Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Keceplosan


__ADS_3

"Tamu minum kok mesra gitu?" selidik Haris.


"Nanti aja aku jelasin nya, sekarang kita pulang ke kos aja dulu. Kepala ku pusing kali nih, kebanyakan minum kayak nya."


Tutur ku sambil memegangi kepala yang mulai berdenyut nyeri.


"Oke," jawab Haris.


Aku dan Haris bergegas masuk ke dalam mobil, dan langsung tancap gas kembali ke kos tempat tinggal ku.


Sampai di depan gerbang kos, aku langsung keluar dari mobil tanpa menghiraukan Haris yang masih tercengang melihat kepergian ku.


Aku berjalan sempoyongan menapaki anak tangga satu persatu untuk menuju ke lantai tiga.


Melihat keadaan ku yang sedikit mabuk, Haris pun dengan cepat menyusul ku dan langsung memapah tubuh ku, hingga sampai di depan pintu kamar.


Setelah pintu terbuka, aku langsung mencampakkan tas ke sembarang tempat dan menjatuhkan diri di atas kasur.


Masih dengan memakai pakaian kerja dan sepatu, aku pun mulai memejamkan mata perlahan.


"Loh, kok malah tidur pulak bocah edan satu ini?" gumam Haris.


"Itu sepatu sama baju nya di buka dulu lah, sayang! Masa tidur nya pakai seragam lengkap kayak gitu sih." lanjut Haris.


Mendengar ocehan Haris, aku pun kembali membuka mata dan menatap wajah Haris dengan tatapan sayu.


"Bukain," rengek ku manja.


Haris tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala nya melihat tingkah manja ku. Dia langsung mendekat dan membuka sepatu beserta semua pakaian ku.


Haris hanya menyisakan pakaian dalam ku saja, dan menyelimuti tubuh ku dengan selimut tebal.


"Kok gak di buka semua sih pakaian ku, nanggung banget bukain nya." oceh ku.


"Loh, kan udah di buka semua sih." jawab Haris heran.


"Ini kan belum." balas ku sembari memegang pakaian dalam ku sendiri.


"Kalau itu di buka semua bisa bahaya nanti. Takut nya abang khilaf pulak gara-gara lihatin isi nya." tutur Haris.


"Ya gak papa lah, aku memang mau buat abang khilaf kok." balas ku.


"Serius?" tanya Haris.


"Iya serius, sayang ku. Sini, kasih jatah ku dulu! Biar makin nyenyak tidur ku nanti." rengek ku lagi.


"Oke siap, tuan putri. Hamba akan laksanakan perintah tuan putri." balas Haris dengan senyum menyeringai.


Tanpa basa-basi lagi, Haris pun langsung membuka pakaian nya dan menyerang ku dengan semangat empat lima.

__ADS_1


Dia mencumbui seluruh tubuh ku dengan lembut dan mesra. Aku yang dalam keadaan setengah sadar, akibat pengaruh alkohol pun mulai membalas cumbuan nya dengan agresif.


"Bang, layani aku sampai puas ya!" bisik ku dengan nafas yang memburu.


"Iya, sayang. Abang akan memberikan pelayanan terbaik untuk mu." jawab Haris.


Selesai berucap, Haris pun kembali melancarkan aksinya. Dia memberikan kenikmatan yang sangat luar biasa pada ku. Haris memacu gerakan nya dengan kecepatan tinggi dan lincah.


Sedangkan aku, jangan di tanya lagi. Aku memejamkan mata, sambil terus mengeluarkan suara-suara aneh dari bibir ku akibat perbuatan Haris.


Setelah melakukan kegiatan panas nya selama hampir dua jam, aku dan Haris pun mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan.


"Makasih ya, sayang." bisik Haris sambil mengecup kening pipi dan juga bibir ku.


"Iya, sama-sama. Aku juga ucap kan terima kasih atas pelayanan abang yang sangat memuaskan malam ini." balas ku sembari tersenyum manis pada nya.


"Kita mandi dulu yok, biar seger!" ujar Haris.


Haris mulai beranjak dari tubuh ku dan melilitkan handuk ke pinggang nya.


"Iya," balas ku.


Aku juga melilitkan handuk di tubuh ku, dan mengikuti langkah Haris menuju kamar mandi.


Selesai membersihkan diri, aku dan Haris kembali ke dalam kamar dan duduk selonjoran di tepi kasur, sambil menyalakan rokok masing-masing.


