
Selesai berbincang-bincang dengan bang Rian, mengenai masalah hubungan ku dengan Haris yang sudah di ujung tanduk. Tak lama kemudian, makanan kami pun tiba dan sudah terhidang di atas meja.
"Ayo makan, sayang! Biar dirimu kuat menghadapi cobaan hidup ini." canda bang Rian.
"Iya, baweeel." balas ku dengan bibir mengerucut.
Bang Rian hanya tersenyum geli, ketika melihat raut wajah ku yang terlihat lucu menurut nya.
Aku dan bang Rian mulai menyantap soto Medan itu dengan santai, sambil memandangi lautan yang terbentang luas di depan kami.
Setelah makanan itu habis, aku menyeruput jus wortel hingga habis setengah gelas. Begitu juga dengan bang Rian, dia juga menyeruput jus nya sambil sesekali melirik ke arah ku.
"Gak usah jelalatan gitu mata nya, nanti aku colok pake garpu baru tau." canda ku sembari tersenyum miring.
"Waduhhh, kejam betul wanita ku ini! Masa dirimu tega sih, nyolok mata abang pake garpu?" oceh bang Rian.
"Maka nya jangan jelalatan, biar gak kena colok mata nya, hihihi." balas ku sembari cekikikan.
"Ya gak papa lah, kan jelalatan sama cewek sendiri, bukan sama cewek lain." balas bang Rian.
Aku mengerutkan kening setelah mendengar penuturan bang Rian. Aku mencondongkan wajah ku ke hadapan nya, dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
"Emang cewek abang siapa?" tanya ku pura-pura tidak tahu.
"Ya...ya dirimu lah. Siapa lagi kalau bukan dirimu?" balas bang Rian gugup dan terlihat salah tingkah.
"Sejak kapan abang menganggap ku sebagai cewek abang?" selidik ku mulai penasaran.
"Hmmm, sejak...sejak pertemuan pertama kita di hotel lah." jawab bang Rian semakin gugup.
"Ooohh," balas ku manggut-manggut.
"Emang nya abang pernah meminta ku tuk jadi pacar abang?" tanya ku lagi.
"Hehehe, gak pernah sih. Abang malu untuk ngungkapin nya." jawab bang Rian sembari nyengir kuda.
"Kalau seandainya abang ngungkapin perasaan abang itu, apa kamu mau menerima nya?" tanya bang Rian balik.
Aku langsung terdiam seketika. Bibir ku terasa kaku dan berat, untuk menjawab pertanyaan bang Rian. Aku masih trauma mempunyai hubungan spesial dengan laki-laki, di saat pekerjaan ku masih seperti ini.
Aku takut kejadian yang sama akan terulang kembali, seperti hubungan ku dengan Haris yang sudah mulai retak seperti sekarang ini.
__ADS_1
Karena tidak mendapatkan jawaban dari ku, bang Rian pun mengulang pertanyaan nya kembali.
"Kok diem? Kenapa gak di jawab? Kamu mau gak nerima abang untuk mengisi kekosongan hati mu itu?" tanya bang Rian.
"Aku...aku gak bisa jawab sekarang, bang. Beri aku waktu, sampai hati ku sedikit lebih tenang." jawab ku lirih.
"Oh, iya maaf. Abang lupa kalau dirimu sedang terluka saat ini. Sekali lagi, abang minta maaf ya, abang beneran lupa soalnya." tutur bang Rian dengan wajah memelas.
"Iya gak papa, bang. Aku maklum kok, abang kan udah tua jadi gampang lupa alias pikun, hahaha. Ups, sorry!"
Aku meledek bang Rian sembari tertawa ngakak, lalu reflek menutup mulut dengan telapak tangan ku. Mendengar ledekan ku, bang Rian langsung membulat kan mata nya dengan mulut yang menganga lebar.
Dia tampak sangat terkejut mendengar kata-kata ku barusan. Setelah beberapa detik mematung, bang Rian pun merubah raut wajah nya, menjadi senyuman yang cukup horor dan sedikit menakutkan.
"Enak aja bilangin abang udah tua. Apa kamu perlu bukti kalau abang ini masih muda, hah?" tanya bang Rian mendekatkan wajah nya pada ku.
"Bu-bukti apa maksud nya?" tanya ku gugup.
Bukan nya menjawab, bang Rian malah semakin melebarkan senyum maut nya. Dia menggenggam tangan ku, lalu mengajak ku untuk ikut berjalan bersama nya, menuju meja kasir untuk membayar tagihan makanan.
