Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Tingkah Aneh Billy


__ADS_3

Selesai bercanda ria dan berhaha-hihi bersama, aku pun mengajak nya untuk pulang ke kos masing-masing.


"Bil, udah sore nih. Kita balek yok, ntar lagi kan kita masuk kerja!" ajak ku.


"Eh, iya juga ya. Gak terasa udah sore aja. Oke lah, ayo kita siap-siap!" balas Billy.


"Oke," jawab ku.


Aku dan Billy bergegas memakai pakaian masing-masing, lalu bersiap-siap untuk keluar dari hotel. Setelah menutup pintu kamar, aku dan Billy pun melangkah sambil bergandengan tangan menuju meja resepsionis.


Sesudah menyerahkan kunci kepada petugas yang berjaga, kami berdua pun kembali berjalan beriringan menuju parkiran.


"Ayo buruan naik!" seru Billy lalu menyalakan motor gede nya.


"Iya, baweeel." balas ku lalu naik ke atas motor dan memeluk tubuh nya dengan erat.


Setelah itu, Billy pun mulai menjalankan kendaraan roda dua nya dengan kecepatan sedang menuju kos tempat tinggal ku. Tak butuh waktu lama, kami berdua pun tiba di depan pintu gerbang kos-kosan ku.


Aku dan Billy segera turun dari motor dan berdiri berhadapan. Billy tersenyum memandangi wajah ku, lalu mengeluarkan uang dari dalam dompet nya.


"Ini untuk beli bedak mu, Ndah." ujar Billy sambil menyelipkan uang itu ke tangan ku.


"Oke, makasih ya." balas ku sambil membalas senyuman maut nya.


"Iya sama-sama, aku juga ucap kan terima kasih atas kesempatan hari ini. Hmmmm, kapan-kapan aku boleh gak mengajak mu ke hotel lagi?" tanya Billy ragu.


"Boleh," jawab ku sembari mengangguk.


Wajah Billy langsung berbinar cerah, ketika mendengar jawaban ku. Ia tampak sangat bahagia, karena aku masih mengizinkan nya untuk bersenang-senang dengan ku.


"Yey, makasih ya cayang." ujar Billy girang lalu mencubit gemas kedua pipi ku.


"Iya," balas ku sambil tersenyum manis melihat kebahagiaan Billy.


"Oke lah, aku balek dulu ya. Sampai ketemu di tempat kerja honey, bye!" pamit Billy lalu mencium kening ku dan memeluk erat tubuh ku.


"Oke bye, hati-hati di jalan ya!" balas ku.


"Iya," jawab Billy.


Selesai berpamitan, Billy pun naik ke atas motor dan berlalu pergi dari hadapan ku. Setelah bayangan Billy hilang dari pandangan, aku pun masuk ke dalam gerbang dan berjalan melewati lorong untuk menuju kamar kos ku.


Sesampainya di depan pintu, aku segera membuka nya dan melangkah masuk sambil mengucapkan salam.


"Assalamualaikum, wa'laikum salam." ucap ku membalas salam ku sendiri.


Setelah mengunci pintu kembali, aku pun melempar tas ransel ke atas meja lalu menjatuhkan diri di atas kasur.


"Huh, lelah nyaaaa!" gumam ku sembari menghela nafas panjang.


Tanpa terasa hari pun sudah mulai gelap, waktu nya untuk kembali bekerja. Dengan langkah malas-malasan, aku pun berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai, aku pun langsung bergegas memakai pakaian kerja, dan berdandan tipis di depan cermin panjang. Selanjutnya, aku memakai sepatu dan menyampirkan tas selempang di bahu.


Saat hendak membuka pintu, tiba-tiba aku terlonjak kaget ketika melihat sesosok penampakan yang sedang berdiri tegak di hadapan ku.


"Duaarrrr..." pekik Ririn mengagetkan ku.


"Eh mampus kau eh mampus kau." latah ku sembari mengelus dada.

