
"By the way, kok kau santai-santai aja sih dengar cowok mu punya cewek lain?" tanya Ririn heran.
Aku menghela nafas panjang, lalu mengajak Ririn untuk masuk ke dalam kamar baru ku. Aku ingin menceritakan kejadian yang sudah aku alami, selama dua hari belakangan ini pada nya.
"Hufff, panjang cerita nya. Kita ngomong nya di dalam aja yok, biar lebih enak ngerumpi nya!" ujar ku.
"Boleh lah, tapi jangan lama-lama ya. Cukup satu jam aja, aku udah ada janji soalnya." balas Ririn sambil melihat jam kecil yang melingkar pergelangan tangan nya.
"Iya," jawab ku.
Aku dan Ririn melangkah masuk ke dalam kamar dan duduk selonjoran di atas lantai yang sudah di lapisi oleh karpet.
"Kau mau minum apa, Rin?" tanya ku.
"Emang ada minuman apa aja?" tanya Ririn balik.
"Air putih aja, hehehehe." jawab ku sembari nyengir kuda.
"Huuuuu, dasar gemblung. Tadi gaya nya sok-sokan nawarin minuman, padahal cuma ada air putih doang." cibir Ririn sambil memanyunkan bibir tipis nya.
"Ya...kan biar keren maksud nya, hahaha." gelak ku.
"Keren endas mu itu." umpat Ririn sembari menoyor jidat ku.
Aku hanya tersenyum geli, ketika mendapat toyoran dari sahabat resek ku tersebut.
"Udah, gak usah senyam-senyum terus. Serem tau gak? Ayo cepetan ngomong, waktu ku gak banyak nih!" desak Ririn.
"Idih, kayak ibu-ibu pejabat aja lu, pake acara gak punya waktu banyak segala." cibir ku.
"Ck, kau ini pikun kali sih jadi orang. Tadi kan udah ku bilang, aku ada janji mau ketemuan di luar." oceh Ririn.
"Oooohhh, gitu. Oke lah. Aku akan mulai menceritakan satu dongeng untuk mu, biar kau tertidur dan gak jadi pergi kemana-mana, hahaha." gelak ku.
Wajah Ririn langsung berubah masam saat mendengar penuturan ku. Dia tampak sangat kesal, karena merasa di permainan oleh ku.
__ADS_1
"Ck, kok malah dongeng sih. Di ajak ngomong serius, malah bercanda terus kerjaan nya." ujar Ririn ketus.
"Iya iya, cerewet kali sih muncung lancip mu ini. Aku sumpal pake cabe giling nanti, baru tau rasa." ledek ku.
"Coba aja kalo berani. Aku juga punya cabe giling tuh di kamar. Apa muka mu mau aku olesi pake itu, biar makin mulus dan kinclong?" tanya Ririn dengan wajah serius.
"Eh eh eh, ya jangan dong, sayang. Nanti kalau muka ku yang cantek ini rusak, gimana coba? Aku kan gak ada dana, buat oplas ke luar negeri." oceh ku dengan wajah memelas.
Ririn langsung menoleh pada ku, dan memandangi wajah ku dengan tatapan yang sulit di jelaskan. Aku pun mengerutkan kening, melihat tatapan aneh Ririn.
"Heh, Kunti! Kenapa kau nengokin aku kayak gitu? Apa ada yang aneh dengan muka ku?" tanya ku bingung.
"Gak ada yang aneh sih. Aku cuma lagi bayangin, kalau seandainya muka jelek mu ini rusak, aku mau oplas muka mu pake plastik bekas gorengan ku tadi, hihihi." jawab Ririn sembari terkikik geli.
"Huuuuu, dasar gila. Sembarangan aja mau oplas muka orang pake plastik bekas gorengan. Kok gak sekalian aja kau pakai plastik bekas oli, biar makin kinclong." balas ku asal sembari menepuk lengan nya.
"Eh, iya juga ya. Ide bagus tuh. Biar tambah cantik muka mu, hahaha." lanjut Ririn.
Tawa Ririn langsung pecah seketika, setelah mendengar jawaban asal yang keluar dari bibir ku. Setelah lelah mentertawai ku, Ririn pun kembali mempertanyakan perihal hubungan ku dengan Haris.
"Ya udah deh, aku ngomong sekarang." balas ku pasrah.
