
Setelah mengistirahatkan diri selama kurang lebih delapan jam, aku mulai membuka mata dan menggeliat merenggang kan otot-otot yang pegal dan kaku.
"Hoam, udah siang ternyata. Jam berapa ini ya?" gumam ku.
Aku menguap sambil melihat kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul satu siang.
"HAH, udah jam satu! Pantesan aja perut ku mulai keroncongan, udah siang rupa nya." pekik ku.
Aku segera beranjak dari kasur dan membuka gorden serta kaca jendela. Lalu kemudian, aku melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Selesai membersihkan diri, aku kembali lagi ke kamar dan menyeduh teh manis hangat. Setelah itu, aku mengambil mie instan cup dari dalam bufet, lalu menyeduh mie cup itu dengan air panas dari dispenser.
Sambil menunggu mie nya melar, aku duduk melantai sambil selonjoran dan menyandarkan punggung ku di tepi kasur.
Setelah mendiamkan mie selama lima menit, aku langsung menyantap nya dengan lahap sampai tandas, lalu menyeruput teh manis hangat sampai habis setengah gelas.
"Eeeggh, alhamdulillah." gumam ku.
Aku bersendawa kekenyangan sambil menutup mulut dengan telapak tangan ku. Setelah selesai mengisi perut, aku mengambil rokok dan menyalakan nya.
Sedang asyik menghisap rokok sambil melamun, ponsel ku pun berdering nyaring di atas meja. Aku merentang kan tangan untuk meraih ponsel yang sedang berdering itu.
"Ayah."
Gumam ku setelah melihat layar ponsel yang sedang menyala di dalam genggaman ku. Tanpa pikir panjang lagi, aku pun langsung menerima panggilan dari ayah sambil mengucapkan salam.
"Halo assalamualaikum, yah."
"Wa'laikum salam," balas ayah.
"Ada apa, yah?"
Aku langsung bertanya tanpa basa-basi lagi. Karena aku sudah hafal maksud ayah menghubungi ku. Apa lagi kalau bukan masalah uang.
"Ada uang mu, Ndah? Ayah ada perlu untuk bayar kontrakan sama bayar air." tanya ayah.
"Loh, baru beberapa hari yang lalu aku kirim kan uang lima ratus ribu. Masa udah habis sih, yah?" tanya ku heran.
"Emang nya uang yang aku kirim kemaren buat apa aja, yah?" tanya ku lagi.
"Udah habis buat bayar hutang, Ndah." jawab ayah santai.
"Hutang buat apa, yah? Aku kan udah sering kirim uang, kenapa ayah masih ngutang juga dengan orang lain?" tanya ku semakin penasaran.
"Buat biaya sekolah Ridwan dan kuliah Anisa, Ndah." jawab ayah.
__ADS_1
"Ya Allah, yah! Jadi selama ini uang yang aku kirim kan itu habis-habis gitu aja, tanpa ada yang tersimpan sedikit pun?" tanya ku.
Aku langsung bertanya panjang lebar pada ayah, sambil memijat-mijat kepala yang mulai berdenyut-denyut nyeri.
"Aritu ayah bilang mau kumpulkan uang buat beli tanah, untuk membangun rumah. Maka nya ayah target kan aku untuk mengirimkan uang dua juta setiap bulannya."
"Trus belom lagi yang lain-lainnya. Aku juga sering kirim uang lima ratus ribu sampai berulang-ulang kali." lanjut ku.
Ayah sama sekali tidak menjawab semua ocehan-ocehan ku. Beliau hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada ku.
"Kalau memang gak ada biaya, ngapain di paksakan untuk kuliah segala?"
"Kecuali si Anisa dapat beasiswa sih, gak masalah. Tapi kalau gak, ya ngapain juga harus di paksakan, yah?"
Aku menghela nafas dalam-dalam dan kembali mengoceh kepada ayah.
"Ayah kan tau sendiri, kalau biaya kuliah itu mahal. Emang nya bisa dapat uang dari mana?" tanya ku.
"Atau jangan-jangan, uang yang selama setahun ini aku kirim kan itu, cuma habis untuk biaya sekolah mereka berdua?"
Emosi ku mulai naik sampai ke ubun-ubun. Aku sudah tidak bisa menahan amarah ku lagi. Sedangkan ayah, dia tetap bungkam sambil terus mendengarkan ocehan ku. Mungkin dia tahu kalau aku sedang marah besar pada nya.
