
"APA?" pekik bang Rian dengan suara menggelegar.
"Ndah, tolong jelaskan sedetail-detailnya tentang hubungan kita pada lelaki ini!" pinta Haris.
Mendengar permintaan Haris, aku pun langsung terpaku di tempat dengan mata yang membulat lebar.
"Hmmmm, a-aku...aku..."
Lidah ku terasa berat untuk di gerakkan. Rasa gugup, takut, dan gelisah campur aduk jadi satu. Bang Rian yang tadi nya memeluk ku dari belakang, kini dia memegang kedua bahu ku dan memutar posisi ku untuk menghadap pada nya.
"Apa benar yang diucap kan nya tadi, sayang? Apakah dia benar-benar kekasih mu?" tanya bang Rian sambil terus memandangi wajah ku dengan serius.
"Be-benar, bang. Di-dia memang kekasih ku." jawab ku gugup dan terbata-bata.
Aku menunduk kan kepala di depan bang Rian. Aku sungguh tidak sanggup untuk menatap wajah nya yang tampak sangat syok setelah mendengar penuturan ku barusan.
"Ayo kita pergi dari sini sekarang juga, Ndah!" paksa Haris.
Haris mencengkram pergelangan tangan ku dan menarik nya secara paksa, agar aku mau menurut pada nya untuk pergi meninggalkan bang Rian.
Melihat perlakuan kasar Haris, bang Rian pun tak tinggal diam. Dia melepaskan cengkraman tangan Haris dengan kasar, lalu menarik ku ke dalam dekapan nya.
"Jangan kasar dengan wanita ku, bro! Kalau kau sampai melukai wanita ku sedikit saja, maka kau akan berhadapan dengan ku." ancam bang Rian kepada Haris.
Bang Rian semakin mempererat pelukan nya pada ku, dan pandangan mata nya menatap wajah Haris dengan penuh kebencian.
"Jangan campuri urusan kami! Dia itu kekasih ku, dan aku berhak untuk membawa nya keluar dari tempat ini." balas Haris mulai tersulut emosi.
"Cih, baru jadi kekasih nya saja udah belagu nya minta ampun, apa lagi jadi suami nya? Bisa-bisa si Indah kena siksa terus oleh tangan kotor mu itu." cibir bang Rian sambil berdecih.
Setelah mendengar penuturan bang Rian, Haris pun beralih memandangi ku yang sedari tadi masih di dalam pelukan hangat bang Rian.
"Ndah, sekarang keputusan ada di tangan mu. Kau pilih aku atau laki-laki ini?" tanya Haris sambil menunjuk kepada bang Rian.
Mendengar pertanyaan Haris, aku langsung melepaskan diri dari pelukan bang Rian, dan menatap wajah Haris dengan hati yang berdebar-debar tidak karuan.
__ADS_1
"Tolong tinggalkan tempat ini, bang. Biar kan aku menyelesaikan tugas ku sampai besok. Setelah tugas ku selesai, aku pasti akan segera menemui mu." jawab ku dengan mata yang mulai berembun.
Bang Rian langsung tersenyum sumringah setelah mendengar kata-kata yang keluar dari bibir ku barusan. Dia tampak sangat bahagia, karena aku menolak untuk ikut bersama Haris.
Sedangkan Haris, dia terlihat sangat murka dan emosi karena mendengar penolakan ku. Wajah nya langsung merah padam akibat menahan kemarahannya pada ku.
"Udah jelas kan, bro? Sekarang kau boleh angkat kaki dari sini, dan jangan ganggu kesenangan kami lagi!" ujar bang Rian sambil tersenyum miring kepada Haris.
"Ayo, sayang. Kita lanjutin lagi bersenang-senang nya!" ajak bang Rian sembari merangkul pundak ku.
Kemarahan Haris semakin bertambah karena mendengar ucapan bang Rian, yang seakan-akan sedang menghina nya di depan ku. Haris mengepalkan tangan nya sambil menatap tajam kepada bang Rian.
Saat bang Rian hendak membawa ku ke dalam kamar, tiba-tiba Haris mengarahkan kepalan tangan nya ke wajah bang Rian dan, "bugh."
Bang Rian pun langsung jatuh tersungkur ke lantai, dengan bibir yang mengeluarkan darah akibat perbuatan Haris. Melihat keadaan bang Rian seperti itu, aku langsung berteriak histeris sambil menangis.
