Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Kirim uang


__ADS_3

"Kejadian apa, Ndah?" tanya Ririn penasaran.


"Aku...aku..."


Kata-kata ku terjeda sesaat. Aku ragu, harus mengatakan masalah ini atau tidak, kepada Ririn.


"Aku aku, apa sih, Ndah? Ngomong nya kok di gantung gitu." desak Ririn.


"Semalam aku di gilir, Rin." ujar ku lirih.


"HAH! Serius, Ndah?" pekik Ririn dengan mata membulat.


Aku mengangguk, dan menghembuskan nafas berulang-ulang. Kemudian, aku mengeluarkan uang dari dalam tas, dan menyerahkan nya kepada Ririn.


"Uang apa ini, Ndah?" tanya Ririn bingung.


"Itu uang pemberian tamu semalam. Dalam keadaan tidak sadar, mereka berdua menggilir ku secara bergantian, Rin." bisik ku.


"Ya ampun, Ndah. Kok tega banget sih, mereka berdua melakukan itu dengan mu?" balas Ririn.


Ririn melihat ku dengan tatapan sedih. Dia tidak menyangka, kalau kejadian seperti itu akan terjadi dengan ku.


"Yang sabar ya, Ndah! Ini lah resiko kita sebagai wanita malam. Kita harus ekstra hati-hati, dan harus bisa menjaga diri kita masing-masing." ujar Ririn.


Mendengar ucapan Ririn, aku langsung tertunduk dan meneteskan air mata. Aku merasa sangat menyesal, atas kejadian yang terjadi semalam.


"Udah lah, Ndah! Gak usah di sesali lagi. Semua nya sudah terjadi, menyesal pun gak ada artinya lagi." lanjut Ririn


Ririn merangkul pundak ku, dan mengelus-elus bahu ku dengan lembut. Setelah merasa tenang, aku mendongakkan kepala dan menoleh kepada Ririn.


"Rin, aku bisa minta tolong, gak?" tanya ku dengan mata yang sembab dan berair.


"Minta tolong apa?" tanya Ririn balik.


"Tolong kau jaga rahasia ini baik-baik ya, Rin! Cukup kita berdua aja yang tau. Dan tolong, kau kirimkan semua uang ini kepada ayah ku. Bisa gak, Rin?" tanya ku penuh harap.


"Oh, kalo masalah itu sih, gak usah khawatir. Aku akan menjaga rahasia mu sebaik-baiknya." balas Ririn.


"Oke, makasih ya, Rin. Aku percaya dengan mu. Kau memang sahabat terbaik ku." ujar ku.


"Ya udah, gak usah di pikirin lagi. Sini nomor rekening nya, biar aku transfer sekarang!" pinta Ririn sambil menadahkan tangan nya pada ku.


Aku segera mengotak-atik ponsel, dan memberikan nya ke tangan Ririn. Dia pun menerima nya, dan langsung mengetik ponsel nya.


Setelah selesai, Ririn mengembalikan ponsel ku, dan memperlihatkan layar ponsel milik nya pada ku.


"Udah terkirim ya, Ndah. Coba kau telpon ayah mu, udah masuk belom uang nya!" perintah Ririn.


"Oke, Rin." jawab ku.

__ADS_1


Aku mencari kontak ayah, dan langsung menghubungi nya.


Tut tut tut...


"Halo assalamualaikum, yah." salam ku.


"Wa'laikum salam, ada apa, Ndah?" tanya ayah.


"Yah, coba suruh Anisa ngecek saldo nya! Aku baru aja ngirim uang ke rekening nya, lima juta." ujar ku.


"Oh, bentar ya, Ndah. Biar ayah suruh Anisa ngecek sekarang." jawab ayah dengan nada girang.


"Iya, yah." jawab ku.


Sambil menunggu adik ku mengecek saldo rekening nya, aku pun kembali berbincang-bincang dengan ayah.


"Apa kabar, yah?" tanya ku basa-basi.


"Alhamdulillah, ayah sehat-sehat aja, Ndah. Gimana kabar mu di sana, sehat-sehat juga kan?" tanya ayah balik.


"Iya, alhamdulillah, yah. Aku juga sehat wal'afiat, dan baik-baik saja disini." bohong ku.


"Oh, syukur lah kalo gitu. Trus, gimana kerjaan mu, Ndah? Lancar-lancar aja kan?" tanya ayah lagi.


"Iya, yah. Semua nya lancar-lancar aja, gak ada masalah apa-apa kok." jawab ku.


"Oh, bagus lah. Jaga diri baik-baik ya, Ndah. Hati-hati kerja nya!" ujar ayah.


