Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Serem


__ADS_3

"Hufff, ngalah aja lah. Singa galak sama pawang nya ternyata sama aja, sama-sama edan." umpat Andre pelan tapi masih bisa terdengar oleh telinga bang Rian.


"Heh, kamvret! Ngomong apa barusan, hah?" tanya bang Rian sembari melipat kedua tangan nya di perut.


"Eh, enggak bos. Gak ada ngomong apa-apa kok, bos salah denger kali." jawab Andre gelagapan.


Melihat kepanikan di wajah Andre, aku pun berinisiatif untuk menggoda nya.


"Bohong, bang. Tadi Andre bilang kita sama-sama edan. Ya kan, Ndre. Bener gak yang ku bilang tadi?" tanya ku sembari melirik ke arah Andre, dan menyunggingkan senyum miring pada nya.


Bang Rian langsung membelalakkan mata nya saat mendengar penuturan ku. Dia menatap tajam ke arah Andre yang sedang tertunduk, dengan bibir mengerucut.


"Aduh, mati aku! Tamat lah riwayat ku sekarang." gumam Andre dengan keringat dingin di dahi nya.


"Hihihi," aku cekikikan sendiri melihat Andre yang tampak ketakutan.


Bang Rian yang sedari tadi masih setia dengan wajah horor nya, kini dia pun kembali membuka suara nya.


"Besok kau bersihkan kamar mandi dan toilet yang ada di toko ya, jangan sampai lupa." ujar bang Rian dingin.


"HAH, seriusan, bos?" pekik Andre.


"Ya serius lah, kau pikir aku main-main." ujar bang Rian santai.


"Ta-tapi, bos..."


"Gak ada tapi-tapian lagi, pokok nya besok kau kerjakan perintah ku tadi." potong bang Rian.


Wajah Andre semakin di tekuk lesu. Dia memanyunkan bibir nya ke depan, lalu menghentak-hentakkan kaki nya. Persis seperti anak kecil yang sedang merajuk.


"Ck, kejam betul sih singa galak satu ini." gerutu Andre.


"Hm hm hm, ngoceh aja lah terus. Mau minta di tambah lagi ya hukuman mu?" gertak bang Rian.


"Gak mau, itu aja udah lebih dari cukup kok." balas Andre pasrah.


Aku yang sedari tadi hanya berdiam diri pun kembali bersuara. Aku membela Andre, dan meminta bang Rian untuk tidak memberikan hukuman apa pun pada nya.


"Andre jangan di hukum lah, bang! Kasian, nanti nangis kejer pulak dia di kos nya, hihihi." pinta ku sembari cekikikan.


"Ya, bang ya. Jangan di hukum ya, pliiiiss!" rengek ku dengan wajah memelas, dan mengatupkan kedua tangan ku pada bang Rian.


Mendapat pembelaan dari ku, wajah Andre pun langsung berbinar cerah. Dia seperti mendapatkan angin segar, karena merasa di lindungi oleh ku.


Mendengar rengekan manja ku, bang Rian pun langsung luluh dan mencabut hukuman nya kembali.


"Ya udah, mumpung aku lagi berbaik hati, hukuman mu aku batalkan." ujar bang Rian.


Senyum sumringah pun langsung terpancar dari wajah Andre. Dia tampak sangat bahagia, karena tidak jadi membersihkan kamar mandi dan toilet toko bang Rian.


"Waaahh, makasih banyak ya, bos. Lagi-lagi singa galak takluk sama pawang nya, hehehe." balas Andre cengar-cengir salah tingkah.


"Hmmm, di ulangi lagi?" gertak bang Rian.


"Eh, maaf bos gak sengaja." balas Andre sembari nyengir kuda.


Aku hanya senyam-senyum, melihat tingkah kocak nan lucu mereka berdua. Tak lama kemudian, ibu kos pun tiba dengan mengendarai motor matic nya. Setelah memarkirkan kendaraan nya, ibu kos itu pun datang menghampiri kami bertiga.


"Kamu yang mau menyewa kosan saya ya?" tanya ibu kos pada ku.


"Iya, bu." jawab ku.


Setelah mendengar jawaban ku, ibu kos itu pun mengalihkan pandangan nya kepada bang Rian dan Andre.


"Oh, trus mereka ini siapa? Apa mau ngekos di tempat saya juga?" tanya ibu kos lagi.


"Enggak, bu. Yang mau ngekos cuma saya aja. Mereka berdua ini abang sepupu saya. Mereka cuma bantuin saya pindahan aja kok." jelas ku.