"TIDAAAK," jerit ku sambil terus menangis memegangi wajah bang Rian.
Aku menjerit-jerit sambil terus menangis sampai sesenggukan, dan tiba-tiba...
"Ndah, bangun, Ndah! Indah, bangun sayang. Kamu kenapa jerit-jerit gitu? Kamu mimpi buruk ya, Ndah?" ujar bang Rian sembari menepuk-nepuk pelan pipi ku.
Saat membuka mata, aku pun langsung memeluk erat tubuh bang Rian sambil menangis.
"Kamu mimpi apa, sayang? Kok kayak nya kamu ketakutan sekali?" tanya bang Rian sembari membelai rambut panjang ku.
"Pasti mimpi yang serem-serem ya, sayang? Maka nya sampe jerit-jerit kayak gitu?" tanya bang Rian lagi.
Aku melepaskan pelukan ku dari tubuh bang Rian, lalu menatap wajah nya dengan penuh tanda tanya.
"Emang nya tadi aku jerit-jerit gimana, bang?" tanya ku bingung.
"Tidaaak,"
"Gitu aja sampe berulang-ulang." jawab bang Rian.
__ADS_1
"Oh, cuma gitu aja ya.Apa gak ada yang lain lagi ya, bang?" selidik ku.
"Entah lah, kayak nya sih gak ada lagi. Abang agak lupa, soal nya tadi abang panik banget waktu kamu jerit-jerit gitu. Abang pikir kamu kesurupan, hehehe." jawab bang Rian sambil cengar-cengir.
"Oh, syukur lah kalo gitu." gumam ku lega.
"Loh, kok malah syukur sih, Ndah?" tanya bang Rian bingung.
"Eh, itu anu gak papa, bang." jawab ku gelagapan.
"Aduuuh, kenapa bisa keceplosan gini sih ini mulut!" gerutu ku sembari menepuk-nepuk pelan bibir ku sendiri.
Melihat gelagat ku yang tampak gugup, bang Rian pun mengernyitkan dahi nya. Dia semakin bertambah bingung dengan tingkah-tingkah aneh ku.
"Lololoh, kok malah di tepuk-tepuk gitu mulut nya, sayang? Emang nya mulut nya ada salah apa, makanya bisa di hukum kayak gitu?" tanya bang Rian heran.
"Eh, gak papa kok, bang. Aku cuma reflek aja tadi, hehehe." jawab ku sambil nyengir kuda.
Bang Rian hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala nya, untuk menanggapi jawaban ku yang tidak masuk akal menurut nya.
"Ya udah kalo gitu, sekarang kita bobok lagi yok, sayang! Mata abang masih ngantuk banget nih, hoamm." ujar bang Rian sembari menguap lebar.
"Iya, bang." balas ku.
Setelah selesai berbincang-bincang, aku dan bang Rian pun masuk ke dalam selimut, dan mulai beristirahat kembali dengan posisi yang saling berpelukan.
Tak butuh waktu lama, terdengar suara dengkuran halus dari hembusan nafas bang Rian. Lelaki ku itu sudah kembali terlelap dan masuk ke alam mimpi indah nya.
Sedangkan aku jangan kan terlelap, untuk memejamkan mata saja susah sekali rasa nya. Aku terbayang-bayang terus dengan mimpi buruk ku tadi.
"Huh, untung saja tadi itu cuma mimpi. Kalau sampai kejadian itu menjadi kenyataan, aku gak bisa bayangin gimana hancur nya perasaan Haris, jika dia tau kalau aku sudah mengkhianati kepercayaan nya." batin ku.
Aku menghela nafas panjang berulangkali, sambil menatap wajah teduh lelaki yang sedang tertidur lelap di hadapan ku itu.
"Maaf kan aku, bang. Aku terpaksa melakukan semua ini karena keadaan. Aku merasa sangat bersalah, karena sudah mengingkari janji ku pada mu, bang."
__ADS_1
Aku terus saja membatin sambil membayangkan wajah Haris, kekasih hati ku itu.
Setelah beberapa saat merenung tentang Haris, akhirnya aku pun mulai memejamkan mata dan kembali tertidur pulas di dalam pelukan hangat bang Rian.