Terpaksa Jadi Wanita Penghibur

Terpaksa Jadi Wanita Penghibur
Di Gilir


__ADS_3

Di dalam ruangan yang remang-remang dan suara musik yang berdentum kuat, bang Hendra pun memanfaatkan ketidak sadaran ku. Dia membuka semua pakaian ku dan mulai menggerayangi tubuh ku.


Sedangkan Alex, teman bang Hendra itu hanya duduk santai dengan gelas di tangan nya. Dia menonton secara langsung perbuatan bang Hendra dengan ku.


Karena pengaruh alkohol yang masih bersarang di tubuh ku, aku membalas semua cumbuan bang Hendra yang aku kira adalah Haris.


"Wow, kau sangat buas dan liar, sayang. Abang sangat suka dengan gerakan mu ini." bisik bang Hendra.


Aku dan bang Hendra saling memberi dan menerima satu sama lain. Kami memadu kasih di dalam ruangan VIP room tersebut.


Dan Alex, dia tampak sangat tergiur dengan adegan panas yang ada di depan mata nya. Alex pun mulai beranjak dari tempat duduk nya lalu mendekat ke arah kami berdua.


Alex juga ikut membuka semua pakaian nya dan bergabung bersama kami. Kedua lelaki itu menggerayangi tubuh ku secara bergantian.


Saking mabuk nya, aku sampai tidak sadar kalau lelaki yang bercinta dengan ku ternyata ada dua orang. Bang Hendra dan Alex mencumbu dan berpacu di atas tubuh ku secara bersamaan.


"Indah, kau memang wanita yang sangat luar biasa. Tubuh mu sangat indah sama seperti nama mu." bisik bang Hendra.


"Iya, Hen. Tubuh nya mulus banget montok lagi." Alek menimpali ucapan bang Hendra.


Aku tidak menjawab apa pun ucapan mereka berdua yang sedang asyik bermain-main dengan tubuh ku.


"Indah, kenapa waktu itu kau pergi tanpa pamit dengan ku. Padahal aku sangat menginginkan mu hari tu." bisik bang Hendra.


"Dan malam ini akhir nya aku bisa mendapatkan mu juga, hahaha." lanjut bang Hendra.


Bang Hendra tertawa bahagia karena sudah mendapatkan keinginan nya. Dia terlihat sangat senang karena bisa merasakan tubuh ku bersama teman nya.


"Hen, emang nya gak bermasalah nanti nya kalo kita gilir dia kayak gini?" tanya Alex sedikit cemas.


"Gak papa, Lex. Nanti kita kasih aja dia uang yang banyak. Pasti dia gak akan mempermasalahkan soal permainan kita ini." jawab bang Hendra dengan santai.


"Tapi aku agak takut, Hen." jawab Alex.


"Udah santai aja, bro! Kita nikmati aja tubuh yang indah ini sampai puas." jawab bang Hendra.


Setelah bang Hendra dan Alex selesai berbincang, mereka kembali melakukan kegiatan nya di atas tubuh ku dengan lembut dan mesra. Sehingga membuat ku merasa melayang-layang saking nikmatnya.


"Apakah kau menikmati nya, Ndah?" tanya bang Hendra.


"Iya, bang Haris. Aku sangat menikmati nya." jawab ku masih dengan mata terpejam.


Aku menyebut nama Haris karena dalam pandangan mata ku sekarang, orang yang sedang berada di atas tubuh ku itu adalah Haris.


Setelah bang Hendra selesai, kini giliran Alex yang melanjutkan permainan nya dengan ku. Alex juga melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan bang Hendra pada ku.


Setelah Alex menghentikan aksinya, bang Hendra kembali meneruskan kegiatan nya dengan ku. Dan begitu lah seterusnya sampai berjam-jam lamanya.


Hingga akhirnya, bang Hendra dan Alex pun menyelesaikan permainan mereka masing-masing. Selesai berpakaian, bang Hendra mendekati ku dan memakai kan pakaian ku kembali.


Bang Hendra juga merapikan rambut ku, hingga membuat penampilan ku kembali seperti semula.

__ADS_1


Setelah itu, bang Hendra mengangkat tubuh ku ke atas sofa. Dia mendudukkan ku tetap di tengah-tengah mereka berdua.


"Apakah kau bahagia malam ini, Ndah?" tanya bang Hendra.


Aku hanya mengangguk menanggapi ucapan bang Hendra. Aku menatap wajah bang Hendra dengan mata yang sayu dan pandangan yang sedikit kabur.


Bang Hendra tersenyum lebar melihat reaksi ku seperti itu. Dia merangkul pundak ku sembari menempel kan wajah nya di ceruk leher ku.


Bang Hendra menghirup aroma leher ku dan menjulurkan lidah nya untuk menyapu keringat yang membasahi area leher ku. Alex hanya menggelengkan kepala nya melihat kelakuan bang Hendra kepada ku.


"Selain mulus dan bersih, tubuh mu juga wangi, Ndah. Walaupun sedang berkeringat seperti ini, aroma tubuh mu masih saja tetap wangi." bisik bang Hendra dengan nafas yang mulai memburu.


"Abang jadi ketagihan dengan mu, Ndah. Abang ingin menikmati mu lagi, sayang." lanjut bang Hendra.


Alex yang mendengar ucapan bang Hendra pun langsung membelalakkan mata nya. Dia tampak sangat terkejut melihat bang Hendra yang mulai menggerayangi tubuh ku lagi.


Melihat tingkah bang Hendra yang semakin menjadi-jadi dengan ku, Alex pun berinisiatif untuk mengajak bang Hendra pulang.


"Hen, kita balik, yok!" seru Alex.


