Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Kepedean Haris


__ADS_3

"Bukan cerewet, tapi ngingetin, hihihi!" ujar Billy sembari cekikikan dan mencubit gemas pipi ku.


"Ya lah," balas ku pasrah.


Setelah itu, aku pun mengambil minuman dan rokok yang sudah di sediakan Billy, dan membawa nya ke meja Haris. Selesai menuangkan minuman itu ke dalam gelas, aku pun kembali bertanya sambil memegang kertas kecil dan pena.


"Mau nyanyi apa, bang?" tanya ku dengan posisi tegak di samping kursi Haris.


"Nggak, aku gak mau nyanyi. Kau saja yang nyanyi, kami mau mesra-mesraan saja disini," jawab Haris dan kembali bercumbu mesra dengan wanita nya.


Haris tampak sengaja melakukan semua itu di depan ku, agar aku kepanasan dan cemburu pada nya.


"Cih, murahan sekali perbuatan mu itu!" umpat ku dalam hati, lalu melenggang pergi menuju ruangan DJ.


Setelah menulis beberapa judul lagu, aku pun menyerahkan kertas kecil itu kepada Bayu, sang DJ tempat ku bekerja.


"Nah, ini lagu meja kami ya!" ujar ku.


"Oke," jawab Bayu lalu menyerahkan dua buah microfon pada ku.


Setelah itu, aku pun kembali berjalan ke meja Haris, dengan membawa dua mikrofon di tangan ku.


Aku mendudukkan diri di kursi yang berada tepat di depan Haris, dan mulai bernyanyi ria tanpa memperdulikan kegiatan mereka yang sedang bercumbu mesra.


🌺🌺🌺


Selamat datang cinta, selamat datang kasih. Ku sambut kehadiran mu, sayang...


Selamat tinggal duka, selamat tinggal derita. Ku harap kepergian mu, hoooo...


Berikan aku masa, tuk meraih bahagia. Setelah sekian lama, ku berair mata...


Berikan aku masa, untuk menggapai cita. Merasakan bahagia, dalam cinta... kasih... sayang...


🌺🌺🌺


Aku terus saja bernyanyi sambil sesekali melirik ke arah Haris, yang tampak sudah mulai menghentikan kegiatan nya setelah mendengar nyanyian ku.


Selesai menyanyikan sebuah lagu, aku pun meneguk minuman keras itu hingga tandas satu gelas. Setelah itu, aku pun kembali bernyanyi...


🌺🌺🌺


Sudah ada mawar putih, jangan cari yang merah... Sudah punya cinta suci, jangan cari masalah...


Mahkota cinta ku berikan, benang sari jangan lah bimbang. Jaga... jaga...


Jaga jaga jaga... Setia...


Sudah ada mawar putih, jangan cari yang merah. Sudah punya cinta suci, jangan cari masalah...


Saat hendak melanjutkan nyanyian ku, tiba-tiba Haris merampas microfon yang sedang aku pegang dengan kasar. Hingga membuat ku terkejut dan menatap tajam pada nya.


"Woy, setan! Kau ini apa-apaan sih? Kasar banget jadi laki-laki," umpat ku kesal.


Aku membentak Haris dengan mata terbelalak selebar-lebar nya.

__ADS_1


"Udah, gak usah nyanyi lagi! Sakit kuping ku denger nya," cibir Haris lalu meletakkan microfon itu ke atas meja.


Aku membuang nafas kasar, lalu kembali meneguk minuman itu sampai habis satu gelas. Kemudian aku meletakkan gelas nya dengan sedikit kasar, hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras, dan membuat Billy reflek menoleh ke arah meja kami.


Karena tidak ingin terjadi apa-apa dengan ku, Billy pun datang menghampiri lalu bertanya...


"Ada apa, Ndah?" tanya Billy yang sudah berdiri tegak di samping ku.


"Nggak ada apa-apa," jawab ku dingin.


"Yakin?" tanya Billy lagi.


"Ya," jawab ku.


Billy melirik sinis ke arah Haris yang sedang terbengong di tempat duduk nya. Setelah itu, Billy pun kembali bertanya pada ku.


"Kalau ada apa-apa, bilang aja sama aku ya!" ujar Billy.


"Iyaaaa... Udah ah, pergi sana!" usir ku lalu berdiri di depan Billy dan mendorong pelan tubuh nya.


"Oke oke, aku akan pergi sekarang. Tapi ingat, aku akan pantau pergerakan kalian dari sana," balas Billy sembari menunjuk ke arah meja kasir.


Aku tidak menjawab perkataan Billy, dan terus mendorong tubuh nya untuk kembali ke tempat nya semula. Karena terus mendapat desakan dari ku, akhirnya Billy pun pasrah dan kembali ke tempat nya.


Setelah kepergian Billy, Haris pun menatap tajam pada ku. Ia tampak kesal melihat kedekatan ku dengan Billy barusan.


"Kau itu sebenarnya pakai pelet apa sih? Kenapa semua laki-laki lengket dan patuh seperti itu dengan mu?" tanya Haris heran.


"Nggak usah sibuk ngurusi urusan pribadi ku. Kau urusi saja hidup mu sendiri dan cewek seksi mu itu," jawab ku ketus, lalu menunjuk ke arah wanita yang sedang menyandarkan kepala nya di bahu kekar Haris.


Mendengar penuturan ku, Haris pun tersenyum jahat dan semakin menajamkan tatapan nya pada ku. Ia berpikir, kalau aku sedang cemburu dengan nya.


"Cuih, sorry-sorry bae lah. Aku nggak bakalan sudi cemburu dengan manusia luknut seperti mu, camkan itu baik-baik!" tegas ku sembari meludah ke lantai.


