
Kukuruyuuuukkk...
Pagi menyapa, setelah tertidur pulas dengan jangka waktu yang cukup panjang, aku dan bang Rian pun terbangun dan membersihkan diri ke kamar mandi.
Setelah selesai, kami pun kembali berpakaian dan duduk bersila di atas lantai yang sudah di alasi karpet. Sesudah mengganjal perut dengan teh manis hangat dan roti tawar, bang Rian pun pamit untuk pulang ke rumah nya.
"Sayang, abang balek dulu ya. Abang mau ngecek toko dulu. Habis tu, abang mau ngurus surat-surat ke kantor KUA," tutur bang Rian.
"Oke, hati-hati di jalan ya! Jangan ngebut-ngebut bawa mobil nya, pelan-pelan saja asal selamat sampai tujuan," balas ku memberi peringatan pada nya.
"Iya, sayang. Makasih ya, atas perhatian nya," ucap bang Rian lalu memeluk erat tubuh ku, dan mengecup kening ku.
"Ya," balas ku tersenyum dan mencium punggung tangan nya.
"Ya udah, abang pergi dulu ya, assalamualaikum," pamit nya lalu melangkah menuju pintu dan memakai sepatu.
"Wa'laikum salam," jawab ku dan mengekori langkah nya sampai ke depan pintu.
Setelah selesai, ia pun berjalan menuju pintu gerbang dan menaiki kendaraan roda empat nya. Setelah kepergian bang Rian, aku pun menutup pintu dan menguncinya kembali.
"Semoga saja semua nya berjalan dengan lancar, ya Allah. Amin amin ya robbal a'lamin," batin ku penuh harap.
Saat sedang sibuk merapikan kasur dan membersihkan kamar, tiba-tiba terdengar suara Ririn yang sedang memekik kuat sambil menggedor-gedor pintu kamar ku.
Dor dor dor...
"Lampiiiirr, buka pintu nyaaaa! Orang cantek mau masuk," pekik Ririn.
Aku memutar bola mata malas, ketika mendengar "orang cantek" dari bibir rombeng Ririn.
"Cih, kepedean bener manusia satu ini. Muka kayak lutung gitu kok, sok cantek pulak," gerutu ku.
"Ya, tunggu bentar!" teriak ku menyahuti.
Dengan gerakan ogah-ogahan, aku pun berjalan ke arah pintu dan membuka nya. Sebelum di persilahkan untuk masuk ke dalam, Ririn sudah nyelonong masuk dan melewati ku begitu saja.
"Heh heh heh, kalau bertamu ke kamar orang itu yang sopan. Bukan langsung nyelonong kayak maling gitu," gerutu ku kesal dengan wajah cemberut.
"Nggak sempet lagi, aku udah kebelet banget nih," balas Ririn sambil memegangi perut dan bokong nya, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Mata ku langsung mendelik dengan mulut menganga, ketika mendengar ucapan nya.
"Wah wah wah, kurang asem bener nih bocah. Masa datang ke sini cuma ingin numpang eek doang? Di kira kamar ku ini WC umum kali yak?" umpat ku kesal.
Selesai membuang hajat, Ririn pun keluar dan duduk kelesotan di lantai. Ia menyandarkan punggung ke dinding dan mendongakkan kepala ke atas. Wajah nya tampak pucat, persis seperti mayat hidup.
"Heh, sundel! Kau itu kenapa sih? Kok muka mu pucat gitu? Kayak habis ketemu setan aja," tanya ku penasaran
"Entah lah, perut ku tiba-tiba sakit banget, mungkin gara-gara kebanyakan minum semalam," jawab Ririn dan kembali memegangi perut ramping nya.
Setelah mendengar jawaban nya, aku pun langsung mengoceh panjang kali lebar.
__ADS_1
"Maka nya jangan pecicilan kali jadi orang. Udah tau perut ada penyakit, masih aja minum banyak-banyak. Udah bosan hidup kau ya?" omel ku.
"Ck, orang lagi kesakitan gini bukan nya di tolong, malah di omelin pulak. Tega banget sama kawan sendiri," gerutu Ririn.
"Kapok, siapa juga yang nyuruh kau minum banyak-banyak, hah? Cari penyakit aja," tambah ku.
Ririn membuang nafas kasar, lalu menatap ku dengan mata sayu.
"Aku terpaksa melakukan nya, karena iming-iming uang tip yang lumayan banyak," tutur Ririn dengan nada lemah.
"Emang berapa uang tip nya?" tanya ku penasaran.
"Lima ratus ribu," jawab nya.
"Ooohhh, lumayan juga sih. Tapi ya, ingat juga lah kesehatan mu. Kalau memang nggak sanggup, nggak usah di paksakan. Kasian lambung mu," tutur ku memberi nasehat.
"Iya, aku tau. Habis mau gimana lagi, aku butuh uang buat bayar kos. Jadi ya, mau gak mau aku harus tetap melakukan nya," lanjut Ririn.
Aku menghela nafas panjang, mendengar penuturan sahabat karib ku tersebut. Sebenarnya aku tidak tega melihat keadaan nya seperti itu, tapi mau bagaimana lagi? Itu lah resiko yang harus kami terima sebagai wanita penghibur.
"Trus, kenapa kau eek disini? Kenapa nggak di kamar mu saja?" tanya ku heran.
"Kloset ku lagi mampet, nanti mau aku bilangin ke ibu kos, biar cepat di benerin," jawab Ririn.
"Oooohhh, gitu!" balas ku.
