Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Curhat Dengan Ririn


__ADS_3

Pagi menjelang, suara deru kendaraan bermotor yang saling bersahutan selalu menghiasi setiap pagi siang dan malam ku.


Karena apa? Ya, karena tempat tinggal ku yang berada di pusat kota yang tidak pernah tidur.


Aku membuka mata dan menggeliat sejenak, lalu beranjak dari kasur dan membuka gorden serta kaca jendela kamar. Lalu kemudian, aku berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai, aku kembali lagi ke kamar dan melihat teman tidur ku masih setia dengan mimpi indah nya di bawah selimut.


Aku melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi.


"Bang, bangun! Udah jam delapan nih, emang nya abang gak kerja ya?" tanya ku.


Aku mengguncang-guncang pelan lengan Haris, dan dia pun langsung membuka mata lalu menggeliat kan badan nya.


"Hoam, jam berapa ini, Ndah?" tanya Haris.


Haris menguap lebar sambil mengucek-ngucek mata nya.


"Udah jam delapan tuh!" jawab ku sambil menunjuk ke arah jam dinding.


"Waduh, abang bisa terlambat nih, Ndah." jawab Haris terkejut dengan mata yang membulat.


"Ya udah, mandi sana gih! Udah tau terlambat masih aja di dalam selimut, bukan nya cepat-cepat bergerak dari tadi!" omel ku.


Bukan nya beranjak dari kasur, Haris malah menarik ku ke dalam dekapan nya. Aku yang sedang berjongkok membangun kan nya pun, langsung terjatuh di atas badan nya.


"Sayang, abang pengen." bisik Haris dengan suara serak khas bangun tidur.


"Udah terlalu lama puasa nih, sayang!" tambah Haris lagi.


Haris terus saja merengek dan menunjuk ke arah pangkal paha nya. Mata nya mulai sayu karena sedang di selimuti oleh gairah nya sendiri.


"Lah, tadi kata nya udah mau terlambat pergi kerja nya. Kok malah minta jatah pulak?" tanya ku heran.


"Sebentar aja, sayang. Biar abang makin semangat kerja nya ya!" bujuk Haris.


Haris kembali merengek manja dengan muka bantal nya. Aku hanya diam dan tidak menjawab ocehan nya itu.


Haris langsung cemberut karena melihat aku yang sama sekali tidak menjawab ucapan nya. Aku pun langsung tersenyum geli melihat ekspresi wajah nya yang imut itu.


"Boleh, sayang. Aku juga lagi pengen nih!" bisik ku di telinga nya.


Setelah mendengar jawaban ku, tanpa basa-basi lagi Haris langsung menerkam tubuh ku seperti singa yang sedang kelaparan.


Dan pada akhirnya, terjadi lah pergumulan panas di pagi hari yang indah nan cerah itu selama satu jam bersama Haris, orang yang sangat aku cintai itu.


Waktu terus bergulir, tanpa terasa malam pun tiba. Waktu nya untuk bekerja kembali. Setelah libur selama seminggu karena sakit, malam ini aku mulai beraktivitas lagi seperti biasa.


Sesampainya di lokasi kerja aku langsung bergegas mengisi absen. Setelah selesai, aku langsung berjalan ke kantin dan memesan makanan pada pelayan kantin.


"Mbak, aku pesan satu porsi ayam penyet ya, minum nya teh manis hangat!" pinta ku.


"Oke di tunggu ya, kak!" jawab si pelayan.


Selesai memesan, aku duduk di kursi plastik yang sudah tersedia di dalam kantin.

__ADS_1


Sambil menunggu makanan tiba, aku mengambil ponsel dari dalam tas dan mulai bermain game kesukaan ku.


"Woy, makan apa, Ndah?" pekik Ririn mengangetkan ku dari belakang sambil menepuk kedua pundak ku.


Aku yang sedang fokus dengan ponsel pun, langsung terperanjat dan melatah sambil mengelus dada berulang-ulang.


"Eh mampus kau eh mampus kau. Dasar kamvreeeet! Bikin jantungan aja nih bocah sedeng." umpat ku kesal.


"Hahaha, maka nya jangan melamun terus, Ndah. Ntar kesambet loh, baru tau rasa." jawab Ririn sambil tertawa terpingkal-pingkal.


"Iya nanti kalo aku kesambet, orang pertama yang aku cari itu dirimu." jawab ku asal.


"Iiihh, gak mau lah. Jangan ngomong yang gak-gak lah, Ndah! Aku jadi merinding nih." jawab Ririn.


Ririn mengelus-elus lengan nya dengan kasar. Dia juga celingukan kesana kemari seperti mencari sesuatu yang kasat mata. Aku terkekeh melihat gelagat Ririn yang sedang ketakutan seperti itu.


"Hahaha, takut juga ternyata dia." gelak ku.


"Bukan nya gitu, Ndah. Kau kan tau sendiri kalau tempat kerja kita ini banyak penunggu nya." bisik Ririn.


"Maka nya aku jadi serem dengar omongan mu tadi." tambah Ririn lagi.


"Ya penunggu nya kan memang banyak sih, Rin. Ada dua puluh orang tuh. Ada kau, aku dan mereka semua." jawab ku santai.


Aku menunjuk ke arah bangku panjang, tempat dimana teman-teman yang lain nya pada ngumpul.


"Eh, dodol! Maksud aku bukan itu, tapi tempat kita ini banyak setan nya." bisik Ririn pelan.


