
Kring kring kring...
"Hadeeh, siapa sih! Ganggu orang lagi tidur aja, hoam." gerutu ku kesal.
Aku terbangun karena mendengar suara dering ponsel. Sambil menguap lebar, aku pun menerima panggilan tersebut.
"Halo, siapa nih?"
Aku bertanya dengan suara serak khas bangun tidur, sembarimengucek-ngucek mata.
"Bangun, Ndah! Udah sore nih." jawab Haris.
"Iya, ini kan udah bangun sih, bang. Kalau aku belom bangun, trus yang nerima panggilan dari abang ini siapa?" balas ku sewot.
"Dia kira yang lagi ngomong ini demit apa, aneh-aneh aja nih orang." gerutu ku dalam hati.
"Iya maaf, sayang. Abang cuma bercanda aja kok. Jangan marah ya, sayang." balas Haris.
Aku langsung tersenyum mendengar ucapan lelaki ku itu. Mata yang tadi nya mengantuk kini menjadi cerah, secerah sang mentari.
"Oke, berhubung aku lagi baik hati hari ini, aku akan maaf kan kesalahan abang. Tapi lain kali, jangan harap mendapatkan maaf dari ku." ujar ku.
"Hahaha, kok gitu sih, Ndah. Berarti baik hati nya gak tiap hari ya?" ujar Haris terkekeh mendengar penuturan ku barusan.
"Kok malah ketawa sih, bang! Emang nya ada kata-kata ku tadi ada yang lucu ya?" tanya ku heran sambil mengerutkan kening ku.
"Ya lucu lah, Ndah. Masa ada hari-hari tertentu untuk berbaik hati? Aneh-aneh aja kamu itu, Ndah...Ndah." balas Haris.
"Udah ah, gak usah di bahas lagi! Ngantuk ku jadi hilang nih gara-gara abang." balas ku.
Aku mulai kesal karena Haris sudah mengganggu waktu istirahat ku. Setelah mendengar ocehan ku, akhirnya Haris pun mengalah.
"Oke, abang minta maaf ya, sayang. Sudah mengganggu waktu tidur nyenyak mu itu." balas Haris mulai memelas.
"Ya udah, gak usah di omongin lagi masalah itu. Lagian aku juga udah gak ngantuk lagi kok, ganti topik lain aja!" usul ku.
"Oke, siap tuan putri. Tuan putri udah makan belom?" tanya Haris.
"Belom, tuan raja. Emang nya kenapa nanya-nanya aku udah makan apa belom?" tanya ku tak mau kalah.
"Hahaha, udah mulai pandai sekarang membalas kata-kata abang ya, Ndah." Haris kembali terkekeh mendengar ocehan ku.
"Ya pandai lah, kan ada abang sebagai guru privat nya." jawab ku ketus.
"Iya juga sih, hehehe. By the way gimana, Ndah? Mau abang bawain makanan apa ke kos mu?" tawar Haris.
"Gak usah, bang. Aku makan mie aja dulu untuk mengganjal perut, nanti malam aja aku makan nasi nya." tolak ku.
"Beneran nih, gak mau abang bawain makanan?" Haris bertanya lagi.
__ADS_1
"Iya beneran, bang. Udah dulu ya, bang! Aku kebelet buang air kecil nih." balas ku .
"Oke, Ndah." Haris menutup panggilan nya.
Karena saking kebelet nya, aku berlari kecil ke kamar mandi sambil memegangi area sensitif ku.
"Mandi sekalian, ah! Lagian udah sore juga, waktu pergi kerja nanti udah gak perlu mandi lagi." gumam ku.
Selesai mandi, aku melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim yaitu shalat. Karena apa pun pekerjaan ku dan sebejat apa pun perbuatan ku, aku akan tetap melaksanakan kewajiban ku itu.
Ya walau pun kadang-kadang ada yang bolong juga sih. Selesai shalat, aku menyeduh teh manis hangat dan meletakkan nya di lantai. Kemudian aku mengambil roti tawar dan selai kacang, yang berada di atas bufet.
Aku selalu menyediakan makanan di kamar, seperti mie instan cup siap saji, segala macam jenis roti, kerupuk dan segala macam snack dan coklat.
Semua makanan itu memang sengaja aku sediakan untuk jaga-jaga. Di saat perut keroncongan dan malas untuk turun ke bawah, aku bisa mengganjal perut dengan makanan yang ada di kamar saja.
Selesai menyeduh teh, aku mengambil mie instan cup dan menyiram nya dengan air panas dari dispenser. Lalu mendiamkan nya selama lima menit.
Setelah mie instan nya siap untuk di santap, aku duduk melantai sambil memakan mie tersebut.
Selesai memakan mie, lanjut lagi memakan roti tawar yang sudah di lumuri dengan selai kacang sebanyak dua lembar. Setelah itu, meneguk teh manis hangat satu gelas sampai tandas.
"Eeeggh, alhamdulillah." aku bersendawa karena kekenyangan.
"Ternyata besar juga lambung ku ini. Sampai bisa memuat makanan sebanyak itu." gumam ku sambil mengelus-elus perut ku sendiri.
