Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Kucing dan Biawak


__ADS_3

Saat sedang fokus membaca pesan dari Haris, Ririn pun muncul dengan dua bungkus keripik ubi pedas di tangan nya.


"Mau gak, Ndah?" tawar Ririn sambil mendudukkan dirinya di kursi.


"Ya mau lah, siapa juga yang bakalan menolak makanan seenak ini." balas ku lalu mengambil satu bungkus keripik itu dari tangan Ririn.


Ririn hanya menggelengkan kepala nya melihat tingkah ku. Dia sudah tidak heran atau pun terkejut, dengan semua sifat dan tingkah-tingkah aneh ku.


Karena dia tahu, sekasar dan seburuk apapun kelakuan ku, pasti ada sisi baik yang selalu aku sematkan di sela-sela perbuatan ku tersebut.


Setelah mendapatkan keripik itu, aku pun langsung membuka nya dan memakan nya, sambil terus menatap layar ponsel yang masih menyala di tangan ku.


"Lagi baca apaan sih? Serius banget kayak nya?" tanya Ririn mulai penasaran.


"Baca pesan dari Haris." jawab ku tanpa menoleh pada nya.


Ririn langsung menautkan kedua alisnya setelah mendengar jawaban ku. Raut wajah nya tampak tidak senang, ketika mendengar nama lelaki yang pernah singgah di hati ku itu.


"Halah, dia maneh dia maneh." cibir Ririn sambil memutar bola mata malas.


"Ngomong apa aja dia? Apa dia ada nanyain dimana alamat kos baru mu?" tanya Ririn ketus.


"Iya, itu salah satu nya." jawab ku jujur sambil menganggukkan kepala.


"Trus, kau kasih tau alamat baru mu ke dia?" selidik Ririn.


"Enggak, aku gak ada ngasih tau ke dia. Aku juga gak mau, kalau dia mendatangi ku hanya untuk mengganggu ketenangan ku." jawab ku.


"Bagus, aku juga berpikiran yang sama dengan mu." balas Ririn menyetujui perkataan ku.


Aku dan Ririn kembali terdiam. Kami sibuk dengan pikiran dan lamunan masing-masing. Sambil memakan keripik nya, Ririn pun kembali membuka percakapan.


"Ndah, kalo seandainya bang Haris minta balikan lagi, kau mau gak?" tanya Ririn.


"Entah lah, aku belum memikirkan nya." jawab ku sambil mengunyah keripik milik ku.


"Emang nya kenapa? Apa kau mau menggantikan posisi ku?" tanya ku iseng.


"Iiihhhh, ogah banget. Nanti aku kena smackdown terus tiap hari." jawab Ririn sambil bergidik ngeri.


Aku hanya tersenyum miring, melihat reaksi Ririn yang langsung menolak mentah-mentah tawaran ku tersebut.


"Loh, kok ogah sih? Kalau selama kalian pacaran kau tidak berbuat salah seperti yang aku lakukan, Haris gak bakalan memukul mu, percaya lah." jelas ku.


Ririn tidak membalas ucapan ku. Dia hanya diam mendengar kan, sambil terus memakan keripik nya. Karena tidak mendapat respon dari Ririn, aku pun kembali melanjutkan celotehan ku.


"Haris itu sebenarnya orang baik. Dia tidak sejahat yang kau kira." ujar ku.


"Yang jahat itu sebenarnya aku bukan dia, dan aku pantas mendapatkan perlakuan seperti itu dari nya. Karena apa? Ya, karena aku sudah mengkhianati kepercayaan nya. Aku sudah mengingkari janji ku sendiri." lanjut ku panjang lebar.


"Ya...Dirimu memang salah sih. Tapi kan bisa di omongin baik-baik, jangan main gebuk gitu aja dong!" balas Ririn dengan wajah kesal nya.

__ADS_1


Aku menghela nafas berat, lalu memejamkan mata sejenak. Setelah merasa sedikit tenang, aku pun kembali bersuara.


