
"Udah, gak usah pake acara ngedumel segala. Cepat sini, bantuin kami ngangkatin semua barang-barang ini!" perintah bang Rian kepada Andre.
"Yaelah, bos. Masa ngangkatin barang kayak gini aja minta bala bantuan sih, malu-maluin aja. Percuma punya badan kekar, tapi gak ada tenaga nya sama sekali." cibir Andre.
Mendengar cibiran pedas dari teman nya, wajah bang Rian pun langsung merah padam. Dia tampak kesal sekaligus malu, karena merasa di permalukan di depan ku.
"Heh, kamvret! Kalo ngomong itu di saring dikit, jangan asal njeplak aja." oceh bang Rian sembari menoyor jidat Andre.
"Siapa bilang aku gak ada tenaga, hah? Coba kau tanyakan sama Indah, seberapa hebat nya tenaga ku ini?" lanjut bang Rian lalu menunjuk ke arah ku.
Aku yang sedari tadi fokus memperhatikan gelagat mereka pun langsung tersentak kaget, karena mendengar nama ku di sebut-sebut.
Bang Rian dan Andre mengarah pandangan nya kepada ku. Tatapan mata mereka, seolah-olah sedang meminta pendapat dari ku.
"Kenapa nengokin aku kayak gitu?" tanya ku pura-pura bingung.
Bukan nya menjawab, bang Rian malah balik bertanya pada ku. Sedangkan Andre, dia hanya senyam-senyum, melihat ekspresi wajah ku yang tampak kebingungan.
"Bener gak yang abang bilang tadi, Ndah?" tanya bang Rian dengan mimik wajah serius.
"Emang abang bilang apa tadi?" tanya ku masih dengan mode pura-pura linglung.
"Loh, emang nya kamu gak dengar ya, apa yang kami omongin tadi?" selidik bang Rian heran.
"Enggak," balas ku santai.
"Oalah, semprul...semprul..." oceh bang Rian sembari menggeleng-gelengkan kepala nya.
"Udah sampe berbusa mulut kami otot-ototan dari tadi, bisa-bisanya kamu gak denger apa-apa. Emang dari tadi kamu tutup kuping ya?" tanya bang Rian.
"Yaaa, gak juga sih. Aku lagi gak fokus aja tadi, hehehe." jawab ku sembari nyengir kuda.
"Hahahaha,"
Visual : Andre
Usia : 27 tahun
Pekerjaan : Pemegang salah satu toko meubel milik bang Rian. Atau bisa di bilang orang kepercayaan bang Rian.
Tawa Andre pun langsung pecah, setelah mendengar penuturan ku yang tidak masuk akal menurut nya. Sedangkan bang Rian, dia malah menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal.
"Ketawa aja lah terus, mau aku pecat ya?" ancam bang Rian.
Mendengar ucapan bang Rian, tawa Andre yang tadi nya menggelegar pun, langsung hilang di telan bumi.
"Maaf, bos. Aku khilaf, hehehe." ujar Andre.
Andre cengar-cengir salah tingkah, sembari melirik ke arah ku. Dia tidak berani meledek atau pun membantah ucapan bos nya.
"Oke, sekali ni aku maafkan. Tapi kalau lain kali kau ulangi lagi, maka hukuman berat akan menanti mu." ancam bang Rian lagi.
"Hukuman apa?" tanya Andre dengan kening mengkerut.
__ADS_1
"Bersihin kamar mandi seluruh toko." jawab bang Rian dengan santai nya.
"Whaaaattt?" pekik Andre dengan mata terbelalak dan suara melengking.
Aku sampai tersentak akibat terkejut, karena saking kuat nya suara pekikan Andre. Begitu juga dengan bang Rian, dia juga tampak terkejut, mendengar suara yang cukup memekakkan telinga dari bibir Andre.
"Ssstttt, berisik banget sih mulut mu ini. Bikin kaget orang aja." omel bang Rian lalu menutup mulut Andre dengan telapak tangan nya.
"Hihihi," aku kembali terkikik melihat tingkah konyol mereka berdua.
"Udah udah, kok malah jadi berantem sih. Udah pada tua juga, tingkah nya masih aja kayak bocil." ledek ku.
Aku menengahi perdebatan kedua kubu yang ada di depan ku tersebut. Mendengar ledekan ku, bang Rian dan Andre pun reflek menoleh pada ku dan...
"Hahahaha," bang Rian dan Andre tertawa berjamaah.
"Tuh, bener kan apa yang ku bilang tadi? Indah sendiri aja bilang, kalau bos itu udah tua, hahaha." gelak Andre.
"Bukan bang Rian aja, tapi kau juga, Ndre. Kau juga udah tua, gak nyadar ya?" lanjut ku.
"Hahahaha, sukurin! Kena batu nya kau kan." umpat bang Rian.
Andre langsung menunduk malu, setelah mendengar ocehan ku. Sedangkan bang Rian, dia masih saja mentertawai bawahan nya tersebut.
Selesai bercanda dan berhaha-hihi bertiga, bang Rian pun kembali membuka suara nya. Dia mengajak Andre untuk membawa barang-barang, yang sudah kami susun ke dalam mobil pickup.
"Ayo cepetan, kita angkatin barang-barang ini sekarang, mumpung masih sore!" seru bang Rian.
"Oke, bos." balas Andre lalu memberi hormat kepada bang Rian.
