir nya aku dan Haris pun tertidur lelap.
Kami berdua saling berpelukan di bawah selimut, dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun. Waktu terus berjalan, tanpa terasa hari sudah siang. Aku mulai membuka mata perlahan dan melepaskan diri dari pelukan Haris.
"Udah jam berapa ini ya, hoam?" gumam ku.
Aku menguap dan menggeliat untuk merenggang otot-otot yang pegal nya sangat luar biasa, akibat pergumulan panas semalam bersama Haris.
"Hah, udah jam dua ternyata, hoam!" pekik ku.
Aku terkejut melihat jam dinding dan kembali menguap lebar. Setelah capek menguap dan menggeliat, aku pun segera beranjak dari kasur.
aku mengambil baju daster di dalam lemari lalu memakai nya. Setelah itu, aku berjalan ke arah jendela dan membuka gorden nya.
"Nyenyak banget tidur nya lelaki ku ini." gumam ku.
Aku menatap Haris yang masih tertidur pulas di bawah selimut sambil tersenyum.
Setelah puas menatap wajah teduh Haris, aku berjalan ke kamar mandi sambil menenteng keranjang sabun dan menyampirkan handuk di pundak.
Setelah selesai, aku kembali masuk ke dalam kamar. Ternyata, Haris sudah duduk di atas kasur sambil menyandarkan punggung nya di tembok.
"Udah lapar belum, Ndah?" tanya Haris.
Haris bertanya dengan suara serak dan muka bantal nya, serta rambut yang acak-acakan tentu nya.
"Udah bangun ternyata, lelaki ku ini." ucap ku.
Bukan nya menjawab pertanyaan Haris, aku malah mendekati nya sambil tersenyum dan mencium pipi nya.
__ADS_1