
Wajah ku langsung pucat pasi saat mendengar ucapan Haris. Aku terus saja melangkah mundur sampai di sisi ranjang, lalu memegang tangan bang Rian. Aku mengguncang-guncang kuat tangan bang Rian, sambil berkata...
"Bang, bangun bang! Bang, bangun!" ujar ku tanpa mengalihkan tatapan ku dari Haris, yang semakin lama semakin dekat dengan ku.
"Setelah beberapa kali guncangan, bang Rian pun akhirnya terbangun dan mengucek-ngucek mata nya.
"Hmmmm, ada apa, sayang? Kita kan baru aja tidur, kenapa kamu udah bangun?" tanya bang Rian heran.
Bang Rian mendongakkan kepala nya, untuk melihat ku yang sedang berdiri di samping nya. Tanpa menjawab pertanyaan bang Rian, aku langsung saja menunjuk ke arah Haris, dan bang Rian pun mengikuti arah telunjuk ku.
Bang Rian langsung terkejut bukan kepalang, saat melihat keberadaan Haris yang sedang memegang pisau di tangan nya. Dia segera bangkit dari ranjang dan berdiri di sebelah ku.
Bang Rian memeluk ku dan membawaku ke dalam dekapan nya, untuk melindungi ku dari Haris. Sedangkan Haris, dia hanya tersenyum miring saat melihat bang Rian memeluk ku.
"Mau apa kau kesini, hah?" tanya bang Rian kepada Haris.
"Mau melenyapkan kalian berdua." jawab Haris mengulang ucapan nya.
"HAH, udah gila kau ya?" pekik bang Rian.
"Gampang kali mulut mu itu ngomong mau melenyapkan nyawa orang. Kau kira kami ini ayam apa, mau di lenyap kan gitu aja?"
Lanjut bang Rian, sambil sesekali melihat ke arah pisau yang masih di pegang oleh Haris. Sedangkan aku, aku masih terus menenggelamkan wajah ku di dada bang Rian.
Aku sama sekali tidak berani menatap wajah horor Haris, yang sudah seperti zombie yang ingin menerkam kami berdua.
Tawa Haris langsung pecah, saat mendengar ocehan bang Rian. Dia tampak sangat senang ketika melihat wajah bang Rian, yang tampak sedikit gugup di depan nya.
"Hahahaha, kalian memang bukan ayam, tapi kalian itu binatang. Sama aja kan artinya." jawab Haris.
"Apa lagi yang perempuan noh, entah udah berapa ratus orang yang udah mencicipi tubuh nya. Apa kau gak jijik, bercinta dengan perempuan kotor seperti dia, hah?" oceh Haris merendah kan diriku di depan bang Rian.
"Heh, anak ingusan! Kau dengar baik-baik ya, aku tidak perduli apa pun yang kau katakan. Karena apa? Ya, karena aku mencintai Indah. Dan aku juga bersedia untuk menikahinya, jika dia menginginkan nya." tutur bang Rian tegas.
__ADS_1
Mendengar penuturan bang Rian, aku pun langsung mendongak dan menatap wajah bang Rian dengan kening mengkerut. Aku sama sekali tidak menyangka, jika bang Rian akan mengucapkan kata-kata itu di depan Haris.
Mendapat tatapan aneh dari ku, bang Rian pun menoleh dan menganggukkan kepala nya pada ku.
"Iya sayang, abang memang jatuh cinta pada mu, sejak pertama kita menginap haritu." tutur bang Rian menjawab tatapan mata ku.
"Abang serius?" tanya ku dengan mata berembun.
"Iya abang serius, sayang." jawab bang Rian lalu kembali membawa ku ke dalam pelukan nya.
Melihat adegan romantis ku dengan bang Rian, Haris pun semakin tersulut emosi dan mengeratkan genggaman tangan. Raut wajah yang tadi nya horor, kini semakin bertambah menyeramkan.
"Prok prok prok..."