__ADS_1


"Aaaggghhh, dasar Wewe gombel edaaan! Bikin jantungan aja kerjaan nya." umpat ku kesal.


"Sorry, Genk. Aye kagak sengaja, hahahaha." canda Ririn sembari tertawa ngakak.


"Kagak sengaja kagak sengaja, kepala otak mu itu." umpat ku geram, lalu menoyor jidat lebar Ririn.


Ririn hanya cengar-cengir mendengar segala umpatan ku, lalu ia pun menggandeng lengan ku sembari berucap...


"Ayo kita jalan, Genk! Nanti kita telat, Genk." seru Ririn lalu menyeret-nyeret ku untuk berjalan bersama nya.


"Gank Genk Gank Genk, sakit kau ya?" cibir ku sembari menempel kan punggung tangan ku di dahi nya.


"Iiihhhh, apaan sih! Orang sehat wal'afiat gini kok di bilang sakit. Gilak kau ya."


Omel Ririn sambil menurunkan punggung tangan ku, dan terus menyeret lengan ku sampai ke depan pintu gerbang.


"Dikit, hehehe." balas ku terkekeh.


Aku dan Ririn terus saja berdebat dan berbincang-bincang sampai ke tempat kerja. Setelah sampai di lokasi, kami berdua pun berjalan menuju meja kasir untuk mengisi absen.


Saat berpapasan dengan Billy, aku pun langsung menunduk dan berpura-pura tidak melihat nya.


"Heh heh heh, kok nunduk gitu? Emang muka ku sehoror itu ya?" sindir Billy.


Aku tidak menjawab perkataan Billy. Aku hanya cengar-cengir sambil menggaruk-garuk kepala, ketika mendengar ocehan receh nya tersebut. Sedangkan Ririn, dia memandangi ku dan juga Billy secara bergantian dengan tatapan aneh.


Karena tidak ingin terlihat kikuk di depan Billy, aku pun menarik lengan Ririn dan mengajak nya untuk ke kantin.


"Ayo kita makan, Rin! Perut ku udah lapar nih." seru ku sambil terus menarik-narik lengan sahabat koplak ku tersebut.


"Iya iya, sabar dikit kenapa sih. Ngebet banget jadi orang." omel Ririn.


Mendengar ucapan ku, Ririn pun langsung terdiam dan tidak berkata apapun lagi. Setibanya di kantin, aku dan Ririn pun duduk berhadap-hadapan.


"Mau makan apa, Ndah?" tanya Ririn sambil celingukan kesana kemari mencari pelayan kantin.


"Enak nya makan apa?" tanya ku balik.


"Hmmmm, ikan bakar enak kayak nya tuh." usul Ririn.


"Oke, itu pun jadi." jawab ku menyetujui usulan nya.


Setelah mendengar jawaban ku, Ririn pun memanggil pelayan kantin yang sedang melayani pelanggan lain nya.


"Mbak, sini!" panggil Ririn sambil melambaikan tangan nya.


"Oke bentar, kak!" jawab si pelayan.


Pelayan itu pun langsung datang menghampiri meja kami, setelah mendengar suara cempreng Ririn.


"Mau pesan apa, kak?" tanya nya.


"Ikan bakar dua porsi, trus teh hangat nya dua juga ya, mbak!" ujar Ririn.


"Oke, di tunggu ya, kak!" jawab nya.


"Oke, mbak." balas Ririn sembari tersenyum lebar.


Sesudah menerima pesanan dari Ririn, pelayan itu pun kembali ke dapur untuk menyiapkan makanan kami berdua.

__ADS_1


"Ndah, Billy tadi kenapa ya?" tanya Ririn


Kemudian ia pun mengeluarkan ponsel, dan memainkan game online kesukaan nya. Aku langsung mengernyitkan dahi, karena mendengar pertanyaan aneh nya tersebut.


"Emang nya dia kenapa?" tanya ku balik.


