Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Kembali berlanjut


__ADS_3

Setelah lelah akibat pergumulan yang panjang dengan Haris, kami berdua pun akhirnya tertidur lelap dan hanyut dalam mimpi yang indah.


Waktu terus berlalu, tidak terasa hari sudah terang benderang. Pantulan cahaya matahari, sebagian sinar nya masuk ke dalam kamar dari balik gorden jendela hotel.


Aku membuka mata perlahan sambil menggeliat, merenggang otot-otot yang pegal dan kaku. Setelah itu, aku memandangi wajah seseorang yang ada di hadapanku saat ini.


Dia yang masih memejamkan mata nya, dan masih ada di alam mimpi nya tampak begitu sangat damai. Aku menggeser kan tubuh ku, untuk mendekati nya. Kemudian, aku arah kan tangan untuk menyentuh pipi nya.


Aku membingkai wajah manis nya, dan mengusap bibir nya dengan jari-jari ku sambil tersenyum.


"Seandainya saja kita berjodoh, alangkah bahagia nya hati ku bisa berada di sisi mu selama nya." batin ku.


Setelah mengungkapkan isi hati, aku pun memberanikan diri untuk mengecup kening nya sekilas. Dan secepat kilat, aku kembali ke posisi semula. Aku berbaring miring dan menghadap ke wajah nya.


"Udah kayak maling sandal yang takut ketahuan aja aku ini, hihihi." gumam ku sembari cekikikan sendiri.


Karena merasa bosan, aku bangkit dari ranjang dan menyambar handuk yang sudah tersedia di atas nakas. Lalu, aku pun berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Aku mengambil sikat gigi dan odol mini, yang sudah di sediakan oleh pihak hotel di atas wastafel. Aku mulai menyikat gigi sampai bersih, dari kuman-kuman yang nakal dan membandel. Ya, sama bandel nya seperti diriku, eaakk.


Setelah itu, aku langsung mandi dengan air hangat di bawah guyuran shower. Setelah semua nya bersih dan wangi, aku langsung membungkus tubuh dengan handuk, dan melangkah keluar dari kamar mandi.


Aku melihat Haris yang masih tertidur di bawah selimut. Aku berjalan berjinjit mendekati nya, dan kembali mengecup mesra kedua pipi nya.


Haris langsung terlonjak kaget, karena wajah nya terkena tetesan air yang berasal dari rambut basah ku.


"Ups, sorry! Gak sengaja, bang." canda ku sembari tersenyum miring.


Haris kaget tidak karuan akibat ulah ku. Dia langsung menyandarkan punggung nya di bahu ranjang, yang sudah di lapisi dengan bantal.


Setelah melihat keadaan ku, mata Haris pun langsung membulat, melihat pemandangan yang ada di depan nya.


Haris menelan saliva nya dengan kasar, dan dia terus saja fokus melihat tubuh ku dari atas sampai bawah.


Rambut panjang ku yang terurai dalam keadaan masih basah, dan tubuh ku yang hanya berbalut handuk pendek, menampilkan paha mulus ku di hadapan nya. Dan itu berhasil membuat nya gelisah galau merana(gegana).


"Kapok kau Haris, panas dingin lah badan mu itu melihat tubuh ku ini." batin ku sambil tersenyum menyeringai pada nya.


"Udah mandi, sayang? Wangi banget sih, sini lah duduk!" panggil Haris.


Haris tersenyum dan menepuk-nepuk paha nya yang masih berbalut selimut.


"Udah dong, bang." jawab ku.


Aku mendekati Haris dan duduk di atas pangkuan nya. Lalu aku melingkarkan kedua tangan ku di atas pundak nya.

__ADS_1


Setelah itu, aku memberanikan diri untuk memeluk nya dan mendekatkan wajah nya tepat di leher ku.


Mendapatkan perlakuan seperti itu dari ku, Haris pun mulai membalas pelukan ku. Dia juga melingkar kan kedua tangan nya di pinggang ramping ku.


Dengan posisi yang saling berpelukan, aku mulai berbisik pelan di telinga nya.


"Mandi gih, bang! Biar kita sama-sama wangi." bisik ku.


Tanpa pikir panjang lagi, Haris langsung menyetujui ucapan ku. Dia mengucek-ngucek mata nya sambil sesekali menguap lebar di depan ku.


"Oke, sayang. Abang mandi dulu ya!" jawab Haris


"Iya, bang. Lama juga gak papa kok, hihihi." balas ku.


Aku kembali terkikik dan beranjak dari atas pangkuan Haris. Kemudian, aku beralih duduk di atas ranjang, dan masih dalam keadaan memakai handuk yang melilit di tubuh ku.


Haris langsung bergegas melangkah ke kamar mandi, sambil melilitkan handuk di pinggang nya. Dari atas ranjang, aku bisa mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Ternyata, Haris tidak menutup pintu kamar mandi tersebut.


"Pantesan aja suara air nya terdengar jelas banget, lah wong pintu nya aja gak di tutup." gumam ku.


Aku bergumam, sambil menggeleng gelengkan kepala melihat ulah lelaki ku itu. Sambil menunggu Haris selesai mandi, aku mengambil ponsel yang ada di dalam tas yang terletak di atas meja rias.


