Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Amukan Bos Besar


__ADS_3

Setelah selesai acara makan bersama Haris, dia langsung pamit untuk pulang ke rumah nya.


"Abang balek ke rumah dulu ya, Ndah." ujar Haris.


Haris berpamitan sambil memeluk dan mengecup kening ku.


"Iya hati-hati di jalan ya, bang!" jawab ku.


Setelah melepaskan pelukan nya, Haris pun melangkah ke luar kamar dan berlalu pergi dengan mengendarai mobil nya.


Waktu terus berjalan, tiba lah saat nya untuk pergi bekerja kembali. Sesampainya di tempat kerja, hal yang paling utama aku kerjakan adalah mengisi absen. Setelah itu, aku melangkah kan kaki menuju kantin untuk mengisi perut.


Selesai makan, aku langsung kembali bergabung bersama teman-teman lain nya di bangku panjang, markas para waiters.


Aku kembali melamun dan merenung sambil menghisap rokok. Pandangan ku kosong menatap lurus ke depan. Aku mengingat kembali kata-kata yang di ucapkan nenek tadi sore.


"Aku harus pulang kayak nya nih. Perasaan ku jadi gak enak sejak mendengar ucapan nenek tadi." batin ku gelisah.


Karena terlalu fokus melamun, sampai-sampai aku tidak mengetahui keberadaan bos besar.


Dia sedang duduk bersama teman nya, yang berada tidak jauh dari tempat kami berkumpul.


Semua teman-teman seprofesi ku sedang pada asyik dengan ponsel nya masing-masing, kecuali aku yang masih tetap asyik dengan lamunan dan pikiran ku sendiri.


Karena saking asyiknya dengan kesibukan masing-masing, sehingga kami semua tidak menyadari kalau bos besar kami itu, sedari tadi sedang memanggil-manggil salah satu di antara kami.


Bos menyuruh untuk mengambilkan minuman yang akan di suguh kan untuk teman nya.


Tapi karena bos tidak menyebutkan nama salah satu di antara kami, jadi kami semua pun tidak ada yang menghiraukan panggilan dari bos.


Kami semua tetap asyik dengan kegiatan masing-masing, termasuk aku yang masih setia dengan hayalan ku sendiri.


Dan tiba-tiba, bos membentak dan memaki-maki kami dengan suara yang sangat menggelegar.


"KALIAN SEMUA GAK PUNYA KUPING, YA! MEMANG BANGS*T KALIAN SEMUA. BIKIN MALU AKU AJA KALIAN, ANJ**G!


Bos berteriak dengan suara yang cukup memekakkan telinga. Kami para waiters yang mendengar teriakkan bos itu pun, langsung terlonjak kaget tidak karuan.


Setelah mendapatkan bentakan dari bos, Lisa yang bertugas sebagai kapten pemimpin kami pun maju, untuk mendekati bos dan menanyakan permintaan nya.


"Maaf, bos. Tadi minta apa ya?" tanya Lisa.

__ADS_1


Lisa bertanya sambil menunduk kan kepala nya. Dia sama sekali tidak berani untuk menatap wajah bos, yang terlihat sangat menakutkan di hadapan nya itu.


"AMBIL KAN MINUMAN KU DI DALAM!"


Bos kembali membentak dengan suara lantang nya. Setelah mendengar jawaban dari bos, Lisa langsung bergegas masuk ke dalam ruangan karaoke. Lisa berlari kecil untuk menuju ke meja kasir.


Lisa segera mengambil minuman di meja kasir, dan menghidangkan nya di meja bos dan teman nya.


Sedangkan aku dan para waiters lain nya, hanya terdiam dan menunduk. Kami semua terpaku di tempat duduk masing-masing.


Tak lama kemudian, teman bos itu pun berlalu pergi meninggalkan meja bos.


"LISA, KITA MITING!"


Bos kembali berteriak sambil berjalan ke dalam ruangan karaoke. Setelah mendapatkan perintah dari bos besar, Lisa langsung menyuruh kami semua untuk masuk ke dalam dan mengikuti langkah bos.


"Kalian semua ayo masuk, kita miting sekarang!" perintah Lisa.


Kami semua pun mengikuti langkah Lisa dari belakang, dan duduk di kursi yang sudah tersedia di dalam ruangan karaoke.


