
Setelah beberapa jam mengistirahatkan tubuh dan otak, aku pun mulai terbangun dengan sendiri nya. Aku mengerjap-ngerjap kan mata, lalu menguap hingga berulang-ulang kali.
"Uuuhh, pegel nya badaaan!" gumam ku sembari mengulet ke kanan dan ke kiri.
Aku merenggang kan otot-otot yang terasa pegal dan kaku, lalu melirik ke arah bang Rian yang masih tampak setia dengan mimpi indah nya.
"Wah, si ganteng ku masih molor rupanya. Aku kerjain dikit ah, hihihi." gumam ku sembari cekikikan.
Aku turun ke bawah bang Rian, dan berhenti tepat di pangkal paha nya. Kemudian aku memasukkan milik nya ke mulut ku, dan mulai memanjakan nya dengan lidah nakal ku.
Bang Rian pun mulai menggeliat-geliat karena kegelian akibat perbuatan ku tersebut. Ia mulai gelisah dan tidak tenang dengan tidur nya. Hingga akhirnya, bang Rian membuka mata nya dan terkejut melihat aksi nyeleneh ku.
"Lagi ngapain, sayang?" tanya bang Rian dengan senyum sumringah di bibir nya.
"Lagi makan es krim." jawab ku santai.
"Ooohhh, enak gak es krim nya?" tanya bang Rian lagi.
"Ya, enak lah. Kalau gak enak, mana mau aku makan nya. Udah ah, jangan ganggu dulu. Aku lagi enak-enak nya nih." balas ku ketus.
"Hahahaha, marah pulak dia. Oke oke, abang gak akan mengganggu kegiatan mu itu." gelak bang Rian.
"Teruskan lah makan mu, sampai kau merasa kenyang." lanjut bang Rian.
"Naaah, gitu dong! Kalau nurut gitu kan, aku jadi makin cinta nantinya." balas ku asal.
"Helehh, modus. Jangan coba-coba merayu abang ya, gak bakalan mempan soal nya." cibir bang Rian sembari tersenyum miring.
"Siapa yang modus? Kalau gak percaya, belah lah dada ku. Pasti ada jantung, hati, ampela, jeroan, usus dan..."
"Stop, gak usah di terusin lagi! Bikin gilo aja, hiiiiii." ujar bang Rian sembari bergidik ngeri.
"Lah, kok gitu? Emang nya kenapa?" tanya ku sambil terus melanjutkan kegiatan ku di bawah bang Rian.
"Gak papa, abang jadi teringat hantu kuyang gara-gara omongan mu tadi, hiiiiii serem!" jawab bang Rian kembali bergidik ngeri.
"Hahahaha, masa cowok se keren dan se macho abang, takut sama hantu sih? Aneh-aneh aja, hahaha." ledek ku tertawa ngakak.
Tawa ku langsung pecah saat mendengar penuturan bang Rian. Wajah nya langsung berubah pucat, dia tampak sedikit ketakutan akibat obrolan kami tadi.
"Bu-bukan nya takut, Ndah. Tapi abang spontan aja teringat hantu itu." balas bang Rian gugup.
"Sama aja, dodol. Coba abang ngaca deh, lihat muka abang sendiri. Pasti udah kayak mayat hidup pucat nya." ledek ku lagi.
"Ah, masa sih?" tanya bang Rian tidak percaya.
"Iya, cius. Kalo gak percaya, coba abang ngaca sana!" titah ku sembari menunjuk ke arah cermin meja rias.
Mata bang Rian mengikuti arah telunjuk ku, setelah itu dia kembali memandangi ku, yang masih saja asyik bermain-main dengan benda milik nya.
"Ya udah deh, abang percaya." balas Rian lemah.
"Ciyeee, pasrah niyeee, hahaha!" ledek ku kembali tergelak.
"Indaaah, udah ah gak usah di bahas lagi. Bikin mood abang rusak aja." balas bang Rian kesal.
"Woke," balas ku lalu membentuk jari telunjuk dan jempol ku menjadi huruf O ke arah bang Rian.
