
"Buat kan teh manis hangat sana, Nis!" perintah ayah pada Anisa.
"Iya, yah." jawab Anisa.
Anisa menuruti perintah ayah dan melangkah kan kaki nya menuju ke arah dapur. Tak lama berselang, Anisa kembali ke hadapan kami, dengan membawa nampan yang berisikan tiga gelas teh di tangan nya.
Anisa menyodorkan satu persatu teh itu kepada nenek ayah dan aku. Setelah selesai, Anisa pun kembali duduk di kursi nya semula.
"Di makan martabak nya, Nis!" tawar ayah.
Ayah meletakkan kotak martabak itu ke depan anak kesayangan nya tersebut. Anisa pun langsung mengambil nya sepotong lalu memakan nya.
"Siapa yang beli ini, yah? Kak Indah, ya?" tanya Anisa.
"Iya," jawab ayah.
Setelah itu, ayah pun menggeser kembali kotak martabak itu ke depan Ridwan. Ayah juga menawarkan martabak itu kepada anak laki-laki nya.
"Nah, Wan! Kau mau gak?" tanya ayah.
"Mau, yah." jawab Ridwan sambil menyomot satu potong lalu mengunyah nya.
Aku memandangi kedua adik ku yang sedang memakan makanan bawaan ku. Setelah itu, aku pun segera merogoh saku celana untuk mengambil sejumlah uang di dalam nya.
"Ini untuk mu, Nis! Dan ini untuk mu, Wan!"
Aku berucap sembari menyerahkan uang tiga ratus ribu per orang kepada mereka berdua. Anisa dan Ridwan pun tampak sangat senang, setelah menerima uang pemberian ku.
"Makasih ya, kak!" ucap mereka serempak.
"Iya," balas ku.
Ayah tampak tersenyum bahagia melihat ku membagi-bagikan uang kepada kedua anak nya. Tapi tidak dengan nenek, beliau terlihat sangat kesal dengan memperlihatkan wajah masam nya kepada kami semua.
Aku tahu apa sebenarnya yang membuat nenek bersifat seperti itu. Mungkin karena nenek masih sangat marah kepada mereka bertiga.
Karena gara-gara membiayai sekolah mereka berdua lah, maka nya ayah selalu menekan ku untuk terus-menerus mengirim kan uang. Ayah meminta uang pada ku tanpa kenal waktu dan tempat.
"Balek yok, Ndah! Nenek udah ngantuk." ajak nenek.
Beliau mengajak ku pulang sambil berpura-pura menguap di depan mereka semua. Aku yang sudah paham maksud nenek itu pun langsung menyetujui ajakan nya.
Nenek sengaja melakukan itu, agar kami berdua bisa cepat-cepat pergi dari rumah ayah.
Sebenarnya, aku juga sudah tidak betah untuk berlama-lama di rumah ayah. Dan kebetulan sekali nenek meminta untuk segera pulang.
"Yeyy, nenek tau aja isi otak ku ini. I love you, nek" batin ku girang tak terhingga.
Tanpa basa-basi lagi, aku pun langsung berpamitan kepada ayah dan juga kedua anak nya. Aku beranjak dari tempat duduk dan mencium punggung tangan ayah.
"Yah, kami balek dulu, ya! Takut kemalaman di jalan, nenek juga udah ngantuk kata nya." pamit ku.
"Oh, ya udah kalo gitu. Biar ayah carikan becak nya dulu ya." jawab ayah.
"Ya," balas ku.
__ADS_1
Ayah mulai melangkah keluar pintu untuk mencari tukang becak, yang berada di sekitaran rumah nya.
Sambil menunggu ayah mendapatkan becak, aku mengajak nenek untuk menunggu di teras rumah ayah.
"Ayok, nek! Kita nungguin nya di luar aja!" ajak ku.
"Iya, Ndah. Pinggang nenek pun udah pegel kali nih duduk lama-lama di sini." balas nenek.
Beliau berdiri dari atas kursi nya sambil memegangi pinggang nya. Melihat aku dan nenek hendak keluar, Anisa dan Ridwan pun langsung berdiri dari tempat duduk mereka masing-masing.
Mereka berdua mendekati ku dan nenek, lalu menyalami tangan kami berdua. Setelah itu, aku dan nenek pun berjalan menuju pintu keluar. Mereka berdua pun turut mengekori langkah kami dari belakang.
"Itu becak nya udah ada, Ndah." ujar ayah.
"Oke, yah. Kami balek dulu ya, assalamualaikum."
"Iya hati-hati di jalan ya, wa'laikum salam." balas ayah.
Aku berpamitan kepada ayah dan kembali mencium punggung tangan nya. Begitu juga dengan ayah, dia mencium punggung tangan nenek seperti yang aku lakukan pada nya tadi.
Ayah memegangi tangan nenek untuk membantu nya naik ke atas becak. Setelah itu, aku pun ikut menyusul nenek dan duduk berdampingan bersama beliau, di dalam kendaraan roda tiga tersebut.
Setelah becak yang kami tumpangi melaju ke jalan raya, ayah pun kembali melangkah masuk ke dalam rumah nya.
Berhubung hari sudah mulai larut, jalanan kota Binjai pun sudah agak renggang dari segala jenis kendaraan bermotor.
"Berhenti di sini aja, bang!" pinta ku pada si tukang becak.
"Oke, kak e." jawab nya.
Setelah menyerahkan ongkos kepada si tukang becak, aku dan nenek pun segera turun dan berjalan menuju ke rumah nenek.
Setelah beberapa menit berjalan melewati rumah-rumah tetangga, kami berdua pun tiba di depan rumah nenek.