"Ooohhh, kirain mau ngekos juga. Ya udah, ayo kita masuk!" ujar ibu kos.

__ADS_1


"Ya, bu." balas ku.


Ibu itu membuka gerbang kos-kosan milik nya, dan mempersilahkan kami bertiga untuk masuk ke dalam. Setelah melewati beberapa kamar, langkah kami pun langsung terhenti di depan salah satu kamar.


"Naaah, ini kamar nya. Silahkan di lihat-lihat dulu! Kalau tidak cocok, kita bisa lihat kamar yang lain." ujar ibu kos sembari membuka pintu kamar.


Aku, bang Rian, dan juga Andre melangkah masuk ke dalam, dan melihat-lihat keadaan kamar yang akan aku huni tersebut.


"Gimana menurut abang? Cocok gak tempat nya?" bisik ku meminta pendapat bang Rian.


Bukan nya menjawab, bang Rian malah meninggalkan ku lalu melangkah ke arah kamar mandi. Dia menajamkan tatapan nya ke arah bak mandi tersebut. Setelah itu, bang Rian kembali mendekati ku dan mendekatkan bibir nya ke telinga ku.


"Cari kamar yang lain aja, sayang. Kamar mandi nya gak beres." bisik bang Rian.


Mendengar ucapan bang Rian, aku pun reflek menoleh ke arah kamar mandi dengan kening mengkerut.


"Gak beres? Maksud nya gak beres gimana?" tanya ku pelan.


Bang Rian tidak langsung menjawab pertanyaan ku. Dia malah memanggil Andre, yang sedari tadi celingukan kesana kesini memandangi setiap sudut kamar.


"Ndre, sini!" panggil bang Rian sembari melambaikan tangan nya.


Andre pun langsung menoleh, dan datang menghampiri kami berdua.


"Coba kau lihat kamar mandi nya!" bisik bang Rian di telinga Andre.


"Oke," jawab Andre.


Andre segera melangkah ke depan pintu kamar mandi, lalu mengarahkan tatapan mata nya ke arah bak mandi.


"Astaghfirullahal'azim." pekik Andre tertahan.


Andre menutup mulut nya dengan mata yang membulat sempurna. Dia tampak sangat ketakutan, saat melihat sesuatu yang tak kasat mata yang ada di kamar mandi tersebut.


Dengan wajah yang pucat, Andre pun kembali menghampiri kami sembari berkata...


"Cari kamar lain aja, Ndah. Jangan disini, takut nya nanti kau di ganggu pulak sama dia. Hihihi, serem banget." bisik Andre sembari bergidik ngeri.


"Kamar ini ada penunggu nya, sayang. Kita cari kamar lain aja ya, takut nya terjadi yang aneh-aneh pulak dengan mu nanti." bisik bang Rian lagi.


"Iya, Ndah. Bener apa yang di bilang bos itu." sambung Andre membenarkan ucapan bang Rian.


"Ooohhh, gitu. Ya udah deh, kita lihat kamar yang lain aja!" balas ku.


Bang Rian dan Andre hanya mengangguk mengiyakan ucapan ku. Kami bertiga melangkah keluar, lalu menghampiri ibu kos yang sedari tadi masih berdiri di depan kamar.


"Gimana, cocok gak kamar nya?" tanya ibu kos.


"Hmmmm, saya mau lihat kamar yang lain boleh gak, bu?" tanya ku ragu.


"Boleh, ayo kamar nya ada di sana!" jawab ibu kos sambil menunjuk ke arah pojok lorong.


"Oke, bu." balas ku.


Kami bertiga mengikuti langkah ibu kos dari belakang. Kami kembali melewati beberapa kamar, yang tampak sunyi senyap seperti tak berpenghuni.


"Kok sepi banget, bu? Penghuni nya pada kemana semua?" tanya ku penasaran.


"Ohh itu, mereka pada kerja. Bentar lagi juga pulang kok." jawab ibu kos.


"Ooohhh," balas ku sembari manggut-manggut.


Setelah sampai di depan kamar yang bersebelahan dengan kamar Ririn, ibu kos itu pun menghentikan langkah nya.


"Nah, coba lihat yang ini. Mana tau cocok." ujar ibu kos lalu membuka pintu kamar itu dengan kunci yang ada di tangan nya.


Setelah pintu terbuka lebar, aku dan kedua lelaki tampan itu pun langsung masuk, dan memperhatikan setiap sudut kamar tersebut.