"Mungkin karena dia kecewa berat dengan perbuatan ku, makanya dia reflek melakukan hal itu pada ku." ujar ku masih tetap membela Haris.


"Hmmmm, bisa jadi sih." balas Ririn sambil manggut-manggut.


Setelah keripik milik nya ludes tak bersisa, Ririn pun mengambil air putih yang sudah tersedia di meja kami, lalu meneguk nya sampai tandas satu gelas. Setelah itu, dia pun kembali bertanya pada ku.


"Trus, sekarang gimana? Apa masih mau lanjut, atau langsung end?" lanjut Ririn.


"Belum tau, aku juga masih bingung dengan hati ku sendiri. Biarlah waktu yang menjawab semua nya." jawab ku pasrah.


"Iya lah, jangan terlalu di paksakan kali. Kalau memang hati mu sudah enggan dengan nya, lebih baik lepaskan secara baik-baik. Biar tidak ada dendam diantara kalian berdua nanti nya." tutur Ririn memberi nasehat pada ku.


"Iya, aku juga sependapat dengan mu. Makasih ya bestie, cuma kau lah satu-satunya sahabat yang mengerti keadaan ku." ujar ku.


"Iya, sama-sama. Kau juga sahabat terbaik ku, sekarang dan selamanya." balas Ririn.


Lalu kami berdua pun saling berpegangan tangan, dan menggenggam nya dengan erat. Di saat suasana haru menyelimuti kami berdua, tiba-tiba aku di kejutkan dengan tepukan pelan di bahu ku.


"Hai, sayang!" sapa bang Rian yang tiba-tiba muncul di belakang ku.


Mata ku langsung terbelalak lebar, ketika melihat lelaki gagah nan tampan yang sedang merangkul pundak ku.



Bang Rian yang memakai jas hitam, kombinasi kemeja putih di dalam nya pun, tampak begitu mempesona bagi siapapun yang memandang nya.


Karena saking takjub nya melihat bang Rian, aku pun sampai melongo dengan mulut terbuka. Begitu juga dengan Ririn, dia juga terperangah dengan mata membulat, dan mulut yang menganga lebar.


Melihat aku dan Ririn yang sedang terpesona oleh ketampanan nya, bang Rian pun langsung tersenyum dan menjentikkan jari nya ke arah ku dan juga Ririn.


"Heh heh heh, kalian ini apa-apaan sih? Gak usah lebay deh, bikin malu aku aja." omel bang Rian, lalu duduk di kursi kosong yang ada di sebelah ku.


Mendengar suara bang Rian, aku dan Ririn pun langsung tersadar dari lamunan masing-masing.


Ririn langsung cengar-cengir, sambil menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal. Dia terlihat malu karena merasa tersindir oleh si empunya badan. Sedangkan aku, aku hanya nyengir kuda menanggapi ocehan bang Rian.


"Kalian lagi ngapain disini?" tanya bang Rian membuka percakapan.


"Lagi nyangkul sawah." jawab ku asal.


Mendengar jawaban nyeleneh ku, tawa bang Rian pun langsung meledak seketika. Dia merasa sangat lucu dengan kata-kata ku barusan.


"Hahahaha, gendeng!" umpat bang Rian sambil mengacak-acak rambut ku.


Begitu pun dengan Ririn, dia tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perut nya.


"Dasar, lampir gila, hahahaha!" umpat Ririn pada ku.


Aku hanya senyam-senyum menanggapi umpatan mereka berdua. Tak lama kemudian, makanan yang di pesan Ririn pun tiba. Dua porsi nasi goreng seafood dan dua gelas teh hangat.

__ADS_1


Setelah makanan dan minuman itu terhidang di atas meja, aku pun menawari bang Rian untuk makan sepiring berdua dengan ku.


"Abang udah makan belom? Kalo belom, makan ini aja kita. Aku juga gak bakalan habis, kalo makan sendirian." tawar ku.


"Sebenarnya sih abang udah makan tadi di tempat pesta. Tapi kalau kamu mau nyuapin abang, ya abang juga gak akan nolak, hehehe." balas bang Rian.