"Masa kau gak merhatiin gerak-gerik aneh nya tadi sih?" tanya Ririn tanpa menoleh pada ku.


"Emang enggak," bohong ku pura-pura tidak tahu.


Aku sengaja berbohong kepada Ririn, agar dia tidak mengetahui hubungan ku dengan Billy, sang kasir tempat kami bekerja. Mendengar kata-kata ku, Ririn pun langsung menoleh sekilas lalu kembali fokus dengan benda pipih nya.


"Emang nya dia kenapa sih? Kalo ngomong itu yang jelas, jangan bertele-tele kayak gitu. Bikin darting (darah tinggi) ku naik aja nih bocah." omel ku kembali berpura-pura tidak tahu.


"Ya...Gak kenapa-kenapa sih. Cuma agak aneh aja gitu." balas Ririn.


"Aneh gimana?" selidik ku.


"Ya aneh aja, sikap nya itu beda dari biasa nya. Dia itu kan terkenal si beruang kutub yang super duper dingin. Tapi tadi kok beda ya?" tutur Ririn heran.


Saat sedang serius mendengarkan ocehan Ririn, tiba-tiba aku di kejutkan dengan satu tepukan di pundak ku.


"Eh mampus kau eh mampus kau." latah ku sembari menoleh ke belakang.


Mata ku langsung terbelalak selebar-lebar nya, saat melihat orang yang sedang kami bicarakan sudah berdiri tegak di belakang ku, dengan senyum yang mengembang di bibir nya.


Begitu pun dengan Ririn, reaksi nya tak jauh berbeda dengan ku. Dia membelalakkan mata nya, ketika melihat sosok Billy.


Tanpa memperdulikan keterkejutan kami berdua, Billy dengan santai nya duduk di kursi kosong yang ada di sebelah ku.


"Kalian makan apa?" tanya Billy sambil menatap ku dan Ririn secara bergantian.


"I-ikan bakar," jawab ku gugup dan hati yang berdebar-debar tidak karuan.


Sedangkan Ririn, dia tetap dengan mode melongo nya, melihat kelakuan Billy yang terlihat sangat aneh menurut nya.


"Waaahh, mantap tuh. Aku juga mau dong! Boleh gak, kalau aku makan bareng kalian disini?" tanya Billy dengan wajah penuh harap.


Aku dan Ririn pun langsung pandang-pandangan, setelah mendengar pertanyaan Billy. Kami berdua saling bertanya melalui tatapan mata. Beberapa detik kemudian, Ririn pun mengangguk menyetujui permintaan Billy.


"Bo-boleh, silahkan aja kalau kau mau." jawab Ririn kepada Billy.


"Oke, makasih ya sudah mengizinkan ku makan bareng kalian." balas Billy sembari menyunggingkan senyum termanis nya pada kami berdua.


"Iya sama-sama." jawab ku dan Ririn serempak.


Setelah mendapat persetujuan ku dan juga Ririn, Billy pun langsung memesan makanan yang sama seperti pesanan kami berdua. Selesai memesan, Billy pun kembali mendudukkan diri di sebelah ku.


"Apa kabar, Ndah? Sehat-sehat aja kan?" tanya Billy sembari senyam-senyum menatap ku.


Dan itu berhasil membuat Ririn terperangah dengan mulut terbuka. Ririn tampak semakin curiga dengan gelagat Billy, yang terlihat semakin aneh menurut pandangan mata nya.


"Kau ini kenapa sih, Bil? Lagi kumat ya?" tanya Ririn dengan tatapan penuh selidik.


"Gak lah, siapa juga yang kumat? Aku baik-baik aja kok." jawab Billy santai tanpa menoleh ke arah Ririn.


Billy tetap memfokuskan perhatian nya pada ku, hingga membuat ku semakin dag-dig-dug tidak karuan.


"Aduuuuh, ini orang kok bikin jantung ku mau copot aja sih. Kalau begini terus, bisa-bisa aku pingsan pulak disini." gerutu ku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2