Alex menarik-narik tangan bang Hendra yang sedang asyik bermain-main di dada ku.


"Bentar lagi, Lex. Aku mau main sekali lagi dengan wanita ku ini." jawab bang Hendra.


"Lain kali aja lah, Hen! Kasihan si Indah nya, badan nya pasti capek banget tuh akibat melayani kita berdua tadi." ujar Alex.


"Ayo lah, Hen! Kita pulang aja sekarang, kapan-kapan kita kesini lagi." bujuk Alex.


"Oke, kita pulang sekarang." jawab bang Hendra.


Alex tersenyum puas karena bisa mencegah bang Hendra, agar tidak menjamah tubuh ku lagi. Alex memandangi wajah sayu ku dengan tatapan kasihan. Dia tampak merasa bersalah atas perbuatan yang di lakukan nya pada ku tadi.


"Minta uang mu dua juta!"


Bang Hendra menadahkan tangan nya ke hadapan Alex.


"Buat apa?" tanya Alex dengan kening yang mengkerut.


"Ya buat ngasih Indah lah. Kau dua juta aku juga dua juta, jadi kita ngasih Indah empat juta. Gimana, cocok gak menurut mu?" tanya bang Hendra pada Alex.


"Jangan segitu lah, Hen! Kita genap kan aja jadi lima juta. Gimana, mau gak?" usul Alex.


Bang Hendra tampak sedang berpikir sejenak setelah mendengar penuturan Alex. Beberapa saat kemudian, bang Hendra pun mengangguk menyetujui ucapan Alex.


Sedangkan aku, jangan di tanya lagi. Aku tetap duduk manis di tempat semula sambil memandangi mereka berdua dengan pandangan yang sulit di artikan.


Setelah selesai berdiskusi, bang Hendra dan Alex mengeluarkan uang dari dompet mereka masing-masing. Lalu bang Hendra menyerahkan semua uang itu ke tangan ku sembari berkata...


"Terima kasih untuk waktu nya malam ini ya, Ndah. Lain kali kita pasti akan bersenang-senang lagi seperti yang kita lakukan tadi." bisik bang Hendra.


Setelah bang Hendra selesai berbisik, kini giliran Alex yang mendekati ku dan menyerahkan uang itu ke tangan ku. Alex menatap wajah ku sejenak, lalu berbisik di telinga ku.

__ADS_1


"Makasih ya, Ndah. Sudah mau menemani kami malam ini. Dan maaf, kalau kami sudah lancang berbuat begitu pada mu." ucap Alex lirih.


Alex tampak sangat menyesali perbuatannya dengan ku. Dia mengecup kening ku dengan lembut dan memeluk tubuh ku dengan sangat erat.


"Sekali lagi, aku minta maaf ya, Ndah." ucap Alex sambil mengelus-elus rambut panjang ku.


"Ya," jawab ku singkat.


Alek mulai melepaskan pelukan nya setelah mendengar jawaban ku barusan. Dia berjalan mendekati bang Hendra dan berbisik di telinga nya. Bang Hendra tampak manggut-manggut mendengar bisikan dari Alex.


"Ayo kita turun ke bawah, Ndah!" ajak bang Hendra sambil melambaikan tangan nya pada ku.


Aku menyimpan uang pemberian mereka berdua ke dalam saku celana. Kemudian aku mengangguk sebagai jawaban.


Alex dan bang Hendra langsung mendekati ku. Mereka menuntun ku untuk berjalan menapaki anak tangga satu persatu menuju ke lantai dasar ruangan karaoke.


Sampai di depan meja kasir, bang Hendra membayar tagihan minuman nya kepada Billy.


Setelah itu, bang Hendra dan Alex kembali menuntun ku sampai ke luar ruangan dan mendudukkan ku di bangku panjang, tempat di mana para waiters berkumpul.


"Dek, titip Indah, ya! Dia mabok berat kayak nya nih." ujar bang Hendra kepada Ririn.


"Oke, bang. Makasih ya, bang. Udah bantu teman ku turun dari atas." balas Ririn sambil memegangi lengan ku.


"Iya, dek. Oke lah kalau begitu, kami pamit ya, dek. Kapan-kapan kami kesini lagi nanti." jawab bang Hendra.


"Oke siap, bang." balas Ririn sambil tersenyum.


Setelah menyerahkan ku kepada Ririn, bang Hendra dan Alex pun berjalan ke arah mobil hitam nya dan langsung pergi meninggalkan tempat karaoke kami.


"Kau mau pulang sekarang atau nungguin sampe jam kerja selesai, Ndah?" tanya Ririn.


"Sekarang aja, Rin. Tolong ambilkan ponsel ku di dalam tas dan cari kontak Haris. Suruh dia jemput aku disini sekarang ya!" pinta ku.


"Oke." balas Ririn.


Ririn merogoh tas ransel ku untuk mencari ponsel. Setelah mendapatkan nya, Ririn segera menyalakan ponsel itu dan menghubungi Haris.


Tut tut tut...


"Halo, bang Haris. Jemput Indah sekarang, bang! Dia lagi mabok berat nih di tempat kerja kami." jelas Ririn.


"Oke, aku kesana sekarang. Tolong jagain Indah nya dulu ya, Rin!" jawab Haris.


"Iya siap, bang. Cepat ya, kasian Indah nya nih!" lanjut Ririn lagi.


Setelah panggilan berakhir, Ririn menyimpan ponsel ku kembali ke dalam tas dan meletakkan tas itu di pangkuan ku.


"Udah, Ndah. Ntar lagi cowok mu datang kata nya." ujar Ririn.


"Makasih, Rin." balas ku.

__ADS_1


__ADS_2