
Setelah mendengar pertanyaan Haris yang mengajak ku untuk menikah, aku langsung terpaku dan menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
"Kok malah diam sih, Ndah? Di jawab dong!" desak Haris.
"Hmmm, gimana ya, bang. Sebenarnya sih aku mau banget jadi istri mu.Tapi aku masih punya tanggungan yang harus aku penuhi. Aku masih harus membiayai ayah dan nenek ku saat ini." jawab ku.
"Karena memikirkan mereka berdua lah, maka nya aku nekat merantau ke kota Batam ini."
Aku menjawab pertanyaan Haris, masih dengan tangan yang membelai rambut nya.
"Karena memenuhi kebutuhan mereka berdua lah, maka nya aku sampai bekerja seperti itu, bang. Untuk saat ini, aku belum bisa menjawab pertanyaan mu, bang." lanjut ku.
"Maaf ya, bang. Bukan maksud ku untuk menolak mu. Suatu saat nanti, aku pasti akan menjawab pertanyaan mu itu."
Aku menjelaskan panjang lebar kepada Haris, tentang tanggungan yang harus aku penuhi saat ini.
"Iya, gak papa, Ndah. Aku ngerti kok, aku akan menunggu mu sampai dirimu siap menerima ajakan ku." balas Haris.
Haris menggenggam erat tangan ku dan mencium nya. Setelah itu, dia pun kembali bersuara.
"Aku akan membantu meringankan beban mu itu, Ndah. Ya, walaupun tidak banyak. Tapi aku akan berusaha semampu ku untuk membantu mu, Ndah." ucap Haris tulus.
Ya, aku bisa bisa melihat kesungguhan dan ketulusan itu dari tatapan mata nya.
"Alhamdulillah, makasih ya, bang. Berapa pun yang abang berikan, aku akan menerima nya dengan senang hati." balas ku.
Aku menunduk kan kepala dan mengecup kening nya dengan lembut.
Haris mengangkat kepala nya dari pangkuan ku dan mendudukkan diri nya tepat di hadapan ku. Dia menatap ku dengan wajah yang terlihat sendu.
"Apakah aku ada di sini, Ndah?" tanya Haris sambil menunjuk ke dada atas bagian kiri ku yaitu hati
"Ya, saat ini hanya diri mu yang ada di sini, bang." jawab ku tersenyum dan menunjuk hati ku itu.
"Alhamdulillah, aku senang mendengar nya, Ndah." balas Haris dengan senyum yang sumringah.
Setelah mendengar jawaban ku, Haris langsung memeluk tubuh ku dengan erat. Bahkan sangat erat, seperti tidak ingin melepaskan nya lagi.
Setelah beberapa menit memeluk ku, akhirnya Haris merenggang kan pelukan nya itu.
Lalu, dia merogoh saku celana nya untuk mengambil dompet. Haris mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet nya, dan dia pun langsung memberikan uang itu pada ku.
"Buat tambahan kirim ayah ya, Ndah!" ujar Haris.
"Alhamdulillah, makasih ya, bang." balas ku.
__ADS_1
Aku memeluk tubuh Haris dengan erat. Tanpa terasa air mata ku mengalir dengan sendirinya. Aku sangat terharu melihat perlakuan dan pengertian Haris pada ku.
Sikap nya yang lembut dan penyayang, membuat ku sangat bahagia.
"Udah, ah! Jangan cengeng gitu, malu sama umur." ledek Haris.
Mendengar ucapan Haris, aku langsung melepaskan pelukan ku dari tubuh nya. Aku mencubit pelan pinggang Haris.
"Apa an, sih." rengek ku manja.
"Auww! Geli, Ndah." balas Haris.
Haris langsung terlonjak kaget saat menerima cubitan ku, dan aku pun hanya tersenyum miring melihat tingkah nya.
"Ya udah, aku pulang dulu ya, Ndah! Kapan-kapan aku main kesini lagi. Jaga diri, jaga hati, dan jaga kesehatan ya, sayang. Jangan sampai telat makan!"
Haris memberikan wejangan padaku. Aku merasa sangat senang mendengar semua kata-kata nya.
"Iya bawel." ledek ku.
Aku segera mengantarkan Haris sampai ke lantai satu. Setelah sampai di depan gerbang kos, aku langsung memeluk nya dan mencium punggung tangan nya.
Persis seperti layak nya seorang istri yang sedang mengantarkan suami nya, yang hendak pergi bekerja sampai di depan pintu rumah. Haris pun membalas nya dengan mengecup kening ku mesra.