Aku membuka layar ponsel, lalu melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.


"Masih ada waktu tiga jam lagi untuk bermanja-manja dengan nya." batin ku.


Otak ku langsung traveling kemana-mana setelah melihat Haris. Rambut nya yang masih basah dan sedikit acak-acakan, semakin menambah keseksian nya bagi ku.


"Hadehh, menggoda iman sekali pemandangan yang ada di depan ku ini." gerutu dalam hati.


Aku yang masih duduk di atas ranjang, langsung terpaku melihat pemandangan itu. Haris mulai mendekat dan menatap ku dengan penuh selidik.


"Kenapa melihat ku seperti itu, Ndah? Jangan nakut-nakutin gitu, ah! Jadi serem abang lihat nya." ujar Haris.


Dia tampak sangat bingung, karena melihat kondisi ku yang terpaku di tempat. Di kira nya aku sedang kesurupan kali ya.


"Apa kamu pengen lagi ya, Ndah?" tanya Haris sambil tersenyum genit.


"Hah, pengen apa an, bang?"


Aku bertanya sambil melongo dengan mulut yang sedikit terbuka. Haris mulai berjalan mendekat sambil terus menatap wajah ku. Haris duduk tepat di hadapan ku, sambil mencondongkan wajah nya ke depan wajah ku.


"Aduuh, ini orang bikin aku panas dingin aja pun kerjaan nya." gerutu ku dalam hati.


Aku langsung menundukkan kepala, karena merasa malu melihat tatapan tajam Haris. Hati ku berdebar-debar tidak karuan akibat godaan maut nya.

__ADS_1


Haris menyentuh dagu ku dan mendongak kan wajah ku ke atas. Aku masih saja memejamkan mata, karena malu melihat wajah nya yang begitu dekat dengan ku.


"Kita main sekali lagi ya, sayang! Habis tu, kita pulang."


Bisik Haris di telinga ku, dengan nafas yang memburu dan mulai mendekat kan wajah nya ke bibir ku.


Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Aku masih terus memejamkan mata ketika Haris mulai mengecup bibir ku. Bukan hanya bibir saja, dia juga mengecup seluruh wajah dan juga leher ku .


Haris mengabsen seluruh wajah ku, tanpa ada yang terlewat kan sedikit pun. Aku hanya bisa pasrah, menerima setiap sentuhan yang di berikan nya pada ku.


Kecupan Haris yang semula santai dan lembut, lama kelamaan berubah menjadi liar dan ganas. Tangan nya menarik handuk yang melilit di tubuh ku dengan kasar, dan membuang handuk itu ke lantai.


Dan akhir nya, terpampang lah tubuh molek nan indah ini tanpa sehelai benang pun. Aku hanya tersenyum melihat tingkah Haris pada ku. Aku pasrah menerima perbuatan Haris, yang sedang memanjakan seluruh tubuh ku itu.


Sesekali aku meracau dan mend***h, karena mendapatkan serangan-serangan lembut, yang bisa membuat merinding seluruh tubuh ku itu.


Akhirnya, pergumulan panas pun terulang lagi, lagi dan lagi. Sampai-sampai, badan terasa sangat pegal dan sakit semua.


Setelah capek bergumul ria bersama Haris, kami memutus kan untuk pulang. Setelah selesai mandi dan memakai pakaian, aku dan haris bersiap-siap untuk check out.


"Abang antarkan pulang ke kos ya, Ndah!" ucap Haris.


"Iya, bang." jawab ku singkat.


Aku dan Haris berjalan keluar dari kamar dan menapaki anak tangga satu persatu. Setelah sampai di lantai satu, Haris menyerahkan pun kunci kepada resepsionis wanita yang sedang bertugas.


Setelah itu, kami berdua pun kembali berjalan menuju mobil milik Haris, yang terparkir rapi di depan gedung hotel tersebut.


Sesampainya di dalam mobil, Haris mengambil dompet dari saku celana nya. Dia mengambil beberapa lebar uang merah dari dompet, dan menyelipkan nya ke tangan ku.


"Makasih ya, bang."


Aku berucap sambil tersenyum manis pada nya. Setelah memberiku uang, Haris mulai menyalakan mesin mobil nya dan melajukan kendaraan nya itu ke jalan raya.


Tak berselang lama, kami berdua sudah sampai di depan gedung kos tempat tinggal ku.


"Makasih ya, sayang." ucap Haris.


"Sama-sama, bang." jawab ku.


Haris mengecup mesra kening, pipi, dan juga bibir ku. Setelah itu, aku pun langsung turun dari mobil dan berdiri di depan gerbang. Haris mulai melajukan mobil nya kembali, dan berlalu pergi dari hadapan ku.


Setelah kepergian Haris, aku berjalan menapaki anak tangga menuju ke lantai tiga tempat kamar ku berada. Sampai di depan kamar, aku membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam.


"Hah, capek nyaaaa." gumam ku.

__ADS_1


Aku merebahkan diri di atas kasur dan mulai memejamkan mata. Tak lama kemudian, aku pun tertidur nyenyak sambil memeluk guling.


__ADS_2