Aku langsung tersentak kaget saat mendengar pertanyaan Haris. Ternyata dia masih saja penasaran dengan laki-laki yang di lihat tadi.


"Dia itu cuma tamu minum aja, gak ada hubungan spesial di antara kami berdua." bohong ku.


"Emang nya semua tamu yang kamu temani, melakukan hal yang sama seperti tadi ya?" tanya Haris lagi.


"Ya gak juga sih, cuma orang-orang tertentu aja yang melakukan hal itu dengan ku." jawab ku keceplosan.


"Orang-orang tertentu maksud nya?" selidik Haris.


"Ups, mampus aku! Pake acara keceplosan pulak mulut ini tadi. Duuuh, gimana ini?" batin ku mulai panik.


"Kok gak di jawab?" desak Haris.


"Eh itu, maksud nya tamu-tamu langganan ku aja yang berani kayak gitu. Kalo tamu lain nya sih gak pernah." jawab ku gugup.


"Oh, gitu." balas Haris sembari manggut-manggut.


"Abang percaya kan sama aku?" tanya ku balik.


"Percaya sih percaya, tapi gak seratus persen. Abang agak ragu sama jawaban mu tadi." jawab Haris.


"Loh, kok bisa gitu?" tanya ku heran sembari menautkan kedua alis ku menatap Haris.

__ADS_1


"Ya karena tadi abang lihat kalian terlalu mesra, kayak ada hubungan spesial di antara kalian berdua." sindir Haris.


Haris menduga-duga tentang apa yang di lihat nya sewaktu di tempat kerja ku tadi. Dia mulai mencurigai ku karena dia melihat dengan mata kepala nya sendiri, saat bang Rian memeluk dan menciumi ku dengan mesra.


"Sekarang aku mau tanya, tapi abang harus jawab jujur ya!" ujar ku.


"Iya, tanya soal apa?" tanya Haris balik.


"Kalau seandainya aku mengkhianati kepercayaan abang, apakah abang masih mau berhubungan dengan ku?" tanya ku sembari menatap serius wajah Haris.


Mata Haris langsung membulat sempurna saat mendengar pertanyaan ku. Dia tampak sangat terkejut dan syok akibat kata-kata yang keluar dari bibir ku.


"Ma-maksud nya kepercayaan yang mana?" tanya Haris mulai panik dan gelisah.


"Kepercayaan kalau aku tidak akan melayani laki-laki lain selain dirimu di ranjang." jawab ku lirih sembari menunduk kan kepala.


Aku sama sekali tidak berani untuk menatap wajah Haris. Aku merasa sangat bersalah karena telah melukai hati dan perasaan nya.


"APA?" pekik Haris kuat.


Saking kuatnya suara pekikan Haris, sampai-sampai aku tersentak dan langsung mendongak menatap wajah nya.


"Kok muka nya jadi horor gitu ya!" batin ku.


Aku sedikit ngeri saat melihat wajah Haris yang sudah berubah merah padam, akibat menahan emosi dan kemarahan nya.


"Jadi selama ini dugaan abang benar ya, kalau kau sudah mengingkari janji mu sendiri?" tanya Haris sambil mengepalkan tangan nya.


"Ck, tadi kan aku bilang seandainya. Masa gak paham sih." bantah ku.


Haris langsung terdiam mendengar jawaban ku. Dia mulai merenggang kepalan tangan nya, lalu menatap tajam pada ku.


"Abang tau kalau kau sedang berbohong, Ndah. Abang bisa melihat dari sikap dan tingkah laku mu akhir-akhir ini." tutur Haris.


"Emang nya sikap ku kenapa?" tanya ku penasaran.


"Sikap mu sudah jauh berubah dari yang dulu. Akhir-akhir ini kau sering nginap di luar, bahkan kau juga sering menghilang tanpa kabar." jelas Haris.


Aku tidak langsung menjawab ucapan Haris, aku hanya diam dan kembali mengisap rokok yang masih tersisa separuh di tangan ku.


"Apakah ada laki-laki lain di hati mu saat ini selain abang, Ndah?" tanya Haris.


"Gak ada, di hati ku hanya ada satu orang saja yaitu dirimu." jawab ku jujur.


"Walau pun tubuh ku terbagi-bagi dengan yang lain, tapi hati ku tetap untuk mu seorang." jawab ku kembali keceplosan.


"HAH, tubuh mu terbagi-bagi? Maksud nya terbagi-bagi gimana?" tanya Haris kembali terkejut mendengar jawaban ku.


"Ma-maksud nya..."

__ADS_1


__ADS_2