Setelah keadaan nya sudah mulai membaik, Ririn pun pamit dan kembali ke kamar nya.
"Oke lah, aku balek ke kamar dulu ya, bye!" pamit Ririn.
"Oke," jawab Ririn lalu melangkah keluar dari kamar ku.
"Semoga cepat sembuh ya, bestie," gumam ku penuh harap sambil terus memandangi kepergian sahabat terbaik ku.
Setelah kepergian Ririn, aku pun mengunci pintu dan kembali melanjutkan kegiatan ku yaitu, merapikan kamar yang berantakan seperti kapal pecah.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Beberapa hari kemudian, hari pernikahan pun tiba. Aku dan bang Rian mengadakan resepsi di masjid yang ada di sekitaran kos ku.
Bang Rian yang sudah tidak memiliki kedua orang tua pun, hanya di temani oleh kakak kandung nya dan beberapa orang teman dekat nya saja.
Sedangkan aku, aku di dampingi oleh Mas bos beserta istri, Ririn dan seluruh teman-teman waiters lain nya.
Sebelum acara di mulai, bang Rian menghubungi ayah dan melakukan panggilan video call, untuk menjadi wali ku.
Setelah panggilan tersambung, acara pun langsung di mulai. Setelah berhasil mengucapkan ijab kabul dengan satu tarikan nafas, akhirnya aku pun sudah resmi menyandang status sebagai istri kembali.
"Selamat ya, Ndah. Semoga bahagia dan langgeng sampe kakek nenek," ucap Ririn lalu memeluk ku dengan mata berkaca-kaca.
"Aaamiiiiinn, makasih doanya, bestie," jawab ku sembari tersenyum dan membalas pelukan nya.
__ADS_1
Begitu pun dengan teman-teman waiters lain nya. Mereka juga mengucapkan kata-kata yang sama, seperti yang di ucapkan Ririn.
Setelah acara selesai, bang Rian pun memboyong ku ke rumah nya yang berlantai dua, dan mempunyai halaman yang cukup luas menurut ku.
"Selamat datang di rumah kita, sayang!" ucap bang Rian setelah membuka pintu rumah nya.
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan bang Rian. Lalu melangkah masuk dan berjalan bersama nya. Kami berdua di sambut oleh ART dan security yang bekerja di rumah tersebut.
"Selamat ya, pak, buk. Semoga bahagia, dan cepat dapat momongan!" ucap si ART.
"Aaamiiiiinn, makasih, Yem. Tolong bawakan koper istri saya ke kamar ya!" titah bang Rian kepada ART nya yang bernama Sutiyem.
"Baik, pak," balas Sutiyem.
Setelah itu, kini giliran security paruh baya yang mengucapkan selamat kepada kami berdua. Ia juga mengucapkan kata-kata yang hampir sama dengan Sutiyem.
"Selamat ya, pak, buk. Semoga bahagia, langgeng sampai maut memisahkan, dan cepat mendapatkan keturunan," ucap nya sembari menyalami kami berdua.
"Aaamiiiiin, makasih atas doa nya, pak Paijo," balas bang Rian.
"Sama-sama, pak," jawab nya.
Setelah mengucapkan selamat, pak Paijo pun melakukan tugas nya kembali, sebagai petugas keamanan yang menjaga rumah bang Rian.
Sesampainya di kamar, bang Rian pun mendudukkan diri di pinggir ranjang dan berkata...
"Alhamdulillah, akhir nya abang bisa memiliki mu seutuh, sayang," ucap bang Rian.
"Iya, alhamdulillah. Aku juga nggak nyangka bakalan jadi istri abang," balas ku lalu duduk di sebelah nya.
Aku menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong menerawang. Aku merasa sangat bahagia dan terharu, dengan pernikahan ini. Aku tidak pernah menduga, jika aku bisa mendapatkan lelaki sebaik bang Rian.
"Semoga saja kau adalah jodoh terakhir ku, bang. Amin ya Allah," batin ku penuh harap.
Melihat keterdiaman ku, bang Rian pun mulai melingkar kan tangan nya ke pinggang ku, dan mendekatkan wajah nya ke telinga ku, lalu berbisik...
"Sayang, abang boleh malam pertama sekarang nggak?" tanya bang Rian dengan suara serak dan mata sayu.
"Malam pertama? Nggak salah tu?" tanya ku pura-pura bingung.
"Hehehe, anggap saja ini malam pertama buat kita. Boleh ya, abang pengen banget nih," rengek bang Rian lalu menenggelamkan wajah nya ke ceruk leher ku.
Mendengar rengekan manja nya, aku pun tersenyum dan mengangguk kan kepala. Setelah mendapat persetujuan ku, bang Rian pun langsung tersenyum lebar.
"Yey, makasih, sayang. I love you," ucap bang Rian girang lalu memeluk erat tubuh ku.
"I love you to, suamiku," jawab ku.
Dan pada akhirnya, seperti hari-hari sebelumnya, pertempuran panas pun terjadi di atas ranjang king size tersebut. Tapi kali ini, pertempuran panas itu sudah menjadi ibadah untuk kami berdua. Karena hubungan kami sudah halal dan sah di mata hukum dan agama.
Ini lah kisah perjalanan hidup ku yang penuh dengan cobaan dan air mata, selama menjadi wanita penghibur di dunia malam.
__ADS_1
Dan alhamdulillah atas izin Allah, akhirnya aku bisa hidup bahagia, dengan laki-laki yang sangat menyayangi dan mencintai ku dengan sepenuh hati nya.
🌷🌷 TAMAT🌷🌷