Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Bersama Haris


__ADS_3

Dengan perasaan yang sedang acak adut karena omelan bos besar, dan hati yang kalut karena memikirkan ucapan nenek, aku tetap menjalankan pekerjaan ku seperti biasa nya.


Pada saat menemani tamu minum dan berkaraoke, aku pun hanya bisa berpura-pura bahagia di depan mereka. Senyum kepalsuan pun selalu aku semat kan di bibir ku.


Agar tidak ada satu orang pun yang tahu. Tentang luka yang ada di dalam hati ku saat ini. Setelah jam kerja berakhir, aku segera mengambil tas di boks tempat penyimpanan.


Setelah itu, aku pun mulai berjalan dengan langkah gontai menuju kos tempat tinggal ku. Sesampainya di kamar kos, aku segera membersihkan diri ke kamar mandi.


Kemudian mengganti pakaian kerja dengan daster rumahan, dan langsung merebahkan diri di atas kasur.


"Gajian bulan depan aku pulang aja lah!" gumam ku.


Aku kembali merenung dan menerawang, sambil menatap langit-langit kamar. Aku kembali teringat dengan ucapan nenek di telpon tadi sore.


"Aku takut ucapan nenek itu sebagai tanda, untuk hal yang sama sekali tidak aku ingin kan."


Aku bergumam sambil terus menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Beberapa saat kemudian, tiba-tiba aku teringat pada Haris lelaki baik ku itu.


"Tidur tanpa Haris sepi juga rasa nya. Gak ada teman untuk berbagi cerita. Kira-kira dia lagi ngapain sekarang ya?" gumam ku.


Setelah capek menghayal tentang nenek dan Haris, aku pun mulai memejamkan mata sambil memeluk guling.


Tak butuh waktu lama, aku pun langsung tertidur pulas dan masuk ke alam mimpi yang indah.


Siang menyapa, aku terjaga dari tidur lelap ku karena mendengar suara dering ponsel yang cukup memekakkan telinga.


Dengan gerakan malas dan mata yang masih terasa lengket, aku pun berusaha merentangkan tangan untuk meraih ponsel yang berdering nyaring di atas meja.


Setelah bersusah payah mendapatkan nya, aku pun langsung menerima panggilan video dari Haris.


"Assalamualaikum, hoam." salam ku.


Aku mengucapkan salam, sambil terus menguap dan mengucek-ngucek mata yang terasa sangat perih.


"Baru bangun ya, Ndah? Itu iler nya di lap dulu lah pakai tisu!" ledek Haris.


"Mana ada iler ku, ngarang aja abang." balas ku.


Haris meledek ku sambil tersenyum, saat melihat wajah bantal ku dan rambut yang masih terlihat acak-acakan.


"Bukan baru bangun, bang. Tapi terpaksa bangun marena harus menerima panggilan dari seseorang!" jawab ku.


Haris langsung mengerutkan kening nya, karena mendengar penuturan ku barusan. Dia terlihat kebingungan memikirkan ucapan ku itu.


"Panggilan dari siapa, Ndah?" tanya Haris.

__ADS_1


Dia masih bertanya dengan mode linglung nya. Haris benar-benar tidak paham maksud ucapan ku tadi.


"Lah, malah gak nyadar pulak ni orang. Udah di sindir gitu pun masih gak paham juga dia." batin ku.


"Ya siapa lagi kalo bukan dirimu, sayaaang. Pura-pura bego pulak dia." lanjut ku lagi.


"Hahaha, kirain panggilan dari siapa. Hampir aja abang cemburu dengan mu!" jawab Haris sembari tertawa ngakak.


Aku langsung tersenyum sumringah mendengar jawaban Haris.


"Gak usah yang aneh-aneh lah, bang. Di hati ku ini hanya ada dirimu seorang gak ada yang lain lagi, ingat itu!" balas ku.


"Iya iya, abang percaya kok, sayang!" balas Haris.


Haris terlihat salah tingkah mendengar jawaban dari ku. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal akibat rayuan maut ku barusan.


"Abang kapan kesini?" tanya ku.


"Emang nya kenapa, sayang?" tanya Haris.


"Di tanya kok malah balik nanya sih, aneh!" gerutu ku sedikit kesal.


"Hahaha, ciyeee ada yang kangen nih ceritanya?" ledek Haris.


