
Setelah kepergian bang Rian, aku kembali melangkah menapaki anak tangga menuju ke lantai tiga, tempat dimana kamar ku berada.
Sesampainya di depan pintu kamar, aku segera membuka nya dan melangkah masuk sambil mengucapkan salam.
"Assalamualaikum, wa'laikum salam." gumam ku menjawab salam ku sendiri.
Sampai di dalam kamar, aku langsung membuka jendela dan membersihkan kamar yang sudah dua hari aku tinggal kan.
Setelah semua nya bersih dan rapi, aku pun merebahkan tubuh lelah ku di atas kasur empuk ku.
"Huh, capek juga ternyata bersihin kamar kecil kayak gini." gumam ku.
"Molor bentar ah, biar hilang dikit pegal-pegal di badan ku ini." lanjut ku.
Setelah beberapa saat bergumam dengan diri sendiri, akhirnya aku pun mulai memejamkan mata dan terlelap sambil memeluk guling.
Sekitar kurang lebih satu jam terlelap, aku langsung terbangun secara tiba-tiba, karena mendengar suara ketukan pintu yang cukup kuat sambil memanggil-manggil nama ku dari luar kamar.
Tok tok tok...
"Indah, buka pintu nya, sayang!" pekik Haris.
"Ya bentar, bang!" jawab ku.
Dengan pandangan yang masih buram dan mata yang masih terasa berat dan perih, akhirnya aku pun berusaha untuk berdiri lalu membuka kan pintu untuk Haris.
Setelah pintu terbuka lebar, Haris langsung masuk sambil membawa beberapa bungkusan di tangan nya.
"Mandi sana, Ndah! Siap tu kita makan bareng!"
Perintah Haris sambil membuka satu persatu bungkusan yang di bawa nya, lalu menyalin makanan itu ke dalam piring. Aku yang masih dalam keadaan setengah sadar pun, hanya mengangguk sebagai jawaban.
Sambil mengucek-ngucek mata dan menguap lebar, aku pun menyampirkan handuk di bahu dan menentang keranjang sabun. Lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai dengan urusan kamar mandi, aku kembali masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian di depan Haris. Selanjutnya, aku memoles wajah di depan cermin dan menyemprotkan sedikit parfum ke tubuh ku.
Selesai berpakaian dan berdandan, aku langsung duduk bersila di sebelah Haris, sambil memandangi makanan lezat yang sudah tersedia di hadapanku.
"Udah selesai kan, Ndah?" tanya Haris.
"Udah, bang. Ayo kita makan!" balas ku.
"Oke," jawab Haris.
Aku dan Haris segera melahap makanan itu dengan tenang tanpa percakapan apa pun lagi. Beberapa menit kemudian, makanan itu pun sudah habis dan bersih tak bersisa.
__ADS_1
"Eeggh, alhamdulillah."
Aku bersendawa pelan sambil menutup mulut ku dengan telapak tangan. Setelah itu, aku segera membereskan piring dan sampah bekas makanan tadi sampai bersih seperti semula.
Setelah pekerjaan beres, aku kembali duduk di sebelah Haris sambil menyalakan rokok. Begitu juga dengan Haris, dia menyalakan rokok dan mulai membuka percakapan kembali dengan ku.
"Nginap dimana selama dua hari ini, Ndah?" tanya Haris tanpa menoleh pada ku.
Haris menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Dia tetap fokus memandang ke arah jendela, sambil terus menghisap rokok yang ada di tangan nya.
"Di kos-kosan Ririn, bang." bohong ku.
"Itu jawaban jujur atau bohong?" selidik Haris.
Degh...
Dada ku langsung deg-degan tidak karuan saat mendengar pertanyaan Haris. Dia seakan-akan sedang memancing ku, agar aku berkata jujur kepada nya.
"Ju-jujur, bang." jawab ku gugup.
"Yakin?" tanya Haris lagi.
Aku membuang nafas kasar berulang-ulang, lalu kembali menjawab pertanyaan Haris yang mampu membuatku panas dingin di buat nya.
Aku menoleh pada Haris yang masih tetap setia dengan wajah datar nya dan sikap dingin nya. Aku bingung dan gelisah melihat perubahan sikap nya pada ku saat ini.