Selesai meledek bang Rian habis-habisan, aku pun melanjutkan tugas ku kembali. Setelah merasa puas, aku segera naik ke atas tubuh nya lalu mulai melancarkan aksi ku kembali.
__ADS_1
Aku memegang kendali di atas tubuh kekar bang Rian. Aku berusaha sebisa mungkin, untuk memberikan pelayanan terbaik pada bang Rian. Bahkan, aku juga memberikan beberapa tanda di dada bidang nya.
"Wow, kau memang luar biasa, sayang." gumam bang Rian dengan mata terpejam.
Sedangkan aku, aku hanya tersenyum melihat reaksi bang Rian yang tampak sangat menikmati kegiatan ku.
Tanpa sadar, dia pun mulai mengeluarkan suara-suara aneh nya, hingga membuat ku semakin bersemangat untuk menggerakkan badan ku.
Aku pun semakin mempercepat gerakan ku, dan tak lama kemudian, akhirnya aku pun memuncak dan terkulai lemas di atas tubuh bang Rian.
"Hehehe, capek ya, sayang?" ledek bang Rian dengan senyum menyeringai.
"Udah tau gitu pun, masih aja nanya." jawab ku dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
"Hahahaha, ya udah kita gantian ya. Sekarang giliran abang yang pegang kendali." balas bang Rian.
Bang Rian memeluk ku, lalu memutar posisi ku menjadi di bawah kungkungan nya, tanpa melepaskan pelukan nya pada ku. Setelah itu, bang Rian pun mulai menyerang ku dengan ganas dan gairah yang tinggi. Hingga membuat ku melayang-layang sampai ke awan.
Setelah melakukan tugas nya selama hampir satu jam, bang Rian pun menyudahi kegiatan nya, dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh nya.
"Ah, nikmat banget, sayang. Abang sangat puas dengan pelayanan mu tadi. Nanti ulangi lagi ya, kayak yang tadi!" pinta bang Rian.
"Ogah, capek tauuuu!" tolak ku dengan bibir mengerucut.
"Loh, kok malah ogah sih? Nanti abang bantu deh, biar dirimu gak terlalu capek. Ya mau ya, pliiiiss!" rengek bang Rian dengan wajah memelas.
Begini lah kira-kira wajah memelas bang Rian, saat merengek pada ku, hahay...
"Ya, tengok nanti lah!" balas ku cuek.
"Halah, lebay. Masih kurang banyak tuh, kata-kata gombalan nya." cibir ku.
"Lah, emang mau di gombalin yang bagaimana lagi? Perasan, itu udah lengkap kata-kata nya." tanya bang Rian bingung.
"Coba nanti abang tanya sama mbah google! Siapa tau dia bisa ngasih kata-kata yang lain, hihihi." canda ku.
"Oh, iya juga ya. Ya udah deh, nanti abang tanya kan." ujar bang Rian menyetujui saran nyeleneh ku.
"Hahahaha, gendeng." cibir ku sembari tertawa ngakak.
Selesai berhaha-hihi dengan berdua, aku dan bang Rian pun terdiam sejenak. Kami sibuk berperang dengan isi kepala masing-masing.
Aku kembali teringat dengan Haris. Sedangkan bang Rian, aku tidak tahu entah apa yang ada di dalam otak nya saat ini. Kami berdua sama-sama membisu, dan fokus menatap langit-langit kamar.
Setelah beberapa saat hening, bang Rian pun kembali membuka suara nya. Dia memiringkan badan nya, lalu menopang kan kepala nya di telapak tangan nya.
"Sayang, kamu udah lapar belum?" tanya bang Rian sembari membingkai wajah ku.
"Hmmmm, sebenarnya sih belum terlalu lapar. Tapi kalau abang mau beli makanan, ya silahkan! Nanti pasti aku makan kok." jawab ku.
"Oh, gitu ya!" balas bang Rian sembari manggut-manggut.
"Emang abang udah lapar, ya?" tanya ku balik.
"Iya," jawab bang Rian.