Ririn juga menempel kan jari telunjuk di bibir nya. Dia memberi kode, agar aku tidak mengeluarkan suara tangisan ku, saat menghubungi ayah. Aku hanya mengangguk, menanggapi kode dari Ririn.


"Ini Anisa nya udah balek, Ndah. Uang nya udah di ambil semua. Makasih banyak ya, Ndah." ujar ayah.


"Iya, sama-sama, yah. Oke lah, yah. Aku mau lanjut kerja lagi, assalamualaikum." pamit ku.


"Wa'laikum salam," jawab ayah.


Setelah menutup panggilan, aku kembali menoleh kepada Ririn.


"Makasih ya, Rin. Uang nya udah nyampe di tangan ayah ku." ujar ku.


"Iya, Ndah." jawab Ririn sembari tersenyum kecut pada ku.


Aku mengerutkan kening, melihat senyuman Ririn yang tidak seperti biasa nya. Mendapatkan tatapan aneh dari ku, Ririn pun memalingkan wajah nya, dan berpura-pura sibuk mengotak-atik ponsel nya.


"Kau kenapa, Rin? Senyuman mu tadi kok beda, gak seperti biasa nya?" selidik ku.


Ririn menoleh sekilas pada ku, lalu kembali memainkan ponsel nya.


"Aku sedih, Ndah." jawab Ririn lirih, dan tetap fokus menatap ponsel nya.

__ADS_1


"Sedih kenapa?" tanya ku heran.


"Aku jadi sedih, karena mendengar kejadian yang kau alami semalam, Ndah." jawab Ririn pelan.


Aku terus menatap wajah Ririn, yang tampak muram dan tidak bersemangat. Seakan-akan, dia sedang membayangkan, seandainya dia yang ada di posisi ku semalam.


Melihat wajah Ririn seperti itu, aku pun berinisiatif untuk mengajak nya kembali bergabung, bersama teman-teman lain nya.


"Kita kesana yok, Rin!" ajak ku sambil menunjuk ke arah bangku panjang.


"Ayok." jawab Ririn sembari beranjak dari tempat duduk nya.


Aku dan Ririn keluar dari dari kantin, dan berjalan beriringan menuju bangku panjang. Setelah sampai, aku dan Ririn menghimpit Rara, untuk duduk di antara kami berdua.


"Kalian ini apa-apaan, sih? Datang-datang kok malah nyerobot aja, minggir sana!" gerutu Rara.


Aku dan Ririn hanya cengar-cengir, menanggapi ocehan Rara.


"Jangan marah-marah, Ra! Ntar cepat peyot, loh." ledek Ririn kepada Rara.


"Bodo amat, emang gue pikirin." balas Rara ketus.


"Yee, di bilangin bener-bener, malah nyolot pulak nih orang, hahaha." balas Ririn tak mau kalah.


Rara semakin cemberut mendengar candaan Ririn. Saking kesal nya, akhir nya Rara pun menyumpal mulut Ririn dengan tisu, hingga membuat Ririn kembali terbatuk-batuk.


Uhuk uhuk uhuk...


"Kapok, maka nya jangan nyerocos aja muncung nya. Kualat kan jadi nya, hahaha." umpat Rara.


"Hahaha, jahat kali kau, Ra. Tega kali kau nyiksa anak orang, sampe kayak gitu!" ujar ku.


Aku tertawa terpingkal-pingkal, melihat wajah Ririn yang tampak merah, akibat terbatuk-batuk barusan.


Karena jengkel dengan perbuatan Rara, Ririn pun langsung membalas nya. Ririn mencubit kuat lengan Rara, hingga membuat Rara memekik kesakitan.


"Adoooh! Sakit, dodol." pekik Rara.


Rara mengelus lengan nya, sembari meringis kesakitan. Aku kembali tertawa, melihat aksi kocak dari kedua sahabat koplak ku itu.


"Hahaha, kalian berdua ini kayak kucing dan anjing saja. Kalo udah jumpa, pasti cakar-cakaran terus kerjaan nya." ledek ku.


Mendengar ledekan ku, Rara dan Ririn pun langsung menoleh pada ku. Mereka berdua tersenyum menyeringai, dan mulai mendekati ku secara perlahan.


Dan tiba-tiba, Rara dan Ririn memasukkan gulungan tisu ke dalam mulut ku, yang sedang tertawa lebar.


"Aaaaaa, kurang ajar kalian berdua, ya! Awas aja nanti, aku akan balas perbuatan kalian!" pekik ku.


Aku melempar botol plastik ke arah Rara dan Ririn, yang sedang berlari tunggang langgang, menjauh dari tempat duduk ku.

__ADS_1


"Hahaha,"


Rara dan Ririn tertawa berjamaah. Mereka berdua mentertawai ku, dengan nafas yang ngos-ngosan karena kecapekan berlari.


__ADS_2