Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Kejadian Aneh


__ADS_3

"Rin, buka pintu nya!" pekik ku kuat.


"Iya, sebentar!" jawab Ririn dari dalam.


Ririn bergegas membuka pintu kamar nya, lalu memberikan tatapan yang menusuk kepada ku.


"Apa kau tengok-tengok? Biji mata mu itu mau aku colok ya, hahaha?" tantang ku sembari tertawa terbahak-bahak.


"Udah gini kau, ya!"


Ririn menjawab, sembari menempel kan jari telunjuk di kening nya dengan posisi miring. Dia mengatakan kalau aku sudah tidak waras.


"Dikit, hehehe." balas ku cengar-cengir.


Ririn hanya menggelengkan kepala nya, melihat kelakuan ku itu. Dia kembali masuk ke dalam kamar, tanpa menghiraukan ku yang masih berdiri di depan pintu.


"Eh, kamvret. Kok aku gak di suruh masuk, sih? Ada tamu datang, bukan nya di ajak masuk kek, di suguhkan makanan kek. Ini malah di cuekin gitu aja." omel ku panjang lebar.


"Halah, lebay banget sih jadi orang. Tinggal masuk aja kok ribet amat, pake acara di suruh-suruh segala." gerutu Ririn.


"Nama nya juga tamu spesial, ya harus di istimewa kan lah." jawab ku cuek sembari melangkah masuk ke dalam.


"Helehh, gaya mu." cibir Ririn.


Aku duduk menyandar di dinding, sambil selonjoran di atas lantai yang sudah dialasi dengan karpet bulu. Begitu juga dengan Ririn, dia duduk di samping ku sembari mengotak-atik ponsel nya.


"Kau udah makan belum, Ndah?"


Ririn bertanya tanpa menoleh sedikit pada ku. Dia masih saja fokus memandangi ponsel yang ada di tangan nya. Aku hanya diam membisu, tanpa menjawab sepatah kata pun ucapan nya.


Karena tidak mendapatkan jawaban dariku, Ririn pun kembali mempertanyakan hal yang sama dengan ku.


"Kau udah makan apa belum, Indaaah?" tanya Ririn lagi dengan nada sedikit kesal.


"Kau ngomong sama siapa, Rin?" tanya ku pura-pura bingung.


Dengan perasaan dongkol, Ririn pun langsung menoleh pada ku. Dia menepuk kuat lengan ku sembari berucap...


"Ya ngomong sama mu lah, dodol! Emang nya kau pikir aku ngomong sama siapa, kalau bukan sama mu, hah? Sama hantu?" oceh Ririn.


"Siapa tau aja, ada dedemit mu di kamar ini, hiiiiii." jawab ku asal sembari bergidik ngeri.


"Sembarangan, mana ada dedemit ku disini. Ngawur aja kalo ngomong." gerutu Ririn.


"Udah ah, gak usah ngomongin yang aneh-aneh lagi! Bikin merinding aja."


Ririn berucap sambil celingukan kesana sini. Dia memperhatikan sekeliling kamar nya sendiri dengan gelisah. Raut wajah nya seolah-olah memperlihatkan, rasa ketakutan dan kekhawatiran.

__ADS_1


"Heh, kau kenapa, Rin? Kok kayak ketakutan gitu?" selidik ku.


Aku membentak dan menepuk bahu Ririn secara tiba-tiba. Dan itu berhasil membuat nya sangat terkejut, dan membelalakkan mata nya pada ku.


"Ssstttt, jangan ngomong sembarangan disini, Ndah!" bisik Ririn sembari menempel kan jari telunjuk di bibir nya.


"Emang nya kenapa?" balas ku pelan.


Aku merasa sangat penasaran, karena melihat gelagat Ririn yang tampak semakin ketakutan, sambil terus memandangi sekitar kamar nya.


"Ada apa sebenarnya, Rin? Kenapa kau ketakutan gitu?" tanya ku lagi.


Aku mengulangi pertanyaan ku, karena belum mendapatkan jawaban apa pun dari bibir Ririn.


Setelah menghembuskan nafas kasar, Ririn pun mulai menceritakan kejadian-kejadian aneh, yang di alami nya beberapa hari terakhir ini.


"Kayak nya, aku mau pindah aja dari sini, Ndah." ucap Ririn.


"Loh, kok pindah? Emang nya ada apa, sih?" tanya ku mengerutkan kening.


"Aku udah gak tahan lagi tinggal disini, Ndah. Dalam seminggu terakhir ini, ada aja kejadian-kejadian aneh, yang bisa membuat bulu kuduk ku meremang." jelas Ririn dengan nada pelan.


"Kejadian aneh yang bagaimana, maksud nya?" tanya ku semakin penasaran.


"Ya, seperti suara orang nangis lah, suara anak kecil lagi main di depan kamar ku lah. Trus yang lebih parah nya lagi, barang-barang ku sering jatuh sendiri dari tempat nya. Aneh kan?" jelas Ririn lagi.