"Oh ya udah, keluar lah sana! Aku gak ikut ya, aku nungguin di sini aja." ujar ku.
__ADS_1
"Yaaaahh, kok gak ikut sih! Masa abang sendirian aja nyari makan nya, gak asik ah!" gerutu bang Rian sedikit kecewa.
"Lah, emang kenapa kalau sendirian? Abang takut di culik tante-tante girang ya, hahahaha!" ledek ku.
Aku kembali mentertawai bang Rian. Aku merasa lucu, saat melihat raut wajah bang Rian yang berubah masam, sambil memanyunkan bibir nya. Dia tampak kesal mendengar ledekan ku barusan.
"Hush, sembarangan! Mana mungkin ada tante-tante girang yang sanggup nyulik abang." ujar bang Rian.
"Yang ada mereka malah rugi, kalau berani nyulik lelaki tampan kayak abang." lanjut bang Rian dengan kepedean tingkat tinggi.
"Idih, narsis betul lelaki ku ini." cibir ku.
Aku memutar bola mata malas, saat melihat wajah bang Rian yang sedang tersenyum genit, sambil menaik turun kan kedua alis nya.
"Emang nya kenapa, kok bisa rugi pulak nyulik abang?" selidik ku.
"Ya iya lah, biaya hidup abang tu banyak, tauuuu. Jajan nya, rokok nya, makan nya. Belum lagi happy-happy nya, uang keluyuran nya, dan masih banyak lagi pengeluaran lain nya." jelas bang Rian panjang lebar.
"Waduhhh, ya tumpur lah bandar kalau begitu ceritanya." oceh ku sedikit terkejut
"Tu lah, kan udah abang bilang tadi. Gak bakalan sanggup tante-tante girang nyulik abang. Banyak biaya soal nya, hahahaha." gelak bang Rian.
"Huuuu, edan!" cibir ku sembari mencubit kuat hidung bang Rian.
"Adoooh, copot lah lama-lama hidung abang ini kau buat, Ndah." pekik bang Rian.
"Biarin, week." balas ku sembari menjulurkan lidah pada nya.
Bang Rian langsung membelalakkan mata nya, ketika melihat tingkah kocak ku tersebut. Karena saking kesalnya, bang Rian segera naik ke atas tubuh ku.
Dia merentangkan kedua tangan ku, dan mendekatkan wajah nya pada ku, lalu berucap...
"Iiiisss, kok kayak biawak gitu lidah nya. Mau minta di gigit ya?" ancam bang Rian dengan senyum menyeringai.
"Males lah, nanti kebablasan pulak." tolak ku.
"Hehehehe, tau aja." balas bang Rian sembari nyengir kuda.
"Iiihhhh, lepasin! Sakit tau gak?" rengek ku. Aku meronta-ronta di dalam kungkungan bang Rian.
"Tadi kata nya mau nyari makanan, gak jadi ya?" tanya ku mengalihkan perhatian bang Rian.
"Eh, iya ya. Kok abang bisa lupa? Ini pasti gara-gara dirimu, maka nya abang bisa lupa kayak gini." oceh bang Rian.
Bang Rian mulai melepaskan cengkraman tangan nya, lalu bergegas turun dari ranjang. Dia memakai pakaian dan sepatu nya kembali.
"Loh, kok gara-gara aku pulak? Dia sendiri yang pikun, malah nyalahin orang pulak. Dasar, kutu kupret!" gerutu ku.
"Heh heh heh, gak usah pake acara ngedumel segala. Kuping abang denger nih. Bilangin orang kutu kupret pulak tuh." omel bang Rian.
"Bodo," balas ku cuek.
Bang Rian hanya menggeleng-gelengkan kepala nya, mengahadapi segala macam tingkah dan kegilaan ku.
"Ya udah, nanti kita lanjutin lagi perang nya. Abang mau nyari makanan dulu ya, bye!" pamit bang Rian sembari mengecup kening ku.
"Ya, hati-hati di jalan ya, bang." balas ku.
"Oke, sayang." ujar bang Rian.
__ADS_1