Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Beli Emas Buat Nenek


__ADS_3

Setelah celingukan kesana kemari, pandangan ku pun terhenti saat melihat deretan becak motor yang terparkir rapi, di tempat yang berada tidak jauh dari terminal bus yang aku tumpangi tadi.


"Becak, BANG!" pekik ku dengan suara melengking.


Aku melambaikan tangan ke arah para tukang becak yang sedang mangkal.


"Oke, kak." jawab si tukang becak.


Setelah mendengar panggilan dari suara cempreng ku, salah satu di antara mereka pun langsung datang menghampiri ku.


Sampai di hadapan ku, tukang becak itu pun bergegas mengangkat koper ku, dan barang-barang lain nya ke atas becak nya.


"Ke alamat ini ya, bang!" pinta ku.


"Oke siap, kak e." balas nya.


Aku naik ke atas becak sambil menyebut kan alamat rumah nenek. Setelah duduk di dalam, tukang becak itu pun mulai melaju kan kendaraan roda tiga nya ke jalan raya.


Sekitar sepuluh menit kemudian kami pun tiba di kawasan rumah nenek. Aku segera turun dari becak dan berdiri tepat di samping nya.


Tukang becak itu pun langsung menurunkan semua barang-barang bawaan ku, dan meletakkan nya di dekat kaki ku.


"Makasih ya, bang." ujar ku.


Aku menyerahkan uang ongkos ke tangan tukang becak itu sambil tersenyum.


"Sama-sama, kak e." balas nya.


Setelah menerima ongkos, tukang becak itu pun kembali melajukan kendaraannya menuju ke tempat mangkal nya semula.


"Alhamdulillah, akhir nya..." gumam ku.


Aku mulai melangkah kan kaki sambil menarik koper, dan menenteng barang lain nya menuju ke rumah nenek. Setelah melewati beberapa rumah, aku pun tiba di depan rumah panggung nenek.


Tok tok tok...Tok tok tok...


Aku mengetuk pintu tanpa mengeluarkan suara. Aku ingin memberikan kejutan kepada nenek, atas kepulangan ku yang mendadak dan tanpa mengabari terlebih dahulu. Beliau sama sekali tidak tahu, bahwa aku akan pulang hari ini.


Setelah beberapa kali mengetuk, baru lah terdengar suara nenek yang menyahut dari dalam rumah nya.


"Ya, bentar!" pekik nenek.


Ceklek...


Setelah pintu pun terbuka lebar, nenek pun langsung terpaku di tempat nya berdiri. Beliau tampak syok melihat ku yang sedang berdiri tepat di hadapan nya.


"Assalamualaikum, nek,"


Aku mengucap salam sambil mengambil tangan nenek, dan mencium punggung tangan nya takzim.


"Wa'laikum salam," balas nenek


"Ini beneran kau, Ndah?"


Tanya nenek seolah-olah tidak percaya melihat kedatangan ku. Aku pun mengangguk dan langsung memeluk tubuh renta nenek, yang paling aku sayangi itu dengan erat.


"Iya ini aku, nek." balas ku lirih.

__ADS_1


"Ya Allah, Ndah. Akhirnya kau pulang juga." balas nenek.


Nenek membalas pelukan ku sambil meneteskan air mata nya. Beliau sangat terharu dan tampak bahagia melihat kepulangan ku.


Beberapa saat kemudian, nenek merenggang kan pelukan ku dan mengajak ku untuk masuk ke dalam rumah nya. Aku pun segera mengikuti langkah beliau dari belakang.


Aku kembali menenteng koper dan barang lain nya ke dalam, lalu meletakkan nya di lantai papan rumah nenek.


Setelah itu, aku duduk di kursi plastik milik nenek sambil memandangi setiap sudut rumah masa kecil ku itu.


"Masih sama seperti yang dulu." batin ku.


Nenek yang sedari tadi sibuk di dapur pun kembali menghampiri ku, sambil membawa nampan yang berisikan segelas teh manis hangat di tangan nya. Nenek meletakkan nampan itu tepat di depan ku.


"Minum dulu, Ndah! Kau pasti haus kan." titah nenek.


Nenek berucap sambil mendudukkan badan nya di kursi yang sama, seperti yang aku duduki. Aku pun langsung mengangguk kan kepala, mengiyakan perintah nenek.


"Iya, nek." jawab ku.


Setelah menyeruput teh buatan nenek, aku pun meletakkan kembali gelas itu di atas meja.


"Naik apa tadi dari sana (Batam), Ndah?" tanya nenek membuka percakapan.


Nenek mulai penasaran karena setahu beliau, pulau tempat ku merantau itu hanya bisa di lalui oleh dua jalur saja yaitu laut dan udara. Kalau tidak naik pesawat, ya sudah pasti naik kapal laut.


"Aku tadi naik pesawat, nek." jawab ku.


Aku turun dari kursi dan duduk melantai di bawah. Aku mulai membuka koper dan bungkusan-bungkusan lain nya yang aku bawa dari kota Batam.


"Ini oleh-oleh buat nenek!" ujar ku.


Aku memberikan 4 bungkus kain sarung batik, 1 bungkus mukena, dan 3 bungkus baju gamis. Dan beberapa bungkus roti serta cemilan lain nya.


