
Mendapat serangan mendadak dari bang Hendra, aku pun langsung terpaku di tempat. Bulu kuduk ku meremang seketika, saat mendengar bisikan gaib dari bibir bang Hendra.
"Gimana sayang? Boleh gak abang mulai sekarang?" tanya bang Hendra.
"I-iya boleh." jawab ku sedikit gugup.
Setelah mendengar jawaban ku, bang Hendra pun langsung mengangkat tubuh ku ke atas ranjang. Kemudian dia meletakkan tas ransel ku di atas nakas, lalu mulai membuka sepatu dan juga pakaian ku.
Setelah selesai, dia pun beralih membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuh nya, dan juga sepatu sport nya. Selanjutnya, dia pun merangkak naik ke atas ranjang dengan senyum menyeringai.
"Abang kangen banget dengan mu, sayang."
Ujar bang Hendra, dengan kedua tangan di sisi kanan dan kiri ku, dan juga wajah yang berada tepat di depan ku. Bang Hendra menatap ku dengan mata sayu nya. Dia tampak begitu bergairah, dan ingin segera menjamah tubuh ku.
"Sama, bang. Aku juga kangen." balas ku sembari tersenyum manis pada nya.
Aku membalas tatapan mata nya, kemudian aku pun menutup mata kembali, saat bang Hendra mulai mendekat kan bibir nya ke arah wajah ku.
Setelah bibir nya menyatu dengan bibir ku, bang Hendra pun mulai mengabsen seluruh isi mulut ku dengan rakus. Setelah beberapa menit menjarah bibir dan wajah ku, bang Hendra pun menurunkan bibir nya ke dua benda kenyal ku.
Dia tampak begitu menikmati perbuatan nya, bahkan dia juga meninggalkan beberapa tanda merah di benda kenyal ku tersebut. Setelah puas bermain-main di sana, bang Hendra pun melanjutkan kegiatan nya di area pribadi ku.
Dia menjulurkan lidah nya, lalu dia pun mulai memanjakan dan memberikan kenikmatan yang sangat luar biasa pada ku.
Dan itu berhasil membuat ku menggeliat-geliat seperti ulat keket, akibat menahan geli dan nikmat yang di berikan oleh bang Hendra.
Karena sudah tidak tahan, akhirnya tubuh ku pun menegang dan mencapai puncak kenikmatan, lalu mengeluarkan cairan bening itu ke dalam mulut bang Hendra.
Bang Hendra pun langsung menyambut nya, dan melahap nya dengan rakus tanpa tersisa sedikit pun. Setelah itu, bang Hendra kembali merangkak naik ke atas tubuh ku, lalu memasukkan kayu keras nya ke dalam milik ku, hanya dengan satu kali hentakan saja.
Setelah masuk dengan sempurna, bang Hendra pun mulai melakukan permainan panas nya dengan cepat, sambil terus menempelkan bibir nya di pucuk benda kenyal ku. Dan itu membuat ku semakin menggeliat-geliat tidak karuan, karena saking nikmatnya.
Setelah bergumul ria selama hampir dua jam, bang Hendra pun semakin mempercepat gerakan nya. Hingga akhirnya dia pun memuncak, dan menyemburkan cairan kental nya di dalam milik ku, sambil memekik...
__ADS_1
"Aaaaggghh, abang keluar sayang!" pekik bang Hendra, sembari mendongakkan kepala nya ke atas dan tubuh yang menegang.
Aku pun langsung menyambutnya, dengan melingkarkan kedua kaki ku di pinggang nya, dan menaikkan sedikit pinggul ku. Setelah itu, bang Hendra pun tersenyum dan mengecup kening ku, sembari berucap...
"Terima kasih ya, sayang." ujar bang Hendra, sembari menyunggingkan senyum manis nya pada ku.
"Iya, sama-sama, bang." balas ku.
Kemudian, aku pun melingkarkan kedua tangan ku di leher nya, lalu mengecup kilat bibir nya. Mendapat perlakuan seperti itu dari ku, wajah bang Hendra pun tampak semakin berseri-seri. Dia terlihat sangat senang dan bahagia, dengan kelakuan nakal ku itu.
Setelah beberapa saat saling pandang-pandangan, bang Hendra pun mengeluarkan milik nya yang sudah loyo, dan merebahkan tubuh lelah nya di samping ku.
Dengan nafas yang masih tampak naik turun, dan pandangan yang menatap langit-langit kamar, bang Hendra pun kembali membuka percakapan.
"Ndah, abang boleh nanya sesuatu gak?" tanya bang Hendra tanpa menoleh pada ku.
