Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Telpon Dari Haris


__ADS_3

"Naaah, tu tau, hahaha!" gelak ku.


Ririn kembali menggeleng-gelengkan kepala nya, melihat kelakuan gila ku. Selesai bercerita panjang lebar, akhirnya Ririn pun pamit undur diri.


"Oke lah, aku pergi dulu ya. Lain kali kita sambung lagi ngerumpi nya." ujar Ririn sembari beranjak dari duduk nya.


"Ya, hati-hati di jalan ya. Ingat, pulang nya jangan malam-malam, pagi aja sekalian, hahaha." gelak ku lagi.


"Huuuuu, gemblung. Gak lama-lama kok, palingan sore udah balek." balas Ririn.


"Ya, aku kan cuma ngingetin aja loh, bestie. Sebagai teman yang baik, kita harus saling mengingatkan. Siapa tau aja kau nyasar, lupa jalan pulang, hihihi." oceh ku sembari cekikikan.


"Gilak kau ya! Kau pikir aku ini bocil apa, sampe lupa jalan pulang segala? Aneh-aneh aja lampir edan satu ini." gerutu Ririn.


Ririn mulai melangkah kan kaki nya keluar dari kamar ku, lalu kembali memakai sandal high heels yang tinggi nya hampir satu jengkal.


"Woy, kamvret! Ngeri kali tinggi nya sandal mu itu. Emang kau gak takut jatuh, kalau seandainya nanti di kejar-kejar anjing di jalan?" tanya ku dengan kening mengkerut.


Mendengar celotehan ku, Ririn pun langsung menoleh dan menatap wajah ku dengan mata elang nya.


"Kau ini apa-apaan sih? Jelek banget doa nya. Masa nyumpahi aku di kejar-kejar anjing segala. Bikin mood ku rusak aja kerjaan nya." omel Ririn lalu menepuk kuat bahu ku.


"Adoooh, sakit dodol!" pekik ku sembari meringis, dan mengelus-elus bahu yang di tepuk Ririn barusan.


"Helehh, lebay amat sih lu. Cuma di sentuh dikit aja kok langsung jerit-jerit gak karuan, kayak orang kesurupan aja." cibir Ririn.


Bukan nya merasa bersalah atau pun menyesali perbuatan nya, Ririn malah semakin mengoceh di depan ku. Dia tampak cuek, sambil merapikan rambut pirang nya dengan jari-jari tangan nya.


"Ya kan biar keren sih akting nya. Kayak yang di tv-tv itu loh, hehehe." balas ku terkekeh.


Ririn tersenyum miring, dan kembali menggeleng-gelengkan kepala nya.


"Dasar, gendeng. Lama-lama bisa gila aku ngomong sama mu. Udah ah, aku pergi dulu ya, bye!" umpat Ririn lalu mulai melangkah kan kaki nya.


"Oke, hati-hati ya bestie! Jangan lupa, pulang nya bawa oleh-oleh untuk ku." pekik ku kuat.


Mendengar suara cempreng ku, Ririn pun menoleh ke belakang, lalu kembali mengoceh pada ku. Dia meletakkan jari telunjuk di kening nya, dengan posisi miring lalu berkata...

__ADS_1


"Sinting kau ya, pake acara minta oleh-oleh segala. Kau kira aku ini mau pulang kampung apa? Hadehh, makin aneh aja nih bocah." umpat Ririn lagi.


"Hehehe, kali aja kau mau bawain aku martabak keju." balas ku sembari nyengir kuda.


"Ya udah, nanti aku bawakan, kalau ingat." ujar Ririn.


"Aku gak mau tau, pokoknya kau harus ingat titik, gak pake koma." balas ku tegas.


"Iya iya, cerewet kali sih muncung mu itu. Bikin pusing kepala ku aja dengar nya." umpat Ririn semakin kesal.


Dengan wajah masam, Ririn pun kembali melanjutkan langkah nya menuju pintu gerbang, dan berlalu pergi dengan menggunakan ojek online.