Pikiran ku jadi ngelantur kemana-mana jika mengingat kejadian semalam. Aku langsung tersenyum-senyum sendiri memikirkan nya. Bayangan wajah nya juga selalu menari-nari indah di ingatan ku.
"Ya Allah, ada apa ini? Kenapa aku jadi seperti ini? Kenapa aku jadi kepikiran dia terus?" batin ku.
Sedang asyik-asyiknya menghayal dan menerawang, tiba-tiba orang yang sedang aku pikirkan pun kembali menghubungiku
"Wah, panjang umur nih orang. Sedang di pikirin malah video call, pucuk di cinta ulam pun tiba." gumam ku.
"Apa jangan-jangan dia juga memikirkan ku, ya? Hahaha, ngayal terus kau Ndah...Ndah..." Aku geli sendiri dengan khayalan konyol ku itu.
"Halo ada apa, bang?" tanya ku menerima panggilan video dari Haris.
"Assalamualaikum, Ndah." salam Haris.
"Eh iya wa'laikum salam, bang. Hehehe." jawab ku cengar-cengir.
Aku jadi salah tingkah sendiri, karena mendengar sindiran halus dari Haris barusan. Aku jadi malu sendiri karena tidak mengucapkan salam, saat menerima panggilan nya.
"Lagi ngapain, Ndah?" tanya Haris.
"Lagi santai, bang. Baru siap makan mie instan yang praktis dan irit tentunya."
Aku menjawab dengan santai dan sesekali menghisap rokok yang ada di tangan ku. Haris hanya tersenyum melihat tingkah ku itu.
__ADS_1
"Mie lagi mie lagi, apa gak bosan makan mie terus, Ndah? Tadi mau di belikan makanan malah gak mau!" protes Haris.
"Gak usah, bang! Makasih ya, udah perhatian sama aku. Takut nya malah jadi ngerepotin abang" balas ku.
"Lagian aku sudah biasa seperti ini kok, bang. Abang gak usah khawatir, anak rantau itu harus kuat. Kuat mental, kuat jiwa, kuat raga, kuat semua lah pokok nya." oceh ku panjang lebar.
"Ngeles aja kalo di bilangin Tapi lain kali harus mau ya, kalau abang bawain makanan" paksa Haris.
"Iya, bang. Lain kali aku bakalan mau kok. Mau banget malah, hehehe." jawab ku sembari nyengir kuda.
"Oke, tapi beneran ya, Ndah. Awas kalo gak mau!" ancam Haris.
"Widiih, ngancam pulak dia, hahaha." canda ku sambil terkekeh.
"Abang serius, Ndah. Gak lagi bercanda dan gak main-main. Jadi sekarang mau makan apa lagi, Ndah? Biar abang antar kan,
ke kos mu." tawar Haris masih tetap kekeuh.
"Hmmm, kalau aku lagi menginginkan dirimu aja gimana, bang? Kira-kira boleh gak ya?" tanya ku malu-malu.
"Beneran, Ndah? Ini serius gak sih? Jangan bikin aku kegeeran lah, Ndah!" tanya Haris dengan wajah yang berbinar.
"Jangan buat aku gak bisa tidur nanti malam gara-gara mikirin ucapan mu itu, Ndah." lanjut Haris.
Haris terus saja bertanya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Salah tingkah dia jadi nya, hihihi." aku membatin dan terkikik geli melihat tingkah nya yang lucu itu.
"Gak lah, bang. Aku bercanda aja kok, jangan di masukkan ke hati ya! Cukup masukkan ke jantung aja, ups." canda ku.
Aku tersenyum dan reflek menutup mulut dengan kedua tangan ku. Wajah Haris langsung berubah masam, setelah mendengar penuturan ku barusan.
"Tuh kan, tega banget sih ngerjain orang. Awas aja nanti kalo ketemu, gak akan aku kasi ampun pokok nya. Lihat aja nanti!" ancam Haris.
"Waduh, pake acara ngancem segala dia. Gak takut, weekk." ledek ku.
Aku menjulurkan lidah dan tertawa lepas meledek ancaman receh Haris barusan.
"Lihat aja nanti, aku bakalan gigit itu lidah nakal nya!" balas Haris kesal.
"Hahaha, coba aja kalo bisa!" balas ku kembali terkekeh.
Selesai ngobrol ngalor-ngidul, dan bercanda ria bersama Haris. Akhirnya, dia pun pamit undur diri. Ada urusan penting kata nya.
Setelah panggilan dari Haris berakhir, aku merebahkan diri kembali ke atas kasur. Aku mulai menghayal lagi, tentang lelaki yang saat ini sedang bersarang di hati ku itu.
"Haris...Haris...Kau membuat hari-hari ku yang hitam menjadi lebih berwarna. Kau membuat hidup ku jadi lebih indah. Dan kau lah segalanya bagi ku."
"Aku mencintai mu Haris, sangat mencintai mu." gumam ku pelan dengan pandangan menerawang.
__ADS_1