Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Diantar Bang Hendra


__ADS_3

Siang menyapa, setelah beristirahat selama beberapa jam, akhirnya aku pun terbangun dari tidur lelap ku.


Setelah mengucek-ngucek mata dan menguap beberapa kali, aku pun menoleh ke samping, dan memandangi wajah teduh bang Hendra yang masih setia dengan mimpi indah nya.


Berhubung hari sudah siang, aku pun memberanikan diri untuk membangun kan bang Hendra, dengan mengguncang-guncang pelan bahu nya.


"Bang, bangun bang. Udah siang nih. Abang gak kerja ya?" tanya ku sambil terus mengguncang bahu nya.


Karena merasa terganggu dengan guncangan ku, akhirnya bang Hendra pun mulai membuka mata nya, dan menggeliat-geliat kan badan nya. Melihat bang Hendra sudah bangun, aku pun kembali bertanya pada nya.


"Hari ini abang gak kerja ya?" tanya ku.


Bukan nya menjawab, bang Hendra malah bertanya balik pada ku.


"Emang udah jam berapa?" tanya bang Hendra dengan suara serak khas bangun tidur.


"Bentar, aku lihat dulu." jawab ku lalu beranjak dari ranjang, dan mengambil ponsel yang ada di dalam tas ransel ku.


Setelah mendapatkan nya, aku pun segera menyalakan ponsel itu, dan melihat jam yang tertera di sudut kiri layar. Mata ku langsung terbelalak lebar dengan mulut terbuka, saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang.


Melihat ekspresi wajah ku yang tampak terkejut, bang Hendra pun segera bangkit dari ranjang dan berjalan mendekati.


"Ada apa, sayang? Kenapa muka nya jadi aneh gitu? Emang udah jam berapa sih?" tanya bang Hendra penasaran.


"Udah jam sebelas, bang. Mandi yok, ntar lagi udah waktu nya check out!" seru ku.


Aku meletakkan ponsel di atas meja rias, lalu menyambar handuk yang teronggok di atas nakas, dan bergegas masuk ke kamar mandi.


Melihat tingkah ku yang tampak terburu-buru, bang Hendra pun hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala nya. Setelah itu dia pun ikut menyusul ku ke kamar mandi, dengan handuk yang melilit di pinggang nya.


Sedang asyik menikmati guyuran air shower yang hangat, tiba-tiba aku terlonjak kaget saat sepasang tangan melingkar di pinggang ku.


Bang Hendra memeluk ku dari belakang, lalu mulai menempelkan bibir nya di leher dan juga pundak ku. Bang Hendra terus saja menggerayangi tubuh ku dengan jari-jari nakal nya, lalu berbisik...


"Kita main bentar ya, Ndah. Abang udah gak tahan nih." bisik bang Hendra lalu menggigit pelan telinga ku.


"Oke, tapi jangan lama-lama ya. Jam nya udah mepet soalnya." balas ku tanpa menoleh ke belakang.


"Oke, sayang." balas bang Hendra.


Setelah mendapat izin dari ku, bang Hendra pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah aku berikan. Dia langsung melancarkan serangan-serangan ganas nya pada ku.


Bang Hendra mencium seluruh wajah dan juga bibir ku dengan rakus. Lalu ciuman itu pun turun ke arah dua bukit kembar ku. Setelah puas bermain-main di sana, bang Hendra pun berjongkok di bawah ku, lalu merenggang kan kedua kaki ku.


Selanjutnya, bang Hendra pun menjulurkan lidah nya dan mulai memanjakan milik ku, dengan kenikmatan yang sangat luar biasa.

__ADS_1


Sedangkan aku, aku hanya mendongak ke atas dengan mata terpejam, merasakan sensasi geli dan nikmat yang di berikan bang Hendra.


Setelah selesai dengan kegiatan nya, bang Hendra pun langsung berdiri, dan mulai memasukkan tombak kayu nya ke dalam gua merah muda milik ku.


Dan akhirnya, pergumulan panas nan nikmat pun kembali terjadi. Bang Hendra melakukan permainan liar nya, dengan semangat empat lima di bawah guyuran shower.


Aku dan bang Hendra saling memberi dan menerima, dengan gairah yang menggebu-gebu dan nafas yang ngos-ngosan. Suara-suara aneh pun mulai menggema, di setiap sudut ruangan kamar mandi tersebut.


Setelah hampir satu jam bersenang-senang, akhirnya kami berdua pun mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan.


"Udah puas, sayang?" tanya bang Hendra dengan senyum sumringah di wajah nya.


"Udah, hehehe." jawab ku sambil nyengir kuda.


"Syukurlah kalau udah. Abang pikir dirimu belum puas, karena main nya cuma sebentar." ujar bang Hendra.


"Sebentar apa nya? Hampir satu jam gitu kok di bilang sebentar, aneh." gerutu ku.


Mendengar ocehan ku, bang Hendra pun langsung membelalakkan mata nya. Dia tampak terkejut, setelah mengetahui bahwa dia sudah menjamah ku selama hampir satu jam lama nya.


"Hah, masa sih? Perasaan tadi cuma sebentar aja main nya." pekik bang Hendra tidak percaya.


"Mungkin karena saking enak nya, maka nya abang gak terasa udah main selama itu." balas ku.


