
Nama ku Haris, usia 35 tahun. Status ku saat ini adalah duda anak satu. Pekerjaan ku menerima jasa bangunan dan renovasi rumah, bisa di bilang kepala pertukangan.
Jika job proyek lagi kosong, aku merangkap sebagai driver online atau lebih tepatnya taksi online.
Saat ini aku sedang jatuh cinta pada seorang wanita, yang bernama Indah. Dia bekerja sebagai waiters di sebuah tempat karaoke.
Jarak tempat kerja nya sekitar tiga puluh menit dari tempat tinggal ku, jika di tempuh dengan mengendarai mobil ke lokasi tersebut.
Wajah Indah tidak lah cantik tapi tidak juga jelek. Wajah nya manis hingga siapa pun yang melihat nya tidak akan pernah bosan untuk memandang nya.
Itu lah penilaian ku kepada indah. Usia nya 28 tahun saat ini status janda tanpa anak. Pertemuan pertama kami beberapa bulan yang lalu, memberikan kesan yang cukup membekas di hatiku.
Saat itu aku di ajak teman-teman sebaya ku, untuk bersenang-senang di sebuah tempat karaoke yang lumayan bagus dan besar.
"Lagi dimana, bro?"
Tanya teman ku yang bernama Ferdi melalui panggilan ponsel.
"Lagi di rumah, Fer. Emang nya ada apa?" tanya ku balik.
"Malam ini ada kegiatan gak, bro?" tanya Ferdi lagi.
"Gak ada, Fer. Emang nya ada apa sih?" tanya ku mulai sewot.
"Sini, bro! Kami lagi happy-happy nih di tempat karaoke, aku share lokasi ya." ajak Ferdi.
"Banyak cewek-cewek cantik di sini, awas aja kalo gak datang!"
Ancam Ferdi sambil memutuskan panggilan secara sepihak. Ya, teman ku yang satu ini memang begitu tingkah nya. Dia selalu saja bertindak sesuka hati nya tanpa memperdulikan orang lain.
Setelah panggilan berakhir, Ferdi langsung mengirimkan alamat lokasi, di mana tempat dia berada saat ini.
"Ck, ada-ada aja pun tingkah bocah satu ini. Pake ngancem segala pula!" gerutu ku kesal.
Aku melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Aku langsung bergegas berganti pakaian dan memakai sepatu.
Lalu kemudian, memasukkan ponsel ke dalam saku dan mengambil kunci mobil yang terletak di atas kulkas.
Setelah semua nya beres, aku langsung berangkat ke lokasi yang di kirim kan Ferdi tadi dengan mengendarai mobil ku.
Sekitar tiga puluh menit perjalanan, aku pun sudah tiba di depan gedung bertingkat empat tersebut.
Setelah memarkir kan kendaraan, aku langsung menghubungi Ferdi untuk menjemput ku di luar gedung.
"Halo, Fer. Aku udah sampai nih, kau kesini lah jemput aku di parkiran!" pinta ku.
__ADS_1
"Oke, bro.Tunggu bentar ya!" balas Ferdi.
Tak lama kemudian, Ferdi pun muncul dari pintu utama gedung karaoke itu. Dia berlari kecil menghampiri ku yang sudah berdiri di samping mobil.
"Udah lama nunggu nya, bro?" tanya Ferdi.
"Gak, Fer. Aku baru sampai kok." jawab ku santai.
"Oh ya udah kalo gitu, ayo kita masuk!" ajak Ferdi.
Ferdi mulai melangkah menuju pintu utama, aku pun menurut dan mengikuti langkah nya dari belakang.
Sesampainya di dalam, aku langsung di suguhkan dengan suara dentuman musik DJ yang lumayan memekakkan telinga itu.
Sambil berjalan mengikuti Ferdi, aku mengamati sekeliling ruangan yang cukup luas, dengan pencahayaan yang hanya diterangi dengan lampu kelap-kelip yang sangat indah.
Suasananya riuh dan lumayan ramai oleh para pengunjung di setiap meja. Setelah melewati beberapa meja pengunjung, akhirnya kami berdua pun tiba di satu meja yang cukup ramai.
Ya, itu lah meja rombongan Ferdi. Di atas meja itu sudah di penuhi oleh berbagai macam jenis minuman beralkohol, dan bermacam-macam cemilan serta beberapa bungkus rokok tentu nya.
Aku melihat ada sekitar sepuluh orang yang duduk mengelilingi meja tersebut, termasuk Ferdi. Ada lima laki-laki dan mereka semua adalah teman ku.
