Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Bang Hendra dan Alex


__ADS_3

Aku terperangah dengan mulut yang menganga lebar, setelah melihat lelaki yang memanggil ku untuk menemani nya minum.


"Duduk sini, sayang! Ntar pingsan pulak kelamaan berdiri disitu." canda bang Hendra.


Ya, ternyata lelaki itu adalah bang Hendra, tamu minum sekaligus tamu kencan ku. Bang Hendra menepuk-nepuk tempat duduk yang masih kosong, yang berada tepat di sebelah nya.


"I-iya, bang." jawab ku gugup.


Aku mulai mendekat dan duduk di sebelah bang Hendra. Setelah itu, bang Hendra pun langsung memeluk tubuh ku dengan sangat erat sembari berbisik...


"Abang kangen banget dengan mu, Ndah." bisik bang Hendra di telinga ku.


"Iya sama, bang. Aku juga kangen sama abang." balas ku sambil tersenyum manis pada nya.


"Beneran, Ndah?" tanya bang Hendra tidak percaya dengan ucapan ku.


Bang Hendra melepaskan pelukan nya dan menatap wajah ku dengan tatapan yang penuh tanda tanya.


"Iya bener, abang ku sayang." jawab ku sembari mencubit gemas kedua pipi nya.


"Oh ya udah kalo gitu, nanti kita ke hotel ya, Ndah. Kita akan sama-sama melepaskan rindu di sana."


Bisik bang Hendra sembari tersenyum genit, dan mengerlingkan sebelah mata nya pada ku.


"Tuh kan, bener dugaan ku tadi. Pasti bakalan di culik lagi aku malam ini." gerutu ku dalam hati.


"Aduuuh, gimana ini? Mau di tolak atau di terima ya, ajakan bang Hendra tadi." batin ku bingung.


Sedang pusing mikirin ajakan bang Hendra, tiba-tiba orang yang di pikirkan pun kembali mengulang pertanyaan nya.


"Gimana, sayang? Mau gak ikut abang ke hotel?" tanya bang Hendra.


"Hmmmm, gimana ya, bang? Aku juga bingung mau jawab apa." jawab ku lirih.


"Bingung kenapa? Apa ada orang yang melarang mu untuk mendapatkan uang lebih?" tanya bang Hendra lagi.


Aku menatap wajah bang Hendra lalu menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Kalau gak ada yang melarang, kenapa kamu harus bingung?" selidik bang Hendra.


"Aku...aku..."


Ucapan ku langsung di potong oleh bang Hendra. Dia tidak ingin mendengar kan alasan apa pun lagi dari bibir ku.


"Ayo lah, sayang! Abang udah pengen banget nih, udah lama juga kita gak bersenang-senang di atas ranjang." rengek bang Hendra.


"Nanti aja kita bahas lagi masalah ini ya, bang. Sekarang kita minum aja dulu!" ujar ku mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Yaaaahh, kok gitu sih, Ndah. Padahal abang ingin sekali mendengar jawaban mu." balas bang Hendra kecewa.


"Iya, abang sabar dulu ya! Nanti pasti aku jawab kok." bujuk ku berusaha meyakinkan nya.


Bang Hendra membuang muka ke samping sambil mengerucutkan bibir nya. Dia terlihat sangat kecewa dengan ucapan ku.


Melihat ekspresi wajah bang Hendra yang berubah masam, aku pun mulai membujuk nya dengan cara mencium kilat pipi dan juga bibir nya.


Dan itu berhasil membuat nya tersenyum sumringah dan langsung membalas ciuman ku. Tanpa rasa malu, bang Hendra pun menciumi bibir ku dengan lembut di depan teman-temannya.


Mereka semua pun langsung bersorak sorai, melihat tingkah nakal yang di lakukan bang Hendra pada ku.


"Woy, Hen. Kalau mau mesra-mesraan jangan disini lah, merusak pemandangan ku saja." oceh salah satu teman bang Hendra.


Mendengar ledekan teman nya, bang Hendra pun mulai melepaskan ciuman nya dan menatap tajam ke arah teman nya yang bersuara tadi.


"Berisik kali pun mulut mu itu, gak bisa lihat orang seneng dikit apa?" omel bang Hendra.


Aku melirik ke arah bang Hendra yang sedang mengoceh di depan teman nya, dan saat aku hendak melihat ke arah teman bang Hendra itu, tiba-tiba mata ku langsung terbelalak lebar.


"Hah, ada Alex juga rupanya." gumam ku terkejut.


Alex yang sedari tadi terus saja memperhatikan ku pun langsung tersenyum, setelah pandangan mata nya tertangkap basah oleh kedua mata ku.


Dia menyapa ku dengan cara menggerakkan bibir nya tanpa mengeluarkan suara. Aku hanya tersenyum untuk membalas sapaan nya.