Setelah membuka pintu, aku dan nenek pun langsung masuk dan mengunci pintu itu kembali.
"Kita makan dulu yok, Ndah!" ajak nenek.
Beliau keluar dari kamar nya dan sudah mengganti pakaian nya dengan daster rumahan. Nenek langsung berjalan ke dapur untuk menyiapkan makanan.
"Iya bentar, nek! Aku ganti baju dulu." balas ku.
Aku segera bergegas masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian. Setelah selesai, aku segera bergegas keluar kamar dan melangkah ke dapur untuk membantu nenek.
Tapi ternyata, nenek sudah siap menghidangkan semua makanan nya di atas lantai yang sudah dialasi dengan tikar pandan.
"Laaahhh, udah siap rupanya. Padahal aku udah cepat-cepat ganti baju nya biar bisa bantu nenek nyiapin ini."
Aku berucap sambil menunjuk ke arah makanan yang sudah terhidang di depan ku itu. Nenek yang mendengar ocehan ku itu pun langsung menyerahkan piring plastik pada ku, sambil berkata...
"Ya udah gak papa, lain kali aja bantu nya. Sekarang kita makan ya, nenek udah lapar nih." balas nenek.
"Iya makasih, nek." jawab ku sambil menerima piring plastik dari tangan nenek.
Aku dan nenek mulai menyantap makanan itu dengan santai. Aku sangat menikmati masakan nenek yang alami ini.
__ADS_1
Ya, masakan nenek ini memang alami. Tanpa penyedap rasa atau pun gula. Nenek hanya menggunakan garam saja untuk campuran masakan nya.
Setelah selesai makan, aku langsung mencuci piring dan menyusun nya dengan rapi di atas rak.
Kemudian aku kembali berjalan masuk ke dalam kamar, dan melihat nenek duduk di sisi ranjang. Aku pun mulai mendekati beliau dan duduk di samping nya.
"Kok belum tidur, nek?" tanya ku.
"Ntar lagi, nenek belum ngantuk." jawab nenek.
Nenek menatap wajah ku dengan mata yang berembun. Raut wajah nya tampak sangat sedih dan buram. Setelah beberapa saat suasana hening, nenek pun kembali membuka suara nya.
"Berapa hari kau di sini, Ndah?" tanya nenek.
"Dua minggu, nek. Emang nya kenapa, kok nenek nanya gitu?" tanya ku balik.
"Alhamdulillah, nenek pikir cuma dua atau tiga hari aja kau di sini. Belum pun ilang rasa rindu ini, kau udah pergi lagi." jawab nenek.
Beliau berucap sembari menetes kan air mata nya. Melihat nenek menangis, aku pun langsung memeluk tubuh renta nya dari samping.
Setelah melihat kesedihan nenek, aku pun berinisiatif untuk mengajak nya ikut bersama ku ke kota Batam.
"Kalo gak, nenek ikut aku aja yok! Kita naik pesawat kesana, nenek belum pernah naik pesawat kan?" ujar ku.
Aku menawarkan nenek untuk ikut sambil menyandarkan kepala ku di bahu nya. Aku memang selalu bermanja-manja dengan nenek, karena beliau sudah aku anggap sebagai pengganti ibu ku.
Beliau lah yang mengurus ku sedari kecil hingga dewasa. Aku merasa sangat berhutang budi pada nya.
Sedangkan ibu ku menghilang entah kemana. Ada kabar yang mengatakan bahwa ibu kandung ku itu berada di provinsi Jambi.
Dia sudah berkeluarga lagi dan sudah sukses dengan perkebunan kelapa sawit dan karet nya, yang sudah mencapai puluhan hektar.
Aku tidak terlalu perduli dengan kabar itu, dan aku juga tidak ada niatan untuk mencari keberadaan ibuku tersebut.
Aku hanya berpikir, kalau ibu ku itu memang merasa punya anak yang sudah puluhan tahun dia tinggalkan, dia pasti akan datang untuk menemuiku.
Namun harapan tidak sesuai kenyataan. Sampai usia ku 33 tahun pun ibu ku tidak pernah menemui ku.
Dia tidak pernah menanyakan kabar ku walau sekali pun. Apa mungkin dia sudah menganggap ku tidak ada lagi di dunia ini? Ah entahlah, hanya Tuhan lah yang maha tahu segala-galanya.
*Lanjut lagi ke percakapan ku dengan nenek*
"Rumah ini gak ada yang nempatin, Ndah. Sayang kalo di tinggal kan gitu aja, bakalan lapuk nanti nya kalau gak ada penghuni nya." jawab nenek.
Beliau menolak halus ajakan ku untuk ikut ke kota Batam, kota perantauan ku. Sebenarnya aku sudah tahu kalau nenek tidak bakalan mau untuk di ajak kemana pun.
Karena beliau sangat menyayangi rumah nya, maka dari itu aku tidak mau terlalu memaksa nya untuk ikut dengan ku.
"Ya udah gak papa, nek. Kalo gitu kita tidur aja ya, udah jam sepuluh tuh!" ujar ku.
Aku menjawab sambil menunjuk ke arah jam dinding, yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Nenek pun mengangguk menyetujui ucapan ku.
Beliau mulai merebahkan diri nya di atas kasur, lalu aku pun mulai menyelimuti nya dari ujung kaki sampai bahu nya dengan selimut tebal.
Setelah itu, aku juga ikut berbaring di samping nenek dan mulai memejamkan mata. Tak lama kemudian, kami berdua pun tertidur lelap dengan damai dan tenang.
__ADS_1