Dan lima lagi wanita, mereka adalah waiters yang bekerja di tempat itu. Para wanita itu berpakaian cukup sopan menurut ku. Karena rata-rata mereka memakai celana panjang dan baju kemeja.
"Hai, bro."
"Hai, semua." balas ku.
"Duduk sini dulu, bro! Aku mau panggil kan cewek untuk menemani mu." ujar Ferdi.
Ferdi menunjuk kan tempat duduk yang masih kosong untuk ku. Lalu dia pun beranjak dari duduk nya dan berjalan keluar dari ruangan.
Beberapa menit kemudian, Ferdi kembali lagi sambil menggandeng seorang wanita di sisi kiri nya.
Ferdi menyuruh wanita itu duduk di samping ku, dan wanita itu pun menuruti perintah Ferdi. Aku jadi salah tingkah melihat wanita yang ada di samping ku itu.
Menurut ku dia itu manis dan body nya juga oke. Tidak kurus dan juga tidak gemuk, padat berisi lah istilahnya. Aku hanya diam sambil mencuri-curi pandang pada nya.
Jujur ku akui, aku menyukai nya sejak pandangan pertama tadi.
"Pandai juga si Ferdi memilih kan wanita untuk menemani ku." batin ku.
Aku memperhatikan gerak-gerik wanita yang ada di samping ku. Dia sedang menuangkan minuman ke dalam gelas untuk ku dan juga untuk diri nya sendiri.
Setelah selesai, dia memberikan gelas yang sudah berisikan minuman itu pada ku.
__ADS_1
"Silahkan di minum, bang!" ujar wanita itu.
"Oh iya, makasih ya, dek." balas ku.
Wanita itu menyerahkan minuman ke tangan ku. Aku sedikit gelagapan karena ketahuan oleh nya kalau aku sedang memperhatikan nya sedari tadi.
Aku menerima minuman itu dan kami pun bersulang, "Cheers" ucap kami berdua serempak.
Selesai bersulang, aku meletakkan kembali minuman itu di atas meja. Lalu kemudian, aku menyalakan rokok dan menghisap nya perlahan.
Aku memperhatikan satu persatu teman-teman ku. Mereka semua sedang asyik bersenda gurau dengan pasangan wanita nya masing-masing.
Ada yg saling berpelukan, ada yang sedang bergelayut manja, ada yang merangkul pundak si wanita sambil bersender di bahu sofa. Dan ada juga yang sedang bercanda ria sambil tertawa cekikikan.
"Oh iya, bang. Kita belom kenalan loh!" ujar wanita itu.
wanita yang duduk di samping ku itu tersenyum sambil mengulurkan tangan nya pada ku.
"Nama ku Indah, nama abang siapa?" tanya nya pada ku.
"Nama ku Haris." jawab ku.
Aku tersenyum sambil menyambut uluran tangan nya dan menggenggam nya erat.
Setelah berkenalan, aku memberanikan diri untuk menanyakan identitas wanita yang bernama Indah itu. Aku ingin mengenal nya lebih dekat lagi.
"Kamu sudah menikah, Ndah? Sudah punya anak berapa?" tanya ku penasaran.
"Aku janda, bang. Aku belom punya anak, kalau abang sendiri status nya apa? Duda atau suami orang?" tanya Indah balik.
"Aku duda anak satu, Ndah. Anak ku itu ikut tinggal bersama mama nya di kota P." jawab ku jujur.
"Oh," balas Indah.
"Kamu berasal dari kota mana, Ndah? Trus udah berapa lama kerja di tempat ini?"
Selidik ku makin penasaran dengan wanita yang akan aku dekati itu. Indah pun langsung menjawab pertanyaan ku sambil menghisap rokok nya kembali.
"Aku dari kota Medan, bang. Aku udah setahun kerja disini." jawab Indah.
"Oh, kalau pacar ada gak, Ndah?" tanya ku lagi.
"Gak ada, bang. Aku masih sendiri saat ini. Emang nya kenapa, bang?" tanya indah balik.
Indah menatap wajah ku dengan kening yang mengkerut. Mungkin dia heran dengan semua pertanyaan-pertanyaan aneh ku itu.
__ADS_1
"Kalau aku mau mengenal mu lebih dekat lagi boleh gak, Ndah?" tanya ku penuh harap.
Indah langsung terdiam sejenak, dia pun menghisap rokok nya kembali dengan tatapan mata kosong memandang lurus ke depan.