Beberapa menit kemudian, bos besar pun datang dan berdiri di tengah-tengah kami.


"BERDIRI KALIAN SEMUA!"


"Apa kalian tadi tidak ada yang mendengar panggilan ku?" tanya bos.


Bos besar bertanya sambil menendang meja yang berada tidak jauh dari tempat kami berdiri.


Kami semua pun langsung reflek mundur beberapa langkah ke belakang, karena takut akan menjadi sasaran amukan bos seperti meja tadi.


"Dan kau, Lisa. Apa kau benar-benar tidak mendengar panggilan ku tadi, hah?" tanya bos dengan tatapan tajam nya.


"De-dengar bo-bos, ta-tapi aku pikir bu-bukan manggil aku, bos!" jawab Lisa.


Saking takut nya, Lisa sampai gugup dan terbata-bata menjawab pertanyaan bos besar barusan.


"Itu tidak bisa menjadi alasan, LISA! Walau pun bukan nama mu yang aku panggil, seharusnya kau tetap datang. Kau tanya apa mau ku? Bukan nya malah diam aja." bentak bos lagi.


"Maaf, bos." jawab Lisa lirih.


"Dan kau, INDAH!" bentak bos pada ku.

__ADS_1


"Degh,"


Aku tersentak dan langsung mendongakkan kepala.


"Kau yang paling dekat jarak nya dengan ku tadi. Kenapa kau tidak mendengar panggilan ku tadi, hah?"


Bos bertanya pada ku dengan suara yang sangat melengking, yang bisa membuat dada ini berdebar-debar tidak karuan saat mendengar nya.


Bos juga menendang meja kembali dengan sangat kuat, dan itu berhasil membuat ku sampai terperanjat saking kaget nya.


Karena mendapatkan perlakuan seperti itu, tanpa terasa air mata ku langsung menetes dengan sendirinya.


"Kerjaan mu asik melamuuun aja. Kalau kau punya masalah, jangan kau bawa-bawa sampai kesini, PAHAM!" tambah bos lagi.


"Kalau kau sudah tidak betah kerja disini, lebih baik tidak usah kerja aja sekalian!" teriak bos.


Aku hanya diam mendengar bentakan demi bentakan yang terlontar dari mulut bos besar. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir ku.


Aku masih tetap menunduk sambil terus mengeluarkan air mata, yang tiada henti-hentinya mengalir sedari tadi.


Sakit sekali rasa nya dada ini di bentak dan maki-maki seperti itu di depan orang banyak.


"Kalian semua dengar kan baik-baik, jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Bikin malu aku aja kalian semua." lanjut bos kesal.


Setelah mengucapkan peringatan itu, bos pun berlalu pergi meninggalkan kami semua yang masih terpaku di tempat nya masing-masing.


"Ya udah, sekarang kalian boleh bubar!" perintah Lisa.


Setelah mendengar ucapan Lisa, kami semua pun membubarkan diri masing-masing. Kami duduk kembali di bangku panjang yang berada di luar ruangan karaoke.


"Udah lah, Ndah! Jangan nangis lagi, nanti bisa kena marah lagi loh." bisik Rara.


Rara mengelus-elus bahu ku dengan lembut. Aku hanya mengangguk menanggapi ucapan nya.


Setelah kejadian yang menegangkan itu berakhir, kami semua pun kembali bekerja seperti biasa nya. Tapi ada satu hal yang tidak seperti biasa nya.


Yaitu keceriaan dan canda tawa kami semua hilang, berubah menjadi sunyi senyap seperti layak nya sedang berada di lokasi kuburan di malam hari.


Ya, begitulah dunia malam. Harus tahan mental, harus bisa menahan sakit. Termasuk sakit hati, sakit pikiran, dan yang terakhir, sakit jiwa dan raga. Dan itu semua sudah biasa kami alami sebagai wanita malam.


Aku harus tetap tegar dan kuat, menerima kenyataan pahit dan getir nya dunia malam yang sedang aku jalani sekarang.

__ADS_1


Aku terpaksa menjadi wanita penghibur, hanya untuk satu tujuan. Yaitu memenuhi semua kebutuhan ayah dan juga nenek ku.


__ADS_2