"Apa guna nya mereka berdua sekolah tinggi-tinggi, kalau akhirnya kerjaan nya hanya ongkang-ongkang kaki saja di rumah?" ujar ku.
"Sedangkan aku di sini yang kerja banting tulang mati-matian cari uang, hanya untuk membiayai mereka berdua. Apa ayah gak ada rasa kasihan dengan ku, yah?"
Aku kembali menarik nafas berat sambil menutup mata. Setelah itu, aku pun kembali mengeluarkan segala keluhan yang selama ini selalu mengganjal di hati ku.
"Aku menjual harga diri disini, yah. Biar ayah tau! Aku harus meminum minuman keras setiap hari, menemani banyak lelaki setiap malam, dan hidup sebatang kara di kota orang."
"Apa ayah pernah sekaliii aja menanyakan kabar ku, selama aku ada di perantauan ini?"
"Lagi sakit kah? Atau gak makan karena gak ada uang kah? Apa pernah ayah tanya kan itu pada ku? Gak pernah kan, yah!" bentak ku.
"Yang selalu ayah tanya kan itu cuma uang, uang dan uang!" pekik ku.
Aku meluap kan semua kekesalan ku pada ayah sambil meneteskan air mata.
"Seandainya aku sakit dan butuh biaya untuk berobat, apa kalian semua sanggup menanggung pengobatan ku?"
"Apakah anak-anak ayah yang dua itu sanggup mengirimkan uang untuk aku berobat? Gak sanggup kan, yah!"
Ayah tetap saja diam sambil mendengarkan semua kata-kata ku.
"Kalau aku di gantungi banyak orang, lama-lama aku juga bisa tumbang, yah."
__ADS_1
"Kemampuan ku juga ada batas nya, kalau terlalu di tekan dan di paksa, lama-lama aku juga bisa gila." lanjut ku lagi.
Aku sampai menangis sesenggukan mengucap kan semua kata-kata itu kepada ayah kandung ku.
Ayah masih tetap diam membisu tanpa menjawab apa pun pada ku. Setelah beberapa saat hening, akhirnya ayah pun mulai bersuara lagi.
"Ya habis nya mau gimana lagi, Ndah? Siapa lagi yang akan membantu kami bertiga disini kalau bukan meminta dengan mu?" ucap ayah.
"Suruh mereka berdua kerja, yah! Mereka itu sudah besar sudah pada dewasa. Jangan tau nya cuma ongkang-ongkang kaki saja di rumah." jawab ku tegas.
"Uang tidak akan jatuh dari langit dengan sendirinya. Kalau tidak di cari dengan cara bekerja." jawab ku.
"Jangan cuma bisa nya mengharapkan tenaga orang lain, demi memenuhi gaya hidup mereka." tambah ku lagi.
"Aku hanya sanggup mengirim kan uang satu juta setengah saja setiap bulan nya. Dan itu hanya untuk kebutuhan ayah saja, bukan untuk kebutuhan mereka berdua." ucap ku.
"Aku juga harus mengirimkan uang untuk kebutuhan nenek, delapan ratus ribu setiap bulan." jelas ku.
"Untuk membayar katering makan dan untuk uang pegangan nenek. Oke lah, yah. Aku mau istirahat dulu, nanti malam aku harus kerja lagi, assalamualaikum."
Aku menutup panggilan secara sepihak. Setelah panggilan terputus, aku mencampakkan ponsel itu ke atas kasur dengan kasar.
Ya Allah, sakit rasa nya hati dan jiwa ku ini. Tolong kuat kan hati ku ya Allah. Berikan aku kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani semua ini, ya Allah amin. Doa ku dalam hati.
Tak lama kemudian, ponsel ku berdering kembali. Aku pun segera mengambil ponsel yang ku lempar kan ke atas kasur tadi.
"Haris." gumam ku sambil melihat layar ponsel.
"Halo, assalamualaikum."
"Wa'laikum salam, lagi ngapain, Ndah? Udah makan belom?" tanya Haris.
"Udah, bang. Makan mie cup sama minum teh manis hangat." balas ku.
"Kok makan mie lagi sih, Ndah." protes Haris.
"Lagi malas turun ke bawah, bang." balas ku santai.
"Hmmm, dasar pemalas!" ledek Haris.
"Biarin aja, weekk."
Aku menjulurkan lidah seolah-olah Haris ada di depan ku saat ini.
"Hahaha."
__ADS_1
Haris langsung terkekeh mendengar jawaban ku itu.
"Suara mu kok serak gitu, Ndah? Kamu habis nangis, ya?" tanya Haris penasaran.