Aku hanya tersenyum, menanggapi ocehan receh sahabat koplak ku tersebut. Setelah kepergian Ririn, aku pun masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kembali.


Setelah itu, aku membaringkan tubuh lelah ku di atas kasur. Kemudian aku merentang kan tangan untuk mengambil ponsel, yang tergeletak di atas meja kecil yang berada tepat di samping kasur.


Setelah mendapatkan nya, aku pun mulai mengotak-atik ponsel pemberian bang Rian itu untuk melihat berita terbaru. Sedang asyik bermedia sosial, tiba-tiba...


Kring kring kring...


"Haris? Mau apa lagi dia menghubungi ku?" gumam ku heran.


Aku terus saja memandangi ponsel yang sedang menyala dan memekik di tangan ku. Aku sedikit ragu, untuk menerima panggilan dari mantan kekasih ku itu.


"Angkat gak ya?" lanjut ku bingung.


"Ah, angkat aja lah. Siapa tau ada yang ingin di bicarakan nya dengan ku." gumam ku lagi.


Setelah beberapa saat berpikir dan menimbang-nimbang, akhirnya aku pun menerima panggilan dari Haris, dan menempel kan ponsel itu di telinga ku.


"Ada apa?" tanya ku langsung to do point.


"Dimana kau sekarang? Kenapa kamar mu kosong?" tanya Haris.


Bukan nya menjawab, aku malah balik bertanya kepada nya.


"Untuk apa lagi kau datang ke kos ku? Kita kan udah gak ada hubungan apa-apa lagi?" tanya ku ketus.

__ADS_1


"Siapa bilang kita gak ada hubungan apa-apa, hah? Kau itu masih kekasihku, paham! Belum ada kata putus di antara kita berdua, ingat itu baik-baik!." ujar Haris dengan santai nya.


Aku tertegun seketika, setelah mendengar penuturan Haris. Aku tidak menyangka, jika Haris masih menganggap ku sebagai kekasih nya.


"Iya juga sih, dia memang gak ada bilang putus dengan ku." batin ku membenarkan ucapan Haris.


Karena tidak mendengar suara ku, Haris pun kembali berceloteh. Dia mengulang pertanyaan nya pada ku.


"Dimana kau sekarang Indah Permata Sari?" tanya Haris dengan penuh penekanan.


"Di alam sebelah." jawab ku asal.


"Hah, alam sebelah? Maksud nya apa sih? Jangan yang aneh-aneh gitu lah, Ndah! Cepat katakan, dimana kau sekarang, biar aku langsung meluncur kesana?" desak Haris.


Dia masih tetap kekeuh, ingin mengetahui tempat tinggal baru ku.


"Gak usah repot-repot. Aku aman kok disini." balas ku cuek.


"Ck, apa-apaan sih. Kok gak nyambung gitu jawaban nya, heran! Kumat kau ya?" gerutu Haris kesal.


"Ya, aku memang lagi kumat, gara-gara ulah mu." jawab ku asal.


"Emang nya aku kenapa?" tanya Haris tanpa merasa berdosa sedikit pun.


Mendengar pertanyaan Haris, emosi ku pun langsung meledak seketika. Darah ku rasa mendidih, dan naik sampai ke ubun-ubun.


"Gak usah pura-pura amnesia kau, bang*sat! Kau kira, aku semudah itu melupakan kejadian yang sudah kau lakukan kemarin, hah?" pekik ku dengan suara melengking.


"Loh, emang nya apa yang sudah aku perbuat?" tanya Haris masih dengan mode kepura-puraan nya.


"Kau pikir aja sendiri!" jawab ku ketus.


Karena tidak ingin berdebat dengan nya, akhirnya aku pun mengakhiri panggilan sepihak. Aku tidak ingin menambah luka, dan beban di hati ku, hanya karena mendengar ocehan-ocehan Haris.


Setelah panggilan berakhir, aku pun langsung memblokir nomor Haris, dan meletakkan ponsel itu kembali ke atas meja.


"Hufff, bikin tensi ku naik aja tuh orang." gumam ku kesal.

__ADS_1


__ADS_2