Aku memalingkan pandangan ke sembarang arah, untuk menghindari tatapan horor Haris.


"Helehh, bohong. Aku sangat yakin seratus persen, kalau kau sedang cemburu dengan ku. Ya kan, ngaku aja deh! Tinggal ngomong iya aja kok, pake acara malu-malu segala, hahahaha!" oceh Haris sembari tertawa ngakak.


"Uweeekkk, mual aku dengar nya!" cibir ku sembari berpura-pura ingin muntah, di depan lelaki yang super duper pede tersebut.


"Halaaah, gak usah munafik gitu lah! Aku tau, kau itu sebenarnya masih cinta mati dengan ku. Ya kan, bener gak?" oceh Haris masih dengan kepedean tingkat dewa.


Aku memutar bola mata malas, mendengar ocehan-ocehan receh nya. Sebenarnya aku sudah muak menghadapi tingkah laku Haris, dan ingin cepat-cepat pergi dari hadapan nya.


Tapi semua itu tidak dapat aku lakukan, karena tuntutan kerja yang harus aku laksanakan.


"Hufff, sabar Ndah, sabar. Anggap saja dia orang gila yang lagi nyasar kesini," ucap ku dalam hati.


Aku menyemangati diri sendiri agar tetap tabah dan sabar, dalam menghadapi manusia titisan iblis yang ada di hadapanku itu. Untuk mengalihkan perhatian Haris, aku pun memandangi botol-botol kosong yang ada di atas meja, lalu berkata...


"Minuman nya sudah habis tuh. Udah, pulang sana! Ngapain masih nonggok di sini?" oceh ku ketus.


Mendengar ucapan ku, Haris pun reflek mengalihkan pandangan nya ke atas meja, dan melihat minuman yang sudah pada habis di dalam botol, dan juga di dalam gelas nya.


"Gimana, sayang? Mau lanjut disini, atau di tempat lain?" tanya Haris kepada wanita seksi nya.

__ADS_1


"Lanjut di tempat lain aja, bang. Aku sudah bosan minum disini, suasana nya kurang asik," jawab wanita itu.


"Oke, sayang ku," balas Haris lalu mengecup kilat bibir wanita nya.


Aku yang sedari tadi duduk di depan mereka pun, masih tetap acuh dan tidak memperdulikan tingkah mereka berdua. Sedang asyik menikmati rokok, tiba-tiba Haris menepuk lengan ku dan menyerahkan beberapa lembar uang merah ke tangan ku.


"Nah, ini uang minuman kami. Kalau ada sisa nya, ambil saja untuk tambah-tambahan makan siang mu besok!" ujar Haris dengan sombong nya.


"Ya, makasih," balas ku dengan wajah tanpa ekspresi.


Setelah menyerahkan uang itu, Haris pun beranjak dari tempat duduk nya lalu melangkah keluar, sambil merangkul pundak wanita seksi itu dengan mesra.


"Hufff, akhirnya pergi juga si kutu kupret gila satu itu!" umpat ku sembari bernafas lega.


Aku hanya tersenyum miring dan menggeleng-gelengkan kepala, melihat kelakuan mantan pacar ku tersebut. Setelah kepergian Haris, aku pun segera bangkit dari kursi dan berjalan ke arah meja kasir, untuk membayar tagihan minuman Haris.


"Bil, berapa tagihan minuman tadi?" tanya ku lalu mendudukkan diri di kursi bartender.


Billy pun mulai mengotak-atik mesin penghitung nya dengan jari-jari lincah nya. Setelah selesai, ia pun menunjukkan hasil ketikan nya pada ku.


"Nah, ini total nya!" ujar Billy.


"Oh, oke," jawab ku.


Setelah melihat jumlah nya, aku pun menyodorkan uang pemberian Haris tadi ke depan Billy.


"Ini uang nya!" ujar ku.


"Oke, bentar ya!" balas Billy lalu mengambil uang itu, dan menyimpan nya di dalam laci. Setelah itu, ia pun memberikan kembalian nya ke tangan ku.


"Nah, ini kembalian nya?" ujar Billy.


"Oke, makasih ya," ucap ku lalu turun dari kursi bartender dan melangkah keluar dari ruangan.


"Ya," jawab Billy sembari tersenyum manis menatap kepergian ku.


Sesampainya di luar, aku duduk di bangku panjang dan kembali bergabung dengan Ririn, dan teman-teman waiters lain nya.


"Gimana, Ndah?" tanya Ririn membuka percakapan.


"Gimana apa nya?" tanya ku bingung.


"Halah, masa gitu aja gak paham sih?" tanya Ririn dengan kening mengkerut.


Ririn menatap wajah ku dengan tatapan menyelidik. Ia tampak begitu penasaran dengan cerita ku, saat melayani Haris tadi. Karena tidak mendapatkan jawaban dari ku, Ririn pun kembali mengoceh seperti beo.


" Oalah biyung... biyung... Punya kawan kok gini amat yak?" gerutu Ririn kesal sambil mengacak-acak rambut nya sendiri.


"Emang aku kenapa?" tanya ku bingung sembari menautkan kedua alis.


"Makin hari kok makin lola (loading lama) aja otak mu yang seuprit ini, heran aku!" ledek Ririn menoyor jidat ku.


"Bukan lola, tapi mendadak pikun, hehehehe!" jawab ku asal sembari nyengir kuda.


"Ya ya ya, suka hati kau lah situ!" balas Ririn pasrah.

__ADS_1


"Hihihi, ngambek niyeee!" ledek ku cekikikan dan menoel-noel dagu nya.


"Cih, ora sudi. Ngapain juga aku harus ngambek? Buang-buang energi aja," balas Ririn ketus, lalu bersidekap dan memalingkan wajah nya ke samping.


__ADS_2