Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Kenapa tidak dari dulu?


__ADS_3

"Apakah kamu mau menemani abang di hotel malam ini, sayang?" bisik bang Hendra lagi.


"Aduuuh, kenapa bang Hendra harus bahas masalah ini lagi, sih! Bikin bingung aku aja, gimana cara nolak nya ya?" batin ku gelisah.


Aku termenung sejenak, aku bingung memikirkan permintaan bang Hendra. Melihat reaksi ku yang tidak menjawab sepatah kata pun, akhir nya bang Hendra kembali mempertanyakan hal sama dengan ku.


"Gimana, Ndah? Apakah dirimu mau memenuhi keinginan abang?" tanya bang Hendra sembari menggenggam tangan ku.


"Hmmm, sebenarnya sih aku mau, tapi..."


"Tapi kenapa, sayang?" tanya bang Hendra lagi.


Dia mengecup punggung tangan ku, yang sedari tadi berada di dalam genggaman tangan nya.


"Tapi aku takut ketahuan oleh pacar ku, bang." jawab ku lirih.


"Kenapa harus takut? Kalau dia marah, kalau dia pergi meninggalkan mu, kan masih ada abang. Abang akan memenuhi semua kebutuhan lahir dan batin mu, sayang." ujar bang Hendra.


"Ta-tapi..."


"Udah, gak usah tapi-tapian lagi. Pokoknya temani abang malam ini, titik!" desak bang Hendra.


"Iya," jawab ku pelan.


Selesai berbincang dengan bang Hendra, aku merentang tangan untuk mengambil rokok, yang tergeletak di samping botol minuman.


"Ayo kita bersulang!" pekik Rara sembari berdiri dan mengangkat gelas nya ke udara.


"Ayo," jawab kami serempak.


Aku, Ririn, dan ketiga lelaki itu pun langsung berdiri, dan mengangkat gelas mereka masing-masing.


"Cheers." ucap kami bersamaan.


Setelah selesai bersulang, kami pun kembali duduk di tempat masing-masing. Aku memperhatikan satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapanku.


"Ada apa, Ndah? Kenapa kamu memandangi mereka seperti itu?" tanya bang Hendra heran.


"Gak ada papa, bang. Aku cuma sedikit puyeng aja." jawab ku sambil memegangi kepala.


"Kalo udah gak sanggup lagi, lebih baik gak usah di paksakan, Ndah!" ujar bang Hendra.


"Iya, bang. Aku minum nya dikit-dikit aja kok." balas ku.


Bang Hendra meletakkan gelas nya di atas meja, lalu dia mulai mendekati ku, dan menarik pelan tengkuk leher ku dengan satu tangan nya.

__ADS_1


Tanpa aba-aba, bang Hendra langsung menciumi bibir ku dengan lembut. Setelah puas menjelajahi bibir ku, bang Hendra pun mulai melepaskan ciuman nya, dan meneguk minuman nya kembali.


Sedangkan Ririn dan Rara, mereka sama sekali tidak memperdulikan kegiatan yang di lakukan bang Hendra pada ku. Mereka berdua tampak sedang asyik bercengkrama bersama pasangan nya.


Di tengah cahaya lampu kelap-kelip yang remang-remang, dan suara dentuman musik yang memekakkan telinga, kami semua bersenang-senang dengan pasangan nya masing-masing.


Ada yang sedang berpelukan, ada yang sedang bermanja-manja, dan ada juga yang sedang bercanda ria, termasuk aku. Kami sangat menikmati suasana malam ini.


"Ndah, teman mu yang dua itu, kira-kira mau gak di ajak ke hotel?" tanya bang Hendra.


"Maksud abang?" tanya ku bingung.


"Maksud nya, bukan satu kamar sama kita. Tapi dengan kedua teman abang itu. Kalo teman-teman abang mau ngajak mereka ke hotel, kira-kira kedua teman mu itu mau gak?" jelas bang Hendra.


"Aku gak tau, bang. Tanya aja sendiri sama orang nya!" jawab ku.


"Oh oke, abang tanya mereka dulu, ya." balas bang Hendra.


Aku hanya mengangguk mengiyakan ucapan bang Hendra. Setelah itu, bang Hendra langsung menghampiri kedua teman nya. Mereka tampak sedang berbisik-bisik di depan pintu masuk.