Aku mulai menceritakan kejadian demi kejadian yang sudah ku lalu dengan Haris dan juga bang Rian. Dari mulai pertengkaran ku dengan Haris sewaktu di kos, pertemuan kami saat Haris membawa wanita ke hotel, perpindahan tempat tinggal, dan bla bla bla...
Aku menceritakan semua nya kepada Ririn, tanpa ada yang tertinggal satu kejadian pun. Aku mencurahkan segala keluh kesah ku, kepada sahabat karib ku tersebut.
Sedangkan Ririn, dia menanggapi ocehan-ocehan ku dengan raut wajah yang berubah-ubah.
Kadang dia melongo dengan mulut terbuka. Kadang dia manggut-manggut dengan bibir mengerucut. Dan kadang dia juga tampak geram, saat mendengar perbuatan kasar yang sudah di lakukan Haris pada ku.
"Ooohhh, gitu ceritanya. Pantesan kau santai-santai aja tadi, waktu ku bilang cowok mu bawa cewek ke tempat kerja kita." ujar Ririn kembali manggut-manggut.
"Tu lah, maka nya aku udah gak mau lagi berurusan sama dia. Trus bang Rian juga nyuruh aku pindah kos kemaren, biar Haris gak bisa mengganggu ku lagi." lanjut ku.
"Ada bener juga sih, usulan dari bang Rian itu. Kalau seandainya kau tetap tinggal di kos yang lama, cowok brengsek mu itu pasti bakalan nongol terus kesana." sambung Ririn menyetujui tindakan bang Rian.
__ADS_1
"Iya sih, aku juga berpikiran seperti itu kemaren. Apa lagi dia ada megang kunci cadangan nya, pasti dia bakalan seenaknya aja nanti, keluar masuk ke dalam kamar ku." balas ku membenarkan ucapan Ririn.
"Yupz, betul sekali. Aku pun juga mikir nya gitu tadi. Takut nya pas kau lagi kerja, dia bawa pulak cewek nya itu ke kamar mu." ujar Ririn.
"Kan lumayan tuh, pake kamar gratis. Dari pada bayar hotel mahal-mahal. Ya kan, bener gak?" lanjut Ririn dengan wajah serius nya.
"Iya, bener banget. Aku dan bang Rian juga ada berpikir seperti itu kemaren. Maka nya aku di suruh cepat-cepat pindah dari sana, biar aman kata nya." balas ku.
Aku dan Ririn terdiam sejenak, kami berdua sibuk dalam lamunan dan khayalan masing-masing. Tak lama kemudian, Ririn pun kembali membuka percakapan.
"Kau itu beruntung banget ya, Ndah. Bisa bertemu orang sebaik bang Rian. Udah lah ganteng, macho, pengertian, baik, tajir melintir pulak tuh. Lengkap lah pokoke." tutur Ririn.
Ririn mendongak kan kepala nya ke atas. Dia memejamkan mata nya, lalu kembali bersuara.
"Seandainya saja aku juga mendapatkan laki-laki seperti bang Rian, pasti aku juga bisa merasakan kebahagiaan yang sama seperti mu, Ndah." ujar Ririn lirih.
Mendengar ucapan Ririn yang cukup menyentuh hati, aku pun mengulurkan tangan dan mengelus-elus bahu nya, lalu berkata...
"Sabar, mudah-mudahan aja doa mu tadi di dengar oleh setan yang lewat." balas ku sembari tersenyum manis pada nya.
Ririn yang tadi nya sedang fokus dengan pikiran nya pun langsung menoleh, dan menatap kesal pada ku.
"Loh, kok setan sih?" protes Ririn.
"Lah, trus apaan?" tanya ku balik.
"Ya malaikat lah, dodol!" jawab Ririn kembali menoyor jidat ku.
"Eh, iya ya. Kok aku bisa lupa sih, hihihi." ujar ku cekikikan.
Ririn hanya menggeleng-gelengkan kepala nya, melihat kelakuan ku tersebut.
"Sorry lah bestie, aku lupa, hehehe." balas ku sambil cengar-cengir salah tingkah.
"Iya, gak papa. Aku udah maklum kok. Kau itu kan memang udah pikun dari orok. Jadi ya... aku udah gak heran lagi sih, dengan kepikunan mu itu." balas Ririn santai.
__ADS_1