"Boleh, mau nanya apa?" tanya ku balik.
"Hmmmm, tapi kamu jangan marah ya!" jawab bang Hendra.
Bang Hendra tampak ragu untuk mengungkapkan nya pada ku. Setelah beberapa saat hening, akhirnya bang Hendra pun memberanikan diri untuk bertanya pada ku.
"Apa benar yang di katakan pacar mu tadi, Ndah?" tanya bang Hendra lirih.
"Tentang kata yang mana?" tanya ku bingung.
"Hmmmm, tentang kalian belum putus." jawab bang Hendra sedikit ragu.
"Ooohhh, itu. Enggak lah, bohong dia tuh. Sejak dia berbuat kasar dengan ku, aku sudah memutuskan untuk berpisah dari nya." jelas ku.
Mendengar penuturan ku, bang Hendra pun langsung menoleh dan menatap ku dengan kening mengkerut. Dia tampak sangat terkejut dan sedikit syok, saat mendengar kata-kata ku barusan.
"Berbuat kasar?" tanya bang Hendra, seakan-akan tidak percaya dengan pendengaran nya sendiri.
__ADS_1
"Ya, waktu kami bertengkar haritu, dia sempat berbuat kasar dengan ku." jawab ku jujur sambil menoleh sekilas, lalu kembali menatap langit-langit kamar.
"Kok gak langsung ngubungi abang sih, Ndah? Biar abang yang akan menghajar laki-laki brengsek itu." ujar bang Hendra dengan suara yang sedikit meninggi.
"Gak usah, bang. Aku gak mau melibatkan orang lain ke dalam masalah ku. Biarlah aku sendiri yang akan menghadapinya." tolak ku lalu kembali menatap bang Hendra.
"Ya gak bisa gitu lah, Ndah. Abang gak akan pernah rela, jika ada orang yang menyakiti wanita yang abang sayangi." protes bang Hendra tegas.
"Emang nya dia siapa, berani-beraninya mukulin anak orang? Baru jadi pacar aja udah berani kayak gitu, apa lagi udah jadi suami? Mungkin tiap hari bakalan di smackdown terus badan mu itu." omel bang Hendra.
Wajah bang Hendra merah padam, dengan rahang yang mengeras. Dia tampak sangat geram dan emosi, atas perbuatan yang sudah di lakukan Haris pada ku. Dia juga menggenggam erat seprai ranjang, dan memasang wajah horor nya.
Suasana pun hening seketika, aku dan bang Hendra sama-sama terdiam. Kami berdua hanyut dalam lamunan dan pikiran masing-masing. Setelah beberapa menit saling berdiam diri, bang Hendra pun kembali membuka suara.
"Emang berapa kali dia melakukan nya, Ndah?" tanya bang Hendra.
"Sekali aja. Mungkin waktu itu dia sedang khilaf, makanya dia gak sengaja melakukan hal itu dengan ku." jawab ku lirih.
"Udah lah, lupain aja. Aku juga udah gak mau lagi mengingat-ingat kejadian itu. Bikin sakit hati aja." lanjut ku.
Bang Hendra langsung mengerutkan kening nya, setelah mendengar ucapan ku. Dia tampak heran dengan sikap ku, yang masih saja melindungi Haris dari perbuatannya.
"Ya gak bisa gitu dong. Biar bagaimana pun juga, dia itu harus mempertanggung jawabkan perbu..."
Sebelum bang Hendra meneruskan kata-kata nya, aku pun langsung menyalipnya dengan cepat. Aku menempelkan jari telunjuk ku di bibir nya, lalu berkata...
"Udah ah, gak usah bahas dia lagi. Dari pada ngomongin dia terus, mendingan kita bobok aja yok! Mata ku udah mulai ngantuk nih, hoam." ujar ku mengalihkan pembicaraan, dan berpura-pura menguap di depan nya.
Melihat mata ku yang sudah mulai redup, seperti lampu lima watt, bang Hendra pun akhirnya pasrah dan menyetujui ucapan ku tersebut.
"Ya udah deh kalo gitu. Kita istirahat ya, good night sayang." balas bang Hendra.
"Ya, good night juga." jawab ku.
__ADS_1
Setelah melewati drama yang cukup menegangkan, akhirnya kami berdua pun mulai beristirahat, dan memejamkan mata masing-masing.
Tak butuh waktu lama, aku dan bang Hendra pun terlelap dengan posisi yang saling berpelukan di bawah selimut, dalam keadaan sama-sama polos tanpa sehelai benang pun.