Selesai pembayaran, bang Rian terus saja mengeratkan genggaman tangan nya hingga sampai di parkiran.
Setelah membuka kan pintu mobil untuk ku, bang Rian mempersilahkan ku untuk masuk, lalu menutup pintu mobil nya kembali. Selanjutnya, bang Rian mengitari kendaraan nya lalu duduk di belakang stir kemudi.
"Mau ngasih bukti kalau abang belum tua."
Jawab bang Rian sembari tersenyum genit, dan mengerlingkan sebelah mata nya pada ku. Aku menautkan kedua alis, saat mendengar jawaban bang Rian yang cukup aneh menurut ku.
"Ngasih bukti yang bagaimana maksud nya?" tanya ku bingung.
"Udah gak usah banyak tanya. Pokok nya ikut aja, oke!" jawab bang Rian.
"Ya udah kalo gitu, terserah abang aja." balas ku pasrah.
"Naaah, gitu dong. Hehehehe," ujar bang Rian sembari terkekeh.
Bang Rian mulai menyalakan mesin mobil nya, lalu melajukan nya dengan kecepatan sedang. Dia mulai fokus menyetir kendaraan nya sambil sesekali mencuri-curi pandang pada ku dengan ekor mata nya.
Di sepanjang perjalanan, aku hanya berdiam diri tanpa bertanya apa pun lagi kepada bang Rian. Aku kembali memikirkan tentang hubungan ku dengan Haris.
Hubungan yang sudah hampir kandas, akibat dari kesalahan ku sendiri. Sedangkan bang Rian, dia tampak tenang dan santai sambil terus memainkan stir kemudi nya.
__ADS_1
"Huh, mudah-mudahan aja aku bisa melupakan mu, bang." batin ku penuh harap.
Aku menghela nafas berat sembari membatin tentang Haris. Aku kembali menatap lurus ke jalanan dengan tatapan kosong dan hampa.
Tanpa terasa, ternyata mobil yang di kendarai bang Rian sudah tiba, di depan gedung hotel tempat kami menginap.
"Lah, kok cepat kali kita nyampe nya?" gumam ku dengan mata terbelalak lebar, saat melihat gedung hotel yang ada di depan ku.
"Gimana gak cepat? Lah wong yang nyetir aja pembalap profesional kok, hehehe." jawab bang Rian.
Bang Rian menggaruk-garuk tengkuk leher nya. Dia terlihat salah tingkah, sambil senyam-senyum sendiri saat melihat ekspresi wajah ku, yang tampak sangat terkejut di samping nya.
"Udah, gak usah pake acara melamun segala. Ayo, kita turun! Abang mau buktiin, kalau abang belum setua yang kamu kira." seru bang Rian.
Bang Rian masih saja tidak terima dengan ucapan ku, yang mengatakan bahwa diri nya sudah tua.
"Halah, modus. Bilang aja mau minta ehem-ehem." cibir ku.
"Hahahaha, sekalian itu juga maksud nya." gelak bang Rian.
"Huuuuu, dasar biawak!" ledek ku.
Aku segera keluar dari mobil, tanpa menghiraukan bang Rian yang masih tertawa ngakak, di dalam kendaraan nya tersebut.
"Loh, kok abang di tinggal gitu aja sih, sayang? Jahat banget." gerutu bang Rian.
Bang Rian menyusul ku dengan langkah cepat. Dia langsung merangkul pundak ku, lalu kami berdua pun berjalan beriringan menuju pintu utama hotel.
Saat bang Rian hendak mendorong pintu masuk itu, tiba-tiba mataku langsung membulat sempurna, saat melihat sepasang kekasih yang sedang bergandengan mesra di depan ku.
Degh...
"Haris," gumam ku pelan.
Hati ku langsung berdesir seketika. Aku menatap Haris dan wanita yang ada di samping nya dengan mata yang mulai berembun.
"Ya Allah, kenapa aku harus bertemu dengan mereka berdua?" jerit ku dalam hati.
Begitu juga dengan Haris, dia juga tampak sangat terkejut melihat kehadiran ku di hadapan nya.
Dengan tatapan penuh kebencian, dia terus memandangi ku dan juga bang Rian secara bergantian.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan disini, HAH?" bentak Haris pada ku dengan suara yang cukup memekakkan telinga.