"Oh iya, mungkin juga sih, hehehe." balas bang Hendra sembari tersenyum, dan menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal.


"Udah, gak usah pake acara cengar-cengir segala. Ayo kita mandi, siap tu kita langsung balek! Udah hampir jam dua belas tuh!" seru ku.


"Oiya, hampir aja abang lupa, hihihi." balas bang Hendra sambil menepuk jidat nya sendiri.


"Huuuuu, dasar pikun!" cibir ku.


Sesudah melakukan olahraga pagi yang sangat melelahkan, aku dan bang Hendra pun mulai membersihkan diri masing-masing. Setelah selesai, kami berdua pun langsung berpakaian dan bersiap-siap untuk pulang ke hunian masing-masing.


"Udah siap, sayang?" tanya bang Hendra sembari merapikan rambut nya di depan cermin.


"Udah, yok!" jawab ku lalu menyampirkan tas ke pundak, dan menggandeng tangan bang Hendra.


"Oke," balas bang Hendra.


Aku dan bang Hendra melangkah keluar dari kamar, lalu menapaki anak tangga satu persatu untuk menuju ke lantai dasar. Sampai di meja resepsionis, bang Hendra pun menyerahkan kunci kepada penjaga laki-laki yang sedang bertugas.


Setelah itu, bang Hendra menggenggam tangan ku, dan kami pun kembali berjalan beriringan menuju parkiran.


Sesampainya di dalam mobil, kami berdua pun memasang sealbeat ke badan masing-masing. Setelah selesai, bang Hendra pun mulai menyalakan mesin mobil nya, dan melajukan kendaraan roda empat nya secara perlahan menuju ke jalan raya.

__ADS_1


Baru saja memulai perjalanan, bang Hendra pun kembali membuka percakapan. Dia bertanya tentang keberadaan tempat tinggal ku saat ini.


"Kamu masih tinggal di tempat yang lama, atau udah pindah?" tanya bang Hendra sembari menoleh sekilas, lalu kembali fokus menatap jalanan.


"Udah pindah, bang. Sekarang aku tinggal di kos-kosan dekat taman, tak jauh dari tempat kerja ku." jawab ku tanpa menoleh pada nya.


"Ooohhh, kirain masih di tempat yang lama. Bagus lah kamu pindah dari sana, jadi mantan pacar mu itu gak bisa sembarangan lagi keluar masuk kamar mu." balas bang Hendra mendukung kepindahan ku.


"Iya bener, karena itu lah makanya aku pindah dari sana." lanjut ku.


Bang Hendra hanya manggut-manggut menanggapi penuturan ku. Pandangan nya tetap fokus menatap lurus ke depan. Begitu juga dengan ku, aku menatap jalanan sambil memeluk erat tas ransel yang ada di pangkuan ku.


Setelah beberapa saat hening, bang Hendra pun kembali bersuara.


"Emang kapan kamu pindah nya, Ndah? Kok gak ngabarin abang sih? Kan abang bisa bantu ngangkatin barang-barang mu." tanya bang Hendra sambil terus memainkan stir kemudi nya.


Aku langsung terdiam seketika, setelah mendengar pertanyaan itu. Aku bingung harus menjawab apa kepada bang Hendra. Aku tidak ingin bang Hendra tahu, kalau bang Rian lah yang sudah membantu kepindahan ku.


Setelah beberapa saat berpikir keras, akhirnya aku pun mendapatkan alasan yang pas, untuk menjawab pertanyaan bang Hendra tadi.


"Baru dua hari kok, bang." jawab ku lirih, lalu memalingkan wajah ku ke jendela samping.


"Ohhh, baru toh. Kirain udah lama." balas bang Hendra.


"Maaf ya, bang. Bukan nya aku gak mau ngabarin abang, tapi aku takut mengganggu waktu kerja abang." bohong ku kembali menoleh pada nya.


"Hmmmm, iya juga sih. Kalau siang, abang memang gak bisa. Tapi kalau malam, abang pasti bisa. Lain kali kamu butuh bantuan abang, ngomong aja ya! Abang akan usahain curi-curi waktu untuk mu." tutur bang Hendra panjang lebar.


"Iya, nanti aku kabari." balas ku.


Tak lama kemudian, kami berdua pun sudah tiba di depan gerbang kos berlantai empat tersebut.


"Ini tempat nya, Ndah?" tanya bang Hendra sambil memperhatikan hunian baru ku tersebut.


Iya, emang kenapa?" tanya ku penasaran.


"Ya, gak papa sih. Cuma kelihatan lebih bagus aja, dari pada kos mu yang lama." jawab bang Hendra.


"Ooh, kirain kenapa. Iya sih, disini memang lebih bagus dan lebih besar dari tempat yang lama. Tapi disini peraturan nya ketat, bang." ujar ku.


Bang Hendra langsung menoleh pada ku, sambil menautkan kedua alisnya. Dia memandangi wajah ku, dengan tatapan yang penuh tanda tanya.


"Peraturan ketat, maksud nya?" tanya bang Hendra bingung.


"Maksud nya, ini kos-kosan khusus cewek, laki-laki di larang masuk." jelas ku.

__ADS_1


"Ooohhh, gitu." balas bang Hendra sambil manggut-manggut.


__ADS_2