"Ya, dimana-mana juga banyak kalo yang begituan mah." balas ku.


"Udah, ah! Kok malah bahas yang begituan sih, bikin parno aja tau gak." ucap ku kesal.


"Kau mau makan apa? Pesan lah sana!" ujar ku mengalihkan pembicaraan.


"Oh iya ya, Ndah. Aku sampe lupa, hehe." balas Ririn cengar-cengir.


Ririn langsung memesan makanan nya kepada mbak pelayan kantin. Setelah itu, dia kembali duduk di hadapan ku.


"By the way, kemaren sakit apa, Ndah? Lama banget sih sakit nya. Sampe semingguan gitu gak masuk kerja!" tanya Ririn.


"Malaria sama magh ku juga kambuh. Biasa lah, akhir-akhir ini kan perut ku terlalu banyak mengonsumsi alkohol." jawab ku sembari mengelus-elus perut.


"Maka nya jangan di turuti kali permintaan tamu, Ndah!" balas Ririn.


"Kalo badan kita gak tahan jangan di paksa! Ya gitu lah jadi nya, kita pasti bakalan tumbang." lanjut Ririn.


"Iya sih, Rin. Tapi ya mau gimana lagi? Kalo gak di turuti gak bisa dapat uang. Sedangkan kau tau sendiri kalau tanggungan ku itu banyak." jawab ku.


"Aku kan harus kirim uang buat ayah dan nenek ku di kampung." tambah ku lagi.


"Kau ini janda, tapi tanggungan mu itu udah kayak emak-emak yang punya anak sepuluh orang aja." balas Ririn.


"Iya, sih. Kadang-kadang aku sampe gak pegang uang sama sekali loh, Rin." balas ku.


"Karena ayah ku sering minta uang secara tiba-tiba." lanjut ku sambil tertunduk di depan Ririn.

__ADS_1


"Bantu orang tua itu boleh, Ndah! Tapi ya harus ingat juga keadaan mu disini. Kita merantau di sini tanpa saudara atau kerabat lain nya, Ndah." balas Ririn.


"Kita yatim piatu di sini. Kalo kita sakit, siapa yang mau ngurusin? Siapa yang mau biayain kita coba?" tambah Ririn.


"Iya juga sih, Rin." balas ku.


"Kalo kita gak ada tabungan, kita sendiri yang bakalan susah nanti nya." lanjut nya lagi.


"Iya, aku tau. Aku juga kadang-kadang bingung dengan ayah ku." jawab ku.


"Emang nya ayah mu kenapa?" tanya Ririn.


"Entah kemana lari nya semua uang yang selama ini aku kirim kan buat ayah ku itu, Rin?"


"Itu yang selalu aku bingung kan, kenapa selalu aja kurang bagi nya?" ujar ku lirih.


"Ohh, kirain kenapa tadi!" balas Ririn


"Sedangkan, kalo cuma buat kebutuhan sehari-hari ayah ku aja. Aku rasa itu udah lebih dari cukup dari uang yang aku kirim itu." tambah ku lagi.


"Mungkin ada biaya lain, Ndah? Selain kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah misalnya." tebak Ririn.


Aku merenung sejenak memikirkan ucapan Ririn barusan. Ada benar juga sih ucapan Ririn itu.


"Iya juga ya, Rin. Nanti lah aku coba tanya kan ayah ku!" ujar ku.


"Kalo memang bener uang itu untuk biaya sekolah adik-adik ku, aku mau protes sama ayah ku!" lanjut ku tegas.


"Loh, kok malah protes sih, Ndah? Kan malah bagus sih kalo adik-adik mu bisa sekolah tinggi?" tanya Ririn bingung.


Aku memejamkan mata, sambil menghela nafas dalam-dalam. Lalu aku pun mulai menjelaskan kembali kepada Ririn tentang masalah yang sebenarnya.


"Bukan itu masalah nya, Rin. Kedua adik ku itu udah pada dewasa. Hubungan ku dengan mereka juga udah lain jalur." jelas ku.


"Lain jalur? Maksud nya gimana sih?" tanya Ririn semakin bingung.


"Kami memang satu ayah, tapi lain emak." jawab ku.


"Oohh, pantesan lah." balas Ririn sambil manggut-manggut menanggapi penuturan ku tadi.


"Maka nya itu, Rin. Kalo semua biaya dan kebutuhan mereka di limpahkan pada ku, jujur aja aku gak sanggup, Rin." ujar ku.


"Tugas ku itu cuma membiayai ayah dan nenek yang sudah membesar kan ku sedari kecil. Kalo untuk kedua adik ku, itu bukan tanggung jawab ku." jelas ku lagi.


"Karena ibu mereka juga masih ada kok. Masih segar dan sehat wal'afiat." ujar ku.


"Iya bener juga sih, Ndah." balas Ririn.


Setelah perbincangan ku dengan Ririn selesai, makanan kami pun tiba dan sudah terhidang di atas meja.


"Silahkan, kak!" ucap pelayan kantin dengan ramah.


"Oke makasih ya, mbak." balas kami serempak.


Setelah kepergian mbak pelayan, aku dan Ririn pun mulai memakan makanan itu dengan santai tanpa percakapan apa pun lagi.

__ADS_1


Setelah selesai makan, aku dan Ririn segera beranjak dari kantin dan kembali bergabung bersama teman-teman lain nya.


__ADS_2