"Kalau yang ini gimana, bang?" bisik ku pada bang Rian.

__ADS_1


"Bentar, abang lihat-lihat dulu!" jawab bang Rian.


Bang Rian celingukan kesana kemari dengan pandangan yang tidak biasa. Dia juga membuka pintu kamar mandi, lalu melihat ke dalam nya. Setelah itu, bang Rian kembali keluar sambil terus memperhatikan sekeliling kamar.


"Gimana?" tanya ku lagi.


Lagi-lagi, bang Rian tidak menjawab pertanyaan ku. Dia malah kembali menyuruh Andre untuk memeriksa kamar mandi, dan melihat-lihat sudut kamar lain nya.


"Ndre, coba kau periksa lagi. Mana tau aku gak bisa lihat!" titah bang Rian.


"Oke, bos." balas Andre.


Andre pun kembali memeriksa kamar mandi. Dia hanya berdiri di depan pintu, lalu celingukan kesana kesini dengan tatapan tajam nya.


Beberapa saat kemudian, Andre kembali menghampiri kami berdua, lalu berkata...


"Aman, bos." bisik Andre.


Bang Rian hanya mengangguk menanggapi bisikan Andre, lalu mengalihkan pandangan nya pada ku.


"Ya udah, ambil yang ini aja kamar nya." ujar bang Rian.


"Oh, ya udah kalo gitu. Ayo, kita ngomong sama ibu itu!" seru ku.


"Yok!" balas bang Rian dan Andre bersamaan.


Setelah memutuskan untuk menyewa kamar itu, kami bertiga segera keluar dan kembali menghampiri ibu kos.


"Bu, saya sewa kamar yang ini aja." ujar ku.


"Oh, oke. Ini kunci kamar sama kunci gerbang nya. Tapi ingat ya, gak boleh bawa cowok ke dalam kamar, apa lagi sampai menginap. Paham kan maksud saya?" tanya ibu kos.


"Iya, saya paham, bu. Tapi kalau kedua abang sepupu saya ini, datang berkunjung kesini. Kira-kira boleh gak, bu?" tanya ku balik.


"Hmmmm, mereka ini beneran abang sepupu kamu, atau cuma teman kamu aja?" tanya ibu kos ragu.


Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba bang Rian bersuara untuk menjawab pertanyaan ibu kos tersebut.


"Indah memang adik sepupu kami, bu. Kami satu nenek, dan dia ini anak dari adik ibu kami." jawab bang Rian dengan mimik wajah serius.


"Ooohhh, gitu ceritanya. Ya udah, kalau dia memang adik sepupu kalian, gak papa. Kalian boleh berkunjung kesini." ujar ibu kos.


"Penghuni yang lain pun juga begitu. Hanya saudara atau kerabat saja yang boleh datang kesini. Tapi kalau cuma sekedar teman atau pacar, gak boleh. Itu memang sudah menjadi peraturan disini sedari dulu." lanjut ibu kos.


"Ooohhh," kami bertiga hanya ber oh menanggapi ucapan ibu kos.


"Berapa sewa kamar nya perbulan, bu?" tanya bang Rian.


"Tujuh ratus ribu, itu udah sama lampu dan air. Jadi adik kalian ini tidak perlu membayar apa pun lagi, cukup itu aja." jawab ibu kos.


"Oh, oke." balas bang Rian.


Bang Rian mengambil dompet dari saku celana nya, lalu mengeluarkan uang yang cukup tebal. Setelah itu, dia memberikan uang itu kepada ibu kos, sembari berucap...


"Ini uang tujuh juta, saya bayar untuk sepuluh bulan ya, bu!" ujar bang Rian.


"Oh, iya. Saya hitung dulu ya uang nya." balas ibu kos.


"Iya hitung aja, mana tau kurang." ujar bang Rian.


Ibu kos mengangguk mengiyakan ucapan bang Rian. Selesai menghitung, ibu kos pun kembali membuka percakapan.


"Oke, uang nya pas. Makasih ya, mudah-mudahan aja adik kalian betah tinggal disini." ujar ibu kos sembari tersenyum.


"Iya sama-sama, bu." balas bang Rian.


"Oke lah kalo gitu, saya permisi dulu ya. Kalau ada apa-apa, hubungi saya aja!" pamit ibu kos.


"Oke silahkan, bu." jawab ku dan bang Rian serempak.

__ADS_1


Sedangkan Andre, dia hanya tersenyum lalu mengangguk kan kepala nya.


__ADS_2