Saat bang Hendra melakukan perbuatan nakal nya, aku sempat melirik ke arah Alex yang memasang wajah ketidaksukaan nya. Dia tampak sedikit emosi dan cemburu melihat kelakuan bang Hendra pada ku.


"Loh, kok muka Alex cemberut gitu. Apa dia cemburu melihat kemesraan kami berdua ya?" batin ku heran.


Karena merasa tidak enak hati dengan teman-teman bang Hendra, akhirnya aku pun mulai melepaskan diri pelukannya dan sedikit menjaga jarak dari bang Hendra.


Setelah itu, aku kembali melirik ke arah Alex yang langsung tersenyum. Dia tampak senang saat melihat ku sudah terlepas dari pelukan dan ciuman bang Hendra.


"Kok malah menjauh sih, sayang?" tanya bang Hendra heran.


"Gak enak di lihat mereka, bang."


Aku menjawab sambil menunjuk ke arah teman-teman bang Hendra dengan dagu ku.


"Oh, ya udah deh kalo gitu. Biar gak di lihat oleh mereka, gimana kalau kita pindah tempat aja, mau gak?" tanya bang Hendra sambil menyunggingkan senyum genit nya.


Setelah mendengar penuturan bang Hendra, Alex yang sedari tadi hanya diam membisu pun langsung membuka suara nya.


"Mau pindah kemana, Hen?" tanya Alex penasaran.


"Bukan urusan mu." jawab bang Hendra ketus.

__ADS_1


"Ck, di tanya bener-bener kok malah gitu sih jawab nya." gerutu Alex.


"Emang kau mau ngapain tanya-tanya kami mau pindah kemana, hah?" tanya bang Hendra masih dengan nada ketus nya.


"Mau ikut." jawab Alex santai.


"APA?" pekik semua orang secara bersamaan.


"Gila kau ya, Lex! Ngapain pulak kau mau ikut mereka pindah tempat? Mau jadi obat nyamuk kau di sana ya, hahaha."


Ledek teman bang Hendra sembari tertawa terbahak-bahak. Begitu juga dengan teman-teman bang Hendra yang lain nya. Mereka semua ikut mentertawai ucapan Alex yang tidak masuk akal tersebut.


"Ya gak papa, jadi obat nyamuk mereka pun jadi lah, yang penting aku boleh ikut." jawab Alex masih tetap kekeuh.


"Waduhhh, udah bener-bener sinting ini orang!" cibir teman bang Hendra kepada Alex.


Aku hanya tersenyum-senyum sendiri melihat perdebatan mereka semua.


Berhubung tidak ada waiters lain yang menemani teman-teman bang Hendra, jadi hanya ada aku saja satu-satu nya cewek yang menemani mereka semua di meja itu.


Teman-teman bang Hendra tidak mau di temani cewek, takut khilaf kata nya. Maka dari itu hanya bang Hendra saja yang di temani cewek, yaitu aku.


"Kau ini apa-apaan sih, Lex. Kami itu mau bersenang-senang di hotel, masa iya kau mau jadi obat nyamuk kami di sana nanti. Kurang kerjaan banget jadi orang!" ujar bang Hendra heran.


"Kan tadi udah aku bilang sih, Hen. Gak papa, aku mau kok jadi obat nyamuk kalian, yang penting aku boleh ikut kalian ke hotel." balas Alex masih tetap pada jawaban nya tadi.


"Gak boleh, dasar bocah gila! Yang tidak-tidak aja lah pulak permintaan mu itu!" ujar bang Hendra kesal.


Bang Hendra menolak mentah-mentah permintaan Alex.


"Ck, pelit kali pun sama kawan sendiri. Masa kau gak ada rasa kasian dikit pun sama aku sih, Hen." rengek Alex dengan wajah memelas.


"Kalo aku bilang enggak ya enggak. Pekak kuping mu ya!" gerutu bang Hendra.


Alex langsung cemberut dan memanyunkan bibirnya karena menerima penolakan dari bang Hendra.


"Ayo kita pergi dari sini, Ndah!" seru bang Hendra.


Bang Hendra berdiri dari tempat duduk nya lalu menggenggam tangan ku. Dia mengajak ku untuk keluar dari ruangan karaoke, dan meninggalkan semua teman-teman nya yang masih minum di meja itu.


Setelah membayar uang chas keluar kepada kasir, bang Hendra terus saja menggenggam tangan ku sampai ke mobil nya.


"Kita mau kemana, bang?" tanya ku sambil memasang sealbeat di tubuh ku.


"Mencari tempat untuk bersenang-senang lah, sayang. Masa gitu aja gak tau sih." jawab bang Hendra sambil tersenyum genit pada ku.


"Oh," balas ku singkat.

__ADS_1


__ADS_2