"Aku pulang ya, Ndah. Assalamualaikum,"
"Wa'laikum salam." aku menjawab salam nya dan juga membalas lambaian tangan nya.
Setelah masuk ke dalam mobil, Haris langsung menjalan kan kendaraan roda empat nya itu keluar dari parkiran menuju jalan raya.
Selepas kepergian Haris, aku kembali berjalan menyusuri anak tangga satu persatu untuk naik ke lantai tiga.
Sesampainya di depan kamar, aku langsung membuka pintu dan masuk ke dalam lalu mengunci nya kembali.
"Hah, sepi lagi deh." gumam ku.
Aku membuang nafas kasar dan merebahkan diri kembali di atas kasur.
"Masih jam tiga sore ternyata. Tidur bentar ah, capek banget rasa nya badan ku ini." gumam ku.
"Anggap saja lagi tidur sambil memeluk Haris, hihihi."
Aku cekikikan sendiri dan memeluk guling dengan sangat erat. Tak butuh waktu lama, akhirnya aku terlelap dan masuk ke alam mimpi yang sangat indah. Seindah hari ini bersama dengan Haris, orang yang aku kasihi saat ini.
Setelah beberapa jam terlelap, aku tersentak kaget dan langsung membuka mata. Aku mendengar suara dering ponsel yang cukup memekakkan telinga.
__ADS_1
Karena merasa terganggu, aku pun segera bangkit dari kasur dan duduk selonjoran di atas lantai.
Aku menyandarkan punggung di tepi kasur, lalu mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.
"Ayah."
Gumam ku pelan setelah melihat layar ponsel yang ada di dalam genggaman tangan ku. Masih dengan kesadaran yang belum normal, karena terbangun secara tiba-tiba, membuat kepala ku langsung berdenyut nyeri.
Sambil memijat-mijat kepala bagian atas, aku pun menerima panggilan dari ayah.
"Halo assalamualaikum, yah." salam ku.
Aku meringis menahan sakit kepala yang semakin nyut-nyutan.
"Wa'laikum salam." balas ayah dari seberang sana.
"Ada apa, yah?" tanya ku lagi.
"Uang nya udah ada belum, Ndah? Ayah butuh sekarang buat bayar hutang!" tanya ayah.
"Kemaren ayah udah hutang lima ratus ribu sama tetangga. Janji nya hari ini ayah balekkan uang itu pada nya." lanjut ayah.
"Ada, yah. Semalam aku udah pinjam sama bos ku lima ratus ribu. Nanti waktu gajian langsung di potong." bohong ku pada ayah.
"Oh, ya udah gak papa, Ndah. Kapan kau kirim kan uang itu?" tanya ayah lagi.
"Nanti malam, yah. Sekalian aku berangkat kerja." jawab ku.
"Gak bisa sekarang ya, Ndah? Soal nya ayah butuh nya sekarang!" desak ayah.
Ya, begitulah ayah ku. Selalu saja mementingkan diri nya sendiri, tanpa pernah memikirkan keadaan ku. Beliau juga tidak pernah menanyakan kabar ku. Yang dia tau hanya lah uang uang dan uang.
"Sekarang kepala ku lagi sakit, yah. Aku gak bisa kemana-mana." jawab ku.
"Oh, ya udah kalau gitu, nanti malam pun gak papa. Ya udah, ayah matiin ponsel nya ya. Jangan lupa minum obat, assalamualaikum." pamit ayah sambil memutuskan panggilan nya.
"Wa'laikum salam." balas ku.
Setelah panggilan dari ayah berakhir, aku melihat jam yang sudah menunjukkan pukul lima sore.
"Hah, udah jam lima! Mana belum shalat ashar lagi. Aduuh, ini kepala kenapa sih kok makin sakit gini?" gumam ku sembari meringis kesakitan.
Sambil memegangi kepala, aku berdiri dan berjalan sempoyongan ke kamar mandi untuk berwhudu.
Setelah selesai, lanjut melaksanakan shalat ashar lalu berzikir dan berdoa. Aku merentang kedua telapak tangan sambil berucap...
__ADS_1
"Ya Allah, tolong ampuni dosaku. Dosa kedua orang tua ku. Dan juga dosa nenek ku. Tolong murah kan lah rezeki ku, dan berikan selalu kesehatan pada tubuh ku ini. Agar aku bisa terus memenuhi kebutuhan hidup mereka. Amin amin ya rabbal a'lamin."