"Idiiiih, ge er. Aku tu cuma mau minta tolong di bawakan makanan. Aku lapar, Bambaaang!" balas ku gemas.


Haris kembali bingung karena aku menyebut kan nama lelaki lain. Padahal itu hanya sebagai ungkapan kekesalan ku pada nya.


"Lah, malah gak nyambung pulak dia!" ujar ku makin kesal.


"Itu nama tukang galon air, bang!" jawab ku asal njeplak.


"Hahaha, ya udah bentar lagi abang kesana. Mau di bawakan makanan apa, tuan putri?" tanya Haris.


"Bakso gluduk sama jus cabe ya!" canda ku.


"Hahaha, ada-ada aja permintaan mu itu, Ndah!" balas Haris.


Haris kembali terkekeh mendengar ocehan ku. Aku pun langsung tersenyum melihat nya, yang tampak bahagia dan tertawa lepas seperti itu.


"Serius lah, Ndah! Mau pesan makanan apa, sayang ku?" tanya Haris lagi.


"Mie ayam sama jus alpukat aja, bang!" balas ku.


"Oke, sayang. Ya udah kalo gitu, setengah jam lagi abang kesana ya, assalamualaikum." pamit Haris.

__ADS_1


"Wa'laikum salam," balas ku.


Setelah panggilan video dari Haris berakhir, aku meletakkan ponsel itu kembali di atas meja. Lalu aku pun segera beranjak dari kasur untuk membuka gorden dan kaca jendela.


"Mandi dulu, ah. Biar gak bau asem nanti kalau dekat-dekat dengan lelaki ku itu."


Aku bergumam sambil menenteng keranjang sabun menuju ke kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian, aku sudah kembali lagi ke dalam kamar dengan wajah yang terlihat segar dan rambut yang masih basah.


Setelah selesai memakai pakaian, Haris pun muncul di depan pintu yang sedari tadi sengaja aku buka lebar-lebar.


"Assalamualaikum," salam Haris.


Haris mengucapkan salam dan melangkah masuk sambil membawa beberapa bungkusan di tangan nya.


"Wa'laikum salam," balas ku.


Aku masih berdiri di depan cermin memakai bedak dan lipstik. Setelah itu, aku menyemprot parfum ke seluruh tubuh ku dan mengeringkan rambut dengan handuk.


Setelah meletakkan semua bungkusan itu di atas meja, Haris pun langsung memeluk tubuh ku dari belakang. Dia mencium rambut dan ceruk leher ku dengan nafas yang mulai memburu.


"Wangi banget, Ndah. Abang jadi pengen memakan mu sekarang!" bisik Haris.


"Iya, sayang. Tapi nanti ya, sekarang kita makan yang itu dulu. Habis tu baru abang boleh memakan ku." balas ku.


Aku menjawab ucapan Haris, sambil menunjuk ke arah bungkusan yang terletak di atas meja.


Mendengar jawaban ku, Haris langsung memutar tubuh ku untuk menghadap kepada nya. Dia kembali memeluk dan mencium seluruh wajah ku dengan liar.


"Sekarang aja ya, sayang! Abang udah gak tahan lagi nih. Dirimu terlalu menggoda gairah abang, sayang."


Haris memelas dengan suara serak karena sudah di selimuti oleh gairah nya sendiri. Deru nafas nya pun semakin ngos-ngosan dan semakin tidak karuan.


Melihat keadaan Haris seperti itu, akhir nya aku pun mengangguk menyetujui permintaan nya.


Setelah mendapat persetujuan dari ku, tanpa pikir panjang lagi Haris langsung mengangkat tubuh ku ke atas kasur. Dia mulai mencumbui seluruh tubuh ku dengan lembut dan mesra.


Dan akhirnya, permainan panas pun terjadi di atas kasur empuk ku. Setelah hampir satu jam berpacu dengan berbagai gaya dan posisi, akhirnya Haris pun terkulai lemas di atas tubuh ku.


"Makasih ya, sayang." ucap Haris.


Haris mengecup kening ku dan merebahkan tubuh nya di samping ku. Dia terlihat sangat kelelahan dan nafas nya juga masih tampak ngos-ngosan.


Melihat keadaan Haris seperti itu, aku langsung memiringkan tubuh ku dan memeluk nya dengan erat sambil berbisik...

__ADS_1


"Kau memang lelaki yang sangat hebat dan perkasa di ranjang, sayang." bisik ku manja.


__ADS_2