"Oh gitu ,oke lah aku suapin ya!" ujar ku.


"Ya," balas bang Rian dengan senyum mengembang di wajah nya.


Ririn yang sedari tadi menjadi nyamuk di antara kami berdua pun, langsung memprotes ulah kami berdua. Dia merasa iri melihat kemesraan ku dengan bang Rian, yang sedang berlangsung secara live di hadapan nya.


"Helloooo, disini masih ada orang ya! Jangan di kira, aku ini cuma jadi obat nyamuk kalian aja disini." oceh Ririn sambil memajukan bibir nya ke depan.


Mendengar mulut Ririn yang mulai membeo, aku dan bang Rian pun langsung pandang-pandangan. Setelah itu, kami berdua pun langsung tertawa berjamaah.


"Hahahah, ada jomblo akut yang lagi ngomel-ngomel tuh, bang!" ujar ku pada bang Rian.


"Iya, abang juga denger, hahaha." balas bang Rian sambil terus tertawa ngakak.


Karena merasa tersindir dengan ucapan kami berdua, Ririn pun langsung memasang wajah masam, dan semakin memajukan bibir lancip nya.


"Woy, kamvret. Itu muncung kok panjang amat sih? Udah kayak muncung bangau aja, hihihi." ledek ku sembari cekikikan.


Aku kembali meledek Ririn, sambil terus menyuapi makanan ke mulut bang Rian.


"Ya ya ya, terserah kau aja lah mau bilangin aku apa. Mau bangau kek, ayam kek, bidadari kek, mbok los kono." balas Ririn ketus sambil memakan makanan nya.


"Idih, narsis amat loe. Siapa juga yang bilangin kau bidadari? Asal kau tau ya bestie ku yang bawel, kau itu gak ada cocok-cocok nya jadi bidadari. Kau itu lebih cocok jadi mak kunti, hihihi." jelas ku sambil cekikikan kembali.


Mendengar ucapan ku, Ririn pun langsung menoleh dan kembali menyerang ku, dengan kata-kata yang sering di sebutkan nya untuk ku.


"Masih mending jadi mak kunti, dari pada kau jadi lampir gila, hahaha." gelak Ririn.


"Heh heh heh, kalian berdua ini kenapa sih? Berantem mulu kerjaan nya. Udah kayak kucing sama biawak aja." ujar bang Rian menengahi perdebatan ku dan Ririn.


Aku dan Ririn pun langsung tertawa terbahak-bahak, ketika mendengar kata kucing dan biawak yang di ucapkan oleh bang Rian.


"Hahaha, bukan kucing dan biawak bang, tapi kucing dan anjing." ujar Ririn memperbaiki kalimat bang Rian.


"Eh, iya ya. Abang lupa, hehehe." balas bang Rian sembari senyam-senyum.


"Huuuuu, dasar pikun!" umpat ku sambil mencubit gemas pipi bang Rian.


Melihat tangan ku yang sedang mencubit pipi bang Rian, Ririn pun langsung ikut-ikutan ingin melakukan hal yang sama dengan ku.


Ririn bangkit dari kursi nya, dan mulai merentangkan tangan nya ke arah wajah bang Rian, lalu dia pun ingin mencubit pipi nya. Tapi sebelum itu terjadi, aku dengan sigap menepis tangan nya lalu berkata...


"Heh dodol, jangan pegang-pegang! Nanti lecet pulak pipi lelaki ku kau buat." cibir ku sembari membelalakkan mata kepada Ririn.


Ririn memutar bola mata malas, lalu kembali duduk di kursi nya sambil mengoceh.

__ADS_1


"Ck, pelit banget sih lampir satu ini. Masa pegang dikit aja gak boleh?" gerutu Ririn sambil berdecak kesal.


"Terserah kau mau ngomongin aku apa, yang penting jangan pernah menyentuh lelaki yang satu ini, ingat itu baik-baik!" ujar ku tegas.


__ADS_2