Beberapa saat kemudian, mereka bertiga pun kembali ke tempat duduk nya masing-masing. Rara dan Ririn melihat ku dengan tatapan yang penuh tanda tanya.


Aku yang mengerti arti tatapan mata mereka berdua pun, langsung mengendik bahu, tanda tidak tahu.


"Gimana, bang. Apa kata teman abang?" tanya ku penasaran.


"Oh," jawab ku singkat.


Setelah kedua teman bang Hendra berdiskusi dengan Ririn dan Rara, akhir nya para sahabat ku itu pun langsung memanggil ku. Rara dan Ririn mengajak ku berbicara di pojok ruangan.


"Ndah, tamu yang aku temani itu ngajak aku ke hotel, gimana ini?" tanya Rara.


"Iya, Ndah. Aku juga gitu, lelaki itu juga mengajak ku ke hotel." sambung Ririn menimpali ucapan Rara.


"Ya, itu terserah kalian. Kalo kalian gak mau, ya gak papa tolak aja. Tapi kalo memang kalian mau, dan bayaran nya juga cocok, ya terserah mau di terima atau tidak." jawab ku.


"Emang nya kau mau ikut sama abang itu ke hotel ya, Ndah?" tanya Rara menunjuk ke arah bang Hendra dengan dagu nya.


"Iya, habis ini kami langsung ke hotel." jawab ku lagi.


"Hmmm, gimana ya, Ndah. Aku agak ragu nerima tawaran lelaki itu." ujar Rara.


"Kan tadi udah ku bilang, kalo kau gak mau, ya tolak aja. Gampang kan, ngapain mesti kebingungan gitu!" balas ku.


"Kalo kau gimana, Rin? Kau mau gak? Kalo kau gak mau, ngomong aja terus terang sama mereka!" ujar ku.

__ADS_1


"Aku mau, Ndah. Aku lagi butuh uang tambahan soal nya." jawab Ririn.


"Kalo kau gimana, Ra? Mau apa tidak?" tanya ku lagi.


"Aku gak bisa, Ndah. Aku ada janji dengan seseorang malam ini." jawab Rara.


"Oh, ya udah kalo gitu. Kau ngomong aja langsung sama pasangan mu itu. Bilang sama dia, kalau kau gak bisa ikut dengan nya." ujar ku pada Rara.


"Oke, Ndah." balas Rara.


Setelah selesai berbincang dengan Rara dan Ririn, kami bertiga pun kembali duduk di tempat semula.


"Gimana keputusan mereka, sayang?" tanya bang Hendra.


"Rara, gak bisa ikut, bang. Dia ada janji dengan orang lain. Kalo si Ririn, dia bisa ikut kata nya." jawab ku.


"Oh, gitu ya." balas bang Hendra sambil manggut-manggut.


Bang Hendra merangkul pundak ku dengan satu tangan nya. Kemudian, dia menyandarkan kepala nya di bahu ku. Dan satu tangan lagi menggenggam erat jari-jari ku.


"Kenapa lah tidak dari dulu kita berjumpa ya, Ndah?" tanya bang Hendra.


"Entah," jawab ku cuek.


"Kenapa di saat dirimu sudah punya kekasih, baru kita di pertemukan?" tanya bang Hendra lagi.


"Coba tanya kan sama tembok itu, bang! Mana tau tembok itu bisa menjawab semua pertanyaan abang, hihihi." jawab ku asal.


Aku menunjuk ke arah tembok yang ada di depan ku, sambil terkikik geli. Bang Hendra yang mendengar ocehan receh ku itu pun, langsung mengangkat kepala nya dari bahu ku.


"Iiihhhh, udah pintar meledek abang ya sekarang!" ujar bang Hendra sembari mencubit gemas hidung ku.


"Hehehe, sekali-kali bang." balas ku cengar-cengir salah tingkah.


"Abang boleh nanya sesuatu gak, Ndah?" tanya bang Hendra dengan raut wajah serius.


"Nanya apa?" tanya ku balik.


"Hmmm, gimana cara ngomong nya, ya? Abang bingung harus mulai dari mana!" jawab bang Hendra.


"Kenapa harus bingung? Emang nya abang mau ngomongin tentang apa?" tanya ku semakin penasaran.


"Tentang perasaan abang pada mu, Ndah." jawab bang Hendra.


"Oh itu, ya ngomong aja lah! Kenapa mesti bingung segala?" balas ku.

__ADS_1


"Abang ingin..."


__ADS_2