"Banyak kali oleh-oleh nya, Ndah." balas nenek dengan wajah yang berbinar bahagia.


"Iya, nek. Ini semua buat nenek." ujar ku lagi.


"Habis lah nanti uang mu beli-beli kayak gini, Ndah." balas nenek sedikit khawatir.


"Ya gak lah, nek. Uang ku masih ada kok, nenek tenang aja ya!" jawab ku meyakinkan nenek.


Aku melirik kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 4 sore.


"Nek, ganti lah baju nya! Kita ke pajak(pasar) sekarang!" titah ku.


Kalau orang Medan bilangin pasar itu pajak ya man teman, agar tidak salah mengartikan nya.


"Mau ngapain ke pajak? Mau beli apa kau rupa nya?" tanya nenek bingung.


"Apa kau gak capek baru datang udah ngajak jalan-jalan?" lanjut nenek.


"Gak capek kok, nek. Udah, nenek ganti baju aja sana! Biar kita jalan-jalan sekarang." balas ku.


"Ya, tunggu lah bentar!" jawab nenek.


Beliau pun langsung beranjak dari duduknya, dan berjalan ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Tak lama kemudian, nenek pun muncul dari kamar nya dengan memakai baju gamis dan selendang di kepalanya.

__ADS_1


"Udah siap, Ndah. Ayok kita jalan!" ajak nenek.


"Iya, nek." jawab ku.


Nenek mengajak ku sambil menenteng sandal nya yang bagus dari dalam kamar. Setelah melihat nenek sudah rapi dari atas sampai bawah, aku pun segera beranjak dari tempat duduk.


Aku dan nenek berjalan keluar rumah setelah mengunci pintu terlebih dahulu.


Aku menggandeng lengan nenek, dan kami berdua pun berjalan beriringan menuju ke jalan raya. Nenek sering pusing dan sempoyongan, kalau berjalan sendiri di tempat keramaian.


Maka dari itu aku berinisiatif untuk menggandeng erat lengan nya, agar bisa menjaga keseimbangan tubuh renta beliau. Setelah beberapa saat berjalan, kami berdua pun tiba di jalan raya.


Aku dan nenek pun segera menghampiri tukang becak yang sedang mangkal di pinggir jalan. Setelah itu, kami berdua langsung naik ke atas becak dan duduk dengan santai di dalam nya.


"Tolong antar kan ke pajak ya, bang!" pinta ku.


"Iya, kak." balas si tukang becak.


Setelah mengetahui arah tujuan kami, tukang becak itu pun mulai menjalankan kendaraan nya menuju pasar besar yang berada di tengah-tengah kota Binjai.


Sesampainya di deretan ruko-ruko toko emas, aku langsung meminta kepada si tukang becak untuk memberhentikan laju kendaraan nya.


"Berhenti di sini aja, bang!" pinta ku.


"Oke, kak." jawab nya.


Setelah becak yang kami tumpangi berhenti, aku dan nenek pun segera turun dan membayar ongkos nya.


"Ayok kita kesana, nek!" seru ku.


Aku kembali menggandeng lengan nenek, menuju salah satu toko emas yang berada tidak jauh dari tempat kami berdiri. Setelah sampai di depan toko, nenek pun mulai bertanya sambil menghentikan langkahnya.


"Mau apa kita kesini, Ndah?" tanya nenek heran.


"Udah, nenek gak usah tanya-tanya lagi. Ikut aja sama aku!" jawab ku agak memaksa.


Setelah mendengar jawaban ku, nenek pun pasrah dan kembali mengikuti langkah ku dengan hati yang ragu dan sedikit kebingungan.


Sampai di dalam toko, aku pun mulai memilih-milih gelang yang pas dan cocok buat nenek.


Aku mencocokkan beberapa model gelang ke pergelangan tangan nenek. Setelah menemukan yang pas buat nenek, aku pun kembali memilih model cincin. Aku kembali mencocokkan cincin-cincin pilihan ku itu ke jari tangan nenek.


"Pas," gumam ku setelah mendapat kan cincin yang cocok di jari nenek.


Nenek yang sedari tadi hanya terdiam, dan terus memperhatikan ku yang sibuk memilihkan emas untuk nya, akhirnya beliau pun kembali membuka suara nya.


"Gak usah banyak-banyak beli nya, Ndah! Nanti gak ada lagi uang mu untuk ongkos balek." ucap nenek khawatir.


"Ada kok, nek. Tenang aja lah pokok nya!" jawab ku santai.


Setelah selesai mencocokkan dua buah cincin dan satu gelang rantai, si pelayan toko pun mulai mentotal semua emas pilihan ku itu.


Setelah mengetahui jumlah nya, aku segera mengambil dompet dan membayar nya kepada si pelayan toko.


Dia pun memasukkan emas itu ke dalam dompet kecil, dan menyerahkan nya pada ku.


Setelah menerima dompet emas itu, aku dan nenek pun kembali berjalan keluar dari toko. Kami berdua berhenti dan berdiri di trotoar depan toko yang kami masuki tadi.

__ADS_1


__ADS_2