"Wow, romantis banget sih kalian berdua. Aku jadi iri deh, hahaha." gelak Haris sambil bertepuk tangan.
Bang Rian kembali mengalihkan pandangan nya kepada Haris, yang sedang tersenyum sinis menatap kami berdua.
"Ow ow ow, jangan ngegas gitu dong, bro! Santai bae, santai. Niat ku datang kesini, cuma ingin membawa wanita ku pulang kok." jawab Haris dengan santai nya.
Aku reflek menoleh kepada Haris, dan memandangi wajah nya dengan tatapan yang penuh tanda tanya. Sedangkan bang Rian, dia juga sama seperti ku. Dia menatap tajam kepada Haris, lalu berkata...
"Jangan mimpi kau anak ingusan. Langkahi dulu mayat ku, baru kau bisa membawa nya keluar dari sini." ujar bang Rian dengan wajah yang sangat menakutkan.
"Hahahaha, dasar laki-laki bodoh. Masa gara-gara perempuan kotor kayak dia, kau sampai rela mengorbankan nyawa mu sendiri? Anda sehat?" cibir Haris sembari tertawa lepas.
"Sukak ku lah, kenapa rupanya? Kau iri ya, karena sudah di campakkan gitu aja oleh Indah?" balas bang Rian tak mau kalah.
Tawa Haris yang tadi nya menggelegar, kini langsung hilang seketika, saat mendengar sindiran pedas dari mulut bang Rian.
Dia mengeratkan rahang nya, lalu menendang tong sampah dengan kuat. Hingga membuat tong sampah itu terbang ke arah jendela, dan sampah yang ada di dalam nya pun ikut berserakan kemana-mana.
Aku dan bang Rian terlonjak kaget melihat ulah Haris tersebut. Karena merasa ketakutan, aku pun semakin mempererat pelukan ku kepada bang Rian.
__ADS_1
Begitu pula sebaliknya, bang Rian membalas pelukan ku dan mengelus-elus bahu ku, sambil berkata...
"Gak papa, sayang. Kamu gak usah takut, ada abang disini." bisik bang Rian.
"Abang janji, abang tidak akan membiarkan nya menyentuh mu, apa lagi sampai membawa mu dari sini, percaya lah." lanjut bang Rian berusaha meyakinkan ku.
"Iya, aku percaya sama abang." balas ku dengan mata yang sudah memerah dan berair.
Bang Rian langsung tersenyum, setelah mendengar ucapan ku. Dia mendarat kan kecupan mesra nya di kening ku, dan mendekap erat tubuh ku kembali.
"Heh, kalian berdua! Udah siap belum akting nya? Kalau udah siap, ayo ikut aku sekarang!" ujar Haris.
Haris berjalan dengan langkah cepat untuk mendekati kami berdua, dan mencengkram erat tangan ku. Dia menarik ku secara paksa dari pelukan bang Rian, hingga membuat tubuh ku terhuyung dan jatuh ke lantai.
"Auw, sakit!" pekik ku kuat.
Aku meringis kesakitan, sambil memegangi pinggang yang terasa sedikit linu, akibat terhempas di atas lantai keramik kamar hotel tersebut.
"INDAAAH," pekik bang Rian.
Melihat keadaan ku yang sangat memprihatinkan, bang Rian pun tidak tinggal diam. Dia mengepalkan tangan nya, dan melayangkan nya ke wajah Haris. Dan itu berhasil membuat Haris terjatuh dan tersungkur ke lantai.
Dengan wajah geram dan emosi yang meledak-ledak, bang Rian pun kembali melayang kan kepalan tangan nya ke wajah Haris.
"Kurang ajar kau laki-laki gila! Berani sekali kau berbuat kasar kepada wanita ku. Akan ku hajar kau..."
Belum sempat bang Rian menerus kan kata-kata nya, tiba-tiba...
"Aaaaaaa, TIDAAAK!" pekik ku.
Aku memekik kuat, saat melihat Haris menusuk kan pisau nya ke perut bang Rian.
__ADS_1