Bang Rian dan Andre mulai membawa satu persatu, barang-barang yang ada di kamar kos ku. Mereka berdua tampak kompak dan akur, untuk memboyong seluruh isi kamar ku.
Setelah selesai memindahkan semua barang-barang ku ke dalam mobil pickup, aku pun segera mengunci pintu, laku berjalan beriringan dengan bang Rian menuju lantai dasar.
Sampai di depan gerbang kos, bang Rian pun mulai bertanya pada ku, tentang arah tujuan yang akan kami datangi.
"Kamu mau ngekos di daerah mana, sayang?" tanya bang Rian.
"Hmmm, di kos-kosan dekat teman ku aja, bang. Di jalan B, tak jauh kok dari tempat kerja ku." jawab ku.
"Ohh, ya udah kalo gitu. Ayo, kita berangkat sekarang!" seru bang Rian lalu membuka pintu kendaraan nya untuk ku.
"Ya," balas ku sembari masuk ke dalam mobil.
Setelah itu, bang Rian mengitari mobil nya dan duduk di belakang stir kemudi. Bang Rian mulai menyalakan mesin kendaraan nya, lalu berteriak kepada Andre.
"Kau ikuti kami ya, Ndre!" titah bang Rian.
"Oke siap, bos." balas Andre sembari mengacungkan jempol nya pada bang Rian.
Bang Rian mulai melajukan mobil nya, dan di ikuti oleh Andre dengan pickup nya dari belakang. Tak butuh waktu lama, kami bertiga pun sudah sampai di tempat tujuan.
Aku dan bang Rian keluar dari mobil, lalu berdiri di depan gedung kos-kosan tersebut. Begitu juga dengan Andre, dia keluar dari mobil pickup nya dan ikut bergabung bersama kami.
"Ini tempat nya ya, Ndah?" tanya Andre sambil memandangi gedung berlantai empat, yang berdiri kokoh di depan kami.
__ADS_1
"Iya," jawab ku.
Aku mengambil ponsel dari dalam saku celana, lalu menghubungi nomor yang tertera di pagar besi gedung tersebut.
Tut tut tut...
"Halo selamat malam, bu." sapa ku setelah panggilan ku tersambung, ke nomor pemilik kos-kosan tersebut.
"Ya, selamat malam. Maaf, ini dengan siapa ya?" tanya ibu kos.
"Saya teman nya Ririn, bu. Saya yang haritu nemani Ririn, ngekos di tempat ibu." jawab ku.
"Ooohhh, kamu toh. Kirain tadi siapa. Ada perlu apa ya, dek?" tanya ibu kos.
"Hmmmm, kira-kira masih ada kamar yang kosong gak, bu? Soalnya, saya mau ngekos di tempat ibu juga." jawab ku.
"Ada, dek. Masih ada 3 kamar lagi yang kosong. Emang nya mau pindah kapan?" tanya ibu kos.
"Mau nya sih sekarang. Bisa kan, bu?" tanya ku balik.
"Oh, bisa kok. Emang kamu lagi dimana sekarang?" tanya nya lagi.
"Saya sudah ada di depan gerbang kos-kosan milik ibu." jawab ku.
"Oh oke, tunggu bentar ya! Saya kesana sekarang." balas ibu kos.
"Oke, bu." balas ku sembari menutup panggilan.
Setelah panggilan berakhir, aku kembali menyimpan ponsel ke dalam saku celana. Aku menoleh ke arah bang Rian dan Andre yang sedari tadi hanya diam, mendengarkan percakapan ku dengan si pemilik kos.
"Kenapa pada diem-dieman gitu? Ada setan lewat, ya?" canda ku sembari tersenyum manis pada mereka berdua.
"Mana ada setan lewat, ngawur aja kalo ngomong." oceh bang Rian sambil mengacak-acak rambut ku.
"Iiihhhh, rontok lah lama-lama rambut ku ini abang buat." omel ku sembari menurunkan tangan bang Rian dari atas kepala ku.
"Hehehehe, maaf sayang. Abang gak sengaja, abang khilaf, abang..."
Mendengar ocehan receh bang Rian, aku pun langsung memotong nya dengan cepat, lalu menempel kan telapak tangan ku di bibir nya.
"Stop! Udah diem, gak usah di terusin lagi." balas ku.
"Iya iya, abang diem nih." balas bang Rian lalu memanyunkan bibir nya.
Melihat tingkah kami berdua, tawa Andre pun kembali pecah. Dia tampak geli dan lucu, saat melihat bos besar nya yang terlihat tunduk dan patuh dengan ku, yang hanya seorang wanita penghibur.
"Akhirnya, singa galak tunduk juga sama pawang nya, hihihi." gumam Andre sembari cekikikan sendiri.
Mendengar gumaman Andre, mata bang Rian pun langsung membulat sempurna. Dia terlihat sangat kesal, dengan kata-kata Andre barusan.
"ANDREEE... Minta di pecat beneran kau ya?" pekik bang Rian kesal.
"Eh, maaf bos maaf. Aku gak sengaja, beneran deh, sumpah!" ujar Andre sambil nyengir kuda, dan membentuk jari nya menjadi huruf V.
"Sukurin, week! Kena semprot kan sama singa galak nya, hahaha." ledek ku pada Andre, lalu menjulurkan lidah ku pada nya.
__ADS_1