"Iiihhh, kok jadi serem gitu sih disini. Emang ada masalah apa sebelum nya? Coba kau ceritakan kejadian awal nya!" ujar ku.


Setelah mendengar ucapan ku, Ririn langsung termenung sejenak. Dia tampak sedang berpikir, dan mengingat-ingat sesuatu.


"Awal mula nya itu, waktu aku baru pulang kerja seminggu yang lalu, Ndah. Pas aku jalan sendirian di lorong, aku ada dengar suara orang nangis."


"Trus, aku langsung berhenti. Aku celingukan kesana kesini, untuk mencari sumber suara itu. Tapi ternyata gak orang sama sekali, semua kamar tampak sunyi senyap."


Ririn menghela nafas dalam-dalam. Dia menatap lurus ke arah pintu dengan pandangan kosong.


"Trus, apa lagi?" desak ku.


"Trus, tiba-tiba bulu kuduk ku merinding. Perasaan ku juga gak enak, aku langsung lari kocar-kacir masuk ke dalam kamar."


"Setelah itu, aku langsung baring ke atas kasur, sambil baca ayat-ayat pendek sampe aku ketiduran dengan sendirinya." jelas Ririn.


"Emang nya penghuni kamar yang lain, gak ada yang dengar suara itu, ya?" tanya ku.


"Kayak nya sih gak ada, Ndah. Karena, mereka semua gak ada yang komplain tentang kejadian itu." jawab Ririn.


"Mungkin mereka udah pada tidur, Ndah. Maka nya mereka gak ada yang bisa mendengar, suara-suara aneh itu." lanjut Ririn.

__ADS_1


"Bisa jadi, Rin. Kalo jam empat pagi, itu waktu enak-enak nya tidur tuh." ujar ku membenarkan ucapan nya.


"Tu lah, maka nya aku mau pindah aja dari sini, Ndah. Dari pada aku ketakutan terus tiap hari." ujar Ririn.


"Iya juga sih, Rin. Kalau sampai aku yang ngalami kejadian kayak gitu, aku juga pasti bakalan pindah secepat nya, dari kos-kosan ini." balas ku.


Aku manggut-manggut, sembari memperhatikan setiap sudut kamar Ririn. Aku memang sedikit merasakan, ada hawa dingin yang agak berbeda, di dalam kamar Ririn tersebut.


"Nanti temani aku cari kos-kosan, yang dekat dengan tempat kerja kita ya, Ndah!" pinta Ririn.


"Oke, nanti kita cari sama-sama. Sekarang, kita ke kamar Rara, yok! Biar gak kesorean nanti nyari kos-kosan nya." ajak ku.


"Oke," balas Ririn.


Aku dan Ririn langsung bergegas keluar dari kamar. Setelah mengunci pintu, Ririn menggandeng lengan ku, dan mengajak ku berjalan beriringan bersama nya.


Kami berdua melangkah menuju kamar Rara, yang hanya berjarak tiga kamar dari kamar Ririn. Sesampainya di depan pintu kamar Rara, Ririn pun mengetuk-ngetuk pintu, sambil memanggil nama sahabat kami tersebut.


Tok tok tok...


"Buka pintu nya, Ra! Rara, ayo kita pergi sekarang!" pekik Ririn dengan suara cempreng nya.


"Hussh, kecilin dikit suara mu! Nanti takut nya mengganggu kamar yang lain." bisik ku menyenggol lengan Ririn.


"Bodo amat, emang gue pikirin!" balas Ririn cuek.


"Eh, kamvret! Di bilangin bener-bener, kok malah ngeyel pulak." balas ku geram sembari mencubit pelan tangan Ririn.


"Aduuuh! Sakit, dodol."


Ririn meringis kesakitan akibat cubitan ku barusan.


"Halah, lebay. Muka-muka penipu ya gini ini. Mirip kayak muka mu sekarang, hahaha." ledek ku.


"Kurang ajar betul kau, lampir. Tega kali bilangin muka imut ku ini, kayak muka penipu. Kayak gak ada perumpamaan lain aja." gerutu Ririn tidak terima.


Sedang asyik bercekcok ria dengan Ririn, tiba-tiba pintu kamar Rara terbuka lebar. Rara berdiri di depan pintu, dengan muka bantal nya, dan rambut yang acak-acakan.


"Loh, kau baru bangun ya, Ra?" tanya Ririn heran.


"Iya, emang nya ada apa kalian ribut-ribut di depan kamar ku?" tanya Rara.


"Oalah, kok malah nanya pulak dia." sungut Ririn sembari menoyor jidat Rara.


"Emang nya kau gak ingat, tentang rencana kita semalam?" lanjut Ririn.


"Oh iya, aku lupa." jawab Rara dengan santainya.

__ADS_1


__ADS_2