"Ada apa dengan nya? Kenapa dia berubah drastis seperti ini? Apa dia sudah tau tentang pengkhianatan ku selama ini di belakang nya?" batin ku.
Aku terus saja menduga-duga tentang Haris. Aku menjadi semakin gelisah dan tidak tenang melihat sikap nya yang tidak seperti biasanya.
"Abang kenapa? Apa ada masalah yang sedang abang pikir kan saat ini?" tanya ku sambil berpura-pura tetap tenang di depan Haris.
"Ya, abang lagi mikirin dirimu. Abang selalu terbayang-bayang wajah mu. Bahkan Abang juga bermimpi tentang mu." jawab Haris.
"Hah, emang nya abang mimpi apa an?" tanya ku mulai penasaran.
"Mimpi dirimu tidur dengan laki-laki lain." jawab Haris masih dengan nada dingin nya.
"APA?" pekik ku kuat.
Aku terkejut sambil menutup mulut dengan kedua telapak tangan ku. Mata ku juga langsung terbelalak lebar setelah mendengar penuturan nya barusan.
"Ya Allah, apakah dia memiliki ikatan batin dengan ku ya? Kok dia bisa mimpiin aku kayak gitu sih? Ini memang hanya kebetulan, atau gimana ya?" batin ku semakin bingung dan panik.
Saat sedang asyik menduga-duga, tiba-tiba Haris menepuk bahu ku sambil berucap...
__ADS_1
"Kenapa diem, Ndah? Apa jangan-jangan mimpi abang itu beneran ya?" selidik Haris.
"Maaf kan aku, bang. Aku belum bisa berkata jujur pada mu saat ini." jerit ku dalam hati.
Haris sedikit heran dan curiga, melihat gelagat ku yang sedari tadi kebanyakan melamun dan mengkhayal di sebelah nya.
"Ndah, kok malah diem lagi sih? Di jawab dong, sayang!" desak Haris sambil terus memandangi wajah ku dengan tatapan tajam nya.
"Eh iya, bang. Eh enggak, bang." balas ku latah.
"Ups,"
Aku langsung reflek menutup mulut sambil menatap wajah Haris yang tampak semakin bingung dengan jawaban ku barusan.
"Aduuuh, ini mulut kenapa sih pake acara keceplosan segala! Bikin orang jantungan aja." gerutu dalam hati.
"Iya enggak maksud nya apa sih, Ndah? Abang gak ngerti." tanya Haris lagi.
"Gak papa, bang. Aku cuma salah ngomong aja tadi." jawab ku.
"Oh," balas Haris.
Aku berusaha tetap tenang untuk menutupi kegugupan dan kegelisahan ku di hadapan lelaki ku itu. Suasana pun hening sesaat, Haris kembali memandangi jendela dengan tatapan kosong menerawang.
Sedangkan aku, jangan di tanya lagi. Keringat dingin mulai bermunculan di kening dan juga badan ku. Aku mulai merasa gerah dan tidak nyaman, dengan suasana horor dan mencekam seperti sekarang ini.
Melihat ekspresi wajah Haris yang masih tetap datar dan dingin, aku pun mempunyai ide untuk mengalihkan perhatian nya.
"Aku mau tidur bentar ya, bang! Mata ku ngantuk banget nih, hoamm." bohong ku sambil berpura-pura menguap di depan Haris.
"Ya, tidur lah! Abang mau keluar bentar, nanti abang kesini lagi." balas Haris.
Haris beranjak dari tempat duduk nya dan melangkah keluar dari kamar, tanpa menoleh atau mengucapkan sepatah kata pun pada ku.
Aku menatap kepergian Haris dengan mata yang berembun. Aku merasa sedih melihat perubahan sikap nya seperti itu.
"Apakah aku harus jujur dengan mu, bang? Apakah kau masih mau berhubungan dengan ku, kalau seandainya kau tau tentang semua nya?" gumam ku.
Aku membaringkan tubuh ku kembali di atas kasur, dengan air mata yang mulai menetes di kedua pipi ku.
Setelah beberapa saat merenung tentang Haris, aku pun memutuskan untuk beristirahat kembali.
"Semoga saja ini hanya mimpi ya Allah, amin." doa ku dalam hati.
Tak lama kemudian, aku pun kembali tertidur pulas dan masuk ke alam mimpi yang indah.
__ADS_1